KESAH.IDPetani atau peternak tak perlu diajari bagaimana bercocok tanam atau memelihara binatang piaraan. Yang perlu diperkenalkan kepada mereka adalah model bisnis pertanian dan peternakan yang baru, aktifitas yang integratif yang bisa memberikan pendapatan yang tidak tunggal sekaligus meningkatkan kemampuan lingkungan untuk menghasilkan jasa ekologi.

Dibawah wuwungan rumah biasanya ada lebih bersarang, bentuk sarangnya membulat lonjong dan kalau dibiarkan lama-lama bisa sebesar buah nangka.

Jangan coba-coba menganggunya, lebah yang bersarang di dalamnya suka mengejar dan menyengat. Yang disengat biasanya kepala, makanya sering disebut sebagai Tawon Ndas.

Lebah ini biasanya dipanen untuk diambil anakannya, enak dibuat pepes.

Sementara di belakang rumah biasanya ada glugu atau potongan batang kelapa yang digantung. Di dalamnya bersarang lebah yang lebih kecil-kecil, sebutannya lebah madu. Kalau diganggu bisa juga menyengat namun sengatannya lebih ringan ketimbang Tawon Ndas.

Dua jenis lebah itu yang akrab dalam memori saya karena saya pernah merasakan disengat oleh keduanya.

Kelak saya mengenal jenis lebah lain, lebah hutan yang juga besar-besar seperti Tawon Ndas. Lebahnya bersarang di pohon besar, bergerombol menumpuk membentuk wujud setengah lingkaran tak sempurna dari kejauhan.

Di Berau, tepatnya di daerah Lesan untuk pertama kalinya saya melihat sarang lebah hutan yang oleh warga setempat disebut dengan nama Unyai. Sementara nama ilmiahnya adalah apis dorsata.

Lebah hutan ini biasanya bersarang di pohon Bangeris. Pohon besar yang batangnya tegak lurus dengan kulit yang licin.

Madu si Unyai ini mahal karena sulit untuk memanennya. Selain sengatannya ganas, sarangnya juga amat tinggi, yang panen mesti dibantu tali untuk memanjatnya. Cara pemanenan tradisional bahkan lebih menantang, karena madu akan dipanen pada malam hari, saat bulan gelap. Dan lebah akan dipancing meninggalkan sarangnya dengan api agak jauh dari pohon tempat bersarangnya. Agar yang memanen lebih aman dari sengatannya.

Namun ternyata tidak semua lebah penghasil madu ternyata suka menyengat. Ada jenis lebah penghasil madu yang ternyata tidak galak. Sebutan populernya Kelulut atau Klanceng.

Saya lebih suka dengan sebutan Kelulut atau Trigona, sebab sebutan Klanceng lebih sering dikait-kaitkan dengan kondisi tegak lurus kelamin lelaki sebagai efek minum madunya.

Awalnya lebah ini hampir tak ada yang melirik. Di Samarinda sendiri menurut pegiat Kelulut, upaya untuk membudidayakan Kelulut alam dalam kandang dimulai pada tahun 2007. Adalah Pak Singkir yang bekerja di Kebun Raya Unmul Samarinda yang memulainya.

Perlahan-lahan Kelulut populer di lingkungan para rimbawan, mulai ada gerakan untuk membudidayakan. Seingat saya tahun 2013 ketika saya pergi ke Berau, Kesatuan Pemangku Hutan Percontohan {KPHP} Berau Barat mulai memperkenalkan budidaya kelulut di Lesan, Kelay dan lainnya.

Di kalangan pencinta atau pengkonsumsi madu, bisa jadi rasa madu kelulut yang tidak semanis madu umumnya terasa kurang enak. Warnanya juga seringkali kehitaman sehingga terasa lebih seperti obat ketimbang minuman suplemen kesehatan.

Pandemi Covid 19 menjadi pemicu keterkenalan madu kelulut. Dipercaya mampu meningkatkan imunitas tubuh, madu kelulut laris manis. Model bisnis kelulut mulai tumbuh, ada yang memasok koloni lebah kelulut yang per kotaknya berharga antara 800 ribu hingga 1,2 juta rupiah.

Dan kini juga mulai sering terdengar hilangnya kotak atau kandang kelulut, karena berharga dan mudah diperjualbelikan.

Danang dan Antok pegiat kelulut tengah mengamati perkembangan koloni kelulut di Agro Pastura Tanah Merah

BACA JUGA : Salahkah Wakil Presiden Kalau Umurnya Belum 40 Tahun?

Jika sebelumnya budidaya kelulut lebih menjadi bagian dari program pemberdayaan masyarakat perdesaan, kini kerap menjadi bagian dari pemberdayaan masyarakat perkotaan.

Jika anda rajin jalan-jalan masuk ke permukiman di dalam gang-gang Kota Samarinda, akan dijumpai taman-taman komunal yang dihiasi oleh log kelulut. Entah isinya masih ada atau tidak.

Jika dulu yang mempopulerkan budidaya kelulut adalah KPH lalu disusul oleh Dinas Pertanian dan Peternakan, kini kelulut pun sudah masuk dalam bagian dari program Dinas Tenaga Kerja, kok bisa?.

Bisa saja dengan kreatifitasnya, Dinas Tenaga Kerja bisa memasukkan kelulut sebagai komponen penciptaan lapangan kerja.

Dengan diberi pelatihan pemeliharaan kelulut, melakukan panen dan paska panen madu serta memecah koloni, bantuan beberapa koloni kelulut bisa dibranding sebagai menciptakan wira usaha baru.

Tidak seperti wira usaha lain yang bakal membuat orang bekerja minimal 8 jam sehari, wira usaha kelulut bisa saja tetap tampil sebagai ‘pengangguran’ karena hampir tak ada yang dilakukan olehnya untuk menghasilkan madu, semua dikerjakan oleh pasukan kelulut sendiri.

Pembudidaya hanya perlu memastikan disekitar lingkungan kandang selain ada teduhan tanaman juga kaya dengan tumbuhan-tumbuhan yang menghasilkan bunga.

Dengan diberi bantuan kelulut misalnya sepuluh log atau sepuluh kandang, jika setiap dua bulan sekali panen dengan hasil masing-masing satu log satu liter, maka akan diperoleh hasil kurang lebih 6 hingga 10 juta. Maka pendapatan dari madu kelulut per bulannya berkisar 3 hingga 5 juta rupiah, angka yang cukup besar untuk imbalan kerja yang slowliving.

Bayangkan jika mempunyai 20 hingga 30 kandang, jangan-jangan tetangga akan bilang penghasilannya diperoleh dari Tuyul atau Babi Ngepet.

Tapi jangan dulu membayangkan uang yang berlimpah karena memelihara lebah yang tak doyan menyengat itu. Pertimbangkan dulu sumbangsihnya terutama untuk perkotaan. Dengan memelihara kelulut dan menerapkan urban farming dengan konsep agro pastura, niscaya wilayah permukiman kota akan hijau.

Dengan konsep bertanam tanpa lahan yang luas, baik di tanah maupun di wadah, tanaman sayuran, bunga-bungaan dan lainnya akan menjadi sumber pakan dan madu bagi kelulut. Dengan konsep ini maka tanaman akan memberikan dua hasil yakni panen sayuran atau buah dan panen madu.

Jika dikelola secara komunal maka panenan sayur atau buah bisa dikonsumsi oleh masyarakat, sementara penenan madu bisa dijual dan hasilnya bisa menjadi sumber kas kelompok. Dengan cara semacam ini masyarakat akan mempunyai aset keuangan bersama yang kemudian bisa dimanfaatkan baik untuk kepentingan sosial maupun pemberdayaan masyarakat secara mandiri.

Dalam skema yang lebih luas model agro pastura ini bisa diintegrasikan dengan tata kelola kebersihan lingkungan. Sampah atau limbah rumah tangga diolah menjadi bahan pupuk baik padat maupun cair serta media tanam untuk memperkaya pakan serta sumber madu kelulut.

Lingkunganmu akan indah dan bersih, masyarakat sehat dan akrab serta kas bersamamu ada. Masyarakat yang demikian ini pada akhirnya akan menjadi masyarakat yang lebih rasional dan tidak mudah tergoda dengan program ini dan itu yang bertujuan untuk meningkatkan citra pemimpin dan politikus yang bercita-cita menjadi pemimpin.

Markus Taruk Allo, founder Bena Tani Cerdas yang juga Caleg DPRD Provinsi Kaltim dari PDIP tengah meninjau pembukaan lahan tanam baru di Kelurahan Sindang Sari

BACA JUGA : Kenapa Marc Marquez Ke Gressini Racing?

Dalam skema yang lebih luas model tani ternak ini bisa menjadi cara bertani mainstreams di Kota Samarinda. Dengan luasan lahan yang terbatas dan kualitas lahan yang mesti dipulihkan, cara bertani dan beternak yang integratif akan membantu meningkatkan produktifitas lahan sekaligus memotivasi peternak dan petani untuk menjaga keberlanjutan lahan untuk menghasilkan pangan.

Selama ini sektor pangan meski sering dijadikan program prioritas oleh pemerintah daerah namun ternyata tak mampu mencegah konversi lahan produktif menjadi lahan non pertanian, peternakan dan perhutanan.

Mempertahankan lahan produktif di Kota Samarinda menjadi penting karena Kota Samarinda masih menjadi kota yang sebagian besar bahan pokok pangan dalam arti seluas-luasnya dipasok dari luar.

Maka menghasilkan bahan pangan sendiri merupakan prospek yang besar, pasarnya akan selalu terbuka. Bahan yang dihasilkan oleh masyarakat lokal jelas akan mempunyai keunggulan, yakni lebih segar, lebih baru dan kemungkinan besar lebih murah.

Meski terjadi konversi lahan produktif terutama untuk permukiman dan pertambangan, Kota Samarinda masih mempunyai lahan yang cukup luas untuk dikembangkan. Yang menjadi persoalan adalah kesesuaian lahannya untuk jenis komoditas tertentu.

Seperti contoh di Sindang Sari ada lahan luas yang dibiarkan sejak tahun 1996 karena tidak cocok dijadikan sawah untuk bertanam padi. Lahan kemudian dibiarkan dan menghutan. Ketika dibuka untuk dimanfaatkan bercocok tanam palawija hasil ternyata juga buruk.

Sayangnya masyarakat kerap menganggap lahan yang menghutan sebagai lahan terlantar, lahan kosong dan lain-lain yang kemudian cenderung dijual untuk menjadi kaplingan. Padahal dengan pengenalan karakter tanah yang baik dan vegetasi yang bisa tumbuh diatasnya, bukan tidak mungkin lahan tersebut tetap bisa dipakai untuk bercocok tanam dengan jenis tanaman tertentu.

Atau barangkali justru cocok menjadi lokasi untuk peternakan.

Dengan berbagai model bisnis, lahan yang telah menghutan justru bisa tetap mendatangkan pemasukan atau income dengan tetap menjadikannya sebagai hutan, hutan komunal.

Dalam konteks mitigasi iklim, daerah-daerah yang mempunyai kawasan hutan walau tidak berstatus sebagai hutan, bisa memberi kontribusi pada program pengurangan pemanasan global. Hutan tetap bisa dimanfaatkan untuk bertanam dengan model tumpang sari atau wana tani. Tegakan pohon tidak dihabisi atau “buka matahari”, tanaman komoditas bisa ditanam disela-sela tegakan pohon sehingga terlindung dari sengatan matahari secara langsung.

Konsep agro silvo pastura juga bisa diterapkan di lahan seperti ini. Bertani sekaligus beternak dengan tetap melindungi tutupan lahan. Ternak yang bisa dipilih antara lain Kelulut dan Kambing.

Kawasan berhutan atau yang menghutan bisa diperkaya dengan jenis tanaman yang menghasilkan bunga untuk sumber pakan kelulut dan hijauan untuk sumber pakan kambing.

Soal bercocok tanam atau beternak, masyarakat mungkin tak perlu diajari, diberi bimtak dan bimtek. Namun yang perlu diperkenalkan kepada masyarakat adalah model bisnis baru dalam pertanian dan peternakan, sehingga baik petani maupun peternak bisa mempunyai sumber penghasilan yang tidak tunggal dari aktivitas pencahariannya.

Jika hanya bertumpu pada sumber tunggal, masyarakat cenderung akan tergoda untuk meng-uang-kan lahannya dengan cara menjual atau memanfaatkan untuk kepentingan lain diluar pertanian, peternakan dan perhutanan.