Sepuluhan tahun yang lalu saat menginap di sebuah kampung sering kali saya menemui sekelompok laki-laki yang berkemas kemudian pamit untuk berkebun.

Barang bawaannya cukup banyak sebab kebunnya jauh, melintasi beberapa wilayah kecamatan.

Nanti setelah cukup akrab kemudian saya memberanikan diri bertanya “Kenapa kebunnya jauh-jauh?”

Sambil tersenyum mereka menjawab “Tanam-tanam saja, siapa tahu nanti dapat ganti rugi,”

Rupanya mereka berkebun atau lebih tepat menanami lahan dengan pepohonan serta tumbuhan lainnya sebagai modus untuk mendulang uang tatkala kelak lahan itu ditambang.

Siasat semacam ini sudah lama dan kerap kali terjadi karena kongkalikong dengan orang dalam perusahaan. Ada lingkaran korupsi disini.

Pegawai perusahaan yang mengurusi ganti rugi umumnya akrab dengan masyarakat, akrab karena berbagi keuntungan. Jumlah pohon atau tanaman yang akan diganti rugi di mark up, pun juga dengan luasan lahannya.

Pegawai akan berjuang di perusahaan untuk meloloskan anggaran dan nanti ketika sudah dibayarkan sebagian dari nilai ganti rugi akan diserahkan warga kepada pegawai tersebut dan timnya. Pemilik perusahaan senang bisa menambang, masyarakat riang mendapat ganti rugi dan pegawai perusahaan makin tajir karena dapat bagian dari uang perusahaan yang dialokasikan untuk masyarakat.

Win-win solution semacam ini lebih disukai oleh masyarakat ketimbang bersengketa melalui jalur hukum. Membawa urusan ke ranah hukum bisa membuat langkah berlarat-larat dan hasilnya tak selalu menguntungkan untuk masyarakat. Menempuh jalur hukum untuk masyarakat bahkan bisa beresiko terpukul balik lewat aksi kriminalisasi.

Kerjasama untuk mencari untung antara masyarakat dengan oknum perusahaan terjadi dalam berbagai hal, bukan hanya urusan ganti rugi lahan atau tanaman serta tumbuhan.

Tanda-tanda adanya persekongkolan sebenarnya cukup mudah untuk dilihat. Setiap kali ada masalah antara masyarakat dengan perusahaan, masyarakat tidak mau bertemu dengan pihak perusahaan selain dengan oknum yang biasa bersengkongkol dengan masyarakat tersebut.

BACA JUGA : Saling Nyinyir Antar Juragan Teknologi

Istilah ganti rugi dalam urusan lahan kini kurang disukai. Pihak perusahaan dan pemerintah lebih suka memakai istilah ganti untung. Memang benar, dalam kasus-kasus tertentu uang yang diberikan oleh perusahaan jumlahnya besar, angkanya lebih tinggi dari harga pasaran.

Seperti awal tahun lalu ratusan warga di Desa Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban yang ramai-ramai membeli mobil.

Warga membeli mobil seusai menerima ganti untung dari Pertamina dan Rosneft, perusahaan asal Rusia yang menjadi mitra Pertamina.

Video ratusan mobil yang diantar oleh dealer bersama-sama menjadi viral. Mobil mesti diantar oleh pihak penjual karena sebagian pembelinya belum bisa menyetir mobil.

Konon tanah warga dihargai antara 600 hingga 800 ribu per meter. Karena ganti untungnya besar ada beberapa orang yang membeli 2 hingga 3 mobil.

Dapat banyak uang dan bisa bepergian dengan mobil tentu saja warga menjadi senang. Namun setahun kemudian sesal mulai tumbuh. Uang habis karena warga tak lagi punya penghasilan, sebab tanah atau lahan tempat mereka bertani telah berubah menjadi segepok uang dan mobil yang malah membuat uang semakin cepat habis.

Tak sampai setahun ganti untung segunung yang diterima dari Pertamina dan Rosneft kandas, warga bangkrut.

Dulu meski warga tak punya mobil namun lahan yang ditanami dengan berbagai komoditas bisa menghasilkan panenan bernilai jutaan rupiah dalam satu kali musim panen. Kini semua telah musnah.

Menjual lahan dan kemudian berharap dapat pekerjaan dari proyek Pertamina dan Rosneft ternyata sia-sia. Tak semua warga mempunyai syarat yang cukup, baik soal umur maupun ketrampilan untuk turut ambil bagian dalam proyek.

Wargapun berdemo, menuntut dan mengungkit janji manis yang dulu dipakai Pertamina dan Rosneft untuk membujuk mereka melepaskan lahannya.

Mendapat ganti untung segunung dan tak lama kemudian bangkrut adalah kisah yang lazim. Masyarakat yang tak terbiasa memegang uang dalam jumlah banyak cenderung menjadi kalap sehingga tak sadar kala menghambur-hamburkan uang.

Yang paling gampang tentu saja membelanjakan untuk kepentingan konsumtif dan gaya hidup. Dan otomatis akan terjadi ketimpangan antara pemasukan dan pengeluaran. Pemasukan tak ada namun pengeluaran lancar seperti pipa besar yang bocor.

Ganti untung ibarat durian runtuh, uang jatuh. Namun uang itu datang dengan cara menukar aset lahan dan ladang penghidupan menjadi lembaran kertas yang mudah dibelanjakan.

Bisa dipastikan hanya sedikit yang kemudian membeli tanah penganti terlebih dahulu sebelum menikmati sisa uang ganti untungnya.

BACA JUGA : Fleixing : Sultan Abal Abal Terlihat Kaya Tapi Tak Sukses Beneran

Kalau cincin perak diganti cincin emas, atau telepon pintar redmi note 8  diganti iPhone 12 itu namanya ganti untung. Tapi kalau sebidang tanah pertanian kemudian ditukar dengan segepok uang, itu namanya merubah aset menjadi kapital.

Dalam konteks sosial ekonomi, uang sebagai alat hitung mempunyai fungsi sebagai alat pembayaran. Yang bisa dibayar dengan uang adalah belanja modal dan belanja barang/jasa.

Masalahnya seberapa banyak masyarakat yang punya ketrampilan untuk menjadi uang sebagai modal?. Tidak banyak sebab ketrampilan untuk menginventasikan kembali uang agar kemudian bisa menghasilkan uang bukanlah ketrampilan yang umum diajarkan.

Masyarakat lebih banyak diajarkan untuk membelanjakan uang. Dimana-mana ada bujuk rayu untuk membeli ini dan itu meski sebenarnya tidak perlu atau belum siap.

Berpuluh tahun menjadi petani, nelayan dan lainnya lalu menerima segepok uang bernilai ratusan milyard, seseorang kemudian bisa menjadi kalap.

Membeli mobil untuk kemudian berpikir bisa menjadi pengusaha layanan angkutan tentu saja merupakan loncatan alih profesi. Dari pegang cangkul lalu memutar setir jelas sangat berbeda sehingga tak mudah untuk dilakukan.

Jangankan untuk bersaing dengan mereka yang lebih dahulu terjun ke bisnis itu, lancar membawa mobil saja belum tentu segera dapat dipenuhi.

Yang lebih parah, begitu tahu ada sekelompok masyarakat yang dapat rejeki nomplok maka gerombolan yang gemar menawarkan model investasi yang manis di bibir juga akan segera menyerbu. Tawaran untuk membuat uang beranak pinak dengan cepat tak mudah untuk ditampik oleh mereka yang kurang waspada dan minim pengetahuan.

Dan tergoda untuk menjadi lebih kaya dengan cara mudah, pada akhirnya banyak orang kemudian terlalu berani mempertaruhkan seluruh kekayaan pada investasi yang ternyata bodong.

Maka jika mendapat ganti untung jangan percaya pada janji manis siapapun. Bijaklah dengan uang, jika uang dihasilkan dari mengkonversi aset, maka yang pertama harus dilakukan adalah membeli aset produktif baru dengan uang itu, jika kemudian ada sisa baru bersenang-senanglah dengannya.