Setamat SMA, saya pergi ke Manado untuk meneruskan pendidikan disana. Tidak persis di Kota Manado melainkan Pineleng, masuk wilayah Kabupaten Minahasa yang berbatasan dengan Kota Manado.
Rumah terakhir yang saya singahi sebelum pergi ke Manado adalah rumah kakek. Saya mampir ke sana untuk mengambil tiket kereta yang akan mengantar ke Jakarta. Kakek saya adalah pensiunan pegawai Perusahaan Jawatan Kereta Api, sehingga tak perlu mengantri untuk membeli tiket.
Kakek membelikan tiket kereta Sawung Galing yang berangkat dari Stasiun Kutoarjo menuju Stasiun Senen, Jakarta. Di Jakarta teman-teman lain telah berkumpul di daerah Grogol.
Menumpang KMP Kambuna, saya dan sepuluhan teman lainnya berangkat dari pelabuhan Tanjung Priok menuju pelabuhan Bitung, menyinggahi Tanjung Perak, Ujung Pandang, Palu dan Kwangdang.
10 tahun lebih saya tinggal di Manado hingga kemudian pindah ke Samarinda, Kalimantan Timur.
Suatu kali saya mudik ke Jawa Tengah dan singgah untuk pertama kali ke rumah kakek setelah saya tinggal di Kota Samarinda.
Kala bertemu terlontar sebuah pujian dari mulutnya.
“Kamu memang pemberani, nggak takut tinggal di Kalimantan,”
“Pemberani, takut bagaimana Mbah?” tanya saya padanya.
“Lho bukannya orang disana suka memenggal kepala orang, banyak binatang buas dan ular-ular besar?” ujar kakek saya.
Nampaknya kakek saya terkungkung dalam stereotip yang umum tentang Kalimantan. Gambaran tentang masyarakat di kawasan yang masih berhutan kerap kali dianggap sebagai masyarakat yang primitif.
Selalu ada generalisasi yang berlebihan sehingga menimbulkan bias dan pandangan yang negatif atas kelompok masyarakat di wilayah tertentu yang dipandang kurang maju dari mereka yang merasa berada di wilayah yang lebih maju atau modern.
Gambaran semacam itu sering kali diperkuat dengan konfirmasi cerita dari mereka yang pulang dari rantau, entah biar asyik atau heroik banyak kali cerita tentang Kalimantan dibumbu-bumbui dengan kisah-kisah yang menyeramkan dan menegangkan.
Sehingga kakek saya dan banyak orang lain yang belum menginjakkan kaki di Kalimantan kerap lupa bahwa di pulau ini berdiri salah satu kerajaan tertua di Nusantara, namun peradaban telah tumbuh bahkan jauh sebelum kerajaan tertua itu berdiri.
Kalimantan memang identik dengan hutan. Maka ada dua orang yang terkenal menghuni Kalimantan yakni Orang Utan dan Orang Hutan.
Orang Utan adalah ‘orang’ yang hidup dan tinggal di dalam hutan. Primata arboreal yang hidup dan beraktivitas diatas pohon, rumahnya adalah ‘sarang’ di pucuk pohon yang tinggi.
Sedangkan Orang Hutan, adalah masyarakat yang hidup, tinggal dan membangun permukiman disekitar hutan, baik hutan kering maupun hutan basah di dataran rendah. Mereka menjaga dan memanfaatkan hutan secara berkelanjutan. Sehingga hutan tempat tinggal dan tempat hidup Orang Utan tetap terjaga.
BACA JUGA : Ghozaly Effect, Sisi Buruk Latah NFT
Sebagai Ibu Kota Negara, Jakarta menjadi salah satu kota yang paling mengisi memori di otak melalui pelajaran di sekolah dan perjumpaan dengan mereka yang tinggal disana.
Bukan hanya kotanya saja yang maju melainkan warga atau penghuni juga dianggap lebih dari warga daerah-daerah lainnya.
Saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, saya bersekolah di SMP yang mempunyai asrama. Kebanyakan penghuni asramanya adalah anak-anak Jakarta.
Gaya anak-anak Jakarta memang beda, terlihat lebih percaya diri dan modern, kebanyakan dari mereka memilih pelajaran ketrampilan pilihan bebas musik modern, main band. Sementara saya memilih karawitan atau menabuh gamelan.
Teman sebangku saya juga anak pindahan dari Jakarta. Dari TK sampai SD di Jakarta, dia kemudian yang paling pintar bahasa Inggris di kelas.
Menjelang kenaikan kelas dari kelas satu ke kelas dua, saya mengikuti darmawisata, piknik bersama teman-teman ke Jakarta. Apa yang diceritakan dan dilihat dari berita di TVRI akhirnya saya lihat. Gedung-gedung bertingkat, berbagai monument terutama monas, museum, istana negara, taman impian jaya ancol dan taman mini Indonesia indah.
Dalam benak saya waktu itu Jakarta memang wah sebab menyeberang jalan saja teramat susah karena lalu lalang mobil tiada hentinya.
Namun lama kelamaan saya berpikir sebenarnya orang Jakarta sama saja dengan saya dan orang-orang sekampung saya lainnya. Toh, kepadatan populasi Jakarta juga disumbang oleh kampung saya. Hampir semua keluarga di kampung saya mempunyai saudara yang merantau atau tinggal dan beranak pinak di Jakarta.
Jadi meski tinggal di kota besar yang kemudian disebut metropolitan,kosmopolitan, giga atau hypercity di dalam diri orang-orang Jakarta masih tersimpan kepercayaan lama. Kepercayaan pada semua jenis lelembut, setan, jin, roh halus dan hantu-hantuan.
Hanya saja jenis lelembut di Jakarta memang lebih keren sehingga bisa difilmkan seperti Si Manis Jembatan Ancol, Hantu Jeruk Purut, Hantu Terowongan Kasablanca dan lainnya. Seperti bintang film yang kebanyakan blasteran, hantu di Jakarta yang paling terkenal juga Noni Belanda.
Sama seperti kampung saya, di Jakarta juga banyak tempat yang dianggap angker. Tempat yang dianggap angker di kampung saya misalnya sungai dengan kedung yang dalam dan sekitarnya banyak pohon besar, pohon yang besar dan tinggi di perempatan yang jauh dari permukiman, mata air atau belik yang dinaungi pohon besar, batu besar yang berlumut dan dikelilingi pagar dari tanaman, papringan atau kawasan hutan bambu yang jauh dari rumah dan tanahnya selalu lembab.
Kebalikan dengan kampung saya, tempat angker di Jakarta justru merupakan daerah yang ramai seperti Stasiun Manggarai, Terowongan Kasablanka, palang pintu kereta bintaro, rumah pondok indah, rumah kentang, mall klender dan lain-lain.
Nenek saya pada saat tertentu sering meletakkan sajen di pinggir kali, perempatan dan pojokan rumah. Ternyata orang Jakarta juga gemar memberi sesajen. Bentuknya memang beda, bukan berupa ancak melainkan amplop. Sajen biasa diselipkan di meja, diberikan lewat salam tempel, disamarkan dalam map atau bungkusan lainnya sehingga tidak kentara.
Saya dan beberapa teman sering kali mengambil dan memakan sajen yang ditaruh oleh nenek saya. Tapi yang pertama saya dan teman-teman cepat-cepatan mengambil adalah sebatang rokok serta sekeping uang koin. Sedangkan di Jakarta, sajen biasanya dimakan sendiri, karena yang biasa disajeni adalah manusia-manusia serakah.
Dan setelah membaca buku kumpulan tulisan dari Marco Kusumawijaya yang berjudul Jakarta Metroplolis Tunggang -langgang, saya semakin yakin kalau kelakuan dan pikiran serta isi otak orang Jakarta tak beda jauh dengan kampung saya. Sebab Jakarta sesungguhnya hanyalah kampung besar.
BACA JUGA : Nusantara, Yang Penting Bukan Namanya Tapi Isinya
Dengan segala kelebihannya mestinya Jakarta mampu menjadi tempat yang nyaman, aman dan menyenangkan untuk penghuninya. Namun nyatanya Jakarta tumbuh menjadi kota yang kerap bikin frustasi bagi penghuninya. Tak heran jika diakhir pekan atau hari-hari kejepit banyak warganya keluar dan kemudian membanjiri serta bikin macet di Puncak Bogor, Bandung bahkan hingga Yogyakarta.
Yang pening dan pusing tujuh keliling ternyata bukan hanya gubernur dan warga Jakarta. Presiden Joko Widodo yang dikenal tenang dan kalem ternyata juga frustasi. Sehingga mengawali masa pemerintahan periode kedua, Presiden kemudian mewujudkan angan-angan yang muncul semenjak jaman Presiden Sukarno. Ibu Kota Negara telah diputuskan untuk pindah.
Banyak yang sudah mengira Ibu Kota Negara akan berpindah ke Kalimantan sebagaimana diinginkan oleh Presiden Sukarno dahulu. Namun tak banyak yang menyangka jika Kalimantannya adalah Kalimantan Timur.
Kalimantan Timurnya juga bukan Samarinda, Kutai Kartanegara atau Balikpapan, melainkan sebuah kecamatan di Kabupaten Penajam Paser Utara. Maka jangan heran jika kemudian ada yang menyebutkan lokasi IKN adalah tempat jin buang anak, terlebih di dalam buku saku IKN dituliskan lokasinya adalah hutan produksi dan perkebunan.
Anak yang dibuang oleh jin mungkin sudah beranak pinak tapi jelas tak bisa diharapkan untuk bisa membantu membangun IKN dengan cepat. Sebab kisah di masa lalu ternyata para jin tak berhasil membantu Bandung Bondowoso membangun Candi Prambanan dalam waktu semalam.
Lupakan para jin, genderuwo, kuntilanak dan lainnya, karena satu hal yang pasti pada wilayah yang kini di sebut Nusantara telah lama beranak pinak banyak kumpulan anak-anak bangsa. Warga negara yang selama ini jauh dari aksesibilitas dan konektivitas.
Jangan sampai pembangunan IKN justru meminggirkan dan membuat mereka menjadi masyarakat pinggiran.








