KESAH.IDSeperti halnya Valentino Rossi, Marc Marquez pasti ingin punya tim sendiri yang akan berlaga di Moto GP. Hanya saja memabngun tim dari nol jelas butuh waktu dan tenaga. Maka sebagai pembalap yang masih aktiv, Marc Marquez menyelam sambil minum air. Bergabungnya Marc Marquez ke tim Gressini Racing kemungkinan besar karena Marquez sekeluarga ingin ikut memiliki tim itu dengan cara mengambil alih sebagian atau seluruh sahamnya.

Seperti Messi dan Ronaldo meski keduanya merasa tak bersaing tapi tetap saling intip. Mereka berdua saling menjadikan diri yang lain sebagai ukuran. Messi mengejar prestasi agar seperti Ronaldo, Ronaldo mengejar prestasi agar seperti Messi.

Hingga kini masyarakat tetap membanding-bandingkan walau keduanya tak lagi ada dalam liga di kontinen yang sama.

Ketika ada kesempatan untuk main dalam liga yang sama dengan bayaran yang sangat besar, Messi memilih untuk tidak mengambilnya. Messi mengambil pilihan yang berbeda untuk mendapat pengalaman baru. Mengabaikan uang dan lebih memilih Amerika Serikat ketimbang Saudi Arabia. Apapun alasannya tentu hanya Messi yang tahu, termasuk tujuan setelah tak bermain sepakbola.

Nah di dunia balap Moto GP dua nama yang menghiasi berita sebagai yang selalu dibanding-bandingkan adalah Rossi dan Marc Marquez.

Marquez yakin bisa melewati catatan sang idola waktu kecilnya itu dengan terus bersama Honda. Makanya Marquez berani menandatangani kontrak panjang selama 4 tahun bersama Honda. Dalam hitungannya jika terus berprestasi dan menjadi juara dunia bersama Honda selama 4 tahun kontraknya, angka yang dicapai Rossi akan dilewatinya. Dan yang lebih penting Rossi tak akan bakal bisa mengejarnya.

Sayang kontrak 4 tahun jadi petaka. Marc yang dibayar sangat mahal oleh Honda sehingga jadi pembalap dengan bayaran tertinggi terkena cidera parah. Harus istirahat panjang karena operasi berulang, Marquez ketika kembali ke sirkuit merasa tak percaya lagi dengan motornya.

Honda yang memakai Marc Marquez sebagai patokan untuk mengembangkan motor kehilangan arah ketika Marquez cidera. Hingga ketika Marquez kembali dia sendiri merasa asing dengan motor yang ditunggangi.

Tujuan Marc Marquez dan Honda mulai berbeda. Honda ingin motornya kembali digdaya sementara Marc ingin segera merengkuh kembali gelar juara yang sulit untuk dicapai dengan motor Honda.

Dengan umur yang semakin menua, Marc perlu jalan pintas untuk mewujudkan ambisinya, apapun taruhannya.

Dia mengatakan “Jika saya bisa menaiki Everest dalam tiga hari, maka saya tidak akan menunggu sampai saya bisa naik dalam lima hari,”

Yang perlu diketahui menaiki puncak Everest dalam tiga hari tentu lebih berbahaya dibanding dalam 5 hari. Prinsip terbaik naik gunung adalah biar lambat asal selamat, daripada cepat tapi sekarat.

Jadi pilihan Marc Marquez meninggalkan Honda adalah pilihan berisiko, perjudian terbesar dalam karirnya. Karena jika kepindahan dari Honda ternyata tak membuat prestasinya meningkat maka Marc Marquez akan divonis tidak lagi sehebat dulu.

Sementara jika tetap di Honda, waktu bisa naik podium Marc akan dianggap hebat, namun jika tidak naik podium maka akan dimaklumi karena motornya payah.

Tapi Marc mengambil resiko itu. Sekarang atau tidak lagi. Tetap bertahan di Honda hanya akan membuang waktu dan umur sehingga tujuannya untuk kembali menjadi juara dunia akan sulit tercapai.

Dan soal mengambil resiko, Marc Marquez memang dikenal sebagai biangnya.

BACA JUGA : Tumpang Sari

Sampai di tahun 2019 semua pembalap akan menganggap Marc Marquez bakal meraih gelar juara hingga beberapa tahun ke depan. Belum ada pembalap baru yang mampu menjadi penantangnya.

Situasi berubah, Marc cidera dan kemudian Ducati serta pabrikan lain di Eropa berkembang cepat. Hasilnya sewaktu kembali membalap dan menunggang Honda, Marc Marquez kedodoran. Peluang Marquez untuk meraih gelar juara tertutup. Jangankan menang, finish dan mendapat poin saja sudah sulit.

Honda berupaya mengejar ketertinggalan, memperbaiki perfoma motornya bahkan sampai meninggalkan ego Jepang-nya dengan memakai sasis buatan Kalex. Tapi tetap saja perfoma Honda tidak membaik. Marc Marquez sempat podium di sirkuit Buddh India saat sprint race dan juga di sirkuit Motegi Jepang, namun itu bukan merupakan pertanda Honda telah bangkit.

Balapan di kedua sirkuit itu situasinya bukan situasi normal, karenanya bakat dan talenta pembalap yang kemudian lebih kuat dari motornya. Maka disitulah Marc Marquez yang merupakan salah pembalap dengan talenta dan bakat terkuat bisa meraih prestasi.

Dengan umur yang semakin bertambah dan 3 tahun waktu terbuang karena berbagai cidera, Marquez tak bisa menunggu Honda kembali digdaya agar dirinya bisa meraih gelar juara.

Tidak ada pilihan lain, walau dikatakan tak tahu diri atau bahkan pengkhianat sekalipun, Marquez mesti meninggalkan Honda jika ingin meraih gelar juara dunia kembali.

Marc Marquez mesti menaiki motor yang cepat, entah KTM atau Ducati.

Tapi Marc tak akan bisa masuk ke tim pabrikan karena posisinya sudah penuh. Pilihannya hanya ke tim satelit.

Dan Tim Gressini yang memakai motor Ducati menjadi pilihan ideal. Walau ketinggalan satu tahun dengan pembalap utamanya, namun motornya tetap kencang. Terbukti Marco Bezecchi bisa berprestasi. Andai tak terlalu sering jatuh dan cidera, Bezecchi niscaya akan bersaing ketat dengan Jorge Martin dan Francesco Bagnaia untuk memperebutkan gelar juara dunia.

Gressini juga merupakan tim ideal untuk Marc Marquez karena secara DNA walau tim itu didirikan oleh orang Italia, namun Fausto Gressini sang pendiri dan pemilik sejak dahulu menyukai pembalap dari Spanyol. Salah satu yang terkenal adalah Alvaro Baitusta.

Dan Alex Marquez yang dianggap tamat karirnya karena gagal di Honda, ternyata ketika direkrut oleh Gressini dan menunggangi Ducati, prestasinya membaik.

Maka menjadi amat mudah bagi Marc Marquez untuk menyesuaikan atmosfer dalam tim Gressini karena dia akan bertandem kembali dengan adiknya dalam tim yang terbiasa bekerja sama dengan orang Spanyol.

Dan menjelang balapan di Mandalika, Honda telah secara resmi mengumumkan perpisahannya dengan Marc Marquez. Dan kemudian ketika semua pembalap dan tim telah berada di Mandalika, Gressini juga mengumumkan bergabungnya Marc Marquez menjadi satu tim dengan adiknya untuk balapan tahun depan.

Marc Marquez juga mengumumkan secara personal lewat media sosial, bahwa dia resmi bergabung dengan Gressini untuk balapan musim depan.

Pengumumnan ini disambut oleh para pembalap dan stake holder balapan lainnya. Kesemuanya hampir mempunyai suara yang sama bahwa Marc Marquez akan kembali berbahaya karena menaiki motor tercepat. Balapan tahun 2024 mungkin akan mendapat julukan Ducati Championship, karena yang bersaing di depan adalah para pembalap yang menaiki Ducati, jumlahnya 8 orang.

BACA JUGA : Mengeluh Hawa Panas Tapi Rajin Tebang Pohon

Lepas dari segala macam prediksi yang jika terjadi tentu akan membuat Moto GP menjadi tontonan yang membosankan, namun kepindahan Marc Marquez ke Gressini juga menyisakan kecurigaan yang ada hubungannya dengan Rossi.

Sama eperti Messi jika ingin mencari uang tentu akan memilih berkarir di Arab Saudi. Menandatangani kontrak dengan tim sepakbola Arab Saudi akan membuat Messi menjadi pemain dengan bayaran termahal yang pernah ada di dunia, bayaran yang mungkin akan sulit disusul oleh pemain lainnya.

Marc marquez pun demikian, jika ingin mencari uang tentu saja tak akan memilih Gressini. Tim Gressini tak akan mampu memberi bayaran yang tinggi pada Marc Marquez. Bahkan kedatangan Marc Marquez lah yang akan mendatangkan uang bagi tim Gressini.

Lalu apa yang Marc cari. Tentu saja selain motor yang cepat dan kemungkinan menjadi juara dunia, Marc Marquez juga ingin seperti Rossi yang kini punya tim balap sendiri.

Dan cara tercepat untuk mempunyai tim balap sendiri adalah membeli. Itulah yang mungkin ada dalam benak Marc Marquez, dimana dia datang ke Gressini sebagai pembalap namun setelah itu dia akan membeli sebagian saham tim Gressini sehingga dia bisa turut membangun dan mempunyai tim balap sendiri.

Tim yang kini dikelola oleh istri dan anak Fausto Gressini mungkin tak akan keberatan jika sebagian saham dibeli atau dimiliki oleh keluarga Marquez yang juga mencintai balapan. Berada di tangan yang tepat jauh akan lebih baik dan mempunyai kemungkinan untuk tetap bertahan.

Dan dengan bayaran yang tinggi serta sponsor yang banyak, Marc berserta keluarganya telah mengumpulkan banyak uang yang cukup untuk membiayai sebuah tim.

Yang terpenting bagi keluarga Gressini adalah nama timnya tidak diganti agar peran dan dedikasi Fausto Gressini dalam dunia balap tetap dikenang dan dikenal.

Syarat seperti itu tak akan memberatkan untuk keluarga Marquez. Karena yang paling penting sebagai keluarga pembalap mereka bisa mempunyai tim sendiri, seperti rival bebuyutannya yakni Velentino Rossi.

note : sumber gambar ilustrasi – TMCBLOG.COM