KESAH.ID – Banyak orang berpikir tujuan bersekolah adalah untuk pintar. Namun terbukti tidak banyak orang pintar dilahirkan oleh sekolah. Tapi sekolah tetap penting, sekurangnya agar kita tidak bodoh-bodoh amat.
Dalam sejarah evolusi peradaban, petani adalah kelompok profesi pertama yang menempati diri sebagai orang mapan.
Pada masa peralihan dari jaman pemburu peramu ke jaman domestifikasi tanaman pangan, kedudukan petani amat penting untuk menjamin ketersediaan pangan. Pada masa itu pangan menjadi kebutuhan paling utama.
Namun ketika pangan tercukupi bahkan melimpah, kemudian tidak semua orang mesti menjadi petani, muncul diversifikasi profesi yang kemudian menenggelamkan profesi petani semakin lama menjadi profesi yang paling tidak menjanjikan.
Dan semakin jaman berkembang, petani semakin terbenam, menjadi bagian terbawah dari piramida profesi.
Anak politisi ingin jadi politisi, anak pengusaha ingin jadi pengusaha, anak dokter ingin menjadi dokter, anak investor ingin jadi investor, tapi anak petani, amat jarang yang ingin jadi petani. Mereka ingin jadi politisi, dokter, pengusaha, trader, dosen, menteri bahkan presiden.
Maka tak mengherankan jika kemudian anak-anak petani adalah salah satu anak yang paling rajin bersekolah, bapak dan ibunya juga akan mati-matian mengusahakan agar anaknya bisa bersekolah setinggi mungkin.
Sekolah adalah jalan untuk merubah nasib. Sedangkan untuk anak-anak, sekolah adalah jalan untuk meninggalkan rumah, meninggalkan kampung, meninggalkan sawah, bahkan tak sedikit yang membiayai sekolah dengan menjual petak sawah yang tidak luas itu.
Alhasil bagi kampung-kampung petani, sekolah artinya pergi. Makin tinggi sekolahnya, makin jauh perginya. Dan makin tinggi sekolahnya makin besar kemungkinan untuk tidak kembali.
Itu salah satu kenyataan yang kemudian bisa dipakai untuk menerangkan kenapa desa-desa yang warga pada umumnya adalah petani tidak maju-maju, menghasilkan sumberdaya yang terdidik tapi kampungnya makin tidak bermutu. Karena yang terdidik tidak pulang, mereka kemudian menetap dan mengembangkan diri di daerah lain, memperoleh kedudukan dan kemahsyuran namanya.
Tapi orang tua dan desanya tetap bangga walau hanya sesekali ditenggok, meski tak diurusi apalagi dikembangkan.
Kesimpulan itu mungkin tidak ilmiah, tidak berdasar pada bukti saintifik yang ketat. Tapi saya memang menemukan buktinya lewat kampung kakek nenek saya.
Setelah beberapa puluh tahun saya tak pergi kesana, saya menyempatkan diri untuk menghirup kenangan yang sudah terasa akan hilang, ternyata suasana sudah jauh berubah.
Tidak seperti kampung saya yang semakin padat, kehilangan pemandangan sawah dan tak lagi nyaman berjalan kaki di jalanan, kampung kakek nenek saya justru makin sepi, jumlah rumahnya malah berkurang.
Tentu rumah yang ada makin bagus, tapi sunyi. Tak terlihat kerumunan anak di depan pelataran rumah.
Hanya saja pemandangan di kesekitaran rumah makin menghijau, kebon atau ladang nampaknya tak diolah, dibiarkan ditumbuhi pohon-pohon besar. Berarti yang tersisa di kampung hanyalah orang-orang tua, mereka yang tak lagi kuat bertanam di kebun, maka lahan ditanami tanaman tahunan.
Kemana anak-anak mudanya?.
Mereka telah tinggal dan bekerja di berbagai kota, dari Sabang sampai Merauke.
BACA JUGA : Joseph Maria De Jesu
Biasanya dalam undangan akan turut dicetak disclamer “mohon maaf apabila ada kesalahan penyebutan nama dan gelar”.
Soal nama memang penting sebab kalau salah jangan-jangan yang diundang menjadi tidak merasa terundang. Perkara gelar daripada salah mestinya tidak usah ditulis.
Hanya saja undangan memang beda dengan KTP, KK dan kartu identitas lainnya. Undangan merupakan bentuk penghormatan. Dan orang biasanya juga merasa terhormat jika disertakan pula deretan gelarnya.
Gelar selain menunjukkan pencapaian juga menjelaskan betapa seseorang sangat menghargai sekolah, utamanya sekolah di tingkat pendidikan tinggi.
Masalahnya ada beberapa orang yang gelarnya amat banyak sehingga tak cukup ruang untuk menuliskan pada kolom label nama di undangan.
Ambil contoh saja Achmad Tarmizi, seorang pejabat di Kabupaten Ogan Komering Ulu {OKU}. Dia menyandang 11 gelar akademik dan 72 gelar non-akademik. Total 83 gelar yang dia miliki. Dengan gelar sebanyak itu Achmad Tarmizi diganjar Rekor Muri sebagai pemilik gelar terbanyak di Indonesia.
Gelar lengkap yang diperoleh adalah Dr. Drs. Ir. H. Achmad Tarmizi, SE, SH, ST, MT, M.Si, MH, M.Pd, Ph.D (HC), CH, CHt, CHA, NNLP Pract, M.NNLP, CT.NNLP, CPHCM, HCBP, HCMP, CNHRP, CNPSP, CT.NPS, CHMP, CT.HM, CHLP, CT.HL, CHSP, CT.HS, CNSPP, CT.NSP, CNBLP, CT.NBL, CNSHP, CT.NSH, CNSCP, CT.NSC, CHPP, CT.HP, CNTP, CNICP, CT.NIC, CRBC, AWP, QWP, CTOT, CHRMP, C.SH, IPU, C. STMNI. Int’l, CPS, CPSP, CLA, C.PW, CSHWP, C.IB, CTAP, RFP, CPR, C.MARCOM, C.HRD, C.NLMOR, C.FH., CMFH, C.MMI., CT.MMI, CT-ALC, C.MGR, CSS.ALC, C.Pst, C.Ext, C.Hs, C.IT, C.AT, C.ME, C.Spk, C.CC, C.LA-ALC, C.LSc, CRBD, CT.NHT, CT.NHR, ASEAN Eng.
Dengan gelar sebanyak itu bagaimana mungkin mau dituliskan sekaligus di surat undangan?.
Jangankan orang lain, yang punya gelar saja mungkin tidak akan hafal.
Beruntung orang yang gelarnya berderet seperti bebek berbaris tidaklah banyak. Dan lebih untung lagi tak semua orang suka menuliskan semua gelarnya.
Pertanyaannya adalah apakah gelar yang panjang itu menunjukkan bahwa seseorang itu pintar dan ahli dalam berbagai bidang?.
Kalau menurut Rocky Gerung belum tentu.
Namun yang pasti gelar yang berderet-deret itu menunjukkan bahwa seseorang itu rajin sekolah. Menyelesaikan setiap sekolah, kursus atau apapun yang diikutinya.
“Gelar menunjukkan seseorang pernah sekolah tapi tidak membuktikan bahwa seseorang rajin berpikir,” begitu kata Rocky Gerung.
Lalu untuk apa gelar yang panjang itu?. Tentu saja yang bisa menjawab adalah yang punya gelar.
Mungkin ada pertanyaan lain, apakah yang punya banyak gelar juga pantas disebut sebagai ilmuwan?.
Belum tentu juga.
Andai saja masing-masing gelarnya berbeda, maka jelas tidak ada satu bidang keilmuan yang benar-benar ditekuninya. Bisa jadi dia tahu banyak, tapi tidak benar-benar mendalami sampai ke akar-akarnya.
Seseorang yang hanya mempelajari tanpa ajeg meneliti dan melakukan review atas teori-teori dalam ilmu tertentu tidak bisa disebut sebagai ilmuwan.
BACA JUGA : Ngiler Jualan NFT di Opensea
Kalau gelar tidak menjamin kepintaran seseorang berarti tujuan sekolah bukan membuat orang menjadi pintar. Sepertinya memang demikian. Sebab di sekolah dalam setiap angkatan biasanya yang pintar hanya beberapa, sebagaian besarnya hanya rata-rata dan sebagian kecil lainnya tetap bodoh.
Sekolah memang tak akan merubah orang jadi pintar. Namun akan membuat orang menjadi mengerti, mempunyai pengetahuan yang lebih banyak, menguasai hal-hal atau pengetahuan dasar tertentu lewat latihan.
Dengan demikian sekolah tetaplah penting karena dengan bersekolah seseorang akan beroleh pengetahuan dan ketrampilan dasar yang diperlukan untuk mengembangkan hidupnya.
Memang ada beberapa orang yang hebat meski sekolahnya tak tamat. Tapi sukses itu tak bisa dipakai untuk menyimpulkan bahwa sekolah kemudian tidak penting.
Sebab andai mereka sama sekali tidak sekolah mungkin saja juga tidak akan sesukses saat ini.
Pun demikian juga ada banyak orang yang sukses dalam bidang atau pekerjaan yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Ini juga tidak bisa dipakai sebagai alasan bahwa sekolah menjadi tidak penting.
Sekali lagi, sekolah memang tidak secara langsung berhubungan dengan sukses tidaknya seseorang dalam kehidupan. Ada banyak usaha, upaya dan faktor lainnya yang menentukan sukses tidaknya seseorang.
Maka selagi ada kesempatan dan kemampuan, sekolahlah.
Kata orang Banjar, sekolah mungkin tidak membuat kita jadi otomatis jadi pintar, bahkan mungkin masih tetap bungul. Tapi tidak bungul-bungul amat.
note : sumber gambar – GLOBALPRESTASI.SCH.ID








