KESAH.ID – Tingkat kepuasan masyarakat yang tinggi selalu akan menguntungkan incumbent atau calon lain yang dianggap sebagai penerus. Mereka sulit untuk dikalahkan terkecuali ada lawan dengan gagasan tanding yang kuat hingga berhasil memberi harapan baru bagi masyarakat.
Peluncuran tahapan Pemilihan Umum Walikota Samarinda 2024 telah dilakukan lewat sebuah acara yang digelar di Lapangan GOR Segiri pada Sabtu malam, 4 Mei 2024.
Acara yang dihadiri ribuan orang ini dimeriahkan oleh kehadiran Charly Van Houten yang dulu dikenal sebagai vokalis Band ST 12 dan Setia Band.
“Semoga Samarinda akan mempunyai pemimpin yang hebat dan KPU akan bekerja dengan baik,” begitu pesan dan harapan Charly disela-sela penampilannya.
Saat Charly manggung di hadapan warga Kota Samarinda, saya sedang menyantap ‘forest food’ dalam gelaran festival kampanye perlindungan Orang Utan di lantai bawah museum Samarendah dengan tajuk Moreo Sphere.
Karena sajiannya sudah di-platting dalam wadah daun pisang, maka acara makan-makannya tak lama. Saya mengajak beberapa orang bergeser ke tempat nongkrong tak jauh dari Hotel Capital Selyca Mulia yang kini telah berganti nama menjadi Five Hotel.
Segelas kopi saring yang manis karena saya lupa pesan dengan password KTG atau Kopi Tanpa Gula menemani pembuka kisah seputar tahapan pilkada yang diluncurkan dengan acara konser.
Seminggu sebelumnya, KPU Provinsi Kaltim juga mengadakan acara serupa di GOR Kadrie Oening. Yang hadir menghibur masyarakat adalah Band Kotak. Kabarnya konser yang direncanakan mulai jam 7 malam itu kemudian molor. Jam 9 malam acara mulai dibuka dengan rangkaian pidato-pidato yang membuat penonton jadi nggak sabaran.
“Rasanya saya pingin melempar yang pidato itu pakai tomat,” ujar seorang kawan.
Dalam hati saya nggak yakin, sebab dia pasti tidak membawa tomat.
“Nggak apa lah, ngaret seperti itu kan lima tahun sekali,” celetuk saya.
Dan layaknya seorang pengamat politik karbitan, sayapun menambahkan perbandingan yang mungkin tidak nyambung.
“Sama seperti pemilu 2024 yang digambarkan brutal dan penuh kecurangan. Toh pemenangnya sudah kita terima. Kita paham itu kecurangan 5 tahun sekali, ngapain diperpanjang urusan,” sambung saya.
Untung teman nongkrong saya malam itu bukan termasuk kategori pengototan, sehingga urusan ngaret dan pemilu brutal tidak diperpanjang.
Tapi tetap saja majelis tongkrongan malam minggu berisi pembicaraan politik.
Sejak obrolan soal pilkada Kota Samarinda mulai diperbincangan dalam atmosfer politik, saya sudah punya teori tentang kotak kosong.
Menurut saya, AH Walikota Samarinda saat ini seng ada lawang. Jadi kalaupun ada perubahan formasi dalam kemimpinan Kota Samarinda 2024 – 2029, yang berubah adalah wakilnya.
Buat saya, siapapun yang ngotot atau bernafsu untuk memimpin Kota Samarinda pada periode 2024 – 2029 nanti, kursi yang tersedia adalah kontestasi Wakil Wali Kota.
Tentu saja banyak yang menyanggah proyeksi buru-buru saya itu. Jika mengamati berita di media memang demikian. Dari pantauan media sekurangnya ada 7 sosok yang disebut-sebut potensial untuk menjadi calon Walikota Kota Samarinda.
Tapi sebagai pengamat politik amatir saya tetap kekeuh mempertahankan ramalan politik kotak kosong. Buat saya para calon lain dengan dukungan partai apapun akan kalah. Sebab AH menguasai Partai Samarinda.
BACA JUGA : Sambal Jaung
Sejak masa Achmad Amins, calon walikota maupun walikota yang hendak maju kembali dalam kontestasi akan membangun jejaring untuk meraup suara melalui Ketua RT. Mereka akan menjadi tulang punggung pemenangan.
Tak mengherankan jika kemudian Forum RT menjadi salah satu forum terkuat di Kota Samarinda. Sampai-sampai ada yang bilang lebih baik bermasalah dengan Walikota daripada dengan Ketua RT.
Dulu langkah jeli yang dilakukan oleh Achmad Amins selain mengandeng ketua RT, juga mengorganisir para guru PAUD dan TK.
Sedangkan Sjaharie Jaang lebih diingat karena sering menghadiri acara-acara di tingkat RT atau gabungan RT.
Jejaring ini kemudian diperkuat oleh Andi Harun dengan menjadikan wilayah setingkat RT sebagai bagian dari strategi pembangunan di Kota Samarinda.
Lewat program bernama Pro Bebaya, RT dan Kelompok Masyarakat di wilayah itu dijadikan perencana serta pelaksana pembangunan setempat.
Dengan alokasi dana dari pemerintah daerah sampai ke tingkat RT, masyarakat dengan segera melihat geliat pembangunan sampai ke tingkat bawah.
Ada yang berubah di Samarinda. Lihat saja setiap menjelang perayaan HUT Kota Samarinda, Ketua RT pun akan memasang spanduk ucapan selamat. Rasanya hal ini belum ada di masa kepemimpinan Walikota sebelumnya.
Karena mendapat kue anggaran, jabatan sebagai Ketua RT-pun menjadi bergengsi. Yang terpilih kemudian juga akan loyal kepada Walikota.
AH kemudian menjadi salah satu Walikota Samarinda yang kuat setelah Kadrie Oening. Rencana pembangunan yang dulu menjadi prioritas Walikota sebelumnya dan gagal dieksekusi, kemudian berhasil dilakukan oleh AH. Salah satunya normalisasi Sungai Karang Mumus yang mesti menggusur lingkungan padat dan pusat pemotongan ayam di Pasar Segiri.
Ujian lain yang berhasil dilaluinya adalah penertiban, entah itu tempat parkir atau jualan yang tidak pada tempatnya. AH juga berhasil membuka jalan yang hilang, tapi sebaliknya juga berhasil menghilangkan. Revitalisasi kawasan Citra Niaga misalnya melenyapkan sebagian wilayah jalan.
Tapi yang paling spektakuler adalah pembongkaran Pasar Pagi. Pembangunannya kembali bukan hanya pada area bekas pasar melainkan juga ruko-ruko di sebelahnya yang dimiliki oleh orang per orangan.
Alhasil Walikota Samarinda sekarang ini banyak diganjar dengan berbagai penghargaan. Walau ada satu yang diidam-idamkan oleh warga namun belum berhasil diraih yakni Penghargaan Adipura.
Prestasi lain yang mungkin bisa dibanggakan adalah mengatasi banjir. Hanya saja ini masih patut diuji sebab turunnya peristiwa banjir di Samarinda lebih disebabkan oleh kurangnya curah hujan. Kini Kota Samarinda lebih cenderung panas. Jadi giatnya pembangunan untuk mengatasi banjir belum teruji oleh alam. Tapi kalau mau diklaim berhasil ya nggak apa-apa, klaim kan bebas-bebas saja.
BACA JUGA : Senjakala Ojol
“Nggak mungkin mas lawan kotak kosong,” protes seorang teman atas terawang saya menjelang Pilkada Samarinda 2024.
Dia memprotes karena membaca berita tentang Partai Gerindra yang mencalonkan salah satu kadernya untuk maju dalam kontestasi kepala daerah Kota Samarinda 2024. Dan kader itu bukan Andi Harun yang sampai saat ini masih duduk sebagai Ketua Partai Gerindra, Provinsi Kalimantan Timur.
“Ah, biasa aja kayak gitu. Test the water,” jawab saya kalem saja.
Pada dasarnya saya yakin AH seng ada lawan karena hasil survey terbaru yang dipaparkan oleh lembaga survey politik yang dalam pemilu presiden 2024 lalu mengkampanyekan pilpres satu putaran.
Logikanya sederhana saja, karena berbasis pada survey kepuasaan masyarakat atas kinerja pemerintah.
Andai tingkat kepuasaannya tinggi, incumbent atau calon yang oleh pemilih dipersepsikan sebagai penerus bakal sulit dikalahkan.
Survey tingkat kepuasan masyarakat Kota Samarinda atas kinerja pemerintahan yang dipimpin oleh Andi Harun yang dirilis baru-baru ini angkanya berada di 96.4 persen.
Ini angka absolut, angka yang jauh lebih tinggi dari tingkat kepuasaan pada pemerintahan Joko Widodo yang kemudian teraksentuasi dalam kemenangan mutlak pasangan Prabowo-Gibran dalam pemilu presiden 2024.
Dalam sebuah cerita David memang bisa menang melawan Goliath.
Tapi jujur saja tak ada sosok David yang muncul di Samarinda selama Andi Harun mengepalai pemerintahan Kota Samarinda. Hampir tak ada sosok yang secara jelas mendudukkan dirinya sebagai lawan atau oposisi dengan gagasan tanding yang kuat terhadap kebijakan pembangunan Walikota Samarinda.
Dari nama-nama yang menyeruak dan disebut-sebut sebagai calon yang potensial untuk maju dalam kontestasi, tak satupun diantaranya punya gagasan yang bisa ditandingkan pada apa yang dalam persepsi masyarakat sudah berhasil dilakukan oleh AH.
Maka siapapun yang berkeinginan maju melawan AH dalam kontestasi pemilihan kepala daerah Kota Samarinda 2024 sejak awal mesti punya sikap siap kalah dan lega rila kehilangan uang serta ludah.
Maka asumsi bahwa Andi Harun akan melawan kotak kosong bukan tanpa alasan.
Hanya saja akan selalu terbuka peluang adanya lawan, sekalipun lawan jadi-jadian.
Sebab tak selalu calon yang maju dalam pemilu adalah yang siap kalah dan kehilangan uang. Karena ada saja yang maju tanpa target menang tapi yang penting justru dapat ‘uang’. Kotak kosongpun hilang.
note : sumber gambar – INFOPUBLIK








