Uwuh Suci Lestari, itu nama salah satu teman saya sewaktu duduk di bangku sekolah dasar.  Anaknya pendiam dan tenang sehingga tak terlalu kelihatan reaksi emosinya. Tapi saya yakin setiap kali guru melakukan absen, Uwuh Suci Lestari selalu tak enak hati menunggu namanya disebut.

Sebab setiap kali namanya disebut, saya dan kawan-kawan sekelas lainnya akan selalu tersenyum dengan raut wajah yang cenderung mengejek.

Uwuh dalam bahasa Jawa berarti sampah.

Kabarnya ketika lahir dia diberi nama Suci Lestari oleh orang tuanya. Dengan nama yang mulia dan indah ini ternyata sakit-sakitan. Orang tua dan mungkin saja saudara-saudara yang lain beserta tetangga kemudian menyimpulkan bocah sakit-sakitan ini keberatan nama.

Nama dianggap tidak cocok, membawa sial karena beberapa sebab. Untuk itu mesti dilakukan ritual menganti nama, bisa dengan menambahkan atau merubah sama sekali. Upacara pengantian nama ini sering dilakukan bersamaan dengan ‘membuang’ anak.

Di sekitar rumah akan dibuat jogangan atau galian ditanah untuk membuang sampah. Bocah yang sakit-sakitan akan ditaruh disitu dan kemudian akan diambil oleh orang tuanya. Atau bisa juga dititipkan di rumah saudara atau tetangga lalu diambil oleh orang tuanya.

Lewat ritual itu kemudian Suci Lestari berganti namanya menjadi Uwuh Suci Lestari yang nampaknya tak juga sehat-sehat amat namun hati orang tua dan keluarga lainnya menjadi tenang.

Apalah arti sebuah nama?. Meski kita menyebut sekuntum mawar dengan nama lain, wanginya akan tetap semerbak. Rangkaian kalimat itu adalah kata-kata Juliet ketika merindukan Romeo kekasihnya, sebuah kisah dalam drama tragedi Romeo dan Juliet karya Willian Shakespeare.

Juliet benar, namun dalam masyarakat di seluruh penjuru dunia, nama sering dikaitkan dengan eksistensi dan identitas pemiliknya. Dalam nama ada harapan, doa dan beragam tahayul lainnya. Dalam nama selalu ada makna dan makna itu dianggap sebagai sebuah essensi.

Padahal dalam kasus Uwuh teman sekolah dasar saya dulu, vonis keberatan nama sehingga menyebabkan dia sakit-sakitan di masa kecil tidak didasarkan pada kenyataan penyakit. Dia hanya disebut sering sakit-sakitan tapi tidak dibawa ke dokter atau dirawat di rumah sakit untuk diketahui penyebab sakitnya.

Sakit yang dialami dianggap sebagai kesialan atau ketidakmampuan menahan beban sebuah nama. Anggapan yang berakar dari pengetahuan kolektif, bukan pengetahuan obyektif.

Mungkin secara fisik setelah diganti nama kemudian memang menjadi lebih sehat. Sebuah kebetulan yang kemudian memperkuat keyakinan kolektif bahwa sang anak keberatan dengan nama sebelumnya.

Tapi pergantian nama itu kemudian menjadi beban tersendiri, menyandang nama Uwuh Suci Lestari menjadi namanya sering menjadi bahan ‘poyokan’ { bully} di sekolah. Untung saja Uwuh Suci Lestari adalah anak yang kuat, sehingga hanya senyam-senyum saja setiap kali nama pertamanya jadi bahan ejekan.

BACA JUGA : Sudah Semestinya Presiden Memindahkan Ibu Kota Negara

Suharso Monoarfa, pada hari Senin, 16 Januari 2022 untuk pertama kali menyampaikan pada publik bahwa nama Ibu Kota Negara yang baru adalah Nusantara. Nama itu menurut Suharso disampaikan kepadanya oleh Presiden Joko Widodo pada minggu sebelumnya tepatnya pada hari Jum’at, 13 Januari 2022.

Nama ini kemudian dimasukkan dalam draft RUU yang kemudian disahkan oleh DPR sebagai UU IKN dan mengakhiri semua perdebatan serta keriuhan lainnya soal nama IKN yang konon berjumlah 80-an dalam daftar yang dirangkum oleh pemerintah dari berbagai sumber.

Lewat instagram @kantorstafpresidenri disampaikan 3 alasan kenapa Presiden Joko Widodo memilih nama Nusantara.

  1. Nusantara sudah dikenal sejak dulu dan ikonik di dunia internasional.
  2. Nusantara menggambarkan wilayah yang maritim dimana terdapat banyak pulau dan disatukan oleh lautan.
  3. Nusantara mengungkap sebuah pengakuan kemajemukan geografis yang melandasi kemajemukan budaya etnis.

IKN yang bernama Nusantara ini akan meliputi sebuah kawasan darat seluas 256,142 hektar dan wilayah kawasan perairan laut seluas 68,189 hektar.

Pada kawasan daratan 56.180 hektar akan menjadi kawasan inti IKN dan 199,962 hektar akan menjadi kawasan pengembangan.

IKN Nusantara akan berbatasan dengan Kota Balikpapan, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Penajam Paser Utara dan Selat Makassar.

Dengan ditetapkannya Nusantara sebagai nama IKN maka sejak saat itu Nusantara menjadi realitas dan pengetahuan kolektif yang baru. Nusantara adalah ibu kota yang wilayahnya meliputi daerah yang dulunya merupakan bagian dari Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.

Tidak semua setuju namun juga tak semua menolak. Ada perdebatan dengan alasan masing-masing. Hal ini bisa dipahami karena nusantara bukanlah sesuatu yang asing untuk rakyat Indonesia, bahkan juga Malaysia, Singapura dan Philipina.

Nusantara adalah bagian penting dari kesejarahan Indonesia dan negara tetangga. Dan dari sisi sejarah inilah perdebatan antara para ahli sejarah muncul. Ada ahli yang menganggap penamaan nusantara tetap menunjukkan dominasi ke-jawa-an, namun ahli lainnya mengatakan tidak, sebab nusantara bukanlah sesuatu yang asing untuk Kalimantan Timur, tempat dimana IKN mengambil sebagian wilayahnya.

Bayangkan ahli pada bidang yang sama saja berselisih paham. Maka tidak mungkin kesemuanya benar. Kemungkinannya salah satu dari banyak pendapat para ahli itu yang benar, namun kemungkinan lainnya yang paling mungkin adalah kesemua pendapat para ahli itu salah.

Tapi tak perlu risau, sebagai  sebuah kenyataan intersubyektif maka pertentangan satu sama lain adalah hal yang biasa. Sebab realitas intersubyektif adalah realitas yang dihadirkan, diciptakan.

Dalam kenyataannya nusantara sebagai identitas politik, identitas geografis, indentitas sosiologis dan seterusnya telah mengalami pergeseran makna dari waktu ke waktu. Penghayatan atau pemaknaan terhadap nusantara juga plural.

Bahkan realitas nusantara melampaui apa yang selama ini dianggap hanya berada dalam wilayah Indonesia, sebab di Malaysia, entri kata nusantara juga ada dalam kamus bahasa mereka.

Sedangkan sebagai nama Nusantara juga dipakai di mana-mana, mulai dari nama jalan, nama gedung, nama toko, nama orang, nama organisasi, nama komunitas dan lain-lain. Nama yang tidak selalu mencerminkan ke-nusantara-an.

BACA DULU : Dulu Lagu Syahdu Karena Dibully

Sekarang kalau ada yang bertanya apakah saya sreg terhadap Nusantara sebagai penamaan IKN?. Jujur saja tidak karena menurut saya janggal, aneh dan lucu.

Pasti banyak yang kemudian keberatan dengan kejujuran saya itu dan bertanya apa alasannya?.

Kalau ada yang bertanya apa alasannya maka saya harus mencari-cari alasan.

Dan ini alasannya, kalau suatu saat IKN jadi lalu saya yang tinggal di Samarinda hendak pergi ke sana dan ketemu orang di jalan lalu orang itu bertanya “Handak kemana?”, rasanya tak enak menjawah “Ke Nusantara”.

Menurut saya sih lebih enak kalau jawabannya “Ke Kota Nusantara”.

Tapi sekali lagi itu hanya perasaan yang sama sekali tidak ilmiah. Jadi abaikan saja dan tidak usah terlalu membuang waktu untuk berdebat hingga berlarat-larat soal nusantara ini.

Menurut saya yang terpenting bukan soal nama namun justru isinya, apa isi Nusantara itu nanti dan bagaimana perubahan dari Jakarta ke Nusantara bisa melahirkan praktek berbangsa dan bernegara secara baru. Sehingga praktek yang selama ini dikeluhkan ketika IKN berada di Jakarta tidak lagi terulang ketika IKN sudah berada di Nusantara.

Nusantara yang selama ini adalah nusantara yang terkait dengan sejarah kelampauan. Namun ketika Nusantara ditetapkan sebagai nama IKN baru mestinya juga ditafsir secara baru, move on dari yang lampau sehingga Nusantara akan menampilkan dimensi sejarah baru. Sejarah yang bukan tentang hari kemarin melainkan tentang hari esok.