Dulu sering kali muncul ramalan atau dugaan tentang bumi yang akan kiamat. Dan banyak orang menjadi takut serta khawatir. Namun lama kelamaan ramalan tentang kiamat mulai luntur berganti menjadi kekhawatiran terhadap pengrusakan dan kerusakan lingkungan.

Alih-alih mengembar-gemborkan hari akhir, hari kiamat sebagai ‘hukuman’ dari Sang Maha Kuasa atas kelakukan manusia di dunia, kini lebih banyak orang menyuarakan tentang “Selamatkan Bumi”.

Ajakan menyelamatkan bumi sebenarnya merupakan ajakan untuk merubah perilaku, baik individu maupun kelompok terhadap lingkungan hidup. Perubahan perilaku itu diharapkan akan membuat laju kerusakan lingkungan hidup menjadi melambat, sehingga lingkungan mempunyai kesempatan untuk memulihkan dirinya sendiri.

Kampanye semacam ini didasari oleh pandangan bahwa dunia semakin lama semakin memburuk. Dan jika tidak diperbaiki maka dunia atau bumi tidak akan menjadi tempat yang aman serta nyaman bagi manusia untuk hidup.

Tapi benarkah bumi atau dunia memburuk?.

Dalam dirinya sendiri bumi atau dunia tidak mengenal baik atau buruk. Selama sejarahnya, bumi sebagai ruang hidup bagi manusia berkali-kali bersikap tidak ramah. Bahkan dalam rentang umur bumi lebih lama berada dalam kondisi yang tidak ramah untuk kehidupan.

Maka jika ada yang bertanya pada saya apakah dunia membaik atau memburuk, saya akan menjawab membaik.

Saya bukti yang bisa saya sampaikan adalah soal pangan. Pada masa kecil hingga remaja dulu, saya menyaksikan ada banyak keluarga di sekitar lingkungan saya yang makan dengan lauk parutan kelapa, minyak jelantah dan sambal terasi.

Pada masa itu makan telur dan daging ayam sungguh merupakan sebuah keistimewaan. Telur dan daging ayam bukan hanya enak melainkan enak sekali.

Di sekolah pada waktu itu sering ada pengumuman tentang ajakan untuk memberi sumbangan. Karena di berbagai tempat kerap terjadi bencana kelaparan. Kelompok masyarakat kerap mengalami paceklik sehingga kesulitan mendapatkan pangan.

Di tingkat global, bencana kelaparan yang terparah pada waktu itu pernah menimpa Ethiopia.

Isu pangan di masa kecil saya memang merupakan isu penting. Ada banyak nasehat dan nilai-nilai yang diajarkan tentang pangan. Karena pangan sulit maka kerap kali saya dan rekan-rekan segenerasi dinasehati bahwa hidup bukan untuk makan tapi makan untuk hidup.

Makanan ditempatkan sebagai alat untuk menopang hidup bukan tujuan hidup. Orang-orang yang terlalu doyan makan akan disebut sebagai serakah atau rakus. Yang mengambil makanan terlalu banyak dan kemudian tak mampu menghabiskan akan dijuluki besar mata daripada perut.

Revolusi pertanian sekitar 40 atau 30 tahun lalu berhasil mengembangkan industri pangan yang digdaya. Kini meski jumlah petani menurun dan lahan pertanian banyak menghilang namun ketersediaan pangan tetap melimpah.

Yang disebut dengan telur dan daging ayam sudah jadi makanan biasa. Bahkan saya yang dahulu menganggap telur dan daging ayam adalah istimewa, kini kerap kali merasa bosan karena bertemu dengan telur dan daging ayam setiap hari.

BACA JUGA : Makan Makan di Museum

Saya tak hendak mengatakan usah mengkhawatirkan bumi apalagi berniat menyelamatkannya. Silahkan saja tetap mengatakan dan mengelorakan hastag ‘Selamatkan Bumi”. Sebab berempati pada bumi, dunia dan seisinya tetaplah penting.

Namun saya tetap harus mengakui bahwa ditengah dinamika kehidupan, hubungan manusia dengan alam dan lingkungan tidaklah bisa disangkal bahwa kehidupan manusia hari ini terus menuju arah yang lebih baik.

Salah satu parameter yang bisa dipakai untuk mengukur adalah tingkat harapan hidup. Manusia selama puluhan tahun terakhir ini harapan hidupnya menjadi semakin lebih baik. Di Indonesia pada tahun 2020, angka harapan hidup {AHH} perempuan adalah 73,46 tahun, sementara laki-laki adalah 69,59 tahun.

Bandingkan dengan kondisi 30 tahun lalu dimana dalam sensus penduduk pada tahun 1971 diketahui bahwa angka harapan hidup rata-rata orang Indonesia saat itu adalah 47,7 tahun.

Maka sejak tahun 2000-an sebenarnya tidak lagi relevan mengatakan atau berpikir bahwa perempuan lebih lemah dari laki-laki.

Anggapan bahwa perempuan lebih lemah dari laki-laki adalah anggapan purba. Karena di masa lalu salah satu tugas terberat dari perempuan adalah hamil dan melahirkan. Dengan mutu dan layanan kesehatan yang belum merata, hamil dan melahirkan memang menjadi kelemahan perempuan. Namun kini kondisi hamil dan melahirkan tidak lagi menjadi kondisi kritis serta berbahaya untuk perempuan.

Perbaikan mutu hidup atau angka harapan hidup di banyak negara bahkan kemudian menimbulkan masalah. Di negara-negara maju dan makmur kini mengalami komposisi penduduk yang tidak seimbang karena lebih banyak orang tua ketimbang orang muda.

Kondisi ini menjadi sebuah ancama karena negara tersebut akan kekurangan tenaga kerja produktif. Sehingga perlu didatangkan tenaga kerja dari luar yang kerap kali akan melahirkan masalah karena perbedaan latar belakang kehidupan.

Namun apapun itu kondisi ini membuktikan bahwa di tengah berbagai kekhawatiran tentang masa depan bumi dan dunia, ternyata kualitas hidup manusia semakin membaik. Dan hal ini tak bisa dilepaskan dari pangan.

Dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, manusia berhasil memproduksi pangan jauh melampaui kemampuan alam untuk menyediakannya. Adanya berbagai macam produk turunan, ekstraksi hingga pangan instan serta awetan menunjukkan produksi pangan sungguh berlimpah.

Kelimpahan makanan atas salah satu cara ditunjukkan lewat produksi sampah dan limbah. Kini sampah dan limbah domestik adalah salah satu sumber pencemar paling utama untuk lingkungan hidup manusia.

BACA JUGA : Percaya Diri Dengan Robusta

Tidaklah berlebihan jika kemudian saya berpikir bahwa dunia kita hari ini adalah dunia yang lupa pada nasehat “Makan untuk hidup bukan hidup untuk makan”.

Menelisik isi pesan dan informasi di media baik media sosial maupun media penyiaran publik salah satu pesan utamanya adalah ‘ayo makan’.

Salah satu konten utama dan ternama di platform media sosial adalah soal makan-makan. Entah pertunjukan makan serakah semacam mukbang atau review terhadap makanan baik yang dilakukan oleh food blogger, youtuber maupun pengguna platform sosial media lainnya.

Konten yang kemudian bisa mempengaruhi orang untuk ikut-ikutan makan, bukan karena lapar atau sudah waktunya makan melainkan karena makanan itu viral secara digital.

Adalah sebuah kenyataan bahwa orang berduyun-duyun makan makanan tertentu atau di tempat tertentu karena yang menjual cantik atau ganteng, karena tempatnya sudah didatangi oleh reviewer makanan ternama.

Perkembangan dunia pariwisata dan ekonomi kreatif juga turut memompa semangat orang untuk makan-makan. Muncul banyak destinasi lokasi wisata kuliner yang menyajikan aneka makanan untuk menarik hati para pemakan.

Urusan makanan kemudian dijauhkan dari sekedar memenuhi kebutuhan fisik. Yang dipompa adalah kebutuhan non fisik, makan sebagai sesuatu yang menyenangkan, mengembirakan kalau perlu meningkatkan harkat dan harga diri.

Para promotor kuliner sadar betul bahwa memori manusia erat kaitannya dengan makanan. Kebiasaan makan di masa lalu berhubungan dengan rasa aman dan nyaman. Dan untuk memenuhi kebutuhan itu ada banyak resto yang mengusung konsep makan-makan yang memorable. Konsep itu diwujudkan dalam bentuk rumah makan dengan sajian makanan kampung, ndeso atau rumahan.

Makan juga kerap dihubungkan dengan eksistensi diri. Soal apa yang dimakan dan bagaimana cara makan bisa dipakai untuk menunjukkan kelas sosialnya. Hadirlah resto atau rumah makan yang kemudian menyajikan makanan-makanan berkelas, makanan luar negeri, makanan yang mampu menunjukkan bahwa yang memakannya adalah warga global.

Setelah mengenal api, manusia menemukan kenyataan bahwa makan adalah sesuatu yang menyenangkan. Dan kesenangan akan makan itu kini diwadahi oleh hadirnya tempat-tempat makan yang mendukung suasana makan. Kini ada banyak rumah makan dibangun jauh dari perkotaan, berada diantara perbukitan dan persawahan. Untuk pergi dan mencapai tempatnya diperlukan kesungguhan, kesungguhan untuk makan.

Ada paradoks lain soal makan, justru disaat tubuh tak terlalu butuh makanan karena tengah berada dalam kondisi pembatasan sosial aktivitas makan justru meningkat. Hadirnya teknologi yang memungkinkan pesan antar makanan menjadi lebih gampang kerap membuat mereka yang mager kemudian memencet tombol untuk pesan makanan.

Pun demikian ketika pada bulan puasa, bulan dimana orang secara sengaja mengurangi makanan. Namun justru di bulan-bulan semacam ini lebih sering terjadi acara makan-makan bersama. Makan bersama artinya akan ada persediaan makanan yang berlimpah, makanan yang diadakan.

Hasilnya justru di bulan puasa malah terjadi peningkatan belanja dan konsumsi makanan.

Para peneliti dan ahli-ahli kesehatan sudah lama memperingatkan betapa tidak sehatnya cara makan, pola dan kebiasaan makan masyarakat pada umumnya. Namun kondisi itu juga menjadi lahan subur bagi bisnis para penganjur pola, kebiasaan dan cara makan yang sehat. Sebab untuk menikmati program, menu dan pola makan yang sehat ternyata ongkosnya juga tidak murah.

Itulah dialektika makan makan kita hari ni. Selalu akan ada pertentangan antara nilai, moralitas dengan kebiasaan atau kecenderungan untuk menikmati makan karena makan pada dasarnya bukan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan perut, asal kenyang, melainkan juga menyenangkan dan mengembirakan.

Namun apapun kesenangan, kebiasaan dan cara makan kita sebaiknya jangan meniru kebiasaan makan para elit-elit politik, kekuasaan dan ekonomi. Sebab mereka tak lagi memakan makanan. Perut mereka tak lagi bertanya apa yang akan dimakan hari ini, makan dimana hari ini atau makan dengan siapa hari ini. Bagi mereka pertanyaan soal makan hari ini adalah siapa yang akan kita makan.