KESAH.IDBukit Batu Dinding di Bukit Merdeka, Kalimantan Timur, berada dalam kawasan Taman Hutan Rakyat Bukit Suharto yang kini menjadi bagian dari wilayah strategis Ibu Kota Nusantara (IKN). Dengan ditetapkannya Sepaku sebagai lokasi ibu kota baru, desa-desa di sekitar Bukit Merdeka, termasuk kawasan Batu Dinding, masuk dalam perubahan tata ruang yang akan berpengaruh pada pengelolaan dan pemanfaatannya ke depan.

Kalimantan Timur telah lama menjadi Tanah Harapan bagi kaum migran dari berbagai penjuru Nusantara, bahkan hingga mancanegara. Dengan kekayaan alamnya yang melimpah, wilayah ini telah memanggil mereka yang mencari kehidupan yang lebih baik. Booming penduduk pun terjadi berkali-kali, , terutama di kota-kota besar seperti Samarinda dan Balikpapan. Ada masa ketika Balikpapan didominasi oleh orang Jawa, sementara Samarinda lebih banyak dihuni oleh orang Bugis.

Jejak perantau dari China juga turut membentuk lanskap sosial ekonomi Samarinda dan Balikpapan. Mereka datang berbondong-bondong mencari penghidupan di sektor industri pertambangan minyak. Warisan mereka masih terasa hingga kini, dari kedai-kedai Kopi Tiam yang melegenda hingga bisnis kuliner yang terus berkembang.

Namun, bukan hanya penduduk yang mengalami lonjakan, booming ekonomi juga menjadi kisah berulang di tanah ini. Seperti pepatah “di mana ada gula, di situ ada semut,” Kalimantan Timur berkali-kali mengalami lonjakan ekonomi yang menarik para pendatang. Salah satu masa paling fenomenal adalah Banjir Kap, saat kayu hutan bisa ditebang dan dijual dalam bentuk kayu log. Kapal-kapal dari luar negeri bersiap di pelabuhan Samarinda, sementara kayu-kayu dari pedalaman dihanyutkan melalui Sungai Mahakam dalam rangkaian rakit panjang.

Masa itu penuh kisah mistis. Para penebang kayu konon memanggil hujan dengan cara yang tak biasa—meminta perempuan yang baru pertama kali masuk hutan untuk mengencingi kayu. Hujanpun akan turun dan kemudian kayu bisa dihanyutkan menuju anak sungai, baru ke Sungai Mahakam. Kepercayaan dan mitos mengiringi setiap perjalanan mereka, membentuk cerita yang tetap hidup hingga kini.

Punggung bukit sempit memanjang kurang lebih 500 meter.

BACA JUGA : Mendem Jero

Kantong Semar tumbuh dan berkantong banyak di salah satu punggungan Batu Dinding

Ketika transisi dari Orde Lama ke Orde Baru terjadi, situasi ekonomi dan politik bergejolak sehingga masyarakat Sulawesi Selatan banyak yang memilih menyingkir ke Kalimantan Timur. Mereka menyebar ke berbagai wilayah, dari Delta Mahakam hingga Samarinda, Balikpapan, dan Kutai Kartanegara.

Delta Mahakam yang dahulu menjadi Rimba Mangrove, tempat persembunyian bajak laut, diupayakan menjadi ladang ditanami kelapa dan tanaman pangan lainnya, namun perlahan berubah menjadi Surga Udang. Para perantau Bugis yang mulanya berladang beradaptasi dengan lingkungan baru kemudian beralih menjadi petani empang, mengembangkan budidaya udang organik.

Di dataran yang lebih tinggi, di wilayah Kutai Kartanegara, mereka menebang kayu yang saat itu masih diperbolehkan dijual langsung dalam bentuk gelondongan. Seiring larangan penjualan kayu log, sebagian menjadi pengusaha sawmill atau wantilan, sementara yang lainnya beralih ke sektor perkebunan. Jalan poros Samarinda-Balikpapan pun dikenal sebagai jalur budidaya dan perdagangan sahang (merica), buah naga, nanas, hingga kini sebagian lahannya berubah menjadi kebun sawit.

Pose sejenak di atas salah satu puncak punggungan Bukit Batu Dinding.

BACA JUGA : Terhambur Subuh

Pasak Bumi, salah satu tanaman bernilai obat juga tumbuh di punggung Bukit Batu Dinding.

Bukit Merdeka bukan sekadar desa yang terjepit di antara Samarinda dan Balikpapan. Wilayahnya dilewati jalan tol dan dijaga oleh Batu Dinding, formasi batu pasir kuarsa putih sepanjang 500 meter yang menyerupai Tembok China, namun sepenuhnya alami. Lokasi ini menarik perhatian para peneliti, termasuk mahasiswa geologi dari Bandung yang menjadikannya objek skripsi tentang batuan berpasir.

Saya pun berkesempatan mengunjungi tempat ini. Pagi-pagi sekali, bersama teman-teman dan ditemani warga lokal, kami berangkat menuju Batu Dinding. Perjalanan awal menggunakan mobil, namun tak lama kami harus beralih ke motor trail karena jalan tanah liat yang basah tidak memungkinkan kendaraan roda empat untuk melintas.

Menumpang motor trail, saya merasakan sensasi menembus jalan licin yang naik turun, melewati kebun, ladang, dan huma milik warga. Sesekali kami bertemu peladang yang tengah menuju kebun, lalu di kejauhan mulai tampak bukit dengan tebing batu memanjang.

Ketika tiba di pos masuk, beberapa motor sudah terparkir—rombongan anak-anak SMK dari Balikpapan yang datang merayakan kelulusan mereka. Dari sini, jalan makin sempit dan becek. Motor tak lagi bisa digunakan, sehingga perjalanan berlanjut dengan berjalan kaki.

Begitu sampai di punggung Bukit Batu Dinding, saya mendapati hal yang mengejutkan: batuannya bukanlah karst atau batu gamping, melainkan pasir yang memadat, dengan permukaan putih khas. Vegetasi di sekitar bukit berupa semak-semak, tumbuhan khas hutan tropis, termasuk kantong semar dan pasak bumi yang bernilai obat.

Angin sepoi menyapa, sementara matahari masih malu-malu di balik awan. Berdiri di punggung bukit yang sempit ini menghadirkan sensasi tersendiri—di saat angin bertiup lebih kencang, ada perasaan seolah badan bisa terbang begitu saja. Lereng yang menjurang ditutupi hutan hijau yang menenangkan.

Sayangnya, awan mendung tak kunjung pergi. Salah satu tujuan kami—melihat kampung masyarakat adat yang berkebun di sisi utara—terpaksa ditunda. Bahkan drone yang kami terbangkan gagal menangkap citra yang diinginkan. Alam memiliki algoritma sendiri, dan mungkin lain waktu,kami harus kembali.

Kabarnya waktu terbaik menikmati hari di Batu Dinding adalah saat senja menjelang malam. Dan permukiman atau kampung yang kami cari tak boleh dilihat dari atas melainkan mesti didatangi.

note : sumber gambar – KESAH.ID