Basuki Tjahaja Purnama dan Tri Rismaharini dikenal sebagai orang yang suka marah-marah. Tapi sebagai pejabat publik yang pemarahan keduanya banyak disukai oleh masyarakat, pengemarnya melampaui daerah yang pernah dipimpinnya.

Mungkin saja gaya marah-marah Ahok dan Risma dianggap sebagai bentuk ketegasan, keterusterangan dan tak mau menyembunyikan kesalahan. Kemarahan yang pada tempatnya dan saat yang tepat. Walaupun demikian banyak orang berpendapat memimpin dengan cara marah-marah tidaklah benar, selain terlihat arogan, marah-marah juga dianggap tidak efektif karena bisa membuat orang lain tersinggung, terhina dan sakit hati.

Yang paling bermasalah adalah banyak orang marah hanya ikut-ikutan tanpa tahu alasannya apa. Seperti kisah seorang pengendara yang kesenggol mobil di jalanan, lalu mobil yang menyenggol motor itu terus berlalu.

Karena tak berhenti, pengendara mobil kemudian diteriaki maling oleh pengendara motor. Teriakan ‘Maling’ itu kemudian memprovokasi pengendara motor lain untuk mengejar.

Diteriaki maling dan dikejar banyak orang lalu tak berhenti dianggap sebagai melarikan diri. Padahal sopir yang mengendarai mobil sudah tua sehingga pendengarannya berkurang.

Karena tak berniat melarikan diri tentu saja kecepatan mobilnya wajar saja sehingga tak lama kemudian akan terkejar. Dihentikan dan dikerubungi oleh banyak pengendara motor tentu saja membuat pengendara mobil kebingungan.

Begitu keluar tanpa dialog apapun, mereka yang ramai-ramai mengejar langsung mengeroyok. Usianya sudah tua, untuk berjalan saja mesti dibantu dengan tongkat dan kemudian dikeroyok puluhan orang tentu saja berakibat fatal. Pengendara mobil yang biasanya disertai sopir itu namun karena sopirnya tidak datang kemudian berpulang akibat penganiayaan banyak orang yang tahu pangkal masalanya.

Kejadian semacam itu kerap terjadi, sekumpulan orang dengan mudah diprovokasi untuk marah dan kemudian bertindak beringas. Teriakan maling bahkan tanpa tahu apa yang dicuri bisa membuat seseorang yang takt ahu apa-apa berakhir hidupnya dengan cara yang mengenaskan.

Mengapa banyak orang sedemikian mudah marah-marah, bahkan kepada orang yang tidak dikenal sekalipun?.

Bisa jadi hal ini berhubungan dengan kenyataan bahwa masyarakat kita bukanlah masyarakat yang bahagia. Orang yang tidak bahagia cenderung reaktif pada apa-apa yang menurut anggapan mereka buruk.

Dalam rilis indeks kebahagiaan dunia yang dilakukan oleh Sustainable Development Solution Network dan The Centre for Sustainable Development, Columbia University, Indonesia menduduki peringkat ke 82 dari 149 negara.

Berada di peringkat 82 meski masyarakatnya mudah bersyukur dan kerap mengatakan “bahagia itu sederhana saja,” ternyata survey membuktikan bahwa masyarakat Indonesia bukan masyarakat yang berbahagia.

BACA JUGA : Dikagumi Kakek Karena Tinggal Di Kalimantan

Berapa tahun belakangan ini seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, kemarahan menjadi lebih mudah dijumpai di ruang publik. Aura dan aroma kemarahan ada dimana-mana serta dilakukan oleh siapa saja, kemarahan itu juga dengan mudah tersebar secara liar hingga kemudian viral.

Dengan jumlah pengguna telepon pintar sebanyak 167 juta atau 89% dari total jumlah penduduk Indonesia, maka kamera yang siap merekam kejadian ada dimana-mana.

Selain gemar mengambil gambar untuk menunjukkan eksistensi diri, pengguna telepon pintar di Indonesia amat jarang membiarkan perisitiwa yang menarik disekitar dirinya lepas begitu saja tanpa terekam.

Akibatnya aksi marah-marah dimanapun dan dalam kesempatan apapun selama ada orang lain disekitarnya akan terdokumentasi.

Berbagai platform media sosial kemudian menjadi etalase peristiwa orang marah-marah. Bahkan tak sedikit yang disiarkan secara live atau real time.

Silih berganti video yang diunggah di internet menyita perhatian, ada yang bikin tertawa terpingkal-pingkal seperti seseorang yang disetop oleh polisi dan hendak ditilang kemudian melampiaskan marahnya dengan menghancurkan motornya.

Tapi tak sedikit juga yang kemudian bikin banyak orang mengelus dada, prihatin sekaligus heran dengan berbagai reaksi berlebihan atas sesuatu hal. Sepertinya banyak orang di jalanan dan di ruang publik lainnya tengah menyimpan bom, tersenggol sedikit saja kemudian meledak.

Sayangnya yang kerap marah-marah dan kemudian tertangkap kamera bukan hanya orang biasa. Mereka yang terhormat, orang-orang yang berkedudukan dan berpangkat kerap kali juga suka berulah. Hanya karena persoalan sepele saja, nyatanya sudah cukup untuk melontarkan berbagai macam kata yang tidak pantas.

Atas bantuan orang-orang yang gila urusan karena doyan merekam dan menyiarkan segala sesuatu yang terjadi disekitar mereka, kita menjadi tahu bahwa anak bangsa kita ini mempunyai persoalan besar dalam mengendalikan diri.

Dikenal sebagai bangsa religius, masyarakat yang mengutamakan sopan santun, menghargai nilai, adat dan tradisi, namun berbagai macam nasehat yang kerap berseliweran nyatanya tak mampu meningkatkan kemampuan untuk mengendalikan amarah.

Nampaknya selalu ada sesuatu yang memancing rasa marah dan sederet alasan untuk memaklumi kemarahan.

Mereka yang lepas kontrol dan kemudian videonya tersebar luas biasanya tak lama kemudian akan membuat video pernyataan minta maaf atas perilakunya itu.

Masalahnya saat lepas kontrol kata-kata yang terlontar dari mulutnya bisa jadi sudah menyakiti hati orang lain, mengandung pelecehan, penghinaan atau bahkan fitnah, sehingga telah ada yang melaporkannya pada pihak berwajib.

Apabila kemudian dalam pemeriksaan aparat penegak hukum telah memenuhi unsur tindak kejahatan, maka kata maaf meski disampaikan sambil berurai air mata tak akan membuat ancaman hukuman gugur begitu saja.

BACA JUGA : Ghozaly Effect, Sisi Buruk Latah NFT

Ada soal lain dalam dunia internet yakni tak sedikit orang dengan kepribadian tertentu yang gemar mengulak-ulik informasi dan kemudian menyebarluaskan dengan tujuan untuk memancing kemarahan publik, kelompok atau pihak tertentu.

Fenomena semacam ini dikenal dengan istilah internet troll atau trolling.

Istilah ini diturunkan dari frasa ‘trolling for newbies’ dan “trolling for fish” yang kerap dipakai dalam perdebatan online sebagai salah satu cara untuk memojokkan lawan diskusi dalam perdebatan yang panas. Selain itu juga sering dipakai untuk menyebut mereka yang tidak peduli pada etika.

Karena memungkinkan tampil secara anonim maka internet kemudian menjadi tempat subur bagi mereka yang gemar menantang pendapat atau asumsi umum, atau hal-hal nyeleneh lainnya.

Hanya saja dalam perkembangan selanjutnya perilaku trolling tidak melulu dilakukan oleh pengguna internet secara sembunyi-sembunyi. Pelaku atau sekelompok pelaku bahkan menunjukkan eksistensinya untuk menunjukkan pembelaan atau keperpihakan pada hal-hal tertentu.

Dalam dunia politik terutama politik kontentasi hal ini terlihat jelas pada tahun politik menjelang pemilu 2019. Kerja-kerja para pelaku trolling berhasil membelah masyarakat Indonesia menjadi dua kelompok yakni cebong dan kampret.

Residu dari perseteruan ini masih terus terasa hingga sekarang dan perilaku trolling dari pihak yang diindikasi terafiliasi pada dua kelompok ini masih terus terjadi.

Makin kesini ketrampilan untuk menebar umpan di media sosial menjadi semakin canggih. Kita mengenal banyak sosok yang sungguh ahli untuk melempar umpan. Apapun yang dilempar olehnya kemudian disambar oleh pemakai media sosial lainnya hingga kemudian dunia maya dan dunia nyata menjadi gaduh.

Salah satu modus yang paling sering  dipakai untuk memancing rasa marah publik adalah cherry picking. Seseorang hanya mencomot ucapan atau potongan video tertentu yang kemudian dipakai sebagai argumen bahwa seseorang atau sekelompok orang telah melakukan sesuatu yang buruk, menyesatkan, menghina, merendahkan dan lain sebagainya.

Dan tanpa melhat konteks, kemudian pihak-pihak yang dimaksudkan untuk tersangkut umpan itu kemudian meradang.

Persoalannya  ada juga yang memakai modus trolling sebagai cara untuk mendulang rupiah. Trolling disengaja untuk meningkatkan ekposure. Sehingga ketika memperoleh ekposure yang tinggi, akun sang penebar umpan kemudian menjadi menarik bagi pihak lain untuk memanfaatkannya lewat endorse.

Nikita Mirzani adalah salah satu publik figur yang mengakui pola semacam ini. Konon pendapatannya naik secara bermakna setiap kali dia berseteru dengan orang lain.

Konstelasi ini kemudian menjadi menyulitkan karena apapun yang dilemparkan ke internet atau ke media sosial menjadi sulit untuk dikendalikan. Sehingga apa yang mungkin diniatkan sebagai seru-seruan, bentuk keisengan kemudian berkembang menjadi peristiwa yang mengenaskan hingga bahkan mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.