Pingin pakai baju modis tapi harga ekonomis?. Cobalah lakukan kegiatan thrifting atau berburu pakaian bekas bermerek dengan kualitas premium dengan model-model vintage dan modern sehingga masih bisa dipakai buat ngeceng kece.
Fenomena thrifting memang lagi marak-maraknya. Secara ideologis thrifting bisa dimasukkan dalam kategori slow fashion, tampi; gaya tapi tidak memakai baju baru. Gaya fesyen ini dianggap bisa mengurangi limbah tekstil.
Meski nampaknya identik dengan kegiatan berburu pakaian secondhand, namun thrifting bukanlah sekedar jual beli pakaian bekas. Thrift sesungguhnya adalah berburu atau jual beli barang murah namun bisa mendapatkan barang dengan kualitas premium.
Sebenarnya gaya belanja atau jual beli seperti ini adalah cerita lama. Dari dulu di pasar-pasar tradisional selalu ada los atau bagian yang menjual barang-barang loak atau rombeng. Bahkan ada pasar-pasar khusus yang menjual barang-barang seperti itu. Pasar semacam ini sering kali disebut sebagai pasar maling.
Di Yogya dan Solo, pasar yang menjual aneka rupa barang bekas disebut dengan Pasar Klitikan.
Sebelum istilah thrifting terkenal dan menjadi bisnis yang banyak digeluti oleh anak-anak muda, sejak berpuluh tahun lalu bisnis jual beli pakaian bekas dikenal istilah cakar bongkar atau awul-awul. Ada banyak pedagang mendatangkan pakaian bekas dalam bentuk bal-balan dari luar negeri. Pembeli akan membongkar-bongkar tumpukan pakaian untuk memilih yang cocok dan disukainya.
Istilah thrifting kemudian populer ketika anak-anak muda mulai mengeluti bisnis ini. Baju lebih dahulu disortir, dipisahkan antara lain berdasarkan bahan atau model. Seperti kain flannel, baju hoddie, crewneck dan lain-lain.
Selain bahan dan model, pemisahan juga dilakukan berdasarkan merek. Yang umumnya dijual dalam bursa pakaian bekas berlabel thrifting adalah pakaian-pakaian bermerek. Dengan model bisnis seperti ini maka harga pakaian yang telah disortir menjadi lebih mahal daripada yang dijual di gerai-gerai cakar atau awul-awul.
Membeli barang di pasar cakar atau awul-awul, selalu butuh perjuangan. Belum tentu dalam sebuah kesempatan akan menemukan barang yang dicari. Selalu ada keasyikan seperti mencari mutiara tersembunyi dalam hamparan pasir.
Kalau mau cepat dapat tanpa mengobrak-abrik tumpukan, gerai yang perlu dituju adalah yang berlabel preloved. Istilah preloved merujuk pada barabg yang sebelumnya pernah dimiliki dan akan berpindah tangan kepada orang lain. Termasuk dalam barang preloved adalah sesuatu yang baru dibeli, baru beberapa kali dipakai.
Toko preloved umumnya menjual baju karena bajau gampang sekali berubah modelnya, tidak lagi ngetrend atau ukurannya mulai tak cocok dengan badan.

BACA JUGA : Pos Indonesia Gajah Tua Yang Mencoba Lari Kembali
Sore hari ketika jalanan mulai ramai dengan lalu lalang orang pulang kerja, Jalan Astana Anyar Bandung mulai bergeliat dengan keramaian pedagang menghampar jualannya di pinggiran jalan. Selain berjualan di sepanjang jalan ada juga sebagian lainnya berjualan di dalam area Taman Tegalela, tempat dimana tugu Bandung Lautan Api berdiri megah.
Pasar yang mulai berjualan sejak sore ini dikenal sebagai pasar lilin. Disebut demikian karena dulu pedagang mulai berjualan ketika gelap petang mulai merayap dan menerangi dagangannya dengan nyala api lilin.
Yang dijual di pasar ini bukan hanya baju bekas, melainkan juga sepatu bekas mulai dari sneaker, pantopel, boots dan aneka sepatu olahraga. Selain itu juga dijual aneka sandal termasuk sandal gunung.
Sepatu bekas bermerek Adidas, Nike, All Star Converse, Vans, New Balance dan lain-lain dengan mudah ditemui di lapak-lapak beralaskan plastik atau terpal.
Sedangkan pakaian bekas, umumnya dijual di kios yang berada di pinggir jalan, bukan pada lapak-lapak beralaskan plastik atau terpal. Pakaian digantung berdasarkan jenis dan bahannya. Dan dijual mulai dari harga Rp. 10.000 hingga Rp. 100.000.
Mulai berjualan dari sekitar jam 4 sore hingga tengah malam, berbelanja di pasar lilin memerlukan ketrampilan untuk tawar menawar jika ingin mendapatkan harga yang terbaik. Jangan khawatir menggunakan jurus untuk menurunkan harga sebab pedagangnya kerap mengatakan “Silahkan ditawar’.
Dalam perkembangannya pasar lilin kemudian tidak hanya menjadi bursa barang bekas. Di lapak-lapak dan kios kini banyak dijual barang-barang baru, pakaian dan sepatu tiruan dari merek-merek terkenal. Harganya tentu saja jauh lebih murah dari barang aslinya.
Bandung memang dikenal mempunyai sentra-sentra industri rakyat yang terampil menghasilkan tas, sepatu maupun pakaian. Banyak merek sepatu terkenal, pakaian atau jersey dari klub ternama di Eropa dihasilkan dari Bandung.
Salah satu daerah yang tersohor sebagai penghasil sepatu lokal adalah Cibaduyut.

BACA JUGA : The Hallway ‘Hidden Place’ di Pasar Kosambi
Jika di Bandung ada pasar lilin, maka di Yogyakarta ada pasar senthir. Senthir adalah lampu minyak, lampu teplok atau dian.
Sama seperti pasar lilin, awalnya dulu pedagang di pasar senthir menggunakan penerangan dari teplok atau dian untuk berdagang pada sore hingga malam hari.
Lokasi pasar senthir sebenarnya merupakan area parkiran dari pasar Beringharjo. Ketika pasar Beringharjo tutup di sore hari, parkiran yang kosong itu kemudian dimanfaatkan untuk berjualan barang klitikan.
Berada di salah satu pusat turisme Kota Yogyakarta, pedagang di pasar senthir berusaha menata dagangannya seapik mungkin. Sehingga pasar senthir kerap dikunjungi oleh turis, baik lokal maupun mancanegara.
Namun karena tidak beratap, pasar senthir juga sering disebut sebagai pasar misbar. Artinya kalau gerimis atau hujan maka akan bubar.
Pasar senthir bisa diibaratkan sebagai mal barang bekas, serba ada. Yang dijual disana mulai dari sekrup karatan hingga aneka barang elektronik.
Di pasar yang sudah beroperasi selama kurang lebih 15 tahun ini jika beruntung bisa didapati jeans belel dan pakaian branded serta barang-barang langka lainnya yang biasa diburu para kolektor.
Masalahnya sekarang ini para pedagang semakin terampil mempertua penampilan sebuah barang. Terlihat sebagai barang antik tetapi sesungguhnya adalah polesan.
Jadi telitilah sebelum membeli dan jangan sungkan-sungkan untuk menawar.
Khusus untuk baju bekas, beberapa penjual mungkin saja memajang baju yang sudah dicuci dan disetrika. Hanya saja tidak semuanya begitu, karena tak sedikit pula yang menjual baju dalam kondisi sebagaimana saat dibuka dari bal.
Oleh karena itu sesaat setelah berhasil mendapat baju atau pakaian buruan di bursa pakaian bekas, sebaiknya pakaian direndam dalam air panas, dicuci secara manual dan dipisahkan dari pakaian lainnya.
Jangan lupa juga gunakan pewangi untuk menghilangkan bau tak sedap yang menempel di pakaian karena terlalu lama ditumpuk di lapak-lapak jualan.








