KESAH.ID – Konon satu pohon besar setara dengan 10 AC, tegakan dan keteduhannya bisa menurunkan 30% suhu panas. Itulah kenapa kota-kota membutuhkan banyak pohon untuk mengontol suhu. Pepohonan di kota juga mampu menyerap kebisingan, memurnikan udara, menyerap polutan, meresapkan air dan lain sebagainya. Tapi di kota, karena alasan pembangunan dan estetika perkotaan banyak pohon yang telah hidup hingga puluhan tahun tanpa sesal dirobohkan, diluluhlantakkan.
Mau menguji ketahanan badan terhadap panas yang menyengat akhir-akhir ini, coba naiklah perahu ketinting di tengah hari menyusuri Sungai Karang Mumus. Dijamin bagian tubuh yang tak tertutupi pakaian akan gosong.
Ya Sungai Karang Mumus yang akhir-akhir ini dipuji karena mulai dibersihkan dari rumah di kanan-kirinya, lalu diturap serta dikeruk lumpurnya memang menjadi arena yang pas untuk menguji nyali menahan panas. Pasalnya sungai yang lebih lebar itu di kanan kirinya minus pepohonan.
Proses pengerukan sungai banyak menumbangkan pohon-pohon besar yang tadinya berdiri tegak dan memberi teduhan serta serta hembusan angin kala daun dan dahannya bergoyang.
Setahu saya di aliran Sungai Karang Mumus yang melewati pinggiran Kampus Universitas Mulawarman ditumbuhi banyak pohon rumbia, tapi kini lenyap tanpa bekas. Lalu di alur antara Perum Griya Mukti dan Sempaja City dulunya ada beberapa pohon besar yang cukup rindang, tapi kini hilang.
Selepas Perum Griya Mukti sampai Jembatan Lempake Tepian tadinya juga ada bagian tepian sungai yang asri. Dipenuhi pepohonan di kanan kiri sungai hingga ada dahan dan daunan yang memayungi sungai, kanopi itu juga hilang beberapa tahun lalu karena turap dari Griya Mukti hendak dilanjutkan hingga Jembatan Lempake Tepian.
Kini sulit untuk menemui Pohon Kademba/Kratom, Rengas, Mangga, Jabon, Singkuang dan lain-lain yang besar dan tumbuh di tepian Sungai Karang Mumus. Kanan kiri sungai menjadi lahan terbuka, yang kalau dibiarkan hanya akan ditumbuhi oleh semak-semak, rerumputan dan tebu-tebuan.
Para pemangku kebijakan dan mereka yang diberi tanggungjawab mengurus sungai memang selalu ingin sungai bersih, sebersih-bersihnya sampai-sampai tak ingin ada rerumputan di kanan kiri sungai. Sungai yang baik itu seolah dindingnya kelihatan coklat, kelihatan tanahnya, bahkan biar semakin kelihatan rapi maka ditembok dengan semen.
Dan untuk membersihkan serta merapikan sungai, mereka tega ‘membunuh’ tetumbuhan, pepohonan yang mungkin telah lama lebih dahulu ada sebelum mereka-mereka ini memikirkan bagaimana baiknya itu sungai.
Sungai dalam pengertian sungai alami terbentuk lewat proses yang panjang. Hasil dialog antara air dan lahan yang dilewatinya. Sungai bukan parit atau saluran drainase yang adanya bermula dari rencana dan kemudian digambar oleh para insinyur.
Makanya lebar sempit sungai tidak sama dalam sepanjang alirannya, pun juga dalam dangkalnya karena akan mencerminkan dinamika dari air yang melewatinya. Sungai tahu harus menjaga keseimbangan dan kesetimbangan air antara hulu serta hilir. Mengalirkan air secepat mungkin dari hulu ke hilir artinya membuat orang hulu tak bisa menikmati air dan orang hilir kebanjiran.
Dan sungai alami selalu mempunyai paket yang disebut ekosistem antara, sebuah ekosistem yang menghubungkan antara ekosistem air dengan ekosistem daratan. Ekosistem antara ini biasanya amat kaya dengan flora dan fauna. Disini akan tinggal aneka komunitas dari dunia tumbuhan, binatang, jamur, serangga dan mahkluk mikrokospis yang tak kasat mata.
Keragamannya atau biodiversitasnya tinggi. Makanya selalu menyenangkan berada di ekosistem antara ini, suasananya akan sejuk karena lantainya ditumbuhi tetumbuhan dan kemudian dinaungi oleh pepohonan.
Selain itu sunyinya alam akan dihiasi dengan suara gemericik air dan bunyi-bunyian atau soundscape alam yang menenangkan.
Makanya dahulu banyak Begawan yang menyepi di pinggir sungai, berefleksi untuk kemudian memperoleh sari-sari kebijaksanaan untuk kemudian diajarkan pada para pengikutnya.
BACA JUGA : Pak De Minto, Menghidupkan Spirit Marhaen
Dengan bantuan teknologi, gerah atau rasa panas dalam ruangan bisa diatasi dengan kipas angin dan air conditioner. Tak heran jika cuaca di luar panas sampai terasa mencubit-cubit kulit, kemudian banyak orang ngadem di mall-mall.
Di mobil atau kendaraan lain juga sama, semua dilengkapi dengan mesin pendingin. Bahkan di beberapa moda angkutan seperti pesawat terbang, bus antar kota atau kereta api, dinginnya bisa membuat sampai menggigil hingga dilengkapi dengan selimut.
Tapi di luar, di alam lingkungan kita, belum ada mesin pendingin yang mampu menghadirkan kesejukan dalam area yang maha luas, pun juga kipas angin yang akan membuat udara terasa silir walau mati angin.
Pendingin atau penyejuk luar ruangan adalah pepohonan. Tanpa pepohonan lingkungan akan semakin terasa panas menyengat, mirip di padang pasir.
Masalahnya di lingkungan kita tinggal semakin sedikit lahan yang tersedia untuk menanam pohon. Pinggiran jalan lebih banyak sebagai tempat untuk menajak tiang, mulai dari tiang kabel listrik, tiang kabel internet, tiang reklame sampai tiang lampu. Menanami pohon di pinggiran jalan membuat berbagai macam jaringan energi dan komunikasi akan terganggu.
Belum lagi rata-rata jalanan kita sudah mulai menyempit. Dulu jalan di buat ketika rumah atau bangunan baru sedikit. Tidak dipikirkan untuk keperluan 20, 30 atau 100 tahun ke depan.
Bahkan jalanan makin menjadi sempit karena banyak yang memfungsikannya sebagai garasi. Saking sempitnya tak sedikit yang diberi atap agar kendaraan yang diparkir dibawahnya tidak memudar catnya akibat terpapar panas langsung.
Menanami jalan sempit dengan pohon yang punya potensi membesar pada akhirnya selain menambah sempit jalan juga menimbulkan kekhawatiran, kalau-kalau pohonnya roboh ditiup angin yang makin terasa kencang.
Rumah-rumah juga kian padat dan tak menyisakan sejengkal tanah terbuka yang bisa dipakai untuk menanam pohon. Kalaupun ada yang menanam dan terasa menyejukkan, lama-lama tetangga juga menggerutu. Sekali lagi takut kalau pohon yang membesar itu roboh dan menimpa rumah-rumah disekitarnya.
Memang sulit berharap dengan tanah kaplingan rata-rata seluas 10 X 12 meter akan menyediakan ruang sisa yang lega untuk ruang terbuka hijau. Bahkan tak sedikit rumah yang dibangun melebihi luas tanahnya, entah merangsek ke tanah tetangga atau tanah umum, termasuk juga mempersempit parit. Kalau pada satu sisi ada sungai, ruang sungaipun akan dicuri untuk menambah luas bangunan.
Ketika secara individual masyarakat gagal menanam pohon, demikian juga secara kolektif. Meski ada banyak kegiatan penanaman pohon yang ongkos penyelenggaraan acaranya jauh lebih besar dari harga pohonnya, ribuan bahkan jutaan pohon yang ditanam hanya dicatat dalam berita dan status di media sosial.
Pohon yang ditanam, 99 persen tidak dipelihara dan kemudian mati. Yang cukup lama bertahan hanya papan yang bertuliskan “Lokasi Penanaman Sejuta Pohon”.
Kota secara kolektif dan kebijakan sering kali gagal mengawal luasan Hutan Kota dan Ruang Terbuka Hijau. Luas Hutan Kota dan Ruang Terbuka Hijau mulur mungkret, berubah dari waktu ke waktu karena tidak semua berada dalam penguasaan publik. Sebagian yang diklaim sebagai Hutan Kota atau Ruang Terbuka Hijau adalah milik privat.
Jangankan yang punya privat, yang dipunyai pemerintah sekalipun mudah sekali dialihfungsikan. Di Samarinda, Ruang Terbuka Hijau dan Hutan Kota yang kemudian terbangun tidak sulit untuk ditemukan.
BACA JUGA : Sedih Juga Mendengar Marc Marquez Pisah Dari Honda
Apa itu pembangunan?. Para dosen di perguruan tinggi bisa menerangkan berjam-jam, pun juga Bupati, Walikota, Gubernur dan Presiden beserta para pembantunya.
Namun sepanjang apapun keterangannya yang disebut pembangunan dengan mudah bisa disimpulkan dari apa yang dilihat. Pembangunan adalah yang awalnya nda ada bangunan kemudian berdiri bangunan.
Sungaipun dibangun, sungai yang kanan kirinya dulu penuh dengan tetumbuhan kini menjadi bangunan. Bangunan saluran air karena dinding sungai diganti dengan sheet pile yang terbuat dari semen.
Ruang Terbuka Hijau yang dinamai dengan nama-nama nan cantik juga kalau diukur lebih banyak tutupan semennya daripada tanah yang terbuka.
Ya pembangunan adalah tentang belanja, tentang penyerapan anggaran. Makin banyak yang dibelanjakan dan makin besar anggaran maka makin tinggi capaian pembangunannya.
Bahkan pembangunan yang berlabel green dengan alasan untuk memitigasi iklim dan seterusnya tetap saja tega menghabisi pohon. Tak ada pembangunan yang tak menebang pohon, pohon yang telah tumbuh puluhan tahun.
Seperti tak ada sesal menebang pohon. Bahkan ketika pohon itu telah menjadi pohon satu-satunya yang bertahan di sebuah wilayah. Makanya meski daerahnya dinamakan Teluk Bangeris, tak ada lagi pohon Bangerisnya. Yang tinggal disana bahkan tiada tahu kalau Bangeris adalah nama pohon. Mereka hanya tahu kalau Bangeris adalah nama jalan.
Atau daerah bernama Sungai Payang yang mungkin penamaannya berasal dari realitas alam dimana kanan kiri sungainya banyak ditumbuhi pohon Payang atau ada pohon Payang yang besar sekali. Tapi nama tinggal nama, bahkan warganya lupa seperti apa pohon Payang itu dan seperti apa pula buahnya.
Pembangunan mungkin mendatangkan kemajuan, infrastruktur berkembang. Namun pembangunan selalu melukai iklim, mempengaruhi cuaca dan menghilangkan kelembaban lokal. Semua tertutupi oleh semen sehingga panas tak terserap dan kembali terpancar karena mental. Panasnya kemudian jadi double.
Dan panas yang terkurung serta terkungkung itu tak bergerak karena tiada kipas berupa pepohonan yang bergoyang-goyang.
Jadi jangan suka mengeluh kepanasan kalau masih suka menebang pohon tanpa rasa penyelesalan.
note : sumber gambar ilustrasi – LIPUTAN6.COM








