Berabad-abad manusia hidup dan menjalani kehidupan dalam ketidaktahuan. Ketika sistem sosial belum rumit, saat masih hidup dalam kelompok-kelompok kecil, ketidaktahuan itu tidak terlalu membawa masalah.
Namun lama kelamaan ketika kelompok manusia mulai menetap, membangun kawasan permukiman, mendomestifikasi tumbuhan dan hewan, evolusi manusia tidak lagi berjalan secara alamiah.
Kemampuan menguasai api membuat manusia tidak lagi menyantap makanan mentah. Makanan yang dimasak menjadi lebih enak dan mudah dicerna. Budidaya tanaman pangan dan hewan ternak juga membuat manusia mempunyai cadangan makanan yang pasti. Ketersediaan pangan menjadi terjaga.
Tak lagi harus berburu atau meramu, tinggal bersama dalam kelompok besar dan mempunyai banyak waktu luang, kemampuan berbahasa manusia menjadi lebih baik, berkembang pesat melampaui dunia binatang.
Dengan bahasa manusia kemudian mulai menata dan mengelola pengetahuan. Pengetahuan yang sebagian dikumpulkan berdasarkan pengalaman lewat indera.
Namun pengamatan dari luar itu sesungguhnya hanya menghasilkan pemahaman tentang apa yang terjadi lewat gejala yang terlihat, terasa atau terdengar. Bagaimana itu terjadi belum bisa ditelusuri karena keterbatasan alat atau teknologi.
Apa penyebab dan bagaimana sesuatu terjadi kemudian direka-reka berdasarkan pemahaman dan pengalaman saat itu. Jawaban atas pertanyaan itu lebih merupakan keyakinan ketimbang kebenaran.
Dalam perkembangannya keyanikan yang kemudian dipercaya sebagai kebenaran itu menjadi kebenaran subyektif. Kebenaran subyektif yang kemudian berkembang dipercaya oleh individu-individu lainnya kemudian berkembang menjadi kebenaran intersubyektif.
Dan apa yang diyakini sebagai kebenaran intersubyektif itu kemudian menjadi pengetahuan umum. Contoh dari kebenaran-kebenaran umum yang masih bertahan sampai sekarang adalah bumi itu datar, bencana adalah hukuman dari Yang Maha Kuasa, manusia adalah satu-satunya mahkluk yang berkesadaran, hati adalah tempat menyimpan perasaan dan lain-lain.
Pengetahuan baik subyektif maupun intersubyektif disusun berdasarkan teori konspirasi, bukti tidak didasarkan pada penyelidikan dengan mengulik pada subyek atau obyek lewat penelitian melainkan dengan menghubungkan fenomena baik secara periodik maupun episodik.
Dalam ilmu pengetahuan atau sains, pengamatan dan kesaksian serta konsensus merupakan model pembuktian yang paling lemah. Bukti yang berasal dari penangkapan indera selalu mengandung kemungkinan bias.
Hanya saja manusia kerap butuh kepastian, pegangan yang cepa tatas situasi-situasi yang membuat tidak nyaman.
Oleh karenanya dibutuhkan otoritas tertentu yang bisa menjadi ‘hakim’ atau penentu atas apa yang disebut dengan kebenaran.
Dan ketika ilmu pengetahuan belum berkembang, pengetahuan kemudian bebasis pada otoritas atau kekuasaan {authority based truth}.
BACA JUGA : Sepenggal Cerita dari Bangunan Tua
Ketika peradaban berpindah dari fase berburu meramu ke fase menetap {budidaya}, salah satu sifat yang mulai pudar dari kelompok adalah egalitarian. Setara dan selalu berbagi bersama-sama menjadi sulit untuk terus dipraktekkan karena pada fase menetap, manusia kemudian mengenal kepemilikan serta mulai menumpuk kekayaan.
Kepemilikan dan harta kemudian menimbulkan tantangan baru, membutuhkan nilai-nilai serta perangkat baru untuk menjaga serta memastikan keamanannya. Dimulai dari individu yang mulai berhasil menguasai lahan secara luas, kemudian muncul kelas sosial.
Selain karena penguasaan lahan, kelas sosial juga muncul karena tumbuhnya diversifikasi profesi dalam masyarakat yang hidup dalam permukiman menetap. Meski penting dan mempunyai peran sangat fundamental, sejak semula petani menjadi kelas sosial yang rendah, petani kemudian kalah kelasnya dengan tukang, pedagang, penjaga keamanan dan lain-lain.
Dalam masyarakat yang mulai tinggal menetap kemudian muncul kelas elit, kelas menengah dan kelas rendah.
Kelas elit dimulai dari dari kepala suku yang kemudian tumbuh menjadi kaum aristokrat, keluarga bangsawan dan pemimpin kerajaan. Kelompok elit lainnya adalah orang pintar yakni penyihir, dukun dan lain-lain yang kemudian tumbuh menjadi pemuka-pemuka ‘agama’ atau sistem kepercayaan.
Kaum elit inilah yang kemudian menjadi patokan atau sumber pengetahuan. Apa-apa yang tidak diketahui atau ingin diketahui oleh masyarakat kemudian dicarikan jawaban dari mereka. Dengan kekuasaannya, mereka kemudian menjawab apa saja yang ditanyakan oleh masyarakat. Sampai sekarang yang disebut sebagai kaum elit adalah kaum yang pantang untuk tidak memberi jawaban.
Apa yang disebut dengan pengetahuan yang benar adalah apa-apa yang diyakini oleh banyak orang, meski itu adalah hasil karang mengarang, mimpi atau kesurupan.
Sistem pengetahuan kemudian mulai tertata dengan munculnya kaum cendekiawan atau cerdik pandai. Dimulai dari kaum pujangga, para kawi yang menghasilkan pengetahuan lisan dan kemudian tertulis.
Mereka biasanya merupakan penasehat para raja atau pemimpin tertinggi kaum elit. Disebut sebagai kaum pemikir yang bertugas mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan substansial atau hakiki.
Agar bisa memikirkan sesuatu untuk mencari jawab dengan mendalam mereka biasanya akan pergi menyepi, mencari tempat-tempat yang jauh dari keramaian seperti puncak-puncak gunung. Mereka pergi menyepi untuk melakukan kontemplasi atau merenung. Masyarakat umum memahami sebagai bertapa.
Sepulang dari sana mereka mempunyai ajaran, bentuk pengetahuan yang ditemukan dan disimpulkan selama permenungan. Apa yang kemudian disampaikan atau dituliskan kemudian dianggap sebagai kebijaksanaan.
Gunung yang biasa dipakai untuk merenung {bertapa} kemudian dinamakan sebagai Gunung Kawi, sementara hasil dari permenungan ditulis dalam bentuk buku yang dinamakan dengan Kakawin.
Para pemikir ini kemudian sering menjadi pembicara publik, menyampaikan hasil pemikirannya kepada masyarakat luas. Kata-kata atau kalimat-kalimat indahnya memukai masyarakat luas, apa yang disampaikan kemudian dianggap sebagai ilmu, karena memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang kerap muncul dalam diri masyarakat.
Hanya saja terkadang apa yang disampaikan oleh para pembicara publik ini tidak sesuai dengan keyakinan umum. Apabila apa yang disampaikan membuat raja dan kaum elit lainnya tidak berkenan maka kaum cerdik pandai ini bisa berakhir hidupnya karena dihukum.
Kelak ketika rasionalitas mulai menjadi pertimbangan utama, kaum cendekiawan yang identik dengan kata dan kalimat indah kemudian berkembang menjadi filsuf. Cara kerja filsuf kemudian dianggap sebagai permulaan ilmu pengetahuan, filsafat dianggap sebagai ibu dari segala ilmu.
Filsafat dianggap sebagai ibu dari segala ilmu karena dari sana lahir ilmu-ilmu lainnya, ilmu yang tidak lagi mengkonsumsi keyakinan tradisional dan teologi atau religiusitas. Namun belum semua ilmu terbebas dari hal itu. Maka tidak semua ilmu pengetahuan disebut sebagai sains.
Apa yang kemudian tidak bisa diimplementasikan dalam bentuk teknologi dengan cara kerja yang pasti bukanlah sains.
Sayangnya meski banyak misteri sudah disibak oleh sains, namun pandangan non sains tidak otomatis hilang. Masyarakat masih terus menerima keyakinan sebagai kebenaran. Namun yang lebih celaka hal-hal yang diluar kajian atau bidang sains kerap juga dipaksakan oleh masyarakat untuk menjadi sains sehingga lahirlah apa yang disebut sebagai pseudosains.
Pun demikian dengan pandangan para filsuf yang tidak terbukti kebenarannya atau telah dibantah secara meyakinkan oleh sains. Pandangan itu tidak otomatis hilang atau gugur, kini pandangan para filsuf bahkan filsuf-filsuf pemula masih dipercaya, terus disebut dan dikutip-kutip sebagai penguat atau pembenaran atas sebuah fenomena.
Manusia dengan semua pencapaiannya sebenarnya memang lebih menyukai hal-hal yang emosional termasuk terhadap pengetahuan. Apa yang ingin diyakini sebagai kebenaran adalah hal-hal yang disukai, hal-hal yang diyakini bukan hal yang diuji sebagai benar.
Otak manusia meski telah menghasilkan temuan teknologi yang rumit, sebenarnya tidak suka bekerja keras. Manusia lebih memilih untuk menggunakan memori intrinsik ketimbang ekstrinsik, pengetahuan yang didapat dari pengalaman ketimbang pengetahuan yang dipelajari dari buku atau sekolah.
Dan terbukti meski kebanyakan manusia mempercayai hal-hal yang tidak benar, tidak bisa dibuktikan kebenarannya karena tidak ada, dunia tetap berkembang. Bahkan hal-hal yang tidak ada namun dipercaya sebagai ada kemudian malah bisa menyatukan manusia, membuat manusia bisa bekerjasama satu sama lain, merasa senasib, merasa berasal dari pencipta yang sama dan lain-lain.
Sejarah peradaban dunia lebih mencatat bahwa manusia adalah mahkluk emosional ketimbang mahkluk rasional.
BACA JUGA : Kalau Jatuh Cinta Tahi Kucing Rasa Cuan
Kebenaran bahwa manusia adalah mahkluk emosional dengan sangat jelas direpresentasikan oleh mahkluk yang bernama netizen. Media sosial adalah ajang untuk menunjukkan sepak terjang emosionalitas.
Di media sosial netizen terus memelihara pengetahuan yang berasal dari keyakinan, pengetahuan yang mengkonsumsi berbagai aspek non sains.
Atas sebuah masalah, isu atau wacana tertentu selalu terjadi pembelahan, dunia menjadi hitam putih, pro dan kontra.
Siapapun yang terlibat dalam pro dan kontra dengan segera akan mempertontonkan kelakuan paling menjijikkan dan jorok dalam berpikir. Argumen untuk saling bantah membantah diwarnai dengan beragam model sesat pikir.
Adalah biasa di media sosial kita menemukan dua kubu saling berbantahan dengan memakai kalimat atau kata-kata yang membongkar aib pribadi, menyerang kelemahan personal, kekurangan fisik serta beragam kalimat lain yang nadanya penuh dehumanisasi.
Keriuhan media sosial terkait bidang sosial, ekonomi dan politik dimulai oleh Donald Trump. Sosok pengusaha flamboyan yang tak punya akar politik di Amerika Serikat itu berhasil memenangkan pemilu dan menjadi presiden Amerika Serikat ke 45, mengalahkan Hilary Clinton yang digadang-gadang akan menjadi presiden perempuan pertama Amerika Serikat.
Tim kampanye Donald Trump secara cerdik memakai media sosial bukan untuk menunjukkan siapa dan apa hebatnya Donald Trump dalam berpolitik. Para pengkampanye lebih memilih untuk membeber ‘keburukan’ Hillary Clinton sebagai bahan bakar untuk menyampaikan pesan betapa bahayanya jika Hillary memimpin Amerika Serikat.
Masyarakat digiring bukan untuk menyukai Trump melainkan membenci Hillary. Karena yang bersaing hanya dua orang, maka otomatis yang berhasil masuk dalam jebakan untuk membenci Hillary kemudian akan memilih Trump dalam pemilu.
Hasilnya sungguh buruk ketika Donald Trump terpilih sebagai presiden Amerika Serikat. Banyak hal-hal kontroversial dilakukan oleh Trump yang memang mengemari drama dan popularitas. Amerika Serikat terpuruk.
“Saya tak bisa mendengar atau membaca apapun yang Trump katakan tanpa merasa mual. Dia sungguh beracun—kukira tak ada tokoh lain membuatku bereaksi seperti ini. Jadi, saya akan jujur, jika ada orang yang kukenal memilihnya, rasanya saya tak akan bisa melihat mereka seperti sebelumnya […] Unfriend saya sekarang, tapi jangan meninggalkan komentar membelanya di sini di wall saya.”
Itu status facebook dari Devi Asmarani, editor pada situs magdalene.co untuk mengungkapkan reaksi dan perasaan atas kelakuan Trump dan para pendukungnya. Devi gerah kenyataan bahwa Trump bisa memenangkan kontestasi pada pemilu presiden AS. Dalam pandangannya tidak ada yang bisa dirasionalisasi dari pilihan masyarakat atas Donald Trump.
Dampak atas kemenangan Trump yang diperoleh dengan cara mengekploitasi rasa keterancaman dan ketakutan memang berbahaya. Amerika yang selama ini dikenal terbuka dan toleran terhadap isu-isu kontroversial seperti LGBT, perbedaan gaya hidup, pilihan individual dan lainnya bisa terancam eksistensinya. Penghargaan atas tatanan masyarakat yang terbuka dan beragam bisa menurun karena rasisme menguat.
Meski kondisi dan watak politik di Amerika Serikat dengan di Indonesia berbeda, namun apa yang terjadi disana ternyata juga ditemukan di Indonesia dalam konstestasi politik tahun 2019.
Di media sosial terlihat jelas keterbelahan masyarakat. Ada dua kubu yang saling benci, menyukai satu calon artinya membenci calon lainnya.
Yang beredar di media sosial hanyalah pujian dan cacian. Yang didukung akan dipuji setinggi langit, sementara yang tidak didukung akan dicaci sampai sebasi-basinya.
Dua kelompok yang mempunyai singkatan sama yakni PPP, mempunyai kepanjangan Pasukan Pemuji Pimpinan dan Pasukan Pembenci Pimpinan.
Meski kelakuannya bertentangan namun keduanya mempunyai kesamaan dalam memandang. Bagi keduanya gajah di pelupuk mata tidak nampak namun kuman diseberang lautan kelihatan.
Pasukan semacam ini tidak hanya beroperasi di level nasional atau tingkat kepemimpinan presiden, melainkan juga di tingkat regional hingga daerah kepemerintahan paling kecil yakni desa atau kampung.
Andai kemudian di pemilu 2024 nanti para PPP ini kemudian memilih Partai Persatuan Pembangunan, niscaya partai ini akan memenangkan pemilu, mendudukkan banyak wakil rakyat di DPRD sampai DPR RI sehingga bisa mendukung dan mencalonkan presidennya sendiri.








