KESAH.ID –  Dua pasangan capres dan cawapres telah didaftarkan ke KPU. Dan tinggal satu calon presiden yang masih menjomblo. Karena sering mengatakan dan mengklaim sebagai penerus Presiden Joko Widodo maka aksentuasi yang paling nyata adalah menunjuk putra presiden yakni Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presidennya. Andai ini benar terjadi apa yang akan menimpa atau menerpa Gibran sang calon wakil presiden termuda dalam sejarah pemilu di Indonesia?

Dua pasangan capres sudah diresmikan lewat deklarasi. Yang pertama pasangan Anies Baswedan – Muhaimin Iskandar dideklarasikan pada 2 September 2023 di Hotel Yamato {Majapahit} Surabaya.

Dan yang kedua adalah pasangan Ganjar Pranowo – Mahfud MD yang dideklarasikan di Gedung Arsip Nasional Jakarta pada tanggal 18 Oktober 2023.

Deklarasi Ganjar – Mahfud menutup tebak-tebakkan apakah Gibran akan menjadi wakil Ganjar atau Prabowo. Seperti diketahui Gibran dimungkinkan menjadi wakil presiden meski Mahkamah Konstitusi menolak untuk merubah batas umur calon wakil presiden. Sebab dalam keputusan lainnya, MK memutuskan meski belum berumur 40 seseorang bisa dicalonkan menjadi calon wakil presiden apabila punya pengalaman sebagai kepala daerah.

Meski gugatan ke MK cenderung di-duga lebih berhubungan dengan kubu Prabowo yang sejak Hari Raya Idulfitri lalu begitu gencar mendekati Gibran, namun ada yang menduga bisa saja Gibran justru akan dipasangkan dengan Ganjar. Pasang 2G ini dianggap bisa menjadi duet maut.

Namun spekulasi atau duga-duga Gibran akan menjadi wakil Ganjar pupus karena pengumuman dari Megawati yang menyatakan Mahfud MD telah diputuskan menjadi wakil Ganjar. Dan Mahfud MD menerima penunjukan itu.

Strategi PDIP dalam hal ini Megawati memilih Mahfud MD benar secara strategi. Bagaimanapun juga PDIP masih punya keinginan untuk memajukan Puan Maharani dalam pemilu-pemilu presiden mendatang.  Maka Mahfud lah yang dipilih, selain sosok yang bagus Mahfud MD adalah tokoh senior yang tidak akan menghalangi Puan di masa mendatang.

Dalam konteks ini maka memilih Gibran jelas bukan pilihan, karena bakal menjadi sandungan bagi niat untuk memajukan Puan sebagai calon presiden dimasa mendatang. Dengan demikian jika gugatan ke MK ditujukan untuk memuluskan jalan Gibran menjadi calon wakil presiden, maka peluangnya tinggal menjadi calon wakil presiden dari Prabowo Subianto.

Mungkin Prabowo akan segera mengumumkan wakilnya, sebab tak perlu main pat gulipat menyimpan calon karena para calon presiden lainnya sudah didampingi oleh calon wakil presidennya.

Kapan tepatnya?. Yang pasti Minggu ini setelah para pemimpin koalisi bertemu. Yang sedang ditunggu adalah Zulkifli Hasan karena tengah mengikuti perjalanan Presiden keluar negeri.

Anggap saja yang akan dipilih oleh Prabowo adalah Gibran, biar keputusan MK tidak sia-sia.

Andai demikian apa yang akan dicatatkan oleh Gibran, Walikota Solo yang juga putra presiden itu?

Pertama tentu saja nama Gibran akan dicatat dalam sejarah Indonesia sebagai calon wakil presiden termuda sepanjang sejarah. Sebuah catatan yang mungkin akan bertahan lama. Yang mungkin untuk memecahkan rekor itu barangkali putranya yakni Jan Ethes Srinarendra.

Itu kabar baiknya, namun yang jelas segera setelahnya Gibran akan segera ditimpa badai, angin ribut tekanan atas keputusan itu.

Gibran akan segera dianggap sebagai orang yang mbalelo pada partainya yakni PDIP. Gibran adalah kader PDIP dan namanya naik ke dalam kancah politik karena pencalonannya sebagai Walikota Solo didukung oleh PDIP.

Dengan menjadi calon wakil presiden Prabowo Subianto, Gibran akan berlawanan dengan PDIP sebab PDIP bukanlah partai yang mentolerir main dua kaki.

Kita masih ingat ketika Ganjar belum ditetapkan sebagai capres oleh PDIP. Waktu itu beberapa partai menyebut nama Ganjar dan ingin mencalonkannya. Ganjar pun kena semprit.

BACA JUGA : Madu Kelulut, Bonus Menjaga Tutupan Lahan

Namun dalam politik tekanan bisa menjadi sebuah anugerah. Seperti yang dikatakan oleh Seneca, seorang filsuf dari Yunani yang hidup diabad pertama masehi. Dia mengatakan “Tekanan polilik, tekanan sosial adalah anugerah. Bagi seorang pemimpin, tekanan itulah yang membuatnya semakin kuat dan semakin matang.”Gibran kini menghadapi tiga peristiwa besar sekaligus. Ketika video ini dibuat, peristiwa tersebut  belum terjadi. Tapi ini sudah menjadi banyak berita.

Menghadapi tekanan dari PDIP, jika Gibran menjadi wakil Prabowo bukanlah soal yang sulit. Gibran akan disoal karena merupakan anggota PDIP dan menjadi Walikota Solo karena diusung oleh PDIP. Maka tekanan itu akan hilang jika kemudian Gibran keluar dari PDIP lalu masuk Gerindra, Golkar atau malah sekalian bergabung ke PSI.

Jika begitu, paling PDIP hanya bisa ngrememeng aja. Dan dalam politik biasa saja jika yang didukung kemudian tidak sejalan lagi dengan yang mendukung. Partai punya kebijakan namun anggota bisa juga punya aspirasi dan cita-cita politik sendiri. Kalau sudah tidak seiring sejalan ya berpisah adalah satu-satunya jalan jika tak ada satu pihak yang mau mengalah.

Tekanan berikutnya akan datang dari masyarakat. Proses atau perjalanan Gibran menjadi calon wakil presiden adalah kontroversi. Walau mungkin saja ada yang bersorak gembira namun akan ada banyak hujatan.

Bisa jadi masih ada banyak pihak yang tak mau terima wakil presiden yang usianya dipandang masih terlalu muda, masih anak-anak. Dan pada dasarnya MK sendiri juga masih belum menerima calon wakil presiden yang usianya dibawah 40 tahun.

Meski kemudian ada catatan soal pengalaman menjadi kepala daerah yang kemudian membuat Gibran lolos walau belum berusia 40 tahun. Namun jika ditelisik lebih jauh, dalam soal pengalaman menjadi kepala daerah, para hakim pun tidak satu penerimaan. Alasannya ada yang berbeda. Ada hakim MK yang setuju jika syarat kepala daerah itu adalah gubernur, bukan bupati atau walikota.

Jadi meski setuju dengan alasan pengalaman sebagai kepala daerah, alasan hakim MK menerima syarat itu tidaklah bulat.

Keputusan MK untuk mengabulkan pencalonan seseorang yang belum 40 tahun menjadi calon wakil presiden langsung ditanggapi dengan berbagai penolakan, salah satunya lewat Maklumat Juanda yang dinyatakan dan ditandatangani oleh para pejuang demokrasi. Salah satu yang menjadi sorotan adalah soal politik dinasti.

Dan isu ini akan kembali menguat jika kemudian Gibran benar-benar dipilih sebagai calon wakil presiden oleh Prabowo. Serangan terhadap isu ini mungkin akan semakin membabi buta. Dan rasanya Gibran tak mungkin lagi akan sesantai menanggapi hal itu seperti serangan-serangan sebelumnya.

Dari hasil survey atas tingkat popularitas dan kepuasan masyarakat pada kinerja Presiden Joko Widodo yang tinggi. Wajar jika kontestasi untuk memilih pengantinya akan cenderung bernuansa menjadi ‘penerus’ nya.

Dengan tingkat kepuasan masyarakat yang tinggi, masyarakat tak ingin keadaan terlalu berubah dengan drastis. Maka isu perubahan atau antitesis menjadi tidak laku atau dianggap kurang relevan oleh masyarakat. Pasangan capres dan cawapres yang mengusung isu perubahan kemungkinan besar tidak akan populer.

Mestinya isu ‘penerus’ atau ‘pewaris’ secara otomatis akan jatuh ke tangan pasangan yang diajukan oleh PDIP sebagai yang mencalonkan Presiden Jokowi. Tapi dengan manis isu ini dibajak oleh Prabowo dan partai koalisinya. Mereka yang getol meyakinkan masyarakat pemilih bahwa pasangan calon presiden dan wakil presidennya merupakan penerus Jokowi dan direstui oleh Jokowi.

Menunjuk Gibran sebagai wakil presiden membuat Prabowo dan partai koalisinya tidak perlu lagi mengatakan bahwa calon mereka adalah penerus yang paling sah dari Joko Widodo.

BACA JUGA : Salahkan Wakil Presiden Kalau Umurnya Belum 40 Tahun?

Sekurangnya yang punya feeling paling besar jika mengandeng Gibran sebagai calon wakil presiden akan menang adalah Prabowo dan mungkin saja Gerindra. Sementara partai koalisi lainnya bisa jadi tak terlalu antusias walau juga tak menolaknya.

Perasaan itu mungkin didukung oleh perkiraan bahwa Gibran bisa membantu mendongkrak suara Prabowo di Jawa Tengah. Dan kemudian secara nasional juga membantu untuk meraup suara anak muda.

Wajar Prabowo dan Gerindra berpendapat demikian karena secara faktual Gibran adalah sosok yang terkenal secara nasional, popularitas Gibran tinggi sebagai seorang calon wakil presiden dibanding dengan calon-calon lainnya.

Sejak ingin menjadi walikota Solo hingga sekarang Gibran selalu menjadi bahan perbincangan dan pemberitaan.

Tentu banyak orang muda mengagumi dan menyukai Gibran, namun tak otomatis mau memilihnya terutama untuk posisi sebagai calon wakil presiden. Ada banyak pertimbangan yang mendasarinya.

Untuk kaum muda yang mempunyai corak atau watak intelektual, sosok Gibran belum menampakkan diri sebagai pemimpin muda yang cerdas dan berwawasan luas. Gibran masih perlu waktu untuk menambah ilmu dan wawasannya.

Dari sisi lain mungkin juga ada yang khawatir, jika Gibran yang dianggap sebagai sosok pemimpin muda masa depan ini terlalu cepat masuk gelanggang. Jika gagal maka Gibran bisa layu sebelum berkembang.

Tentu Gibran sendiri yang paling tahu keputusan apa yang terbaik untuknya. Bagaimanapun juga politik adalah seni mengelola kepentingan dan kemungkinan. Saat ini momentum untuk Gibran sedang tiba, apakah momentum itu akan dimanfaatkan atau tidak, semua kembali pada keputusannya.

Ada banyak orang yang percaya bahwa politik amat tergantung momentum dan mungkin momentum tak akan datang dua kali.

Tapi ada juga yang menyakini bahwa momentum bisa diciptakan, sehingga bisa datang berulang-ulang.

Soal politik adalah seni, jangan sampai pengertian seperti yang dituliskan oleh Dahlan Iskan saat mengutip pendapat AS. Hikam, karib Gus Dur yang pernah menjadi Menteri Riset dan Teknologi. AS. Hikam lewat telepon menyampaikan pada Dahlan Iskan “Saya jadi paham mengapa politik sering disebut seni. Harganya semurah air seni {kencing}. Baunya menyengat seperti air seni onta,”.

note : sumber gambar ilustrasi – TEMPO.CO