KESAH.IDMemanen air hujan adalah praktek baik, selain karena air hujan amat potensial dan layak untuk menjadi air bersih, memanen air hujan juga membantu untuk menurunkan koefisiensi air permukaan yang ketika lingkungan sudah terdegradasi kemudian identik sebagai penyebab banjir. Namun untuk mendapat air hujan terbaik dan layak disimpan dalam waktu lama, pemanen dengan atap dan dialirkan melalui talang harus dipastikan terbebas dari kontaminasi, atau bahan-bahan yang akan menyebabkan kontaminasi dalam penyimpanan.

Ketika pertama kali pergi dan kemudian menginap di daerah Delta Mahakam, saya segera menangkap salah satu persoalan utama di wilayah penghasil migas dan udang serta hasil laut dan pesisir lainnya.

Air bersih, itu persoalan utamanya. Pada wilayah yang kaya air itu, air permukaannya payau sehingga tak bisa dimanfaatkan sebagai sumber air bersih secara langsung.

Pengalaman pertama saya menginap waktu itu di Muara Ulu Kecil, ketika saya kesana tidak musim penghujan, sehingga harus ngirit atau tahu diri ketika memakai air di rumah yang saya tumpangi.

Jika hujan jarang turun, warga mesti mendatangkan air dari Kutai Lama.

Kesulitan air di wilayah yang berair ini membuat masyarakatnya kemudian memanen air hujan lewat atap yang dialirkan melalui talang.

Air ditampung di dalam tandon, drum, ember, jerigen dan wadah-wadah lainnya. Makin banyak tampungan makin baik. Namun karena kondisi lahan dan permukiman, terkadang tidak cukup ruang untuk membangun ruang penyimpanan yang besar.

Setelah kurang lebih 5 tahun, saya kembali mengunjungi wilayah Delta Mahakam yang berada di kecamatan lain, ternyata situasinya tidak berubah jauh. Persoalan air masih menjadi salah satu masalah yang menonjol.

Cara warga untuk menampung air juga sama, memanen air dari atap dan kemudian mengalirkannya ke tampungan melalui talang. Air hujan langsung ditampung di wadah-wadah penampungan.

Tandon air terlihat makin banyak, beberapa ukurannya raksasa. Menurut warga dalam beberapa tahun terakhir ini, bantuan tandon menjadi salah satu pilihan favorit bagi politisi yang sedang butuh suara dari warga.

Setiap kali melihat ujung talang yang diberi corong tampungan dan kemudian disambung selang untuk mengalirkan air ke tandon, saya jadi teringat puluhan tahun lalu ketika awal-awal tinggal di Samarinda.

Waktu itu aliran air PDAM di daerah Wiraguna, Samarinda lebih banyak anginnya. Siang hari jika kran dibuka, airnya hanya menetes. Menjelang tengah malam baru mengalir cukup deras, itupun karena dibantu dengan pompa.

Maka menampung air hujan menjadi pilihan untuk menambah ketersediaan air bersih kalau-kalau tengah malam air PDAM tak mengalir juga.

Saat itu saya menampung air dalam drum. Jika hujan deras saya bisa menampung sampai dengan 4 – 5 drum. Sebagian air hujan itu kemudian akan saya pompa ke tandon yang berada di atas. Air itu kemudian dipakai untuk kebutuhan MCK.

Setelah bertahun-tahun menderita karena air bersih, beberapa tahun terakhir ini saya tak perlu begadang untuk menyedot air PDAM. Kini air di Wiraguna sudah lancar jaya, debit kencang hingga kadang membuat sambungan pipa dan kran jebol.

Namun situasi di Delta Mahakam belum berubah, warga masih menampung air hujan secara langsung yang membuat kotoran di atas atap akan ikut masuk dalam penampungan.

Situasi ini membuat saya betanya-tanya, terutama karena Delta Mahakam setelah reformasi kemudian menjadi sasaran dari banyak program dan intervensi dari berbagai lembaga. Tidak adakah dari semua yang berkegiatan di wilayah Delta Mahakam mengganggap penting pemanenan air hujan dengan cara yang lebih baik?.

Instalasi panen air hujan dari atap yang langsung dialirkan ke penampungan melalui talang

BACA JUGA : Salo Patin

Dua kali saya datang dan kemudian menginap di wilayah Delta Mahakam yang berbeda kecamatan, saya melihat ada jejak KKN dari mahasiswa UGM disana.

Saya jadi ingat kalau pengetahuan saya tentang Rainfall Harvesting atau panen air hujan saya peroleh dari Sekolah Vokasi UGM.

Hampir sepuluh tahun lalu, saat saya mulai aktif beraktifitas di Sungai Karangmumus, saya berpikir bahwa memanfaatkan air hujan dengan cara menampungnya jika dilakukan secara massal di Kota Samarinda maka akan mengurangi koefisiensi air permukaan, atau air hujan yang tidak terserap atau tertampung baik di alam maupun di tampungan buatan.

Mengurangi koefisiensi air liaran atau run off akan membantu mengurangi tekanan limpahan air pada badan air dan bisa berujung pada mengurangi resiko genangan pada tempat yang tidak dikehendaki atau banjir.

Waktu itu terkenal istilah sekolah sungai dan saya tertarik untuk turut menginisiasi di Sungai Karangmumus. Dan setelah belajar mengenai pemanenan air hujan dengan sistem yang dinamakan Gama Rain Filter yang dikembang oleh Dr. Agoes Maryono dan sudah dipraktekkan di permukiman kaum girli atau pinggir kali Code, akhirnya Sesukamu atau Sekolah Sungai Karang Mumus dimulai.

Metode Gama Rain Filter tidak rumit dan mudah untuk direplikasi. Hanya melihat diagram atau gambar rangkaian pipa dan tandon, tak sulit untuk menirunya.

Tapi tanda-tanda model pemanenan air hujan dengan memakai cara serupa Gama Rain Filter nampaknya belum diperkenalkan di Delta Mahakam. Mungkin saja sudah ada, tapi saya tak melihatnya atau dipasang di daerah atau wilayah yang belum saya kunjungi.

Namun di Sepatin dan Muara Pantuan, saya belum melihatnya. Bahkan di Sepatin, di dekat dermaga ada instalasi pemanenan air hujan yang dipasang oleh sebuah foundation dalam program kerjasama dengan salah satu fakultas di Universitas ternama di Kalimantan Timur, sistemnya masih langsung mengalirkan dari talang.

Padahal menampung dan kemudian menyimpan air hujan dalam waktu lama tanya meminimalisir material organik yang berada di atas atap akan berisiko.

Salah satu resiko utamanya adalah kontaminasi mikroba. Air hujan yang tidak disaring mungkin mengandung banteri, vieus atau mikroorganisme buruk yang berasal dari permukaan atap. Material organik seperti daun, serpihan ranting, bijian dan lain-lain yang masuk dalam wadah penampungan akan terurai, proses ini selain menghasilkan endapan mungkin juga akan menimbulkan bau, perubahan rasa dan warna air.

Endapannya lama kelamaan akan menebal dan menjadi tempat tumbuh serta berkembangnya organisme, seperti cacing dan lain-lain.

Air hujan yang bersentuhan dengan permukaan atap yang belum tercuci mungkin juga akan mengandung kontaminasi dari bahan atap. Dan jika tertampung dalam tandon pada waktu lama bisa saja mengalami perubahan struktur fisika dan kimianya yang bisa mempengaruhi kualitas airnya.

Hujan yang baru jatuh atau hujan awal-awal yang langsung ditampung mungkin juga membawa polutan yang berbahaya, mengandung unsur tertentu yang membuat air menjadi asam dan berbahaya jika digunakan atau dikonsumsi terus menerus.

Air hujan yang ditampung secara langsung tanpa filtrasi atau pengolahan juga dapat memicu pertumbuhan lumut, alga dan microorganisme lain yang menurunkan kualitas air atau bahkan membuat airnya menjadi tak layak untuk digunakan.

Maka memastikan air hujan yang ditampung tidak mengandung zat atau bahan polutan atau  bahan-bahan lain yang menyebabkan airnya menurun kualitasnya jika disimpan lama, adalah langkah pertama yang perlu dipastikan. Model penampungan air hujan dengan filtrasi sederhana dan air yang dialirkan dalam talang baru masuk setelah waktu tertentu adalah sebuah solusi agar pengelolaan dan pemanfaatkan air hujan menjadi lebih sehat dan aman.

Reservoar aitr bersih yang sedang dibangun di Desa Sepatin. Airnya akan dialirkan ke rumah penduduk sebagaimana air ledeng dari PDAM.

BACA JUGA : Muara Pantuan

Pemanfaatan air sisa rumah tangga di Tanjung Berukang, entah masih bermanfaat atau tidak.

Air bersih menjadi persoalan serius di Delta Mahakam. Rasanya pemerintah mempunyai perhatian yang cukup, namun lebih berfokus pada pengembangan infrastrukturnya namun abai pada penguatan masyarakat untuk mengelola secara berkelanjutan.

Di Sepatin, Tanjung Berukang dan Muara Pantuan, saya melihat ada tampungan atau reservoar air yang besar-besar, kalau dilihat fisiknya jelas pembangunannya butuh dana milyardan.

Dari bak penampungan air itu ada pipa-pipa ke rumah penduduk yang dilengkapi dengan meteran, persis seperti aliran air bersih versi PDAM. Namun baik di Sepatin, Tanung Berukang dan Muara Pantuan air ledeng tidak mengalir.

Entah apa masalahnya. Namun di Muara Pantuan yang konon mempunyai tempat pengolahan air dengan sistem membran, sehingga mampu merubah air payau menjadi air tawar, berhenti beroperasi karena warga enggan memanfaatkannya.

Air baku yang diambil dari anak sungai, membuat warga risih atau jijik untuk memakai airnya. Menurut warga air yang baku yang ditampung banyak pampersnya.

Tapi mungkin saja ada persoalan lainnya yang membuat instalasi atau pengolahan air bersih itu menjadi terbengkalai dan tidak berkelanjutan. Wargapun kemudian kembali menampung air hujan, membeli air yang didatangkan dari Kutai Lama, sementara untuk air minum atau memasak, warga akan membeli air isi ulang yang bisa jadi didatangkan dari Sungai Mariam. Harga air isi ulang di wilayah ini dua atau tiga kali lebih mahal dari yang dibayarkan oleh masyarakat yang berada di daratan.

Bagaimanapun air hujan merupakan potensi berlimpah sebagai sumber air bersih. Ada yang mengatakan air hujan adalah ibu dari segala air, karena sifatnya air hujan bebas kandungan mineral berlebih dan kontaminasi dibandingkan dengan sumber air tanah atau air permukaan.

Sudah benar masyarakat di Delta Mahakam memanfaatkan air hujan sebagai solusi memenuhi kebutuhan air bersihnya. Dan terbukti air hujan bisa diandalkan. Namun pemanfaatan air hujan secara langsung terutama yang dipanen melalui atap bisa menimbulkan masalah, baik kesehatan maupun kualitas airnya.

Model pemanenan air hujan yang dikembangkan oleh Dr. Agoes Maryono dari UGM bisa diterapkan disini. Tak perlu untuk studi banding atau belajar jauh-jauh hingga ke Yogya. Di internet ada banyak video, teks dan gambar tutorialnya. Cukup unduh dan pelajari, lalu dipraktekkan.

Bahan untuk membuatnya tidak beda jauh dengan apa yang dipakai untuk menampung air hujan selama ini, cukup dengan sedikit modifikasi dengan tujuan mengurangi atau mencegah kotoran masuk ke dalam tampungan, membuat air yang masuk ke dalam tampungan setelah waktu tertentu, sehingga air yang masuk lebih bersih. Air hujan terbaik untuk ditampung adalah ketika hujan sudah turun cukup deras lebih dari 5 menit.

Inovasi dan edukasi menjadi kunci agar masyarakat di Delta Mahakam bisa meneruskan pemanenan air hujan secara lebih aman dan sehat. Memanen air hujan sendiri merupakan bentuk penghormatan atas hujan sebagai karunia alam. Dengan memanen air hujan berarti kita tidak menyia-nyiakan air hujan, yang jika dibiarkan begitu saja berlalu kemudian justru akan menjadi penyebab banjir dan genangan pada daerah-daerah yang tidak dikehendaki.

Praktek memanen air hujan, mestinya menjadi salah satu kekayaan pengetahuan dan kearifan tradisional masyarakat Kalimantan Timur terutama di wilayah pesisir.

note : sumber foto – KESAH.ID