KESAH.ID – Mata jika terpapar asap bakal meneteskan air, tangis yang perih. Ternyata asap yang memancing air bisa dilakukan dengan sengaja lewat mesin pengembun. Dan cairan hasil kondensasi asap mempunyai banyak manfaat untuk bidang kesehatan, pertanian dan makanan olahan.
Salah satu sore yang menyenangkan adalah ketika notifikasi WA berbunyi dan muncul pesan “Ngopi mas, di kebun,”
Pergi ke kebun memang menyenangkan apalagi kalau itu kebunnya Pak De Minto, hamparan hijau yang berhasil di tumbuhkan di lokasi eks tambang batubara.
Di lahan yang luasnya kurang lebih setengah hektar itu tumbuh tanaman pepaya, kangkung, kemangi, bayam merah, melon, jagung dan indukan bengkoang.
Saya tak sengaja berkenalan dengan Pak De Minto di Berambai. Waktu itu saya mendapat undangan untuk menghadiri pelatihan pembuatan pupuk organik dan pakan ternak kering {silase}.
Selain Sunil Asfianoer Hirpristomo yang mengundang saya datang, ternyata Sarminto atau Pak De Minto adalah trainer lainnya. Mereka berdua merupakan penyuluh pertanian swadaya.
Sama-sama peduli pada pertanian, petani dan peternak keduanya kemudian menginisiasi dalam bentuk kelembagaan yang dinamakan BTC, Bena Tadi Cerdas. Awalnya saya mendengar sebagai Bina, tapi ternyata tulisannya Bena.
Sampai sekarang saya tak pernah bertanya apa yang dimaksudkan dengan Bena itu. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti bena adalah ombak atau air banjir.
Saya memang tak berlaku seperti mahasiswa yang suka mengulik organisasi mulai dari visi misi, kegiatan dampai dukungan dari pemerintah.
Dengan melihat kebun dan aktivitas di kebun yang dikelola oleh Pak De Minto dan teman-teman petani lainnya sayapun tahu apa yang dicita-citakan atau hendak diperjuangkan oleh BTC.
“Banyak lahan mas untuk bertani,”
Ucapan Pak De Minto itu berbanding terbalik dengan prasangka saya soal lahan pertanian di Samarinda yang dari berbagai data selalu tertulis mengalami penyusutan karena konversi lahan akibat pertambangan, pembangunan perumahan dan infrastruktur lainnya.
Ternyata menciutnya lahan pertanian di Kota Samarinda juga disebabkan oleh lahan yang dibiarkan, nganggur entah karena dijadikan investasi untuk dijual lagi nanti dalam bentuk kaplingan, atau karena lahannya kritis dan tak produktif lagi.
Lahan pertanian kritis baik karena peristiwa yang bersifat alami maupun akibat perlakuan petani terhadap lahan saat melakukan budidaya.
Di masa lalu para petani banyak sekali memberi asupan eksternal material untuk menyuburkan lahan, mengusir hama dan memusnahkan tanaman penganggu.
“Pupuk pabrik, pestisida dan herbisida dulu memang merupakan hal baik, tapi pemakaian yang lama dan tak terkendali membuat lahan dan lingkungan pertanian menjadi tidak seimbang,’ ujar Pak De Sarminto tak mau menjelek-jelekkan pupuk atau bahan lain yang sering disebut kimia itu.
Saya paham, baik pupuk pabrik atau pupuk organik sama-sama kimia. Dan tumbuhan sebagaimana tubuh manusia menyerap segala sesuatunya dalam bentuk kimia.
Tapi kelebihan pupuk organik mengandung unsur biologi, ada microorganisme dan juga bahan organik lainnya yang kemudian tidak hanya berfungsi untuk memberi asupan nutrisi pada tanaman melainkan juga memberi keseimbangan fisika, kimia dan biologi pada tanah.
“Dalam pupuk organik ada material pembenah tanah,” ujar Pak De Minto.
BACA JUGA : Kotak Kosong
Saya jadi ingat dengan penjelasan seorang teman lain yang telah lama mengulik soal tanah. Dia selalu naik tensinya kalau ada yang menyebut kompos sebagai pupuk.
Dia selalu menyebut kompos sebagai material organik yang terdekomposisi. Yang melakukan dekomposisi adalah mahkluk mikroorganik atau mahkluk dekomposer. Mahkluk ini akan memakan material organik sehingga hancur. Yang disebut pupuk atau nutisi yang berguna untuk menyuburkan tanaman sebenarnya merupakan sekresi atau kotoran dari mahkluk dekomposer.
Sementara material padat lainnya, hasil peleburan material organik lebih akan berfungsi sebagai material penambah tanah, penutup tanah dan lainnya.
Di ruang kelas terutama kelas akademis, perbedaan antara pembenah tanah dan pupuk memang bisa dibedakan secara rigid.
Tapi dalam prakteknya bisa saja pembenah tanah sekaligus mengandung pupuk, atau pupuk tertentu juga mengandung bahan pembenah tanah, karena kandungan hara makro dan mikronya yang tinggi.
Di pondok kebun yang sederhana, saya juga kerap merasa sedang kuliah ketika berbincang dengan Pak De Minto. Beberapa orang menjulukinya sebagai profesor, meski tak sedetail para pengajar, peneliti atau mahasiswa di ruang kelas dan laboratorium universitas.
Walau begitu omongan dan pengetahuan bisa dibuktikan di hamparan kebunnya. Mana yang berhasil diterapkan dan mana yang perlu diuji lebih lanjut. Kebunnya adalah laboratorium yang diamati setiap hari.
Tapi yang paling penting adalah filosofinya. Tanah dan tanaman bisa dijaga serta dimuliakan dengan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan, baik lingkungan kebun maupun lingkungan rumah.
“Yang kita perlukan untuk memuliakan tanah dan tanaman ada di sekitar kita,” gitu tegas Pak De Minto selalu.
Memang benar bahan baku untuk menyeimbangkan unsur tanah dan sumber nustrisi bagi tumbuhan ada di batang tubuh tanaman, limbah pertanian, peternakan dan rumah tangga. Semua bisa dimanfaatkan bahan baku untuk pembenah tanah dan penyubur tanaman.
Pembenahan tanah menjadi salah satu proses penting dalam budidaya pertanian di Kalimantan Timur karena pada umumnya lahan cenderung asam, entah karena faktor alam maupun perlakuan.
Tanah yang masam akan menganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman karena mempengaruhi kemampuan akar untuk menyerap unsur hara yang diperlukan. Selain itu ketidakseimbangan unsur di dalam tanah akan menjadi racun bagi tanaman, serta menjadi tempat berkembang tumbuh berbagai macam organisme penganggu tanaman.
“Sama seperti kita, tanaman butuh lingkungan yang tepat. Kalau tanaman bahagia dia akan memberi hasil yang membahagiakan untuk kita,” ujar Pak De Minto.
Seperti petuah-petuah kaum bijaksana bahagia itu bisa diciptakan dari dalam dari diri sendiri. Bahagia tak harus datang dari luar karena yang kita pakai atau outfit kita serba branded. Pun demikian dengan tanaman, tak perlu pupuk sintetik dari pabrik-pabrik besar dan bermerek.
Sebab yang sintetik dan bermerek selalu membutuhkan biaya besar untuk mengadakannya. Dan pemakaian dalam jangka panjang serta berlebihan bahkan bakal membuatnya menjadi racun baik bagi tanah maupun tanaman.
“Kita bisa membuatnya sendiri, bahan buangan, sisa-sisa dari aktivitas tani, ternak dan rumah tangga akan menjadi jauh bernilai bila tak dibuang begitu saja,” lanjut Pak De Minto.
BACA JUGA : Marc Pergi
Urusan tidak membuang begitu saja berbagai macam hal yang biasanya dibuang juga dilakukan oleh Pak De Minto dengan cara membuat asap cair. Di kebunnya ada instalasi sederhana untuk menghasilkan smoke liguid.
“Ini teknologi tepat guna,” terang Pak De Minto.
Dan dia tak pelit untuk membagi ilmunya.
“Ada orang dari luar pulau ingin membeli asap cair saya, saya malah kasihan karena ongkos kirimnya lebih mahal. Jadi saya tawarkan untuk membuat sendiri sambil saya acara cara membuat alat ini,” cerita Pak De Minto sambil menunjuk pada rangkaian tong dan pipa untuk memanen cairan dari asap.
Selain bergiat di pertanian dan peternakan, Pak De Minto juga aktif menularkan pengetahuan dan pemanfaatan TTG, teknologi tepat guna.
Teknologi tepat guna dipahami olehnya sebagai bentuk pemanfaatan teknologi yang mempunyai karakteristik terdesentralisasi, sehingga pembuatan atau aplikasi sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat, mengatasi persoalan lokal bahkan hyperlocal.
Dengan demikian bukan hanya sesuai dengan lingkungan setempat melainkan juga budaya pertanian atau peternakan setempat, sosial politik dan ekonomi masyarakat yang bersangkutan. Dan yang paling penting memberdayakan sumberdaya baik alam maupun manusia tempatan.
“Bahan untuk membuat asap cair ini ada di sekitar kita,” terang Pak De Minto sambil menunjukkan tumpukan kayu bekas, ranting, gergajian kayu, tempurung dan lain-lain.
Asap cair sendiri bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan yang berkaitan dengan kesehatan, pertanian dan olahan makanan.
Untuk bidang kesehatan, asap cair bisa menjadi bahan penyembuh luka. Sedangkan untuk bidang pertanian selain menjadi bahan pestisida, asap cair juga bisa digunakan sebagai zat perangsang tumbuh.
Sedangkan untuk makanan olahan, asap cair yang diolah lebih lanjut bisa menjadi bahan penambah rasa, pelunak bahan makanan dan juga pengawet makanan.
Ternyata yang mencair bukan hanya es, tapi juga asap. Cair artinya bukan hanya jadi air tapi juga menjadi cuan.








