KESAH.ID Nama Sepatin diyakini berasal dari kata Salo Patin  bahasa setempat yang artinya sungai yang banyak ikannya terutama ikan patin. Desa yang kaya dengan sumberdaya laut dan pesisir ini mempunyai tiga dusun terpisah yakni Sepatin, Tanjung Berukang dan Bannati. Pusat pemerintahan ada di Dusun Sepatin yang mempunyai jumlah penduduk paling banyak. Dusun Tanjung Berukang yang juga berpenduduk banyak, akan berpisah dengan Desa Sepatin dan menjadi desa sendiri.

Sudah cukup lama saya tidak jalan-jalan blusukan di wilayah Bumi Etam. Beberapa waktu terakhir ini blusukan saya hanya di gang-gang seputaran Kecamatan Samarinda Ulu, Samarinda Ilir, Samarinda Kota dan Samarinda Seberang bareng Gerombolan Susur Gang Samarinda.

Maka saya langsung mengiyakan ketika mendapat ajakan untuk berkunjung ke Delta Mahakam, tepatnya ke Desa Sepatin dan Desa Muara Pantuan. Selama ini saya hanya membayangkan setiap kali mendengar kisah dan cerita tentang desa-desa di pesisir Delta Mahakam yang masuk di wilayah Kecamatan Anggana itu.

Dikenal sebagai daerah empang, penghasil udang dan kepiting serta hasil laut lainnya, kawasan ini juga mahsyur karena ekosistem mangrove dan buaya muaranya.

Saya memang pernah tipis-tipis memasuki wilayah ini dengan menaiki ketinting dari Sungai Karang Mumus menyusuri Sungai Mahakam. Namun hanya mencapai wilayah tak begitu jauh dari Sungai Mariam untuk memancing udang.

Wilayah lain di Delta Mahakam yang pernah saya kunjungi adalah Muara Pegah, Muara Ulu Kecil dan Muara Ulu Besar, kalau tidak salah berada di Kelurahan Muara Kembang, Kecamatan Muara Jawa, Kutai Kartanegara.

Ada banyak muara di Delta Mahakam yang bentuknya seperti kipas dengan banyak anak sungai dan pulau-pulau kecil yang terbentuk dari endapan subur yang ditransportasi oleh aliran Sungai Mahakam dari hulu dan sepanjang alirannya yang dulu merupakan hutan rimba.

Pulau-pulau yang ditumbuhi aneka jenis mangrove ini, menjadikan kawasan Delta Mahakam menjadi penting karena membentuk sabuk hijau yang melindungi pesisir yang kaya dengan hasil laut dan migas ini.

Muara Pegah sendiri merupakan salah satu muara terbesar di Delta Mahakam yang bisa dilewati oleh kapal-kapal besar dan ponton pengangkut batubara menuju Selat Makassar.

Saya tak terlalu lama menikmati daerah ini, yang saya ingat empangnya besar-besar, udangnya banyak dan serangan nyamuknya dahsyat. Seingat saya kalau tidur malam di Muara Ulu Kecil dan Muara Ulu Besar tidak memakai mosquito net, gak bakalan nyenyak karena harus main silat dengan helikopter kecil yang sengatannya meninggalkan rasa sakit dan gatal itu.

Kisah lain yang selalu didengar tentang Delta Mahakam adalah buaya muara, yang oleh warga kerap disebut nenek. Cerita lainnya adalah air bersih yang langka, warga disana terbiasa menampung air hujan dan membeli air bersih entah dari Sanga-Sanga atau Kutai Lama.

Tapi kisah tentang Delta Mahakam selalu menarik maka kesempatan untuk mengunjunginya jelas tak boleh dilewatkan, terlebih ketika semua-semuanya ditanggung oleh yang mengajak. Ya, ongkos untuk blusukan ke wilayah ini jelas tak murah karena kemana-mana harus memakai transportasi air. Dan demi efektifitas waktu, pilihannya hanyalah menyewa speed boat yang muahaall sekalee ongkos sewanya.

Pagi-pagi sekali saya dijemput oleh pengemudi terbaik dengan mobil terbaik. Rasanya saya hanya tidur 2 jam, karena niatnya memang tak akan tidur sebab takut tak mampu terbangun tepat waktu.

Pengetahuan pengemudi tentang rute yang dilewati dari Samarinda ke Sungai Mariam membuat obrolan di jalan terasa mengasyikkan hingga tak terasa sudah sampai di tepi dermaga tempat speed boat sudah menunggu untuk berangkat.

Sepuluhan tahun lalu saya pernah akrab dengan daerah yang dihuni para Raja Udang dengan rumah-rumah bak istana ini. Saya kerap ke Sungai Mariam karena ada teman yang tinggal disini, namun setelah itu tak lagi karena dia sudah punya rumah sendiri di Samarinda.

Kepiting Bakau, dengan kualitas terbaik menjadi salah satu pendukung pendapat harian warga Sungai Banjar dan wilayah Delta Mahakam pada umumnya. Menjelang Hari Raya Imlek harganya akan melonjak.

BACA JUGA : Masih Marquez

Saat terang benderan sinar mentari mulai sedikit mencubit kulit, speed boat meninggalkan dermaga dengan lima penumpang. Saya satu-satunya penumpang laki-laki sehingga dipersilahkan duduk di depan di samping pengemudi. Duduk di depan untuk kendaraan darat memang terasa nyaman, tapi tidak untuk kendaraan air, sebab bagian depan akan sangat terasa guncangannya.

Saya tak hafal rutenya, karena terlalu banyak cabang dan simpangan Sungai Mahakam yang terpecah-pecah menuju muara lautnya. Tapi saya selalu ingat setiap kali melewati Sungai Mariam menuju muara, akan terlihat pulau yang ditutupi oleh Pohon Rengas. Dan seingat saya akan ada daerah yang dihuni oleh kelompok Bekantan. Tapi hari itu saya tak menemukan adanya Bekantan di pucuk-pucuk pohon tepian sungai.

Alur Sungai Mahakam di daerah Sungai Marian ramai, ada banyak kapal kecil dan besar, lalu lalang dan terpakir. Dalam perjalanan meninggalkan Sungai Mariam, speed yang kami tumpangi sempat berpapasan dengan kapal penumpang legendaris Queen Soya.

Tak lama kemudian mulai di kanan kiri mulai terlihat instalasi sumur migas milik Pertamina yang sebelumnya dioperasikan oleh Total E&P.

Operasi Blok Mahakam, berupa ladang-ladang migas di wilayah Delta Mahakam dan laut lepas ini kini berada di tangan Pertamina Hulu Mahakam. Sumur tertua warisan dari Total E&P masih berproduksi hingga sekarang. Kawasan ini memang merupakan salah satu penghasil gas terbesar di Indonesia.

Ada banyak ladang migas utama di wilayah ini seperti Bekapai, Handil, Tunu, Tambora, Peciko, Sisi Nubi, South Mahakam dan lain-lain. Hasil terbesarnya adalah gas dan sebagian kecil minyak bumi.

Pipa dan instasi migas ini umumnya dicat kuning serta pekerjanya berseragam warna merah sehingga kelihatan mencolok diantara lingkungan air kecoklatan dan hijauan berbagai jenis mangrove.

Mulai menuju ke arah Sepatin dengan melewati anak-anak sungai pintasan, lalu lintas kapal atau perahu besar mulai berkurang, goyangan speed boat akibat menerobos gelombang yang ditinggalkan oleh perahu atau kapal lain juga menurun.

Walau sepi, speed boat tak selalu bisa dipacu. Karena di daerah yang empangnya berada tak jauh dari tepian sungai, laju speed boat harus dikurangi agar gelombang yang dihasilkan tak membentur pematang empang. Pematang jebol adalah kiamat untuk pemilik empang.

Kali ini perjalanan tak langsung mengarah ke Sepati ‘Kota’, pusat pemerintahan desanya melainkan ke wilayah dusun luarnya. Yang pertama dilewati adalah wilayah Mangkubur, malam pertama di Sepatin kami akan menginap disitu.

Daerah yang dilewati setelah Mangkubur adalah Bannati, speed terus melaju karena daerah yang menjadi tujuan pertama adalah kawasan permukiman di Sungai Banjar.

Mentari kian terang benderang, panasnya bukan lagi mencubit melainkan terasa membakar. Untung permukiman di Sungai Banjar agak rapat dan di belakangnya hijau dengan tutupan mangove, rasanya jadi sejuk sejuk semilir tapi panas.

Konon wilayah permukiman ini dinamakan Sungai Banjar karena yang bermukim pertama adalah orang-orang Banjar. Namun kini terlihat dari percakapan, wilayah ini dihuni oleh lebih banyak warga keturunan Sulawesi Selatan.

Meriung di beranda rumah warga sambil menikmati suguhan minuman dengan es batu, rasanya sungguh menyegarkan.

Setelah menikmati sajian makan siang dengan teman makan kepiting rebus, kami melanjutkan perjalanan ke Bannati, singgah di rumah yang berada di tepi empang. Disana kami lagi-lagi disuguhi makan, lagi-lagi ada kepiting dan juga udang.

Hari menuju sore, tapi panas masih menyengat hingga menguyur badan dengan air dingin pasti akan nikmat sekali. Dan speed boat kemudian mengarah ke Mangkubur, tempat kami akan menginap semalam. Tempat yang kami singgahi di Mangkubur mempunyai penampungan air hujan yang cukup untuk persedian 3 bulan, air berlimpah. Dan air hujan yang ditampung itu terasa sejuk, siraman airnya bagaikan memeluk setiap lekuk tubuh yang dilewatinya.

Malam itu saya tidur meringkuk di pondok karena siraman hujan deras dari tengah malam hingga pagi hari. Sungguh beruntung, sebab hujan deras membuat nyamuk-nyamuk tak berkeliaran. Sayapun tidur tanpa perlu berdekatan dengan kipas angin untuk mengusir hawa panas malam.

Sekretariat Kelompok Tani Hutan Alam Lestari di Mangkubur yang akan dikembangkan menjadi destinasi wisata pesisir unggulan di Desa Sepatin.

BACA JUGA : Delta Mahakam : Transisi Energi Di Ladang Migas dan Udang

Sarapan pagi di Mangkubur sama melimpahnya dengan sea food saat makan malam. Dinamakan Mangkubur karena di wilayah ini ada banyak makam-makam tua. Bersama dengan Pamengkaran, Mangkubur dulu merupakan pemukiman tua, saat Sepatin ‘Kota’ dihuni oleh orang-orang laut, orang Bajo.

Speed boat yang menjemput dari Sungai Mariam datang tepat waktu, dan sebelum panas mulai menyengat kamipun meninggalkan Mangkubur menuju Sepatin ‘Kota’. Rasanya kurang dari satu jam, speed boat merapat ke dermaga sebelum jembatan paling hulu Desa Sepatin.

Tak ada signal karena tower repeater mati, untuk kami tinggal di dekat kantor desa yang mempunyai wifi. Berbekal password dari salah seorang staff desa, kamipun bisa ber-WA ria.

Saya ingat punya seorang teman nongkrong yang lama tidak bertemu. Sudah sepuluh tahunan semenjak menjadi pendamping desa hingga kemudian mempunyai pendamping hidup di Sepatin. Semoga bisa bertemu dengannya untuk bertukar cerita.

Tak lama setelah sampai kami berkeliling, menyusuri jalanan gang yang terbuat dari kayu ulin. Tak ada motor yang lewat. Konon di Sepatin ada kesepakatan agar jalanannya tak dilalui kendaraan bermotor karena menimbulkan suara berisik. Jalan kaki berpindah dari satu tempat ke tempat lain memang lebih sehat.

Siang hari kami makan di warung makan, yang mempunyai meja bilyard dengan sajian minuman ala-ala café. Di Sepatin ada dua tempat olahraga bilyard yang dilengkapi café.

Malam hari kami bersantap di rumah yang menjadi tempat menginap. Seperti biasa, hidangan utamanya adalah hasil laut, yang paling istimewa adalah udang papay segar. Siang hari saya sempat melihat cara melepas sungut udang kecil-kecil itu. Ternyata caranya gampang, udang papay ditaruh di wadah diisi sedikit air lalu dikocok-kocok dengan semacam sumpit dengan gerakan memutar-mutar. Sungut akan mengumpal diujung sumpit. Begitu berulang hingga tak ada lagi yang tersangkut.

Karena di Kantor Desa selalu ada jaringan internet. Malamnya saya tidur disana, sayang tidurnya kurang nyenyak karena serangan nyamuk karena saya lupa menutup jendela-jendelanya.

Pagi setelah menyantap sarapan nasi kuning, beserta bihun goreng yang berlimpah udang disertai kerupuk udang dengan komposisi 1 kg udang dan 1 kg tepung, kami meninggalkan Sepatin ‘Kota’ menuju dusun terluarnya yang kemudian akan dimekarkan menjadi desa tersendiri, Tanjung Berukang.

Speed keluar ke arah muara, menuju laut lepas. Sebelum menuju Tanjung Berukang, kami mampir sebentar ke Pantai Labu-Labu menemui nelayan perempuan yang mencari tude dan menjemur udang papay di pantai yang daratannya berwarna kehitaman dan lembut saat diijak. Pantai Labu Labu tidak ditutupi pasir melainkan material organik yang bertumpuk, rasanya cocok untuk media tanam setelah dihilangkan kandungan garamnya.

Setelah hampir satu jam speed boat menarungi laut yang dihiasi dengan intalasi migas di lepas pantai, sampailah kami di Tanjung Berukang. Permukiman di kanan-kiri sungai cukup padat dan besar. Pantas jika kemudian daerah ini ingin menjadi desa tersendiri. Di Tanjung Berukang sudah ada SD dan SMP.

Sinyal tidak masalah di Tanjung Berukang. Ada warga yang melayani jasa sambungan internet jam-jaman dan harian yang diperoleh dari koneksi internet layanan Star Link.

Tapi ada signal dari telkomsel juga lancar, asal diesel dihidupkan. Kebetulan catu daya untuk tower repeaternya berasal dari produsen es batu, yang dieselnya hampir selalu menyala 24 jam. Di warung tempat pembuatan es batu itu ada juga colokan yang disediakan untuk menge-charge HP.

Sayangnya rumah tempat kami menginap kurang melimpah air tampungannya Jadi untuk mandi agak ngirit-ngirit air. Kurang puas mandi itu kemudian dikompensasi dengan makan malam yang berlimpah udang dan kepitingnya. Rasa nikmat udang dan kepiting mulai berkurang, karena selalu ada di setiap kali makan.

Namun namanya juga aji mumpung. Mumpung gratis dan mumpung tinggal makan, hajar saja. Walau jujur saja, mulai ada rasa cengkrang-cengkring di lutut kaki.

Saya sempat jalan-jalan menyusuri Tanjung Berukang dari ujung ke ujung. Sempat melihat pasar malam, yang pedagangnya berasal dari Pulau Atas Samarinda. Saya sempat bergurau dengan pedagangnya dengan menanyakan apakah sayurannya dari Mugirejo dan tempenya dari Karangmumus. Yang berjualan bilang semua bahan dagangannya diambil dari Pasar Segiri.

Tidur malam di Tanjung Berukang terasa nyenyak. Rumah tertutup sempurna sehingga nyaris tak menyisakan celah untuk nyamuk masuk.

Sempat saya bertanya kenapa dinamai Tanjung Berukang. Ternyata Berukang adalah nama atau sejenis ikan. Pun demikian dengan Sepatin yang konon berasal dari kata Salo Patin, sungai yang banyak ikannya terutama ikan patin.

Pagi setelah sarapan besar dengan sajian yang lagi-lagi menunjukkan kelimpahan hasil laut dan empang, speed boat yang menjemput dari Sungai Mariam untuk mengantar ke Muara Pantuan datang tepat waktu.

Pengemudinya selalu berganti-ganti, kata yang punya digilir untuk berbagi rejeki. Kali ini yang datang nampak umurnya paling muda. Cukup punya pengetahuan ketika ditanya berbagai tampakkan di sepanjang perjalanan.

Dia menyapa saya dengan sebutan mas. Ah, agak mengecewakan karena di Tanjung Berukang, orang-orang dengan yakinnya menyebut saya orang Banjar. Saya selalu senang jika tidak disebut Jawa, mengingat tiga perempat hidup saya terakhir ini memang tidak di Jawa.

Kalau saya masih terlihat ke-jawa-jawa-an, artinya saya gagal menghayati semboyan ‘Dimana tanah dipijak, disitu langit dijunjung,”

Hari masih cukup pagi ketika akhirnya speed boat merapat di dermaga Muara Pantuan, persis di depan toko terbesar di Muara Pantuan, Sinar Jaya.

note : sumber gambar KESAH