KESAH.IDTahta Suci Vatikan mengalami kekosongan karena wafatnya Paus Fransiskus. Para Kardinal Elektor akan segera berkumpul di Vatikan untuk melakukan konklaf, pertemuan tertutup untuk memilih Paus baru. Siapa yang akan terpilih hanya bisa diduga-duga, sebab yang disebut-sebut sebagai kardinal yang populer belum tentu akan terpilih. Masing-masing Kardinal Elektor akan punya kriteria tersendiri. Namun semoga pada bulan Mei nanti, ketika asap putih keluar dari cerobong Kapel Sistine, Paus yang terpilih akan segera bersuara keras terhadap Donald Trump, presiden Amerika Serikat yang mengacak-acak tatanan dunia.

Namanya Fransiscus, tapi bukan anggota konggregasi Fransiskanes. Maka ketika terpilih sebagai Paus menggantikan Paus Benediktus yang mengundurkan diri, Jose Mario Bergoglio mencatatkan diri sebagai anggota Serikat Jesus yang pertama menjadi Paus.

Catatan lainnya, jika dilihat dari negara asalnya, Paus Fransiskus menjadi Paus pertama yang berasal dari luar Eropa pada masa kepausan modern.

Kisah Paus Fransiskus memang unik, sebagai mana bisa disaksikan didalam film dokumenter biofik yang ditayangkan melalui Netflix berjudul Two Popes.

Film dokumenter yang bernuansa biografik namun dibumbui dengan drama-drama fiksional ini menampilkan dua sosok Paus yakni Benediktus dan Fransiskus.

Sebelum terpilih menjadi Paus, Jose Mario Bergoglio berniat mengundurkan diri sebagai Uskup Agung Buenos Airos, Argentina. Namun surat yang dikirimkannya ke Roma tidak dibalas-balas hingga kemudian dia terbang ke Roma untuk menemui Paus Benedektus.

Alih-alih menyetujui permintaan pengunduran dirinya. Paus Benediktus justru mengungkapkan niatnya untuk mengundurkan diri sebagai Paus, sebuah hal yang sebenarnya tidak lazim dalam tradisi kepausan di Roma.

Tersirat sebuah keinginan dari Paus Benediktus agar Kardinal Jose Mario Bergoglio menjadi suksesornya untuk mengatasi persoalan-persoalan pelik yang menimpa kepausan dan gereja Katolik sedunia.

Dalam konklaf, saat Paus Benediktus terpilih, Kardinal Jose Mario Bergoglio adalah saingan kuatnya.

Para kardinal yang mempunyai hak pilih dalam konklaf waktu itu agaknya khawatir untuk memilih Jose Mario Bergoglio karena mempunyai sikap dan pandangan yang liberal terhadap dinamika jaman.

Joseph Aloisius Ratzinger yang kemudian memakai nama Paus Benediktus terpilih karena dipandang lebih konservatif untuk menegakkan ajaran, moral dan tradisi Gereja Katolik yang terus diancam oleh perkembangan jaman.

Terbukti tantangan terhadap Gereja Katolik yang makin berat tak mampu dihadapi oleh Paus Benediktus dengan semua kekakuan ajaran moral dan birokrasinya. Gereja Katolik membutuhkan reformasi, tetapi dipimpin oleh seorang Paus yang sepanjang sejarah perjalanannya sebagai klerus dikenal sebagai ‘polisi moral’ yang sangat tradisionalis.

Dikenal sebagai teolog muda pada Konsili Vatikan ke II, Joseph Ratzinger kemudian ‘bermusuhan’ dengan sahabatnya yakni Hans Kung. Hans Kung yang ketokohannya diakui dalam jagat dialog interkultural, interreligius dan eukumenis itu disingkirkan oleh Ratzinger karena bukunya yang menolak Infabilitas Paus.

Hans Kung memang mempunyai pemikiran teologis yang progresif sehingga kerap menyentil isu-isu teologi yang sensitif dalam ajaran Gereja Katolik.

Razinger yang menjabat sebagai Perfek Konggregasi Imam berusaha menegosiasikan situasi itu dengan meminta Hans Kung menarik bukunya namun ditolak. Karena menolak, otoritas mengajarnya kemudian dicabut.

Dan menjelang pemilihan Paus pada tahun 2005, Hans Kung menulis surat terbuka yang berharap agar para kardinal yang punya hak pilih dalam konklaf tidak memilih Joseph Aloisius Ratzinger sebagai Paus.

Menurut Hans Kung karakter Ratzinger yang kaku, konservatif dan dogmatis serta sulit berdialog akan menjadi ancaman bagi masa depan gereja.

Namun ternyata Joseph Aloisius Ratzinger terpilih menjadi Paus dan kemudian memakai nama Paus Benediktus XVI. Dan Kung tak lelah terus menyampaikan kritiknya. Hans Kung menggambarkan masa kepemimpinan Paus Benediktus XVI akan membawa Gereja Katolik memasuki musim dingin, kebekuan.

BACA JUGA : Lulusan UGD

Menjadi Uskup Agung Buenos Airos sejak tahun 1998 dan kemudian diangkat sebagai Kardinal pada tahun 2001, Jose Mario Bergoglio terpilih sebagai Paus dalam konklaf di tahun 2013 dalam pemunggutan suara yang kedua.

Ketika muncul pertama kali di jendela balkon Basilika Santo Petrus dengan nama Paus Fransiskus, Bapa Suci Gereja Katolik ini tidak mengangkat tangan untuk memberikan berkat kepada umat yang menunggu kemunculannya di lapangan.

Paus Fransiskus menyapa dengan ucapan Buena Sera, selamat malam dan kemudian membungkuk lalu mengucapkan “Berkati saya,”

Paus Fransiskus tampil sebagaimana dirinya dikenal selama ini yakni sederhana dan rendah hati.

Sikap yang kemudian banyak merepotkan orang disekitarnya ketika dirinya menjadi pejabat gereja.

Ketika tampil pertama dihadapan publik, Paus Fransiskus menolak memakai kalung salib emas, dia memilih kalung salib dari logam biasa. Juga menolak mengenakan jubah merah yang mewah, sehingga tetap memilih memakai jubah putih.

Pilihan nama Fransiskus adalah cermin dari kesederhanaan itu, Fransiskus adalah santo sahabat orang miskin dan menderita. Maka Paus Fransiskus dengan semua kekuasaannya lebih suka menyebut dirinya sebagai Uskup Roma ketimbang Gembala Tertinggi, Bapa Suci karena menduduki Tahta Suci Vatikan.

Bukan hanya orang katolik, namun dunia juga merasa akan ada Paus yang berbeda.

Dan terbukti selama 12 tahun memimpin Tahta Suci Vatikan, Paus Fransiskus berhasil menjadi salah satu Paus yang berpengaruh, setelah Paus Yohannes Paulus Ke II yang juga dikenal karena keteguhannya untuk mewujudkan perdamaian dunia.

Fransiskus teguh untuk tampil dalam gaya hidup sederhana, pesan sederhana, sebagaimana Yesus selalu menjadikan dirinya sebagai sobat bagi kaum miskin.

Sikap sederhananya pun menimbulkan kesulitan tersendiri bagi para pengurus birokrasi di Tahta Suvi Vatikan. Paus Fransiskus menolak tinggal di rumah resmi paus yang punya kamar 12, dia memilih tinggal di pavilyun tamu yang hanya punya dua kamar.

Masyarakat Indonesia mempunyai kenangan tentang kesederhanaan itu saat Paus Fransiskus melawat ke Indonesia. Paus hanya mengendarai Toyota Inova Hybrid berwarna putih dan duduk di depan dengan jendela dibuka. Mobil berjalan pelan di jalanan dan kadang berhenti karena Paus menyapa orang-orang yang berdiri di pinggir jalan.

Padahal telah disiapkan mobil khusus dengan kotak kaca tembus pandang namun anti peluru agar Paus bisa menyapa umat atau warga lainnya.

Dibanding Paus Benediktus yang lebih berkutat untuk memurnikan ajaran Gereja Katolik, Paus Fransiskus selain menata kehidupan dan politik di Tahta Suci dan Gereja Katolik, suaranya juga terdengar lantang untuk merespon berbagai persoalan di dunia.

Bagaimanapun Tahta Suci Vatikan meski merupakan ‘tahta keagamaan’ pengaruh politiknya pada dunia tetap kuat. Paus memang dituntut untuk bersuara dan punya inisiatif untuk turut merespon persoalan jaman, persoalan umat manusia, mulai dari perang, kemiskinan, kemajuan teknologi hingga kepemimpinan politik di negara-negara tertentu.

Negara yang luasnya hanya selapangan ini, seruannya tetap ditunggu.

BACA JUGA : Perang Tarif

Paus Fransiskus sudah cukup lama didera sakit. Dan akhirnya wafat tak lama setelah rangkaian perayaan Tri Hari Suci, perayaan Yesus Kristus Sang Penebus.

Tahta Suci Vatikan mengalami kekosongan.

Paus Fransiskus akan dimakamkan setelah para kardinal dari berbagai penjuru dunia berkumpull di Vatikan. Nanti setelah pemakanan, para kardinal yang mempunyai hak suara akan bersidang untuk melakukan pemilihan Paus baru dalam sebuah sidang yang disebut konklaf.

Saat ini ada 252 kardinal dari hirarki Gereja Katolik. 136 diantaranya adalah Kardinal Elektor atau punya hak suara karena belum berumur 80 tahun.

Kardinal sendiri adalah jabaran rohani yang langsung berada di bawah Paus. Ada 3 tingkatan kardinal, yang tertinggi adalah Kardinal Uskup, jumlahnya hanya 13 orang. Lalu ada Kardinal Imam yang jumlahnya 205 orang dan terakhir adalah Kardinal Diakon yang jumlahnya 34 orang.

Indonesia sendiri mempunyai dua orang Kardinal yakni Kardinal Julius Darmaatmaja dan Kardinal Ignatius Suharyo. Namun yang mempunyai hak pilih adalah Ignatius Suharyo karena belum berumur 80 tahun.

Bulan Mei nanti umat di lapangan Basilika Santo Petrus dan umat Katolik sedunia akan menyaksikan asap keluar dari Kapel Sistine, tempat konklaf diadakan. Sorak sorai akan membahana jika yang keluar adalah asap putih, itu pertanda Paus baru terpilih dan akan segera muncul di jendela balkon Basilika Santo Petrus.

Siapakah yang akan terpilih dari antara 136 Kardinal yang mempunyai hak pilih. Belum ada yang tahu karena lika-liku suksesi di Vatikan selalu tertutup. Siapa yang akan terpilih amat tergantung dari kebatinan para kardinal. Adakah para kardinal selama ini sreg dengan sikap dan pilihan laku Paus Fransiskus atau tidak. Jika ya mungkin ada ‘Fransiskus’ baru namun jika tidak maka yang terpilih adalah antitesis dari Fransiskus.

Namun siapapun yang terpilih tantangannya tetap sama, perubahan sosial politik kini berjalan dengan cara yang mengancam iman tradisional. Gereja Katolik harus menyesuaikan dengan jaman, dan arus perubahan. Namun tak boleh larut atau menoleransi terlalu jauh karena ada ajaran, tradisi, dogma yang mesti dijaga.

Menjaga ajaran dan nilai yang diajarkan serta diteladankan oleh Yesus Kristus Sang Penyelamat selalu sulit ditengah arus sekularisasi yang makin kencang. Temuan ilmu pengetahuan, teknologi dan kecerdasan buatan semakin mengambil wilayah yang dulu dianggap eklusif milik Tuhan dan iman.

Pemilihan Paus baru mungkin saja akan seperti yang digambarkan di film Conclave, ada intrik, ada perpecahan kubu dan lain-lain. Namun yang diluar tak akan bisa menyaksikannya.

Karena hanya bisa menunggu, maka mari kita tunggu saja. Dan semoga Paus baru nanti berani bersuara keras pada Donald Trump yang setelah terpilih kembali sebagai Presiden Amerika Serikat langsung mengacak-acak tatanan dunia.

note : sumber gambar – CNNINDONESIA