KESAH.ID – Muara Pantuan termasuk permukiman tua di Delta Mahakam. Mungkin sudah ada sebelum kedatangan Kolonial Belanda. Desa ini dikenal sebagai bagian dari wilayah pesisir yang kaya dengan sumberdaya laut. Desa yang merupakan wilayah pesisir dari Kecamatan Anggana ini juga menjadi salah satu destinasi untuk wisata pancing.
Keluar dari Muara Sungai Sepatin menuju lautan dengan pemandangan perahu dan kapal nelayan yang tengah memancing atau menarik trawl, lalu memasuki anak sungai yang di beberapa titik terlihat instalasi pipa dan sumur-sumur gas, akhirnya speed boat meninggalkan Desa Sepatin menyeberangi lautan menuju Muara Pantuan melewati Dusun Bannati.
Hari sudah terang benderang namun belum terlalu panas sehingga atap speed boat tak perlu ditutup rapat. Ruang untuk melihat suasana sepanjang perjalanan menjadi cukup lebar. Dari kejauhan pintu masuk ke Muara Pantuan terlihat, jalan masuknya berupa anak sungai yang bermuara di lautan Selat Makassar.
Tak berapa lama kemudian terlihat sebuah jembatan kayu yang dipasangi tulisan ucapan selamat datang ke Muara Pantuan.
Speed boat mesti diturunkan kecepatannya begitu memasuki kawasan desa agar gelombangnya tak menimbulkan guncangan pada tiang jalanan gang yang berupa jembatan panjang di kanan kiri sungai, serta tiang-tiang rumah, dermaga atau bangunan lainnya yang ada di tepian sungai.
Umumnya bangunan rumah, dermaga dan lainnya terbuat dari kayu, hanya beberapa diatara terbuat dari beton yang dilapiskan pada kayu.
Ada banyak rumah berukuran besar yang menjadi penanda perjalanan ekonomi warga Muara Pantuan.
Setelah melewati beberapa jembatan kayu yang menghubungkan antara permukiman di kanan dan kiri sungai, speed boat kemudian merapat ke dermaga privat yang berada di depan deretan rumah dan bangunan kayu besar. Nampaknya merupakan salah satu titik pusat geliat ekonomi di desa ini.
Ada toko bertuliskan Sinar Jaya, menyediakan sembako, membeli dan memasarkan udang serta hasil laut dan pesisir lainnya. Halamannya yang luas juga dipakai untuk menjual aneka sayuran dan bahan memasak lainnya. Selalu nampak kesibukan di lingkungan Sinar Jaya ini.
Di dindingnya juga ada papan Guest House Mangrove. Tinggal di penginapan ini berasa seperti tinggal di rumah sendiri, Hajah Sawiyah pemiliknya memang sangat ramah, selalu menawarkan kopi dan sering mengingatkan untuk segera makan makanan yang disajikan olehnya. Ditengah kesibukan mengelola usahanya, dia akan turut mempersiapkan makanan untuk tamunya dan meluangkan waktu sejenak untuk menemani saat bersantap.
Jika menginap berhari-hari, bahkan bisa request makanan atau masakan untuk sarapan, makan siang atau makan malam berikutnya.
Menginap di penginapan Mangrove ini tidak bakal kesepian karena banyak orang yang bisa diajak bertukar cerita atau sekedar ha-ha-hi-hi basa basi.
Hajah Sawiyah memang tipikal orang kaya lama yang mengakumulasi kekayaan mulai dari warisan ladang dan empang orang tuanya lalu mengembangkan usaha niaga dari berjualan kecil-kecilan. Mengaku tak pernah mengenyam bangku kuliah dan menikah di usia saat muda, ketika usahanya berkembang pesat Hajah Sawiyah pernah menjumlahkan uang dengan bantuan bulir jagung.
Berangkat dari kehidupan yang sederhana di masa kecilnya, Haji Sawiyah yang bisa dikategorikan milyarder itu tetap tampil sederhana, semacam emak-emak kampung pada umumnya.
Hampir tak terlihat tanda-tanda kemewahan di outfit yang dipakai sehari-harinya, kecuali sebuah mini tablet yang ditentengnya kemana-mana. Sepertinya mini tablet itu dipakainya untuk berhitung.
Haji Sawiyah sepertinya merupakan matahari di Muara Pantuan. Ketika saya jalan-jalan kemudian kebingungan dengan arah jalan karena bertemu dengan anak sungai yang membuat saya kehilangan orientasi, saya pun bertanya pada orang pertama yang saya temui “Ke arah mana rumah Hajah Sawiyah?”. Dan mereka menunjukkan arah dengan detail hingga saya kembali mengenali jalan yang saya akan lalui.

BACA JUGA : Delta Mahakam : Transisi Energi Di Ladang Migas dan Udang
Muara Pantuan dalam berbagai catatan disebut sebagai salah satu permukiman atau kampung tua di wilayah Delta Mahakam. Keberadaan sudah ada sejak jaman kerajaan, sebelum kedatangan Kolonial Belanda.
Kampung ini kerap dihubungkan dengan Pemangkaran. Karena terjadi wabah, sebagian warganya kemudian berpindah, membuka permukiman dan perladangan baru di Muara Pantuan lalu Sepatin.
Menurut cerita sebelum menjadi daerah empang, masyarakat Pantuan dan Sepatin lebih dikenal sebagai pekebun dengan menanam kelapa dan jagung. Daerah ini sebelum dikenal sebagai penghasil udang lebih dulu mahsyur sebagai penghasil kopra.
Kampung Muara Pantuan membesar dengan kehadiran kelompok migran yang datang secara bergelombang. Gelombang pertama terjadi sekitar tahun 1959 -1965. Masyarakat Bugis meninggalkan Sulawesi Selatan karena pergolakan ekonomi, politik dan militer disana.
Gelombang kedua terjadi antara tahun 1970 – 1990, yang datang ke Muara Pantuan bukan hanya dari luar pulau melainkan dari wilayah Kalimantan Timur sendiri seperti dari Samarinda. Perpindahan ini didorong oleh perkembangan ekploitasi migas dan budidaya udang yang kemudian merubah kehidupan masyarakat Muara Pantuan dari pekebun menjadi pembudidaya udang.
Wilayah dengan sedimen dan air yang mengandung kesuburan atau nutrisi ini kemudian menjadi pusat penghasil udang dan hasil laut lainnya yang ditujukan untuk ekpor.
Orang-orang biasa, yang merantau dan kemudian berusaha di daerah Delta Mahakam ini kemudian berhasil membangkitkan pengembangan ekonomi lokal pada lahan-lahan tak bertuan yang sebetulnya masuk dalam kategori hutan.
Negara mengekploitasi kawasan Delta Mahakam dengan menyedot minyak dan gasnya, sementara kaum migran mengekploitasi hutan mangrove menjadi empang-empang besar, bahkan besar sekali karena satu petak luasnya bisa hektaran.
Kawasan yang dulu identik sebagai tempat singgah dan persembunyian bajak laut atau perompak kemudian bertumbuh menjadi pusat ekonomi yang berkembang secara organik lewat patronase ekonomi yang berpusat pada Ponggawa.
Ponggawa menjadi tiang ekonomi di kawasan Delta Mahakam. Perannya berkembang dari waktu ke waktu. Jika mulanya mereka bertindak sebagai pemodal atau pengelola utama dalam kegiatan budidaya udang, kini bisnisnya berkembang ke arah logistik.
Mekanisasi dalam pembuatan dan perawatan tambak, membuat Ponggawa juga menjadi penyedia peralatan seperti excavator. Kabarnya sekali garuk lumpur tambak untuk memperkuat pematang dihargai antara 50 hingga 70 ribu rupiah. Dengan hitungan tambak seukuran 6 hektar saja dianggap kecil, berapa ongkos operasi exca untuk membuat atau memperbaiki tambak?
Para Ponggawa juga menyediakan kebutuhan lain, berupa toko sembako besar, BBM bahkan rumah sewa, bangsalan dan penginapan.
Di Muara Pantuan, Usaha Dagang yang dikembangkan oleh Haji Sawiyah tumbuh menjadi konglomerasi lokal. Dan kini pengaruhnya bukan hanya besar pada ekonomi lokal, melainkan juga politik lokal karena anaknya menjabat sebagai Kepala Desa.

BACA JUGA : Salo Patin

Hanya tinggal dua malam di Muara Pantuan, mungkin tidak cukup untuk melihat secara lebih dalam. Namun dibandingkan dengan Sepatin, sepertinya hasil laut atau nelayan tangkap lebih banyak di Muara Pantuan.
Penampakan hasil ikan laut seperti kakap, trakulu, tongkol dan lainnya lebih bisa dilihat saat jalan-jalan di Muara Pantuan pada pagi hari. Di beberapa titik penampungan ikan, dengan mudah dilihat ikan dengan ukuran yang besar-besar.
Sementara di Sepatin, nelayan lebih sering membawa ikan dengan ukuran kecil-kecil yang biasa dibuat menjadi ikan asin.
Di Sepatin juga ada lapangan besar, tempat masyarakat menjemur udang papay. Sementara di Maura Pantuan tidak ditemukan hal itu.
Tapi bukan berarti tak ada, bisa jadi karena saya belum mengitari seluruh kampung maka tak melihat hal itu.
Satu hal menarik lainnya adalah tradisi yang masih dijaga oleh sebagian masyarakat Muara Pantuan. Sebagai kampung tua, kaum migran yang datang kesana mungkin masih membawa praktek-praktek upacara yang dulu dilakukan di tanah asalnya.
Saat melewati pelabuhan di kampung bagian hilir, saya melihat ada semacam anyaman dari kayu berbentuk bulat lalu diberi rumbai-rumbai janur atau daun nipah muda. Tak jauh darinya ada selongsong ketupat tergantung. Jadi saya menduga itu adalah cara untuk mengeringkan daun nipah.
Namun ketika saya melewati kembali, suasananya makin ramai. Terlihat banyak ibu-ibu membakar ayam yang utuh.
Ternyata sekelompok warga itu tengah melakukan persiapan untuk upacara selamatan kampung.
Anyaman dari kayu yang membentuk wadah dan diberi rumbai-rumbai daun nipah muda itu dinamai ance’, wadah itu akan menjadi tempat menaruh makanan, berupa nasi ketan, ayam dan lain-lain yang kemudian akan digantung di titik-titik tertentu.
Meski tidak seluruh warga terlibat, selamatan kampung dimaksudkan oleh yang melakukannya bertujuan untuk memberi penghormatan dan meminta berkah kepada Yang Maha Kuasa agar kampung dan warganya diberi kelimpahan hasil ketika melaut. Warga percaya jika selamatan kampung tidak dilaksanakan, masyarakat akan ditimpa marabahaya ketika melaut.
Kabarnya dahulu perayaan selamatan kampung ini meriah karena disertai dengan tari-tarian yang diiringi musik Tengkilang, musik pengiring nyanyian berupa gong dan gendang. Namun seperti saat ini tak ada lagi, musik dan nyanyian berasal dari hand phone yang dihubungkan dengan sound system.
Dari kejauhan bunyinya memang meriah, namun partisipasi warga dalam melakukan selamatan kampung tampak tak seramai dulu-dulu. Hanya sebagian kecil saja warga yang merayakannya.
Saya sendiri tak sempat menyaksikannya secara persis, namun paginya ketika mesti meninggalkan Muara Pantuan untuk kembali ke Sungai Mariam, saya melihat satu ance’ tergantung disela-sela rimbun pepohonan tepian pesisir. Menurut cerita dalam selamatan kampung, ance’ akan digantung di 13 titik yang dipercayai ada penunggunya.
Dengan diberi sajian dalam ance’ itu para penunggu tidak akan menganggu kehidupan dan penghidupan warga Muara Pantuan.
note : sumber foto – KESAH.ID








