KESAH.IDDalam dunia aktivisme dikenal istilah ilmuwan atau intelektual organik. Seseorang yang getol mengembangkan dunia keilmuan di luar ruang akademis. Dan Sarminto atau Pak De Minto layak menyemat gelar sebagai ahli pertanian organik dalam pengertian mengembangkan keilmuan dalam bidang pertanian sambil bertani dan mengajar atau menularkan ilmu serta pengetahuan dan pengalamannya pada petani lainnya. Dan kebetulan yang digeluti adalah pertanian organik.

Sukarno itu pintar membuat akronim dan kerata basa. Misalnya kata petani yang oleh Sukarno dijabarkan menjadi Penjaga Tatanan Negara Indonesia.

Petani memang menjadi salah satu landasan pemikiran Sukarno dalam mengembangkan sosialisme ala Indonesia yang kemudian dikenal dengan istilah Marhaenisme.

Praktek kepemimpinan ala Sukarno tumbuh dari pengamatannya di masa muda dimana sebagian besar masyarakat Hindia Timur atau Hindia Belanda waktu itu adalah pekerja-pekerja kecil, mempunyai alat produksi sendiri namun hanya cukup untuk menopang kehidupan sehari-hari.

Berjumpa dengan mereka dan merenungkan realitas kehidupan mereka sehari-hari yang tak mungkin untuk meningkatkan harga sosial, politik dan ekonominya, Sukarno merasa mereka tidak mencerminkan istilah proletar yang kerap digambarkan oleh pemikiran dan literatur sosialisme barat.

Sukarno pun kemudian memakai istilah Marhaen. Yang digambarkannya sebagai “Mereka yang memiliki alat-alat yang sedikit, orang kecil dengan milik kecil, dengan alat-alat kecil, sekedar cukup untuk dirinya sendiri,”.

“Hal itu mengakibatkan bangsa ini punya puluhan juta jiwa yang sudah dimelaratkan, bekerja bukan untuk orang lain dan tidak ada orang yang bekerja untuk dia. Tidak ada pengisapan tenaga seseorang oleh orang lain,” lanjut Sukarno yang kemudian mengatakan bahwa Marhaenisme adalah Sosialisme Indonesia dalam praktek.

Maka untuk memajukan bangsa yang sebagian besar masyarakatnya adalah kaum marhaen itu Sukarno menekankan pendekatan struktural yakni progresif revolusioner.

Para kaum marhaen didorong untuk meningkatkan produktifitas bukan hanya sekedar bertahan hidup melainkan menciptakan surplus. Kaum marhaen juga didorong untuk melakukan perubahan orientasi berpikir ke arah perubahan dan mampu beradaptasi pada tuntutan jaman.

Pemikiran Sukarno ini kemudian lekat dengan masyarakat kecil waktu itu, mereka menghayati sebagai cara hidup dan diteruskan secara turun temurun utamanya dalam kelompok masyarakat tani.

Pertemuan saya dengan seorang petani Sukarnois terjadi 10 tahunan lalu. Diantar oleh seorang teman saya menemui Almarhum Abah Hendri yang tinggal di Tenggarong. Hasil ngobrol-ngobrol dan mendengarkan kisah Suhendri yang merubah tanah miliknya menjadi hutan tani atau agroforestry menjadi artikel pertama saya di situs berita lingkungan Mongabay waktu itu.

Kisah Suhendri adalah kisah tentang perubahan, hijrah dari seorang pegawai di perusahaan kayu yang menebang hutan menjadi seorang pembangun hutan. Tinggal di pondok yang dipenuhi dengan ornament Pancasila dan quote-quote Sukarno, Almarhum Abah Hendri berhasil menjadikan tanah kebunnya menjadi hutan kota.

Dengan model tumpang sari, Abah Hendri berhasil menanam kopi dan teh di sela-sela pepohonan yang mulai meninggi serta bisa dipanen kayunya. Namun pohon-pohon itu tak ditebangnya karena rasa sayang pada tumbuhan dan binatang yang mulai meninggalinya.

Sebagai petani, Abah Hendri bukan pedagang walau membuka kedai di rumahnya tempat kita bisa menikmati kopi yang diolah dari kebunnya.

Saya yang waktu itu lagi mulai menggilai kopi, hendak membeli kopi biji atau bubuk hasil sanggraiannya namun ditolak mentah-mentah.

“Kalau kamu beli, orang yang datang minum apa,” ujarnya.

Meski dijual, kopinya hanya disajikan dalam bentuk minuman. Dengan minum di kedainya, abah Hendri bisa menularkan pemikiran tentang pertanian yang disarikan dari ajaran konstitusi, Pancasila maupun gagasan-gagasan Sukarno.

Lahan bekas tambang koridoran yang menjadi tempat Pak De Minto menguji gagasannya tentang pertanian yang memulihkan kesehatan atau metabolisme tanah sehingga menjadi ekosistem yang seimbang untuk bercocok tanam.

BACA JUGA : Sedih Juga Mendengar Marc Marquez Pisah Dengan Honda

Dan belum lama ini saya kembali bertemu dengan petani yang tetap menghidupi semangat Marhaen. Petani aktivis yang selalu menolak jika dikatakan petani itu miskin. Menurutnya petani itu miskin karena dimiskinkan, entah oleh sistem ataupun kebijakan.

Suminto namanya, namun lebih dikenal akrab dengan panggilan Pak De Minto. Lelaki yang telah melewati beberapa jaman itu juga memulai bertani sebagai jalan untuk berubah atau hijrah.

Pak De minto menyakini bahwa tani adalah jalan hidupnya, bukan sekedar untuk menghidupi diri dan keluarga melainkan juga membantu memberdayakan sesama petani lainnya.

Bertani adalah menjaga tanah dan air serta seisi mahkluk yang ada di dalamnya. Jika keseimbangannya terjaga niscaya tanah akan memberikan berkah kehidupan yang berlimpah.

Dan itu dibuktikannya dengan memulihkan tanah yang menurut sebagian besar orang tak layak untuk dipakai bercocok tanam. Tanah bekas area galian tambang yang hanya menyisakan hamparan lahan dengan tanah keras karena sedang dalam proses membatu.

Tak punya latar belakang pendidikan soal tanah maupun pertanian namun karena dibesarkan di tengah masyarakat petani Pak De Minto mempunyai memori soal bagaimana berdialog dengan tanah, memahami karakter tanah dan bagaimana memperlakukan tanah sebagai arena bercocok tanam.

Sejak semula bertani, Pak De Minto menerapkan pertanian ekologis. Kesuburan tanah tanah diupayakan berasal dari apa yang tumbuh dan hidup diatas serta didalam tanah.\

“Tanah yang gembur dan subur berarti metabolismenya bagus,” terang Pak De Minto.

Maka sebelum bertanam perlu diketahui kondisi tanahnya, tanaman tidak subur bukan selalu karena kurang pupuk. Pupuk yang diaplikasikan bisa saja hilang atau tidak terserap oleh tanaman karena luruh akibat kondisi tanah yang belum seimbang.

Tanah atau lahan yang belum seimbang perlu dibenahi. Dan cara terbaik adalah mengaplikasikan penyeimbang dan penyubur lahan dengan pupuk organik, baik padat maupun cair.

Dengan pupuk organik, mikroba dalam tanah akan memperoleh pakan. Mereka berbiak dan hasil sekresi atau buangan kotorannya akan menjadi sumber nutrisi bagi tanaman.

Sementara sisa dari dekomposisi material organik akan menjadi bahan penambah tanah, menutupi permukaan tanah sehingga tetap terjaga kelembabannya.

“Tanah itu habitat, meski tanah itu milik kita namun ada hak dari mahkluk lain disana. Jika kita tak mengakui dan menghormati hal itu maka lahan bercocok tanam kita tak akan seimbang, akan muncul gangguan,” terang Pak De Minto.

Yang disebut gangguan adalah serangan serangga atau hama lainnya.

Sayangnya ketika ada serangga atau tanaman penganggu kebanyakan petani memilih untuk memusnahkannya. Bukan menyediakan pakan, habitat yang mendatangkan predatornya. Pemakaian pestisida dan insektisida dalam jangka panjang akan semakin memperburuk kualitas lahan serta lingkungan.

Dan menurut Pak De Minto makin hari petani makin akrab dengan bahan beracun untuk membasmi gulma dan hama.

Pepaya Kalifornia yang telah berumur kurang lebih satu setengah tahun. Setiap tiga hari sekali bisa menghasilkan panenan kurang lebih 200 kilogram.

BACA JUGA : Petani, Pemulia Tanah Air Negeri Indonesia

“Ada salah paham diantara petani, bahwa semakin banyak pupuk non organik maka tanaman akan semakin subur, hasilnya juga makin banyak,” ujar Pak De Minto.

Padahal menurutnya aplikasi pupuk non organik pada tanaman ada batasnya. Jika kelebihan justru menjadi racun bagi tanaman. Dan semakin banyak menggunakan pupuk non organik, lahanpun akan makin mengeras, tanahnya menjadi mati karena mikroba tanah tidak mendapatkan pangan, hingga kemudian pergi.

“Petani itu penjaga tanah dan air. Tanpa tanah yang seimbang dan air yang cukup maka hasil bertaninya tidak akan baik,” lanjut Pak De Minto.

Program ekstensifikasi dan intensifikasi mulai regim Suharto dan terus diulang oleh regim berikutnya membuat harapan yang tertanam dalam benak petani adalah panen sebanyak mungkin, tidak peduli jika harus jor-joran mengeluarkan biaya modal untuk budidaya.

Hingga kemudian bertani terutama tanaman pangan menjadi tak menarik lagi. Ongkosnya terlalu mahal sementara hasil penjualan panenannya selalu murah.

Kini yang jauh lebih menarik dan menguntungkan adalah menanam sayur dan buah, ketimbang padi, ubi jalar, singkong atau jagung.

Tapi kelak budidaya sayur maupun buah juga tak lagi akan menarik ketika ongkos produksinya juga semakin meninggi akibat aplikasi pupuk non organik yang makin lama makin meningkat, plus biaya untuk pengendalian hama dan gulma.

Seperti tanaman pangan yang menghasilkan banyak residu karena aplikasi pupuk non organik dan bahan kimia beracun untuk pembasmi hama serta gulma, pertanian sayuran atau buah-buahan juga akan berada dalam kondisi yang sama jika pola bertaninya tidak dirubah.

Pak De Minto telah bertahun-tahun berusaha merubah paradigma bertani, dari pertanian dengan pupuk non organik ke pertanian organik, pertanian ekologis yang berupaya membenahi atau merevitalisasi lahan agar kembali dalam keseimbangan.

“Dulu saya dianggap nggak waras. Tapi makin kesini tanggapan atas pertanian organik makin baik. Masyarakat mulai sadar soal pangan yang sehat dan juga lingkungan yang baik,” terang Pak De Minto.

Meski begitu ada sedikit keresahan dalam hati Pak De Minto perihal makanan organik atau makanan sehat. Menurutnya bahan makanan organik yang diperlukan oleh semua orang justru dibranding sebagai komoditas premium.

“Padahal mestinya makanan organik harus menjadi makanan biasa, makanan yang bisa dikonsumsi oleh semua orang,” ujarnya.

“Jika kita peduli pada alam, memperlakukan alam secara hormat maka alam akan memberikan berkah kehidupan yang terbaik. Dengan begitu makanan sehat bukan lagi istimewa karena memang itulah yang disediakan oleh alam,” pungkasnya.

Mentari mulai surup dan sayapun pamit dengan segudang cerita yang dikisahkan oleh Pak De Minto di pondok kebunnya, pondok yang disebutnya sebagai kantor. Saya bergegas bukan karena takut kemalaman di jalan, melainkan ingin segera menikmati segarnya Pepaya Kalifornia yang masak di pohon oleh-oleh dari Pak De Minto karena saya mampir ke kebun yang dulunya merupakan lahan bekas tambang.