KESAH.ID – Apakabar Ghozali Everyday?. Benarkah dia telah menjadi milliarder muda karena NFT?.

Ini sultan beneran, karena namanya memang Sultan Gustal Al Ghozali. Tapi dia kemudian dianggap sebagai ‘Sultan’ dalam pengertian populer di media sosial karena keberhasilannya menjual kumpulan swafoto dirinya di opensea.

Ghozali berhasil menjadikan kumpulan foto dirinya setiap hari itu sebagai NFT, aset digital yang bernilai ekonomi. Kabarnya foto dirinya yang telah di-NFT-kan menghasilkan transaksi sebesar 12,3 miliar rupiah. Gede sekali, sehingga Ghozali layak digelari ‘Sultan”.

Menghasilkan uang dengan cara yang kelihatan mudah membuat Ghozali menjadi berita besar. Dan banyak yang kemudian mengikuti, semua-semua di-NFT-kan, termasuk KTP orang, bungkus mie instan, hingga mangkuk berisi bakso di warung orang.

Opensea sebagai situs e-commerce untuk produk NFT kemudian kebanjiran dengan ‘karya-karya sampah’ milik warga negara Indonesia yang pingin menjadi Ghozali kedua, ketiga dan seterusnya.

Orang Indonesia memang cepat pintar kalau menyangkut duit. Jadi meski nggak paham benar apa itu NFT, tapi tetap berani dan percaya diri membuat serta menjualnya.

Soal uang, orang Indonesia memang mudah iri. Selalu merasa kalau orang lain bisa maka dirinya juga bisa.

Memang benar bahwa tidak ada hal yang mustahil. Tapi yang dilupakan bahwa yang mustahal itu tidak juga akan terjadi untuk banyak orang.

Ghozali yang biasa-biasa saja, bahkan cenderung underrate membuat banyak orang semakin yakin bisa menyalip kesuksesannya.

Dengan konsep ATM – amati, tiru dan modifikasi, banyak orang yakin bisa mengekor kesuksesan Ghozali.

Padahal swafoto jadi NFT itu tidak seperti teh, kopi, susu, soto, boba, ayam geprek dan lainnya, yang kalau sukses lalu ditiru bisa menghasilkan sukses yang sama atau bahkan lebih besar dari yang memulai lebih dulu. Hukum NFT tidak begitu.

Jadi yang wajahnya secara obyektif maupun subyektif merasa lebih ganteng dari Ghozaly serta punya kamera yang jauh lebih unggul lalu otomatis swafotonya bakal laku, laris manis dijual dalam bentuk NFT di Opensea.

Urungkan niat jika ada yang berpikir seperti itu. Lebih baik diupload saja di instagram, atau diedit jadi video lalu diupload di Tik Tok, Reel atau Youtube Short. Paling tidak akan meraup banyak like, syukur-syukur bejibun komen.

Siapa tahu ada produsen yang kemudian tertarik pada wajah ganteng atau sok ganteng kita dan kemudian khilaf memilih untuk dijadikan brand ambassador untuk sabun cuci muka.

BACA JUGA : Dicegat Rasa Iba

Cuitan pertama dari pendiri twitter, Jack Dorsey, yang dijual sebagai NFT laku dengan nilai sebesar 1.630,58 ethereum atau setara dengan Rp. 42 miliar. Pembelinya adalah Sina Estavi, seorang penggusaha kripto lewat  situs Valuables By Cent pada Maret 2021 lalu.

Sekitar bulan April 2022, Sina Estavi berupaya untuk menjual kembali cuitan pertama Jack Dorsey itu di opensea. Dia mencantumkan harga kurang lebih Rp. 688 miliar.

Lewat twitter, Sina Estavi mengumumkan kalau NFT cuitan pertama jack Dorsey itu laku sebagaimana harga yang ditetapkan olehnya, separuh dari hasilnya akan disumbangkan untuk amal.

Dia yakin betul kalau NFT-nya itu akan laku sekurangnya Rp. 300 miliar.

Yang menunggu laku bukan hanya Sina Estavi, melainkan juga badan amal. GiveDirectly, sebuah organisasi yang memberikan bantuan uang langsung pada orang-orang yang hidup dalam kemiskinan.

Ternyata perkiraan Sina Estavi meleset, NFT cuitan pertama Jack Dorsey itu hanya mendapat penawaran tertinggi sebesar 2,2 ethereum atau setara dengan Rp. 97,5 juta. Masih sangat jauh dari 1 juta USD.

CEO Bridge Oracle akhirnya membatalkan keinginannya untuk menjual NFT cuitan pertama Jack Dorsey itu. Dia pun juga tak yakin apakah akan menjual atau tidak menjual di masa mendatang.

The First Twet, nama dari NFT cuitan pertama Jack Dorsey adalah salah satu dari puluhan NFT yang pada penjualan pertama laku dengan harga diatas Rp. 1 miliar. Isinya adalah sceenshot gambar digital cuitan Jack Dorsey yang menuliskan “just setting up my twttr’ yang diposting pada 22 Maret 2006.

NFT lain yang juga laku dengan harga tinggi adalah beberapa seri CryptoPunk, Kevin Mc Coy – Quantum, XCOPY – Death Drip, The Best I Could Do, Fidenza #313, Doge, Replicator, Save Thousand Of Lives, Stay Free, WWW Source Code, Ocean Front, Crossroad, Clock, Everydays : The First 5000 Days, dan The Merge.

The Merge menjadi NFT termahal karena telah laku terjual dengan nilai sebesar Rp. 1,3 trilyun lebih.

Dijual melalui platform Nifty Gateway, The Merge telah dibeli oleh lebih dari 28 ribu kolektor. Wujudnya adalah 3 lingkaran besar berwarna putih dengan latar belakang hitam. Semakin banyak pembeli maka akan semakin bertambah pula ‘massa’ lingkarannya.

Banyak orang atau pengkarya telah meraup untung besar dari NFT buatannya. Karya-karya sebagian tidak luar biasa amat.

Dan menghasilkan uang yang seolah nampaknya mudah itu selalu menarik banyak orang untuk mengikuti  jejaknya.

Nggak ada hal yang mustahil. Dengan keyakinan seperti itu banyak diantara kita yang kemudian mengimani kalau orang lain bisa maka kita juga bisa.

Sebagian yang lainnya mungkin tak terlalu yakin, tapi apa salahnya mencoba, siapa tahu untung. Mencoba peruntungan, kalau tidak laku ya tak apa, nggak rugi juga.

BACA JUGA : QRIS Gerbang Menuju Cashless Society

Non Fungible Token atau NFT adalah aset digital yang bisa dipergunakan sebagai bukti kepemilikan ‘barang’ yang umumnya dibeli dengan mata uang kripto.

Cikal bakalnya bermula dari tahun 2017 saat game NFT, Crypto Kities diluncurkan. Berada dalam ekosistem blockchain Ethereum, para pemainnya bisa mengadopsi, memelihara dan memperdagangkan kucing peliharaannya secara virtual.

NFT layaknya sebuah ‘sertifikat’ atau ‘tanda tangan digital’ yang melekat pada aset digital, sebuah data yang berisi informasi tentang pencipta, harga dan sejarah kepemilikannya, sehingga tak bisa dipertukarkan antara satu NFT dengan NFT lainnya.

Aset digital dalam bentuk NFT umumnya berupa karya seni {musik, lukis, desain} dalam bentuk digital, dokumen, game dan lainnya. Banyak hal bisa di-NFT-kan dan kemudian diperjualbelikan.

Pasar atau e-commerce sebagai tempat untuk memperjualbelikan NFT ada banyak, namun salah satu yang terkenal adalah OpenSea. Namun pada dasarnya satu NFT bisa diperjualbelikan secara lintas platform.

Berapa harga, batas waktu lelang dan lainnya akan ditentukan sendiri oleh pemilik NFT. Namun semua proses akan ditangani oleh blockchain, dan layanan itu akan mengutip pembayaran atau fee, jika NFT-nya laku.

Iming-iming ‘manis’ NFT dan aset digital lainnya dalam ekosistem mata uang kripto untuk mendulang untung bukan hanya menarik warga kebanyakan. Para pesohor dan artis di Indonesia juga ramai-ramai masuk dalam bisnis ini.

Ada berbagai proyek yang mereka tawarkan, namun umumnya dimulai dari mengeluarkan token yang kemudian diperjualbelikan di pasaran. Kabarnya laku, laris manis seperti kacang padahal belum tahu bisa dipakai untuk apa?.

Seperti Token Asix yang dikeluarkan oleh Anang Hermansyah dan partnernya. Kabarnya bisa dipakai untuk main games, tapi games-nya belum ada. Atau bisa digunakan untuk bertransaksi di metaverse, hanya saja metaversenya juga belum tersedia.

Duit memang bikin ngiler, ngebet untuk segera jadi miliarder. Tapi ingat iler yang sesungguhnya itu adalah noda di bantal, bau yang bikin muak orang lain tapi suka kita cium-cium sendiri.

Note : sumber gambar – IDQUORA.COM