Jika melancong ke Kota Semarang, salah satu yang wajib di kunjungi adalah Kawasan Simpang Lima. Selain itu pelancong umumnya juga akan berkunjung dan berswafoto di Tugu Muda serta Gedung Lawang Sewu yang ikonik karena kisah paranormal experience-nya.

Jarang sekali yang menyadari bahwa di kawasan Tugu Muda dan tak jauh dari Gedung Lawang Sewu ada Museum Mandala Bhakti. Padahal gedung museum yang terletak di jalan Sugiyopranoto pasti akan dilewati ketika hendak ke Lawang Sewu.

Museum terutama museum sejarah nampaknya tak lagi menarik untuk menjadi tujuan kunjungan. Meskipun di jaman darmawisata saat masih duduk di bangku sekolah dasar maupun menengah, museum merupakan salah satu tujuan utama dari kegiatan piknik bersama.

Ketika pertama kali datang ke Kalimantan Timur tahun 2002, tempat piknik yang pertama saya datangi adalah Museum Tenggarong. Saat itu hingga beberapa tahun kemudian Museum Tenggarong masih merupakan destinasi utama kunjungan wisata di Kutai Kartanegara.

Di kompleks Taman Samarendah mulai tahun 2017 lalu juga dibangun Museum Samarendah. Entah kapan persisnya diresmikan, namun sampai hari ini menjejakkan kaki di halamannya saja saya belum pernah.

Museum yang pada umumnya bernilai pendidikan, sejarah kebudayaan dan perjuangan di jaman sosial media nampaknya memang tak lagi menarik. Jangankan singgah, keberadaannya saja sering tak dikenali.

Museum-museum yang kini ramai dikunjungi adalah museum yang instagramable semacam Museum Angkut di Batu, Museum Trupark di Cirebon, Motomoto Museum di Tangerang, Old City 3D Trick Art Museum di Semarang, Macan atau Modern and Contemporary Art in Nusantara di Jakarta Barat, Museum De Mata Trick Eye di Yogyakarta, Amazing Art World di Bandung dan lain-lain.

Kesukaan berswafoto dan unjuk diri di media sosial membuat museum bergaya lama yang acapkali suasananya suram, temaram bahkan menyeramkan menjadi kurang menarik untuk dikunjungi. Wisatawan membutuhkan museum-museum yang riang, cerah dan warna-warni serta banyak spot foto untuk dipakai bergaya baik sendiri maupun bersama-sama.

Dan museum ala Madame Tussauds serta Disneyland lah yang kemudian cocok untuk arus jaman yang suka mengabadikan wajahnya sendiri untuk menunjukkan eksistensi diri.

BACA JUGA : Percaya Diri Dengan Robusta

Selasa sore tanggal 28 Desember 2021 yang lalu, saya tiba di Semarang saat kota itu diguyur hujan. Untuk menghangatkan badan sambil memandang Kota Semarang dari ketinggian, saya diajak singgah ke Epicure Sky Lounge.

Karena hujan masih rintik tak mungkin duduk di bagian outdoor, tempat paling tepat untuk melihat pemandangan. Namun dari balik jendela kaca yang lebar masih terlihat sebagian wajah Kota Semarang dari atas. Segelas kopi Americano dan semangkok ‘pecel’ Korea cukup melegakan badan yang penat karena perjalanan di atas kendaraan selama berjam-jam.

Sambil makan dan minum kami berbincang. Rencananya besok akan makan malam di Warung Makan D’Kambodja. Saya tak tahu warung makan itu ada di mana. Yang saya ingat di Semarang ada Resto Beringin di seberang depan Stasiun Poncol Semarang.

Dari pencarian di google map terlihat bahwa Warung Makan D’Kamboja berada di sekitar Tugu Muda. Namun dua kali melewati kawasan Tugu Muda saya tak melihat ada papan nama yang menunjukkan keberadaannya.

Mungkin saja keberadaannya tertutupi bangunan-bangunan besar dan menonjol yang ada disekitar Tugu Muda yakni Rumah Dinas Gubernur Jawa Tengah, Gedung Pandanaran, Gereja Katedral, Museum Mandala Bhakti dan Gedung Lawang Sewu. Satu-satunya tempat nongkrong yang terlihat menonjol hanyalah Starbuck yang berada dalam gedung sendiri disamping Museum Mandala Bhakti.

Malamnya saya baru tahu ternyata Warung Makan D’Kamboja berada di kompleks Museum Mandala Bhakti pada bagian belakangnya. Sopir taksi online yang tahu tempatnya dan kemudian membawa masuk mobil ke dalam kompleks museum.

Bagian belakang Museum Mandala Bhakti di malam hari ternyata ramai dengan deretan warung makan, tempat minum dan tempat nongkrong, jumlahnya ada puluhan outlet, baik berdiri sendiri maupun ada dalam kumpulan layaknya food court.

Bangunan yang didirikan di masa kolonial Belanda tepatnya pada tahun 1906 dulunya merupakan Pengadilan Tinggi Belanda. Di masa penjajahan Jepang diduduki sebagai Markas Militer Jepang. Dan setelah kemerdekaan kemudian dijadikan Markas Komando Wilayah II Kodam IV Diponegoro.

Dan pada tahun 1980, bangunan yang berada pada area kurang lebih 1 hektar itu kemudian difungsikan sebagai museum yang dibuka untuk masyarakat umum pada tahun 1987.

Lalu pada tahun 2019 lalu kawasan ini kemudian direnovasi tanpa merubah bangunan dan fungsi utamanya sebagai museum. Hanya ada penambahan sejumlah tempat makan dan minum atau sentra kuliner.

Penampilan kompleks Museum Mandala Bhakti kemudian lebih menawan terutama di malam hari. Ramai pengunjung datang ke sana namun bukan untuk berkunjung ke museum melainkan untuk menikmati makan dan minum yang disajikan berbagai warung makan dan kios disana.

Dan Warung Makan D’Kamboja yang didirikan oleh Ane Avantie, desainer kebaya yang ternama adalah salah satu yang selalu ramai dengan kehadiran pengunjung.  Mengusung menu makanan olahan ala-ala pedesaan atau makanan ndeso, Ane Avantie mempunyai dua outlet disana yaitu Warung Makan D’Kambodja dan Pavilyun D’Kambodja. Menunya sama hanya beda konsep, jika di Warung Makan D’Kambodja makanan disajikan secara prasmanan maka di Pavilyun D’Kambodja makanan disajikan secara paketan.

BACA JUGA : Menyusuri Khayangan Menoreh

Malam itu saya bersantap bersama dengan keluarga yang sudah puluhan tahun tinggal di Semarang. Tanggapan mereka sama yakni tak menyangka kalau ternyata di kompleks museum yang selama ini dikenal kusam dan suram telah berubah wajah menjadi pusat kuliner.

Mereka sama sekali tak menduga jika kompleks gedung yang biasa mereka lewati ternyata didalamnya telah ada kafe kopi kekinian semacam Staburck dan Antara Coffee.

Deretan resto atau rumah makannya juga menyajikan menu yang beragam mulai dari menu nusantara yang bisa ditemui di Warung Puas, Warung D’Kambodja, Warung Gulai Tikungan {Gultik} dan lainnya.

Selain itu juga ada warung cepat saji ala Jepang yakni Yoshinoya yang menyajikan beef bowl dan untuk yang doyan mie ada juga Wo Yao Mie.

Dan ada berbagai macam makanan lain yang berada di lajur yang disebut Grand Kartika Bistro yang berkonsep semi outdoor. Di lajur ini harga makanannya nampaknya lebih bersahabat dengan kantong. Disini kalau ingin menikmati malam tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam bisa saja duduk-duduk sambil menyantap satu mangkuk bubur kacang ijo saja.

Apakah mempertahankan museum dengan cara merubahnya menjadi sentra kuliner adalah cara yang benar tentu saja bisa diperdebatkan. Namun yang pasti sentra kuliner di Kompleks Museum Mandala Bakti yang harga menunya tak bisa dibilang murah ternyata mampu mendatangkan banyak orang kesana.

Bahwa kemudian mereka yang datang lebih mengenal kompleks museum sebagai kompleks kuliner itu adalah soal lain. Atau barangkali menjadi pekerjaan rumah bagi para pengelola untuk menghubungkan antara kuliner dengan museum secara lebih erat dan mendalam.

Namun bagi saya, apa yang berkembang di Museum Mandala Bhakti kemudian menambah referensi tentang bagaimana merevitalisasi aset-aset yang kusam dan muram hingga kemudian menjadi ruang publik yang ramai dan menyenangkan untuk banyak orang.