KESAH.ID – Raja Ampat, surga kecil Papua, terancam tambang nikel yang merusak ekosistemnya. Demi keuntungan sesaat, keindahan laut dan kehidupan masyarakatnya dikorbankan. Transisi energi harus berkeadilan—tanpa menghancurkan yang masih atau sudah hijau.
“Belum sempat menjejakkan kaki di Raja Ampat, sudah direnggut lebih dulu oleh tambang,” begitu keluh seorang kawan sambil menatap layar laptopnya.
Saya tidak melihat layar itu, tapi saya yakin keluhan itu meluncur saat ia menyaksikan unggahan dari organisasi internasional—sebuah protes atas pertambangan nikel di surga kecil bernama Raja Ampat.
Sekelebat ingatan saya mengajak kembali ke sana. Saya sudah tiga kali berkunjung ke Raja Ampat—tiga kesempatan yang tak pernah terpikir akan didapatkan, dan semuanya tanpa biaya.
Kali pertama, saya diundang untuk memberi pelatihan bagi para Conservation Community Organizer (CCO), mereka yang akan bekerja di tingkat distrik Raja Ampat. Pelatihan diadakan di Sorong, namun hari-hari terakhir kami berpindah ke Pulau Yefman di distrik Salawati—pulau yang dulu menjadi lokasi bandara Sorong. Pulau ini dipenuhi pohon sukun, seolah menyambut siapa pun yang datang dengan keteduhan.
Beberapa tahun kemudian, saya kembali lagi. Kali ini seorang kawan meminta bantuan untuk membuat film dokumenter tentang pemberdayaan masyarakat lewat keuangan mikro. Kesempatan itu membawa saya menyusuri desa-desa di kepulauan Raja Ampat, bertemu dengan kehidupan yang bersahaja namun penuh kehangatan. Raja Ampat memiliki ratusan pulau, tapi hanya sebagian kecil yang berpenghuni.
Pemandangan pulau-pulau kecil yang kerap muncul dalam unggahan wisatawan biasanya Pulau Wayag—ikon Raja Ampat. Namun, Wayag jauh dari Waisai, ibu kota kabupaten. Saya tak sempat sampai ke sana, hanya berkunjung sebentar ke Pulau Piaynemo yang pesonanya mirip Wayag. Ada juga gugusan pulau bernama Piaynemo Kecil, tak jauh dari Waisai.
Kunjungan yang ketiga lebih istimewa: hadiah perjalanan dari UKP4 (Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan) setelah memenangkan lomba bertajuk Solusimu. Ketika saya mengunggah foto-foto perjalanan di Facebook, banyak yang bertanya tentang biaya ke Raja Ampat. Saya hanya bisa tersenyum. Tiga kali datang ke sana, tiga-tiganya tanpa mengeluarkan uang. Tapi saya paham, perjalanan ke Raja Ampat memang tidak murah. Terlebih bila harus berpindah-pindah pulau dengan speedboat yang mesinnya tidak boleh mati, sebab di bawahnya terbentang hamparan karang meja yang siap merobek badan perahu.
Saya sempat menuliskan beberapa catatan tentang Raja Ampat dan membagikannya di blog komunitas Kompasiana. Sayangnya, foto-foto perjalanan itu hilang. Laptop tempatku menyimpannya dicuri orang.
BACA JUGA : Batu Dinding
Saya bukan orang laut. Snorkeling dan menyelam bukan bagian dari kesukaan saya, tapi itu tak membuat Raja Ampat kehilangan pesona. Air lautnya begitu jernih, hingga dari atas speedboat, saya bisa melihat karang dan ikan yang menari-nari di bawahnya.
Sayangnya, disana saya tak menemukan kapal bottom glass seperti di Bunaken—kapal yang memungkinkan penumpangnya menikmati keindahan bawah laut tanpa harus menyelam. Tapi siapa peduli? Bahkan duduk di dermaga pun sudah cukup untuk menyaksikan parade ikan-ikan cantik. Cukup dengan melemparkan biskuit kering, mereka datang berkerumun tanpa malu-malu.
Jangan heran. Di sini, terdapat 75 persen spesies laut dunia. Raja Ampat, yang telah ditetapkan UNESCO sebagai Global Geopark, memiliki 540 jenis karang dan 1.500 jenis ikan. Tak heran jika wilayah ini sering disebut “Surga kecil yang jatuh ke tanah Papua.”
Tapi bukan hanya lautnya yang menakjubkan. Di Pulau Waigeo dan Batanta, kita bisa menyaksikan Burung Surga, Cenderawasih merah, yang hanya bisa ditemukan di Raja Ampat. Saya beruntung bisa melihat tarian mereka di Bukit Yanpapir, ditemani oleh Om Orgenes Dimara—warga Sawingrai yang dikenal sebagai Pawang Cenderawasih.
Kami harus berangkat sebelum fajar menyingsing. Sebab, saat matahari mulai menyapa, burung jantan akan menari di pucuk-pucuk pohon, menggoda betina sebelum mereka pergi mencari makan.
BACA JUGA : Energi Banjir
Namun kini, surga kecil itu terancam. Dengan alasan transisi energi hijau, pulau-pulaunya yang rapuh justru menjadi sasaran eksploitasi. Di tengah ambisi dunia untuk beralih ke kendaraan listrik, Raja Ampat dikorbankan—nikelnya direnggut, ekowisatanya dihancurkan.
Pulau kecil yang ditambang tidak akan bisa bertahan. Pembukaan lahan dan hilangnya vegetasi akan menyebabkan erosi, mengotori laut dengan sedimen yang membunuh ekosistem karang dan biota lautnya. Jika lautnya mati, masyarakat pun kehilangan sumber hidupnya—kehilangan ikan, kepiting, teripang, dan lobster yang selama ini mereka panen.
Raja Ampat bukan hanya hutan di daratan, tetapi juga hutan bawah laut—rapuh terhadap setiap perubahan kualitas air. Menambang pulau-pulau kecil adalah membunuh lautan. Dan sekali lautan rusak, mustahil untuk mengembalikannya seperti semula.
Mereka yang memberikan izin tambang pantas disebut demikian—tega menghancurkan kehidupan yang tak akan bisa kembali.
Ada harga sosial dan ekologis yang terlalu tinggi untuk dibayar. Demi keuntungan sesaat, luka lama yang ditinggalkan pertambangan dibiarkan menganga kembali.
Pemerintah terus mendorong hilirisasi demi masa depan energi bersih, tetapi tidakkah ini ironi? Demi nikel, kita mengorbankan ekosistem yang justru menjaga keseimbangan bumi. Transisi energi harus berkeadilan. Masa depan yang hijau tidak bisa dicapai dengan cara menghancurkan wilayah yang dijaga dengan tekun oleh masayrakatnya agar tetap hijau.
Berapapun harga nikel Raja Ampat, itu tidak akan cukup untuk menggantikan keindahan Surga kecil yang jatuh di tanah Papua, jika akhirnya surga itu hilang.








