KESAH.IDSecara tradisional masyarakat Indonesia mempunyai berbagai metode pertanian yang didasarkan atas pengenalan pada lahan dan karakter tanaman serta resiko yang dihadapi dalam bertanam. Model pertanian multi atau double crop adalah salah salah satunya. Hanya saja model ini kemudian tergusur oleh program intensifikasi tanaman yang digalakkan di masa pemerintahan Suharto. Petani menjadi terbiasa bercocok tanam komoditas tunggal dan menyuburkan tanah dengan pupuk non organik.

Saya selalu tidak tahan AC, maka tinggal di hotel bukanlah sesuatu yang membahagiakan untuk saya. Di hotel semua serba AC.

Jika ada yang bertanya kenapa begitu, maka jawaban yang biasa saya pakai adalah dalam diri saya DNA yang terkuat adalah petani.

Ya, mesti rumah tempat saya dibesarkan berada di tepi jalan raya, tapi tak jauh dari bagian belakang rumah adalah sawah. Setiap melewati pintu belakang rumah yang terlihat adalah hamparan sawah. Di pagi hari pemandangan lebih indah lagi karena langit masih cerah di kejauhan terlihat Gunung Sumbing yang berdiri kokoh dan megah.

Karena dekat dengan sawah, maka disanalah tempat bermain saya yang utama. Jika sedang banyak airnya, saya akan nyeser ikan dibawah gerojokan, tatkala airnya sudah agak berkurang dan mulai terlibat lubang-lubang di pinggiran maka saya dan teman-teman akan memancing belut. Pancingnya dibuat sendiri dari peniti, sementara talinya dipilin dari tali rafia.

Diantara rumah dan sawah ada kebonan yang sering dipakai untuk mengembala kerbau. Kadang-kadang kalau yang mengembalakan kerbau adalah teman, sayapun sering bermain menaiki kerbaunya.

Setelah panen padi dan memasuki musim kemarau, lahan sawah biasanya pecah-pecah. Dan pada saat itu biasanya banyak Jangkerik. Kamipun pergi mencari Jangkerik yang kemudian dipelihara untuk diadu suara krik..krik-nya yang paling nyaring.

Jika sawahnya datar dan lebar, kami juga sering memakai sebagai tempat bermain bola sebelum diolah kembali untuk bertanam Palawija.

Saya senang jika yang ditanam adalah kacang tanah. Karena ketika sudah ada buahnya di dalam tanah kami sesekali mencurinya untuk dimakan mentah-mentah.

Ketika hujan kembali turun, sawah akan dicangkul atau dibajak lalu diluku untuk mengemburkan dan meratakannya agar siap untuk ditanami. Biasanya ketika sawah belum ditanami pada malam hari saya dan teman-teman memakai obor mencari belut, sebutannya nyuluh. Belum di malam hari akan keluar dari lubang untuk mencari makan.

Nah suatu ketika ada yang berbeda di sawah-sawah belakang rumah. Pak Tani membuat gundukan-gundukan di bedeng sawahnya. Per petak ada puluhan gundukan.

Ternyata gundukan di sela-sela untuk bertanam padi itu kemudian ditanami pohon jeruk. Gundukan dimaksukan agar tanaman jeruk tidak terendam air seperti padi.

Dan beberapa tahun kemudian pohon jeruk itu membesar serta mulai berbuah.

Bersamaan dengan itu ada pula yang menanam jeruk di tegalan atau kebun. Namun yang menanam di sawah jauh lebih aman karena saya dan teman-teman lain yang masih bocah sulit untuk mencuri buahnya karena mesti nyeblok ke dalam lumpur dan melewati padi yang mulai meninggi.

Sasaran kami tentu saja pohon jeruk di tegalan atau kebun. Karena sering dicuri, pemilik kebun biasanya membuat pagar yang rapat, tegalan yang ditanami jeruk.

Maksudnya bukan untuk mencegah pencuri iseng seperti kami, melainkan pencuri profesional yang akan memanen buah jeruk sebelum pemiliknya.

Kelak di sekolah, bapak dan ibu guru menerangkan bahwa bertani dengan menanam beberapa jenis tanaman di satu bidang lahan yang sama disebut dengan tumpang sari.

Pak Sukir, petani yang menerapkan tumpang sari di lahan sawahnya yang berada tak jauh dari gerbang tol Stadion Palaran

BACA JUGA : Mengeluh Hawa Panas Tapi Rajin Tebang Pohon

Selama dua tahun lebih ketika saya tinggal di perbatasan antara Minahasa dan Manado, saya bergelut dengan pertanian. Diatas lahan kurang lebih satu hektar, saya tinggal di sebuah pondok yang dikelilingi kolam ikan.

Di bagian lainnya saya bertanam jagung, ubi kayu, pepaya dan aneka tanaman untuk kebutuhan bumbu dapur. Dan di satu petak kolam bagian bawah, kangkung air tumbuh dengan suburnya.

Di lahan itu juga tumbuh pohon kelapa yang buahnya diolah menjadi kopra, ada juga pohon langsat, cengkeh, matoa, pala dan lain-lain. Selain berternak ikan, saya juga beternak ayam kampung dan babi.

Saya ingat persis hidup saya terasa nyaman, hari-hari terisi dengan kesibukan. Bahkan terkadang 24 jam sehari tidak cukup.

Hanya saja karena masih banyak rencana dan keinginan lain, saya akhirnya mesti meninggalkan padepokan tani itu untuk melanglang buana bukan untuk mencari jatidiri tapi untuk belajar, mencari pengetahuan dan ketrampilan lainnya.

Tapi tani, pertanian dan hal ihwal tentangnya selalu menarik untuk saya. Dan setiap pergi kemana saja tani dan pertanian tetap menjadi perhatian utama saya.

Hingga kemudian saya mulai tinggal di Samarinda yang sepenglihatan saya tidak menonjol pertaniannya. Maka awalnya saya mengikuti aktivitas beberapa teman yang mendalami kehidupan masyarakat tradisional, terutama masyarakat Dayak. Bolak-balik ke beberapa kampung yang ada di Kutai Kartanegara. Model dan praktek pertanianya tidak sama persis lagi dengan yang tercatat di literatur. Tapi jejak-jejak pertanian yang dikembangkan berdasarkan pengetahuan dan kearifan lokal masih bisa ditemui.

Hanya saja jejak pertanian ekologis, pertanian yang berbasis pada kearifan lokal makin terasa tipis karena stigma tertentu. Model pertanian ladang berpindah yang mengandalkan daur kesuburan alami misalnya sering dianggap sebagai perambahan hutan dan penyebab kebakaran lahan.

Sementara pertanian pasang surut di tepian atau badan air yang meninggalkan sedimen kian sulit untuk dipraktekkan akibat perubahan musim yang tak teratur.

Pertanian terutama pertanian pangan kemudian mengikuti model budidaya yang mengandal asupan nutrisi dari pupuk non organik yang dihasilkan oleh pabrik-pabrik besar.

Pertanian intensif model ini terbukti pada waktu tertentu mampu meningkatkan produktifitas lahan. Namun dalam jangka panjang ternyata ‘membunuh’ lahan. Lahan menjadi keras dan penuh dengan residu yang membuat komoditas yang dihasilkan menjadi kurang sehat untuk dikonsumsi.

Maka model pertanian yang bertujuan melakukan pembenahan terhadap tanah, mengembalikan lagi metabolisme tanah dan kesuburan alami menjadi penting untuk diterapkan pada saat ini agar pemanfaatan lahan tanaman pangan secara berkelanjutan bisa dilakukan.

Jika tidak maka produktifias petani akan semakin lama semakin menurun karena kualitas lahannya makin lama makin buruk.

Pada pematang yang cukup lebar, Pak Sukir menanam jeruk keprok yang tumbuh cukup subur dan berbuah lumayan banyak. Sekali dua atau tiga hari sekali bisa menghasilkan panenan 30 kg.

BACA JUGA : Pak De Minto, Menghidupkan Spirit Harhaen

Belum lama ini saya mengenal beberapa orang petani yang saya sebut sebagai Sang Perintis. Mereka gigih menularkan keyakinan, pengetahuan dan ketrampilan perihal pertanian sebagai jalan untuk menjaga keberlanjutan lingkungan hidup.

Saya mendapat banyak insight dari perjumpaan dan perbincangan dengan mereka. Dan sayapun ikut beberapa kegiatan yang mereka lakukan termasuk ketika mengunjungi rekan-rekan petani lainnya untuk coaching clinic di tapak.

Saat berkunjung ke Simpang Pasir, Palaran pada lahan sawah dan tegalan yang letaknya tak jauh dari Gerbang Tol Stadion Palaran saya dikejutkan dengan penampakan yang tak asing sewaktu kecil dulu.

Sawah yang ada di depan saya mempunyai pematang yang lebar dan diatas pematang itu ditanam deretan pohon jeruk, pohonnya tengah berbuah.

Aroma daun padi dan jeruk yang tertangkap di hidung terasa menyebarkan.

Dan Pak Sukir pemiliknya kemudian mempersilahkan untuk mengambil. Ah, ini pertama kali saya memetic buah jeruk yang masak di pohon setelah 20 tahun lebih tinggal di Samarinda. Sebuah kesempatan yang langka.

Ya lahan pertanian seperti yang dikembangkan oleh Pak Sukir memang langka. Umumnya petani hanya menyisakan pematang yang lebarnya tak lebih dari 30 centimeter hingga untuk berjalan diatasnya terasa seperti tengah melewati titian rambut dibelah dua.

Model pertanian yang dipraktekkan oleh Pak Sukir adalah tumpang sari. Selain menanam padi, Pak Sukir juga menanam jeruk dan buah lain di pematang sawahnya. Dengan begitu Pak Sukir akan memperoleh penghasilan dari dua sumber. Panenan padi dan panenan jeruk serta buah lainnya.

Sebetulnya jika airnya cukup, Pak Sukir masih bisa menerapkan tumpang sari model lainnya yang disebut dengan mina tani. Pada sawah tempat padi tumbuh bisa diisi ikan. Hingga pada saat panen padi nanti, Pak Sukir juga bisa panen ikan setelahnya.

Tapi nampaknya kondisi airnya tak menentu sehingga petak sawahnya mulai tak tergenangi air walau masih kelihatan basah.

Pertanian sawah di Samarinda memang bermasalah, hampir tak ada irigasi teknis pada area persawahan kecuali disekitar Waduk Lempake. Disanapun kapasitas airnya juga sudah menurun jauh, sawah yang bisa dialiri air sepanjang tahun tidak luas lagi.

Dalam kondisi seperti ini, petani baik sawah maupun kebun tak bisa lagi mengandalkan kebiasaan menanami komoditas tunggal. Petani mesti menerapkan model tanam dobble atau multi culture sebagai cara untuk membangun jaring pengaman untuk sumber pendapatannya.

Dengan pendapatan yang berkelanjutan petani akan punya kesempatan untuk meningkatkan atau memperbaiki kualitas tanah, menyeimbangkan berbgai unsur dalam tanah sehingga metabilisme tanah pulih kembali.