Ketika ada seseorang jualan dan laris tak lama kemudian akan banyak orang lain mengikuti. Satu jualan tela-tela dan laku, dari ujung ke ujung bertabur penjual tela-tela.
Fenomena seperti itu sering kita temui, jalan yang biasa kita lalui berubah-ubah wajahnya, suatu saat dipenuhi dengan penjual teh dua daun, kemudian berganti dengan deretan penjual dawet ayu, beberapa saat kemudian yang banyak adalah penjual thai tea, lalu disusul oleh penjual boba dan seterusnya.
Menjadi pengikut memang lebih gampang ketimbang orang yang berani memulai untuk pertama kali, seseorang yang mengambil resiko.
Latah atau suka ikut-ikutan nampaknya sudah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat. Bukan hanya dalam urusan ekonomi bisnis melainkan juga juga gaya hidup.
Dalam urusan resiko perilaku ikut-ikutan biasanya dilakukan oleh mereka yang rendah diri. Orang-orang yang tidak berani memulai terlebih dahulu, mereka menunggu ada yang berhasil baru diikuti. Namun dalam urusan gaya hidup, perilaku ikut-ikutan biasa diikuti oleh mereka yang punya kebanggaan berlebihan. Bangga kalau punya HP mahal, bangga kalau pakai baju bermerek, bangga kalau berfoto dengan selebritas atau kaum elit.
Fenomena latah ini konon kerap menimpa bangsa-bangsa yang lama dijajah. Karena ditindas oleh kolonial sebagian besar masyarakatnya berada dalam kelas terendah. Hanya sedikit saja dari antara yang tertindas bisa menikmati apa yang dirasakan oleh kaum penjajah.
Oleh penjajah dan kaum elit apa yang dimakan serta dihasilkan oleh masyarakat kelas kambing dipandang rendah, bahkan hina. Tempe misalnya sering jadi lambang sikap yang lembek dan lemah, singkong juga dipersepsikan sebagai kurang gizi.
Sampai sekarang masih sering terdengar umpatan “Dasar mental tempe” untuk menyebut mereka-mereka yang gampang menyerah dan kurang punya semangat juang.
Post kolonial kemudian memunculkan sindroma kekurangpercayaan diri pada inisiatif lokal, sumberdaya lokal, kebudayaan lokal atau bahkan orisinalitas.
Segala sesuatu yang berasal dari luar selalu dianggap lebih baik, lebih keren dan lebih pas untuk diikuti. Kita jadi kurang punya kepercayaan untuk memulai segala sesuatu yang berasal dari inisiatif dan kemampuan sendiri.
BACA JUGA : Nusantara, Yang Penting Bukan Namanya Tapi Isinya
Sultan Gustaf Al Ghozali atau kini lebih dikenal sebagai Ghozali Everyday, sejak tahun 2017 mengumpulkan foto selfie dengan gaya yang sama setiap hari. Dia ingin mengumpulkan selama 5 tahun untuk kemudian dibuat sebagai video time lapse.
Ghozali adalah mahasiswa jurusan animasi di Universitas Dian Nuswantoro, Semarang. Video time lapse itu sudah dibuat, berisi kurang lebih 933 foto selfie. Videonya sudah diupload di youtube dan kemudian ke 933 foto selfienya diolah menjadi NFT dan di upload pada opensea, marketplace NFT.
Hanya iseng dan lucu-lucuan, Ghozali memberi harga untuk setiap fotonya sebesar 0,001 Ethereum atau sekitar 3 dollar.
Ghozali pun mempromosikan NFT-nya dengan malu-malu karena merasa dirinya bukan siapa-siapa. Namun ternyata foto selfienya laku bukan hanya ratusan ribu atau jutaan rupiah melainkan menembus angka 1 milyard lebih.
Nama Ghozali Everyday meledak, viral dan disebut dimana-mana.
Kenapa foto Ghozali Everyday laku?.
Sesuatu menjadi laku biasanya karena jarang atau bernilai kelangkaan dan punya nilai guna atau bernilai manfaat.
Foto selfie ala Ghozali bisa jadi memang jarang di marketplace NFT, tapi soal manfaat tentu saja bisa diperdebatkan.
Jadi apa yang kemudian membuatnya menjadi laku dan booming di pasar NFT?.
Jawabannya adalah gorengan dari komunitas. Sama seperti banyak komoditas lainnya, peran masyarakat atau komunitas tertentu bisa membuat sesuatu kemudian laku serta dicari-cari di masyarakat. Demikian juga dengan NFT.
Konon yang memulai membeli foto Ghozali adalah sebuah komunitas yang mengeluti NFT di Indonesia. Mereka merasa NFT yang dijual oleh Ghozaly Eveyday lucu, maka mereka membeli untuk lucu-lucuan sekaligus berdonasi agar hasilnya bisa membantu untuk keperluan sehari-hari.
Salah satu pembelinya yang kemudian berhubungan dengan Ghozaly bahkan berani bertaruh, andai NFT Ghozaly habis terjual, kepada Ghozaly akan diberikan hadiah laptop.
Dan ternyata NFT foto selfie Ghozaly Everyday habis terjual.
Habis karena di marketplace terlihat pergerakan transaksi yang kencang. Aktifitas tidak biasa atas NFT Ghozaly Everyday kemudian memancing pembeli yang lain. Pembeli kedua yang tidak terkoneksi dengan Ghozaly hanya berpikir potensi uang, prinsipnya sesuatu yang laku pasti mempunyai nilai.
Dan apapun nilainya, yang paling penting adalah beli cepat dan jual cepat. Beli ketika harganya belum naik gila-gilaan dan jual sebelum harganya terjun bebas.
Dengan rumus seperti itu maka pembeli dari luar negeri yang tak tahu siapa Ghozaly Everyday dan apa guna fotonya juga turut membeli, membeli sebagai investasi yang spekulatif.
Melihat keberhasilan Ghozaly Everyday yang begitu mudahnya meraup uang milyardan rupiah, banyak orang kemudian merasa bisa melakukan apa yang dilakukan olehnya dan berharap akan dapat meraup uang yang sekurangnya sama besar dengan yang didapat oleh Ghozaly.
Dan kemudian di marketplace NFT opensea, bertabur NFT-NFT aneh bin ajaib dari Indonesia, mulai dari foto seblak, bakso, soto dan masakan lainnya, foto KTP, foto porno bahkan foto dagangan lain yang dicomot dari marketplace.
Bahkan juga ada NFT yang merupakan hasil colongan berupa karya desain dan lainnya karya orang lain yang diambil dari akun instagram.
Marketplace NFT opensea kemudian diperlakukan seperti marketplace barang fisik semacam tokopedia, lazada, bukalapak atau shopee.
Keberhasilan Ghozaly Everyday dengan 933 NFT foto selfienya di opensea kemudian membuat opensea menjadi etalase nafsu mengeruk duit mudah bermodal kebodohan hingga ke tulang sumsum.
BACA JUGA : Sudah Semestinya Presiden Memindahkan Ibu Kota Negara
Salah satu watak yang menonjol dari netizen di Indonesia adalah merasa bisa.
Bermodal keyakinan “Kalau Ghozaly aja bisa masak saya nggak bisa,”, berbagai hal yang dianggap sebagai NFT kemudian diupload ke opensea, marketplace tempat Ghozaly menjual karyanya.
Merasa bisa tanpa modal pengetahuan apa itu blockchain, cryptocurrency dan NFT, semua ramai-ramai menyerbu marketplace NFT tanpa peduli kalau yang dipajang itu sebagian merupakan barang-barang colongan.
Berharap meniru pencapaian Ghozaly Everyday dalam waktu yang singkat tentu saja sia-sia. Sesederhana apapun yang dilakukan oleh Ghozaly adalah sebuah konsistensi, setiap hari berfoto selama bertahun-tahun. Bukan sekedar berfoto namun mempunyai tujuan untuk merekam episode hidupnya selama bertahun-tahun untuk kemudian bisa disaksikan dengan cepat dalam sebuah video time lapse.
Maka karya Ghozaly mempunyai nilai {value} yang berupa konsistensi, ketekunan, tampil apa adanya dan lain-lain. Sesuatu yang subyektif memang namun bisa diberi harga. Soal berapa nilainya itu akan sangat tergantung kepada komunitas atau masyarakat untuk menentukan. Disinilah sering terjadi sesuatu yang tidak diduga, apa yang dianggap oleh masyarakat umum sebagai biasa saja ternyata bernilai di masyarakat NFT dan begitu pula sebaliknya.
Untuk menentukan harga jual sebuah barang atau produk dalam pelajaran ekonomi tradisional ditentukan berdasarkan komponen bahan baku, tenaga kerja, waktu yang dibutuhkan, distribusi, biaya promosi, persaingan, ketersedian, penawaran dan lain sebagainya.
Komponen tadi bisa diukur atau dihitung secara matematis.
Namun matematika dalam ekonomi menjadi khas karena ada komponen yang tidak bisa dihitung secara eksak yaitu value atau nilai. Yang disebut nilai bisa berasal dari mana saja, bisa dari pembuatnya, bisa dari barangnya, bisa dari pembelinya dan lain-lain.
Meski bersifat sangat subyektif, nilai inilah yang akan menentukan harga jual sebuah produk. Dan nilai menjadi amat penting dalam produk yang termasuk dalam sektor industri kreatif.
Sebuah karya atau produk kemudian bernilai tinggi tidak semata berasal dari produk itu sendiri atau pengkaryanya. Tinggi rendahnya harga akan sangat tergantung dari pengakuan, penerimaan atau kesepakatan pembeli.
Pengakuan, penerimaan atau kesepakatan ini bisa muncul dari hal-hal yang tidak disangka sebelumnya. Seperti foto Ghozaly yang tidak diberi deskripsi apapun untuk menerangkan itu apa, bagaimana dan lain sebagainya ternyata ditangkap oleh pembeli sebagai sesuatu yang lucu, aneh, unik dan lain sebagainya sehingga memancing minat untuk membeli. Tujuannya hanya bersenang-senang.
Nilai yang diafirmasi itu kemudian membuat orang berbondong-bondong membeli, terlebih ketika yang membeli adalah orang-orang yang terkenal maka banyak orang kemudian ikut-ikutan tanpa tahu mengapa.
Ketika booming, nilai menjadi tidak penting. Seperti kejadian banyak orang beramai-ramai membeli batu akik atau tanaman janda bolong.
Masuknya teknologi dalam ekonomi lewat blockchain, fintech, kripto, NFT, metaverse dan seterusnya membuat apa yang kerap terjadi di pasar offline, semakin mudah dan semakin sering di pasar online.
Di ruang digital dan virtual hambatan untuk masuk dalam pasar hampir tidak ada. Semua orang bisa melakukan, semua orang merasa bisa.
Tapi sekali lagi cara instan atau cara cepat dengan menjadi peniru untuk mendapat kekayaan atau uang besar tidaklah akan berhasil. Ikut-ikutan tanpa memahami substansi dasar dari pasar NFT hanya akan melahirkan sampah atau bahkan perilaku yang memalukan bangsa dan negara.
NFT sebagai aset digital pada dasarnya diciptakan untuk dunia kreatif. Maka yang diperlukan adalah kreator dan karyanya, karya yang unik, langka dan bermanfaat. Dengan NFT para pengkarya bisa masuk dalam pasar yang besar, pasar yang tidak dikontrol oleh kekuatan tertentu, semua setara tanpa dominasi.
Dengan NFT barrier to entry bagi para pemula menjadi kecil, sebab ada ruang bebas yang dengan leluasa bisa dimasuki untuk kemudian bersaing merebut perhatian dari para pembeli tanpa batas.
Jadi pikirkan karya, bukan memperoleh uang dengan cara yang cepat atau instan yang justru akan mengantar pada tindakan curang, atau bahkan kriminal seperti mencuri dan mencomot karya orang lain lalu menjualnya.








