KESAH.ID – Tidak ada orang yang akan jatuh miskin karena memberi, ini diyakini oleh banyak orang. Dan terbukti orang kemudian suka memberi karena memberi itu menyenangkan. Namun kedermawanan tak selalu baik apalagi yang didasari oleh rasa iba. Banyak orang dengan sengaja memanfaatkan rasa iba orang lain untuk mendatangkan keuntungan bagi dirinya.

Siang itu seperti biasa saya mesti menjemput anak yang telah usai jam belajarnya di sekolah. Lain kali sebenarnya juga sudah lama selesai, namun tak segera minta jemput terus nongkrong dengan teman-temannya di kedai fast coffee kekinian yang tak jauh dari sekolah.

Jarak antara rumah dan sekolahnya tidak terlalu jauh, sehingga langkah untuk merespon permintaan jemput pulang seolah berjalan otomatis. Pesan yang masuk segera membuat saya bergerak tanpa terlalu mikir, semua sudah terbiasa urutannya.

Mulai dari memakai masker, mengambil helm, menutup pintu dari luar sehingga tak lupa membawa kuncinya.  Dan kemudian berkendara dengan santai menuruni Jalan Wiraguna menuju Juanda IV.

Begitu mencapai jalan rata dan lurus, kelokan menuju jalan raya Juanga, seorang ibu yang berkendara dari arah berlawanan menghentikan motornya dan menampakkan raut wajah ingin bertanya sesuatu pada saya. Sayapun memelankan motor lalu berhenti di sisi seberangnya.

Dia bertanya arah jalan kalau tak salah ke Jalan Anggur. Sayapun memberi keterangan sambil menunjuk ke arah belakang saya.

Dari wajah nampak masih ada sesuatu yang ingin disampaikannya. Lalu dia mendekatkan motornya ke motor saya. Dan kemudian mulai bertutur “Saya mencari teman saya, sudah muter-muter dari tadi. Saya khawatir bensin motor saya habis. Dan saya tak bawa uang,”

Rasa iba mulai menyeruak dalam diri saya. Dompet tak saya bawa, untung di saku selalu ada uang pecahan 5 ribuan, 10 ribuan dan 2 ribuan yang memang tak pernah saya simpan dalam dompet.

“Bisakah saya minta 13 ribu pak untuk beli bensin?” lanjutnya

13 ribu, sebenarnya saya merasa aneh kok nominalnya gak genap  seperti itu. Bukankah bbm di warung-warung biasanya 10 ribu per botol?.

Tapi dengan cepat saya menepis keheranan itu, menjawab sendiri “Mungkin ibu itu mau mengisi pertamax di Pom Bensin, harganya memang sekitar 12 ribuan,”

Sayapun mengulurkan uang 10 dan 5 ribuan, masing-masing selembar. Dan setelah itu saya melanjutkan perjalanan untuk menjemput anak. Ibu itu mengucapkan terimakasih dengan bunga-bunga, entah apa persisnya saya tak lagi mendengarkan.

Belum lama berjalan tiba-tiba ada anak muda menghentikan saya. Dari tampilan dan bawaan sepertinya  kurir.

“Om, kasih uang kah sama ibu itu?,” tanyanya tanpa lebih dulu menyapa.

Saya mengangguk.

“Semua orang dimintainya, Om,” lanjutnya.

Sejenak saya merasa tertipu. Tapi biarlah ujar saya dalam hati sambil melempar senyum pada anak muda yang memberi tahu modus ibu itu.

Setelah kembali sampai di rumah, duduk dan menghisap rokok yang termurah dari warung langganan, sembari melihat asap mengudara setelah tersembur dari mulut,  saya mulai mengingat kembali ibu yang meminta uang 13 ribu tadi.

Sebenarnya memang agak mencurigakan, pertanyaan alamat atau nama jalannya tak jelas benar, dan kemudian permintaan tolongnya untuk beli bensin tak berhubungan dengan alamat yang ditanya. Ada lompatan alasan yang dipakai untuk menghentikan perjalanan saya.

Jumlah 13 ribu juga aneh, kenapa tak genap.

Tapi keanehan atau kecurigaan itu tak cukup untuk membuat saya punya niat menggali lebih jauh, selain karena anak saya sudah menunggu untuk dijemput, permintaan yang tak banyak itu juga membuat saya dengan cepat memenuhinya, bahkan membulatkan jadi 15 ribu.

Buat saya ibu itu berhasil memancing rasa iba dengan sempurna.

Rasa iba memang kerap membuat saya dan juga kebanyakan dari kita kemudian abai pada hal-hal lainnya.

BACA JUGA : Gerbang Menuju Cashless Society

Di beberapa perempatan jalan Kota Samarinda terpasang papan pemberitahuan bertuliskan “Dilarang Memberi Uang kepada Anak Jalanan/Pengemis {Perda No.07 Tahun 2017}, Denda Rp. 50.000,000,00 atau Kurungan 3 Bulan Penjara. Anda Dipantau CCTV”

Peraturan daerah ini muncul seiring dengan suburnya pertumbuhan anak-anak jalanan di Kota Samarinda. Awalnya di jaman koran masih berjaya. Anak-anak ini berada di jalanan untuk menjual koran, ada yang mulai dari pagi hingga tengah malam.

Dari jualan koran lama-lama mulai menjadi peminta-minta, memasang muka memelas, mengatakan lapar, belum makan dan uangnya tak cukup untuk membeli makanan.

Koran mulai tak laku, anak-anak beralih menjual makanan, kripik, krupuk dan lainnya. Sebagian lainnya mulai mengamen, memakai alat musik seadanya, bahkan tak sedikit yang mengiringi suara yang seadanya hanya dengan tepukan tangan.

Mungkin karena lelah menyanyi kemudian ada yang memulai untuk memberi layanan membersihkan kaca mobil. Orang bermobil dianggap lebih punya uang daripada yang mengendarai kendaraan roda dua.

Modus memancing iba di perempatan jalan memang berganti-ganti dari waktu ke waktu. Setiap angkatan anak jalanan mempunyai cara atau menciptakan trendnya sendiri.

Tidak semua orang akan terpancing rasa ibanya. Malah ada yang kelihatannya jengkel. Banyak pula yang pura-pura tak peduli, acuh tak acuh sambil berharap lampu hijau segera menyala.

Tapi yang berhasil dirogoh koceknya juga cukup banyak. Bahkan tidak sedikit yang telah  mengantisipasinya dengan menyiapkan uang receh di kendaraan untuk dibagi di tiap perempatan.

Papan peringatan yang berisi larangan untuk memberi uang tak diperdulikan, mereka berpikir bahwa rasa kasihan dan kemudian menolong orang tak bisa dilarang-larang.

Pemerintah tentu tak berniat menghalang-halangi kedermawanan. Yang mau dilakukan justru membuat kedermawanan itu dilakukan dengan cara yang benar. Bukan semata-mata hanya berdasarkan rasa iba atau kasihan pada penampilan seseorang atau tak hanya terpengaruh oleh berbagai modus.

Anak-anak memang tidak selayaknya berada di jalanan, apalagi selama seharian. Jalanan selalu merupakan tempat yang berbahaya untuk anak-anak, baik untuk keselamatan, kesehatan maupun moralitasnya.

Banyak fakta menunjukkan kalau anak-anak berada di jalanan bukan atas kemauan mereka sendiri. Mereka diorganisir, dipekerjakan atau bahkan diekploitasi oleh yang lebih tua. Tidak sedikit dari antara mereka adalah anak-anak korban human trafficking, didatangkan dari luar daerah.

Seorang teman yang lama bergelut dengan isu anak jalanan di Kota Yogyakarta, pernah mengatakan pada saya kalau membebaskan anak-anak dari jalanan itu sangat sulit. Jadi yang paling penting adalah mencegahnya.

“Anak jalanan akan bertumbuh menjadi remaja jalanan, pemuda jalanan dan orang tua jalanan. Mereka akan terus di jalan,” ujarnya.

Membandingkan apa yang dikatakan oleh teman saya dengan papan pengumuman yang dipasang oleh Satpol PP, akhirnya setiap berada diperempatan lampu merah, saya berusaha memasang wajah garang.

Bisa dipastikan wajah saya tidak seram namun pasti tidak nyaman untuk dilihat. Ditambah kuncir yang menyembul keluar di belakang kepala, anak-anak jalanan itu kemudian jarang mendekat apalagi meminta. Saya jadi kelihatan patuh pada himbauan, bukan karena takut direkam oleh CCTV, didenda atau dikurung dalam penjara.

Hanya saja orang tak selalu membeli uang. Belakangan cukup marak dengan aksi banyak orang bersedekah membagikan makanan. Anak-anak atau orang di jalanan kemudian menjadi sasaran utamanya untuk berbuat kebaikan.

Tidak semua makanan yang diberikan kemudian dibawa pulang. Sebagian dimakan di tempat dan meninggalkan bekas bungkusan menjadi sampah yang berhamburan di jalanan.

BACA JUGA : Kalau Pejabat Masuk Angin, Yang Ngeronda Jaga Warga Siapa?

Cobalah sekali waktu memberi nasehat kepada mereka yang kepergok memberikan sesuatu kepada anak-anak jalanan. Kemungkinan besar yang dinasehati akan murka dan membalas dengan berondongan nasehat balik pada kita.

Yang selow mungkin akan membalas “Saya itu kasihan lihat mereka. Niat saya hanya mau menolong,”

Nah kan. Siapa yang bisa melarang seseorang kasihan dan ingin menolong orang lainnya. Bukankah moralitas mengajarkan agar kita saling tolong menolong?.

Terlebih lagi kita juga percaya bahwa menolong, memberi atau berbuat baik pada mereka yang membutuhkan akan dicatat oleh Yang Maha Kuasa. Kita percaya bahwa dengan memberi maka kelak kita akan diberi lebih. Lagi pula tak ada orang yang kemudian jatuh miskin karena memberi sebagian kecil rejekinya pada anak-anak jalanan, pengemis dan pengamen atau peminta-minta lainnya.

Berbuat baik atau merasa telah berbuat baik memang menyenangkan. Perbuatan itu bisa memicu produksi hormon dalam tubuh. Hormon yang akan menghasilkan perasaan baik, membantu mengatur suasana hati, meningkatkan kepercayaan diri, memperbesar empati, termasuk bisa mengurangi stres dan perasaan tidak nyaman.

Dan untuk saya yang no body ini hormon bahagia itu menjadi penting untuk menumbuhkan perasaan bahwa hidup saya berarti. Dan agar hidup saya makin berarti maka saya mesti memelihara rasa iba, mudah kasihan pada orang lain, terlebih mereka yang dalam anggapan saya adalah orang-orang menderita.

Disitulah masalahnya. Hanya semata menuruti rasa iba ternyata berbahaya karena banyak orang sadar dan kemudian memanfaatkan rasa iba orang lainnya. Ada banyak modus yang disengaja untuk memancing rasa iba, sebagian bahkan merupakan kejahatan.

Maka hanya menuruti rasa iba, kasihan sesaat tanpa memikirkan dampak atau akibat lebih lanjut baik pada orang itu, diri kita maupun lingkungan, sejatinya kita tengah menjerumuskan diri kita dan orang lain dalam lingkaran penderitaan atau bahkan lingkaran kejahatan.

note : sumber foto – KALTIMPROKAL.CO