KESAH.ID – Di Delta Mahakam, sekurangnya di Sepatin dan Muara Pantuan jarang ada yang nyabu, nyarap bubur. Penjual keliling pagi-pagi biasanya menjajakan nasi kuning, buras, dan kue-kue basah juga kering. Tapi cerita nyabu populer, dari apa yang disampaikan warga nampaknya peredaran dan pemakaian sabu sudah biasa. Mungkin sabu diangkat sebagai peningkat stamina, penyemangat dan penguat kerja. Warga dengan fasih bisa menceritakan dampak pemakaian sabu, salah satunya adalah lenyapnya lampu PJU yang ditenagai dengan sinar matahari.
Saat kegiatan Susur Gang Samarinda mulai membesar ekposurenya, sebagian Kaum Susur enggan kalau jalurnya terus diulang. Maka ada kebutuhan untuk menemukan dan mengekplorasi jalur-jakur baru.
Lalu muncul salah satu usulan untuk membuat ‘jalur narcos’.
Wah, memangnya Samarinda itu seperti Bogota, Medelin atau Juatan di Amerika Latin sana. Dimana perdagangan narkoba dilakukan secara terbuka.
Tentu tak seterbuka sebagaimana serial film dokumenter atau film cerita yang ditayangkan dan populer di Netflix.
Tapi sebagian masyarakat Samarinda terbiasa dengan istilah ‘loket’. Bukan loket PDAM atau PLN karena sekarang tagihan air dan listrik sudah bisa dibayar secara online, bahkan listrik sudah prabayar sehingga tak perlu membayar di loket karena diganti dengan membeli voucher.
Istilah loket yang populer di Samarinda itu berhubungan dengan peredaran narkoba. Istilah loket menggambarkan transaksi narkoba dilakukan secara terbuka. Pembeli dan penjual berhadapan langsung, uang diserahkan, barang diberikan. Loket adalah titik-titik tertentu dimana jual beli itu bisa dilakukan.
Dan beberapa kawasan permukiman padat di Kota Samarinda dikenal dengan loketnya.
Keberadaan bandar besar bukan hanya beredar di bisik-bisik tetangga. Seseorang yang diidentifikasi sebagai bandar besar bahkan tumbuh mirip-mirip Pablo Escobar kecil, menjadi tokoh di wilayahnya. Bisnis narkobanya tersembunyi manis dibalik citra baiknya dimata warga sekitar.
Kalau narkoba marak di Kota Samarinda mungkin bisa dipahami, banyak warganya perlu mood booster karena tekanan hidup.
Namun sungguh mengejutkan jika fenomena konsumsi narkoba terutama jenis sabu-sabu menjadi obrolan biasa di Delta Mahakam.
Di Sungai Banjar, ketika berbincang tentang energi listrik dan penerangan jalan, tiba-tiba saja terselip soal sabu-sabu.
Seorang warga di Sungai Banjar membanggakan kampungnya dengan membuat perbandingan tentang apa yang terjadi di Sepatin.
“Disini kalau malam terang, lampu jalannya masih utuh. Coba nanti di Sepatin sana, lampu jalannya hilang sampai tiang-tiangnya,” ujarnya.
Konon kabarnya lampu beserta tiangnya itu dicuri oleh mereka yang tak punya uang untuk membeli sabu-sabu.
Yang dimaksudkan adalah paket lampu PJU, lampu yang ditenagai oleh tenaga surya.
Kini dalam konteks transisi energi, PJU bertenaga surya ini dijadikan proyek unggulan oleh pemerintahan di berbagai tingkatan.
Separah itukah?.
Yang menceritakan menyakinkan kejadiannya memang begitu.
Muncul pertanyaan, untuk apa masyarakat yang umumnya nelayan itu menggunakan sabu-sabu?

BACA JUGA : Muara Pantuan
Dilihat dari kondisi geografisnya, Delta Mahakam memang tempat ideal untuk peredaran narkoba. Wilayahnya terpisah dari daratan, kemana-mana harus memakai transportasi laut, komunikasi pada umumnya juga buruk.
Maka lokasi ini ideal sebagai tempat persembunyian. Ada banyak lokasi tersembunyi yang bikin polisi jeri.
Jadi sebagai tempat transit atau untuk menyimpan persediaan yang kemudian akan diedarkan ke kota-kota seperti Samarinda, mungkin masuk akal. Jadi Delta Mahakam diberlakukan sebagai bagian dari rantai suplay chain narkoba.
Tapi nyatanya bukan begitu. Secara demografis paparan narkoba cukup tinggi. Buktinya banyak keluhan dan cerita dari warga tentang perilaku pemakainya yang sering mencuri fasilitas umum yang mudah dijual untuk membeli narkoba.
Kisah tentang barang-barang yang ada harganya dan lenyap, juga diceritakan oleh seorang ibu di Sepatin. Barang-barang untuk keperluan nelayan jika tak disimpan baik-baik didalam rumahnya, bakal lenyap satu per satu.
Tingginya konsumsi narkoba jenis sabu-sabu, dikonfirmasi oleh ibu-ibu. Namun mereka segera menegaskan “Suami saya tidak begitu,”
Nampaknya yang gemar memakai sabu-sabu adalah nelayan, kaum bapak-bapak.
Narkoba atau sabu dianggap mampu meningkatkan stamina, memakai sabu membuat nelayan sanggup bekerja lebih keras menghadapi tantangan alam.
Di Delta Mahakam mungkin sabu-sabu dianggap energizer, meningkatkan tenaga dan semangat kerja. Bahkan mungkin keberanian, sehingga nelayan terus maju menerjang gelombang.
Menjadi nelayan, baik nelayan tangkap atau nelayan budidaya di Delta Mahakam tantangannya memang berat. Mungkin saja beban itu dirasa bisa berkurang atau bahkan menguap begitu mereka mengkonsumsi sabu.
Peredaran sabu-sabu kemudian juga marak karena adanya paket hemat. Harga sabu tidak lagi jutaan, tapi ratusan ribu saja.
Sepertinya para penjual sabu mengikuti filosofi pedagang Tiongkok, yang punya prinsip biar untungnya sedikit yang penting laku banyak. Toh sedikit-sedikit lama-lama jadi bukit juga.
Karena dijual dalam paket-paket kecil atau sering disebut poket, karena kalau dikantongi tak kentara, peredaran sabu menjadi meluas. Termasuk di Delta Mahakam.
Apa yang diceritakan di Sungai Banjar, ternyata terkonfirmasi di Sepatin. Adalah seorang teman yang dulu terlibat dalam program pemberdayaan masyarakat di Sepatin dan kemudian menjadi bagian dari warga Sepatin karena menikahi salah satu gadisnya.
Tak sengaja berjumpa di dermaga tepian sungai, setelah bernostalgia dengan cerita lampau-lampau kemudian kelaur kisah dari mulutnya. Dia menunjuk jembatan yang melintasi sungai, menjadi penghubung antar warga yang bermukim disisi kanan dan kiri.
“Dulu banyak lampu PJU di jembatan itu, tapi hilang semua. Mungkin pindah ke empang-empang sana,” katanya.
Tak perlu pertanyaan untuk mendalami lagi, langsung disimpulkan saja karena sudah ada informasi pendukung seperti yang dikisahkan oleh warga di Sungai Banjar.
Lampu-lampu dengan tenaga surya dan tiang besi itu hilang satu paket karena dicopot oleh mereka yang butuh memakai sabu tapi tak cukup uang. Dan tidak sulit untuk menjualnya, karena warga di empang membutuhkan penerangan yang ditenagai dengan sinar matahari itu.

BACA JUGA : Air Hujan
Malam ketika berbincang dengan warga sebelah rumah tempat menginap di Tanjung Berukang, disebutlah sosok atau nama yang menguasai peredaran narkoba di Sepatin. Bahkan diberitahukan sebelah mana rumahnya.
Nampaknya sudah menjadi pengetahuan umum. Seperti halnya di Samarinda, banyak yang tahu siapa bandar besar dan dimana loketnya.
Kalau warga tahu, polisi pasti juga tahu.
Tahu sama tahu maka jadi tempe.
Dari omong-omong dengan warga terutama ibu-ibu, nampaknya mereka pasrah saja. Mereka merasa tak mungkin untuk melaporkan, nanti kalau tak terbukti atau dibuat tidak terbukti malah balik jadi boomerang. Warga yang prihatin menjadi serba salah.
Yang bisa dilakukan hanyalah penyuluhan, terutama di sekolah. Dan kebanyakan sekolah di sana hanyalah SD dan SMP, siswanya bukan sasaran perdagangan narkoba.
Tapi ya tidak apa-apa, prinsipnya adalah mencegah lebih baik dari mengobati.
Selain hilangnya fasilitas JPU dan barang lainnya, dampak narkoba atau pemakaian sabu-sabu kurang dibahas. Mungkin ada yang bergurau dengan sebutan ‘Janda Sabu’, karena suaminya yang memakai sabu kemudian berani melawan gelombang dan kemudian tergulung ombak lalu pulang tanpa nyawa.
Ketika dikulik soal kekerasan dalam rumah tangga atau perceraian karena ketergantungan pada narkoba, tidak banyak yang bisa diulik datanya. Mungkin hal itu dianggap aib oleh masyarakat sehingga tabu untuk dibicarakan di depan umum.
Namun yang jelas persoalan nyabu sabu di Delta Mahakam ini harus dipandang serius. Lama kelamaan pengedarnya pasti akan melebarkan pasar untuk meningkatkan omsetnya.
Perkembangan peredaran sabu atau narkoba di sebuah daerah pasti akan menciptakan sel-sel baru untuk mengaburkan sistem distribusi dan aktor-aktor kunci peredarannya.
Jika sel-selnya berkembang meluas, penjual paling bawah tak perduli lagi menjual pada siapa. Asal ada yang mau membeli, pasti dilayani.
Di Delta Mahakam termasuk mudah mendapat uang. Jika rakkang yang dipasang mampu menjerat kepiting, dalam sehari saja pendapatannya bisa ratusan ribu rupiah.
Jika uang gampang, maka tak sulit untuk membelanjakannya. Apalagi jika yang dibeli mendatangkan kesenangan, walau kesenangan itu hanya sesaat.
Dan jika punya uang, kita memang cenderung membelanjakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Lebih berbahaya lagi kalau yang tak bermanfaat itu menyebabkan kecanduan, ketergantungan, sehingga ketika tak punya uang maka apa saja yang bisa dijual akan diuangkan. Termasuk lampu penerangan jalan umum beserta tiang-tiangnya.
note : sumber gambar – KESAH.ID








