KESAH.IDSetiap kebudayaan memaknai sendiri hubungan antara nama dan orang yang dinamai. Dalam nama ada harapan, doa, keteladanan, inspirasi, kenangan dan juga penghormatan.

Orang Katolik biasanya akan menambahkan nama baptis di depan namanya. Jika dibaptis waktu masih bayi atau kanak-kanak yang memilihkan nama tentu saja orang tua atau kerabat lainnya, tapi kalau dibaptis ketika dewasa bisa saja memilih nama baptis sendiri.

Selain sakramen baptis, saat menerima sakramen krisma biasanya juga akan memilih nama krisma. Tapi umumnya tak dicantumkan sebagai tambahan nama di dokumen resmi administrasi kependudukan. Soalnya bikin ribet.

Yang disebut nama baptis dan krisma adalah nama-nama para orang kudus, murid para rasul, ibu dan bapak Yesus, para santo dan santa serta orang suci lainnya.

Oleh bapak dan ibu, saya diberi nama Sapto Hardjanto. Sebenarnya agak aneh, saya anak pertama namun diberi nama Sapto yang artinya tujuh. Biasanya anak pertama diberi nama Eko atau Eka.

Menurut cerita, saya dibaptis tidak lama setelah dilahirkan. Kebetulan klinik tempat saya dilahirkan tidak jauh dari gereja. Yang membaptis saya adalah Pastor Mauro, pastor yang berasal dari Brasil. Nama baptis saya Yustinus, dengan demikian nama lengkap yang tertulis dalam berbagai dokumen adalah Yustinus Sapto Hardjanto.

Sehari-hari, saya dipanggil Yus. Dan banyak yang mengira kalau Yus itu singkatan dari Yusuf.

Saya hanya diam-diam saja kalau ada yang menyangka begitu. Nama Yustinus memang kurang terkenal dibanding dengan Yusuf.

Ada nabi Yusuf, anak dari Yakub. Yusuf dikenal sebagai penafsir mimpi. Lalu ada juga Yusuf dari Nazareth, suami dari Maria bunda Yesus. Namun kemudian lebih dikenal dalam gaya Eropa yakni Joseph.

Kelak ketika saya kuliah, ada kakak kelas yang punya nama Joseph Maria De Jesu Seran, dia berasal dari Nusa Tenggara Timur. Sehari-hari kakak kelas saya ini memelihara jenggot yang lebat, sehingga penampilannya mirip gambaran nabi atau rasul dan para bapa-bapa agama di masa perdana.

Awalnya saya kaget karena ada orang Katolik yang memakai nama Jesu {Yesus}, sesuatu yang tidak lazim di kalangan orang Katolik di sebagian besar wilayah Indonesia. Sedangkan Joseph dan Maria memang biasa, bahkan termasuk salah satu dari nama yang paling sering di pakai.

Tapi rupanya di negeri-negeri berbudaya latin, seperti Spanyol atau Portugis dan negeri-negeri bekas jajahan mereka, Yesus adalah nama yang biasa dipakai.

Karena menjadikan bapak, ibu dan anak sebagai namanya, maka kakak kelas saya itu kemudian sering dipanggil dengan julukan SF. Singkatan dari Sacra Familia atau keluarga kudus. Yoseph, Maria dan Yesus adalah keluarga kudus.

Dalam tradisi Jawa ada kepercayaan tentang nama yang bisa membawa beban. Kalau tak kuat, seseorang bisa sakit-sakitan. Dalam hati saya kerap berpikir betapa beratnya kakak kelas saya itu menyandang namanya. Tapi nyatanya dia kuat, terbukti badannya gempal, tegap dan sehat.

BACA JUGA : Ngiler Jualan NFT di Opensea

“Meski kita menyebut sekuntum mawar dengan nama lain, wanginya akan tetap semerbak,” begitu kata Juliet ketika merindukan kekasihnya.  Ucapan itu ada dalam sebuah drama tragedi berjudul Romeo dan Juliet yang ditulis oleh William Shakespeare.

Dari situlah kemudian lahir ungkapan ‘Apalah arti sebuah nama’.

Shakespeare benar, eksistensi dan esensi sesuatu atau seseorang memang tak bergantung pada nama. Nama hanyalah atribut untuk memudahkan penyebutan, pengenalan dan lain sebagainya.

Namun Shakespeare barangkali lupa bahwa dunia tidak bekerja dengan cara seperti itu. Huruf, bahasa, kata dan kalimat tidaklah netral, dibaliknya selalu dicita-citakan mempunyai makna, bahkan tak sedikit yang bermaksud untuk menjadikannya sebagai tanda yang menghadirkan.

Sehubungan dengan nama, banyak tradisi dan kebudayaan menganggap nama adalah doa atau harapan.

Seorang anak diberi nama Suharto, karena orang tuanya berhatap kelak akan sang anak akan menjadi harta terindah, menjadi orang berkecukupan, punya banyak uang atau harta yang diperoleh dengan cara yang terpuji.

Atau seorang anak yang diberi nama Rahayu, dalam nama itu ada doa dari orang tua agar sang anak, sehat, selamat dan sejahtera selama hidupnya.

Dalam nama juga ada keteladanan, kekaguman atau penghormatan kepada sosok-sosok tertentu dimasa lalu dan juga masa sekarang. Ada harapan yang dinamai akan berlaku, bersikap dan mempunyai keutamaan-keutamaan yang dipunyai oleh sosok tersebut.

Maka banyak orang dinamai dengan nama orang-orang suci, pahlawan, pesohor yang menonjol dalam bidang tertentu.

Hingga kemudian banyak anak laki-laki dari keluarga Muslim dinamai Muhammad, anak perempuan dari keluarga Kristen dinamai Maria. Keluarga yang nasional akan menamai anak laki-lakinya Sukarno,  anak perempuan dinamai Kartini. Sedangkan keluarga-keluarga lainnya yang modernis akan menamai anaknya dengan nama Maradona, Ronaldo, Messi dan lain-lain.

Nama juga sering dimaksudkan sebagai cerminan dari identitas, kelas dan karakter sosial. dalam masyarakat atau budaya tertentu, nama tidak boleh digunakan secara sembarangan. Nama punya kelas, mencerminkan identitas pemakainya. Ada nama untuk orang biasa, ada nama untuk bangsawan atau keluarga para pembesar.

Tidak mungkin seorang bangsawan memberikan nama Tukimin, Tukiran, Juminten, Marsinah kepada anak-anaknya.

Pendek kata nama selalu dikaitkan dengan hal-hal yang baik, sehingga amatlah jarang orang tua menamai anaknya Iblis, Setan, Sontoloyo, Kiamat, Jahanam dan seterusnya.

Memberi nama dengan kata atau istilah yang dipahami sebagai tidak baik akan membuat anak-anaknya tersiksa, diolok-olok atau terus di-bully sepanjang hidupnya.

Sungguh sial bagi anak-anak yang karena kekaguman pada tokoh tertentu pada masanya namun kemudian pada masa berikutnya dianggap sebagai orang jahat, pengkhianat, pemberontak atau teroris.

Pada masa tertentu anak yang dinamai Muso dan Aidit bakal kesulitan di Indonesia, pun demikian yang dinamai Hitler, Pablo Escobar, Pol Pot dan lainnya.

Namun semua hal itu tidak berlaku mutlak, semuanya serba lentur dan dinamis. Yang disebut dengan makna bukanlah dogma, bisa berubah dari jaman ke jaman. Sehingga dari nama-nama pada umumnya kerap bisa dipakai untuk melihat perkembangan jaman dan perubahan.

Diluar nama resmi yang ada dalam dokumen administrasi, seseorang terkadang mempunyai nama panggilan yang jauh dari nama aslinya. Panggilan yang kadang secara kesopanan dan keadaban publik tidak layak. Nama panggilan yang bukan saja lucu namun terkadang jorok.

Dalam konteks sosial nama panggilan kerap kali merepresentasikan hubungan sosial, baik dalam relasi yang bersifat kedekatan, kekuasaan maupun ideologis.

Di luar konteks itu nama panggilannya bisa jadi bermasalah.

BACA JUGA : Dicegat Rasa Iba

Nama sebagai penanda memang berada dalam konstruksi sosial dan budaya yang berbasis etnisitas, religiusitas serta modernitas. Dengan demikian nama kerap kali berkaitan dengan kolektifitas, maknanya telah menjadi kebenaran bersama.

Nama menjadi salah satu penanda penting sekaligus genting sebagai identitas dan memorabilia tertentu.

Sebagai salah satu elemen penting kehidupan maka nama kerap menjadi sasaran untuk promosi dan pemasaran produk serta jasa tertentu.

Beberapa berhasil namun tak sedikit yang kemudian bermasalah. Salah satunya adalah Hollywings, yang berpromosi dengan memberikan bir gratis kepada siapapun yang di KTP-nya bernama Muhammad dan Maria.

Promosi ini bermasalah karena Hollywings menyentuh nama yang berkaitan dengan religiusitas. Dan menyandingkan bir atau minuman keras dengan  hal-hal yang berbau religius tentu saja tidak tepat.

Meski tidak bisa secara serampangan dituduh berniat menista agama, namun apa yang dilakukan oleh Hollywings jelas telah memancing keonaran, menimbulkan keributan. Dan menimbulkan keributan atau keonaran sudah cukup untuk dipersoalkan secara hukum.

Barangkali tim kreatif Hollywings menganggap nama tidak bermakna apa-apa. Tidak masalah sebenarnya. Namun dalam ruang publik tidaklah demikian. Ada nama-nama tertentu yang sensitif untuk dijadikan bahan promosi. Ada nama yang dalam konteks kelayakan publik tidak layak atau tak pantas dijadikan bahan promosi.

Kita mesti menerima ada batasan-batasan dalam berkreasi, walau batasannya terkadang sumir. Namun itulah realitas kehidupan bersama kita yang kemudian menuntut para kreator untuk menjadi sensitif, memikirkan ulang berkali-kali sebelum melakukan publisitas untuk hal-hal yang berkaitan dengan etnisitas dan religiusitas.

Sebab kalau tak hati-hati bukannya untung yang didapat melainkan buntung. Seperti Hollywings yang berbuntut ditutup operasinya.

Ibarat kata, gara gara nila setitik rusak susu sebelanga.

note : sumber gambar – PAXETBONUM