KESAH.IDManuver Donald Trump kena batunya ketika China tak tertarik untuk menegosiasikan keputusan kenaikan tarif untuk produk yang masuk ke Amerika. China langsung membalas dengan menaikkan tarif masuk barang dari Amerika Ke China. Trump murka dan kemudian menaikkan lagi, dan China tanpa ba bi bu juga menaikkan kembali. Jadilah perang tarif antara Amerika Serikat dan China, walau masih perang tarif-tarifan karena semua belum diberlakukan.

Donald Trump mungkin kurang nonton film, bahkan film produksi Amerika Serikat sendiri yang punya lumbung film di Hollywood.

Ada banyak judul film produksi Amerika Serikat yang bisa mengambarkan kehidupan, dinamika dan perjuangan para imigran China di Amerika Serikat pada awal-awal abad ke 19. Dari film-film itu kita mengenal nama Ip Man, Wong Fe Hung dan lain-lain.

Setelah orang-orang Inggris dan Eropa lainnya di Amerika Serikat memerdekakan diri dari Inggris pada tahun 1776, Amerika kemudian menjadi tujuan dari gelombang imigrasi dari berbagai belahan dunia.

Pada awal abad 19, Shina mengalami musim kemarau yang berkepanjangan dengan segala dampaknya, seperti kekurangan air bersih dan kegagalan panen. Masyarakat kelaparan hingga kemudian terdorong untuk mencari kehidupan yang lebih baik dengan meninggalkan China. Ada gelombang migrasi besar-besaran, salah satunya menuju Amerika Serikat yang kerap disebut sebagai tanah harapan.

Migran dari China ini dicatat memainkan peran penting dalam pembangunan Amerika Serikat, terutama pada abad ke-19. Mereka pertama kali datang dalam jumlah besar selama California Gold Rush pada tahun 1848, bekerja di tambang emas dengan kondisi yang sangat sulit. Selain itu, mereka juga berkontribusi besar dalam pembangunan jalur kereta api transkontinental pertama, khususnya di bagian Central Pacific Railroad antara tahun 1864 dan 1869.

Imigran dari China dikenal sebagai sosok pekerja keras, rajin, dan bersedia menerima upah yang lebih rendah dibandingkan pekerja lokal. Hal ini membuat mereka menjadi pilihan utama bagi banyak pengusaha, meskipun sering kali menghadapi diskriminasi dan perlakuan tidak adil. Selain pekerjaan konstruksi, mereka juga bekerja di sektor pertanian, restoran, dan berbagai jasa lainnya.

Timbul kecemburuan yang berujung diskriminasi, para migran China kerap mendapat penghinaan, luapan kemarahan, kekerasan bahkan pembunuhan. Para buruh di Amerika sering menuntut agar orang-orang China dipulangkan ke negeri asalnya. Mereka ingin Amerika bersih dari orang-orang China.

Muncul gerakan antiorang China, hingga kemudian melalu keputusan Kongres Amerika Serikat pada tanggal 6 Mei 1882 disahkan ketetapan keimigrasian yang isinya melarang kedatangan buruh China ke Amerika. Disahkan oleh Presiden Amerika Serikat Chester A. Arthur, keputusan itu dikenal dengan nama Chinese Exclusion Act.

Pemberlakuan peraturan ini membuat orang China yang bisa masuk ke Amerika menjadi sedikit. Mereka yang keluar dari Amerika Serikat juga tak mudah untuk kembali. Sedangkan mereka yang tetap tinggal mengalami diskriminasi dan pembatasan-pembatasan dalam bidang sosial, ekonomi dan budaya.

Sepertinya sikap seperti itu masih menurun pada Donald Trump, yang merupakan bagian atau turunan dari migran Eropa yang memerdekakan Amerika dari Inggris. Para migran Eropa ketika memerdekakan Amerika memang tak menggangap warga lain, warga pribumi dan migran dari benua lain sebagai bagian dari mereka.

Orang-orang turunan Eropa yang merasa memiliki Amerika ini lupa bahwa salah satu yang menopang keberhasilan Amerika Serikat menjadi negeri harapan adalah mereka. Mereka yang berjuang namun tidak divalidasi, bahkan dinista dengan perlakuan yang tidak layak.

BACA JUGA : Ironi Masjid Transisi Energi

Donald Trump, kelakuannya mirip dengan kelompok buruh Amerika dimasa lalu yang benci pada imigran karena dianggap merebut lapangan kerja mereka dengan bersedia menerima bayaran atau fasilitas yang lebih rendah dari buruh Amerika.

Kelompok migran ini dianggap masalah, tanpa pernah dilihat sumbangsihnya.

Dalam kampanye pemilu presiden, Donald Trump menyorot soal imigran dari sesama negeri Amerika, terutama dari Mexico yang dianggap bikin rusuh di Amerika Serikat.

Dan ketika terpilih kembali menjadi presiden untuk kedua kalinya walau tak berturut-turut, Trump mulai unjuk gigi. Yang diancam bukan imigran lagi tetapi negeri-negeri yang oleh Donald Trump dirasa mengerogoti kejayaan dan kekayaan Amerika Serikat.

Mewakili perasaan Amerika, Trump merasa negeri dan pemerintahan Amerika sudah banyak berbuat baik untuk berbagai negara bahkan ke negara yang bukan sahabat sekalipun. Hingga kemudian Trump merasa negeri-negeri ini kurang tahu balas budi. Menurut Trump harus dihukum dan salah satu hukumannya adalah menaikkan tarif masuk barang-barang dari negeri-negeri itu ketika masuk ke Amerika Serikat.

Nampaknya Trump ingin Amerika dianggap setara dengan negeri-negeri lain, sehingga tarif antara barang Amerika dan negeri lain menjadi seimbang.

Selama ini karena faktor keunggulan kompetitif, Amerika Serikat membiarkan barangnya dikenai tarif lebih tinggi ketika masuk ke negeri lain dibandingkan dengan barang negeri lain yang masuk ke Amerika Serikat.

Saat mengumumkan keputusan untuk menaikkan tarif masuk ini, Donald Trump mengumpamakannya sebagai pernyataan kembali kemerdekaan Amerika Serikat.

Tentu dunia terguncang karena keputusan ini, keputusan yang melawan semua teori ekonomi dan inisiatif-inisiatif ekonomi yang dibuat atau didorong oleh Amerika Serikat di masa lalu. Kebijakan Amerika Serikat di masa lalu menentang proteksionisme dan mendorong perdagangan bebas, agar semua negara bisa saling berdagang atau berinvestasi di negeri lain untuk mendapatkan harga yang paling kompetitif.

Donald Trump sangat percaya diri dengan keputusan ini, karena dia selalu menggangap dirinya sebagai negosiator ulung. Tidak mengejutkan karena sebagai seorang pengusaha, Donald Trump dikenal suka melaporkan rekan bisnisnya ke pengadilan.

Sesaat Donal Trump bisa membuat Amerika Jaya kembali karena para perunding dari negeri lain kemudian ngantri untuk bertemu Donald Trump.

Dan alih-alih menurunkan tarif yang ditetapkannya, Donald Trump justru berlaku seperti hakim di tingkat banding yang kemudian memberi keputusan hukuman yang lebih berat. Hukuman lebih berat diberikan dengan pertimbangan hakim tak suka pada penuntut yang protes atas hukuman tingkat pertamanya.

Trump seperti menikmati sensasi sebagai seorang yang dibutuhkan.

Dia kemudian mempunyai gaya sendiri dalam menerima utusan bahkan pimpinan dari negara lain. Percakapannya dilakukan di hadapan publik. Trump tak segan meluapkan emosinya kepada delegasi dari negara lain.

BACA JUGA : Lulusan UGD

Tapi Donald Trump kena batunya. Yang melawan adalah salah satu negeri yang dibencinya, China.

Ketika Donald Trump menaikkan tarif untuk barang dari China menjadi 45 persen, tanpa ba bi bu China melawan dengan menaikkan tarif barang dari Amerika Serikat menjadi 65 persen.

Pemimpin China paham, Trump ingin negosiasi. Dan mungkin China beranggapan negosiator tak boleh dihadapi dengan negosiasi, lawan saja.

Dan benar Trump marah lalu menaikkan lagi. Dan ketika dinaikkan, China juga menaikkan kembali.

Terjadilah perang tarif, walau masih dalam keputusan yang belum dieksekusi. Amerika dan China kemudian terlibat perang tarif-tarifan.

Kita semua jadi tahu ada dua orang kaya, berkuasa dan gila. Yakni Donald Trump dan Xi Jing Ping.

Maka jelas, keputusan Donald Trump dan respon dari China tak lagi pakai perhitungan politik dan ekonomi. Ini murni keputusan emosional, berdasarkan ego masing-masing pemimpinnya.

Tapi jadi lucu, mirip orang pacaran, benci tapi rindu.

China dan Amerika sebenarnya saling membutuhkan tapi tak mau memperlihatkan hal itu.

Trump mungkin lupa tak ada lagi produk native Amerika Serikat. Barang Amerika yang terkenal di seantero dunia, sebagian besar tidak diproduksi di Amerika Serikat. Bahkan tenaga kerjanya kalah, sumberdaya manusianya juga tidak tersedia.

Maka jika Trump berpikir Amerika bisa Jaya dan Kaya lagi jika pabrik-pabrik didirikan di Amerika Serikat, anggapan itu jelas salah. Donald Trump salah logika.

Pabrik bisa didirikan di Amerika Serikat dan tetap jaya seandainya Amerika Serikat membuka kembali kedatangan para imigran untuk bekerja di pabrik-pabrik itu, dan jelas Trump tak mau.

Iphone misalnya, jika 100 persen dibuat di Amerika Serikat jelas harganya tak kompetitif lagi. Pun juga mutunya, karena Amerika Serikat harus mempersiapkan dulu sumberdayanya jika tak ingin mendatangkan dari luar.

Harusnya Trump bertanya pada sahabatnya sendiri Elon Musk. Yang membangun giga pabrik di luar Amerika Serikat.

Sebenarnya Trump makin terjepit, bukan hanya karena perlawanan dari China tetapi juga reaksi negatif dari dalam negerinya sendiri. Mulai muncul aksi dan protes disana-sini. Pemerintah federal juga mulai melakukan perlawanan, salah satunya Gubernur Califormia yang hendak menuntut di pengadilan dengan tuduhan Trump melakukan kebijakan ilegal.

Hanya yang ditunggu adalah perlawanan dari orang-orang kaya di Amerika Serikat yang merupakan penyokong Donald Trump. Mereka kini babak belur, karena harga saham perusahaannya terjun bebas. Jika mereka tak mampu lagi menahan laju kehilangan ‘kekayaannya’ niscaya mereka akan melawan. Dan Donald Trump bisa-bisa tak punya teman dan pendukung yang kuat lagi.

Dan akhirnya Donald Trump hanya akan main tarif-tarifan. Negosiator memang kerap main gertak sambal, walau yang kena pedasnya justru orang lain.

note : sumber gambar – KABARBISNIS