KESAH.ID – Sejak meninggalkan Solo lalu menjadi Gubernur Jakarta dan kemudian menuju istana, banyak yang menyoal ‘keaslian’ Joko Widodo. Jokowi dituduh PKI, Kristen dan seterusnya. Namun yang terus bertahan hingga akhir masa jabatannya adalah kecurigaan terhadap keaslian ijazah sarjana kehutanan UGM. Nampaknya mereka yang curiga sudah punya kesimpulan akhir, pokoknya palsu walau UGM bisa menjamin keasliannya.
Suatu waktu saya ikut ramai mengurusi sebuah kegiatan yang diinisiasi oleh sekelompok alumni Universitas Gajah Mada, UGM.
Lalu ada yang bertanya “Sampeyan dulu kuliah di UGM Fakultas apa?”
Dengan cepat saya jawab “Saya tidak pernah kuliah di UGM, bukan lulusan UGM, tapi lulusan UGD.”
Jawaban saya dianggap tidak serius.
Padahal benar, jangankan lulusan UGM, kuliah di universitas saja saya tidak pernah. Saya kuliah di Sekolah Tinggi, dan nggak selesai.
Jadi kalau saya ngaku-ngaku lulusan UGM, lalu diminta menunjukkan ijazah ya jelas saya tak punya. Dan kalaupun kemudian saya bisa menunjukkan maka jelas ijazah itu palsu.
Soal ijazah UGM ini, ada satu persoalan yang terus dikulik-kulik dan digelitik-gelitik, yakni ijazah S1 Kehutanan UGM milik Joko Widodo. Ijazahnya disoal sejak dari jaman Jokowi menduduki kursi presiden.
Kelompok pembongkar status ijazah Joko Widodo ini seperti kelompok oposisi tersendiri, oposisi ijazah dan terus bertahan hingga Jokowi lengser. Bahkan terakhir mereka berencana mengeruduk UGM, untuk mempertanyakan keasliannya.
Dan benar, dengan mengatasnamakan diri sebagai TPUA, Tim Pembela Ulama dan Aktivis, akhirnya mereka ditemui oleh pihak UGM. Dan dalam kesempatan itu UGM menyatakan berdasarkan bukti dokumen di Fakultas Kehutanan, ijazah Joko Widodo adalah asli, dikeluarkan oleh UGM. Joko Widodo juga mahasiswa asli, karena ada salinan dokumen dan catatan lain yang menunjukkan dia mendaftar sebagai mahasiswa, diterima dan kemudian beraktivitas sebagai mahasiswa.
Sampai disini langkah ini sudah benar, karena yang berhak mengatakan ijazah itu asli atau palsu adalah universitas itu sendiri. Jika sebuah universitas mengakui keasliannya maka itu adalah asli.
Tapi kan universitas bisa ditekan?. Ya bisa saja, hanya saja taruhannya sangat tinggi, apalagi untuk universitas sekelas UGM yang merupakan salah satu universitas paling terkemuka di Indonesia.
Jika UGM mengakui ijazah palsu atau abal-abal sebagai asli, yang rusak bukan UGM melainkan dunia perguruan tinggi Indonesia.
Saya sendiri bukan pengagum Joko Widodo, atau sekurangnya saya mengaguminya hanya dari cerita ketika Joko Widodo memimpin Solo, kecuali dalam urusan Esemka. Ya soal Esemka, saya jadi teringat dengan apa yang dulu disebut Mobnas, mobil nasional. Mulai dari Mobil Rakyat, Mazda MR, Timor dan Bimantara Cakra.
Mobil-mobil yang proper dan kemudian dilabeli mobil rakyat dan mobil nasional itu tumbang. Padahal di belakangnya adalah pabrikan besar yakni Mazda, KIA dan Hyundai. MR dibuat oleh Mazda sendiri sebagai mobil murah, sementara Timor diimport dari KIA. Mobil KIA Sephia itu kemudian direbadge menjadi Timor. Sedangkan Bimantara Cakra diimport dari Hyundai. Aslinya adalah Hyundai Accent generasi pertama.
Ketiganya gagal menjadi mobil nasional, Timor dan Bimantara Cakra gagal karena berbau nepotisme, sementara Mazda MR gagal karena harganya tetap mahal karena tidak dibebaskan dari pajak barang mewah. Mazda MR bentuknya sedang hatcback sehingga dianggap sebagai sedan. Indomobil yang mempunyai inisiatif membuat Mobil Nasional kemudian merubah menjadi Mazda Vantrend, namun tetap gagal.
Apa yang dimulai dan belum berhasil selalu jadi obsesi pada penguasa berikutnya. Begitu juga soal mobil, Joko Widodo punya andalan Esemka dan Prabowo punya andalan Maung. Membuat mobil jelas tidak sulit untuk jaman sekarang, tapi mengembangkan platform dan ekosistemnya, itu yang rumit. Jadi kalau hanya kemauan politik untuk membuat mobil, maka itu tak lebih dari omon-omon.
BACA JUGA : Samarinda Kota Rawa
Kembali ke soal ijazah Joko Widodo yang dianggap palsu, semestinya tak sulit untuk membuktikan. Tak perlu juga UGM sampai repot-repot membongkar-bongkar arsip yang mulai ringkih karena menua.
UGM bukan Universitas abal-abal, fakultas apapun selalu jadi favorit lulusan SMA se-Indonesia. Maka tiap angkatan pasti jumlah mahasiswanya cukup banyak. Tinggal dicari, Jokowi kuliah di UGM tahun berapa, angkatan berapa. Pasti masih banyak yang kuliah di Fakultas Kehutanan pada tahun itu masih segar bugar sampai sekarang.
Walau bukan macan kampus, tetap saja masih ada dua atau tiga orang yang mengenalnya, masih ingat kalau dia teman satu jurusan, satu fakultas atau satu angkatan. Dosen, asisten dosen dan lainnya juga bisa menjadi saksi. Pasti saat ini semuanya belum pikun.
Tapi sebenarnya apa pentingnya membuktikan ijazah Joko Widodo asli atau palsu.
Mau membuktikan kalau dia pembohong?.
Ya kalau Joko Widodo terbukti pembohong mau apa lagi, toh dia sudah bukan presiden lagi.
Tapi kalau masih tetap ngotot ingin membuktikan asli atau tidak, kenapa tidak digugat saja di pengadilan?.
Hanya saja kalau di pengadilan, yang repot adalah UGM, karena nanti yang harus membuktikan asli atau tidaknya adalah UGM.
Dan sebenarnya tak perlu juga sampai pengadilan, cukup memakai UU Keterbukaan Informasi Publik. Ajukan sengketa informasi, kalau UGM tak mau membuka baru ke Pengadilan.
Masalahnya benarkah yang mengatakan ijazah Jokowi 1000 persen palsu itu memang benar ingin membongkar borok jual beli ijazah, ijazah asli tapi palsu, atau benar-benar dipalsu sendiri yang lazim terjadi di negeri ini?. Atau hanya ingin menuntaskan dendam kesumat dan ketidaksukaan pada Jokowi?. Entahlah.
Yang namanya tidak suka memang gak ada obatnya.
Dan rasa tidak suka itu tambah memuncak, karena yang tidak disukai ternyata tetap cool dan lihai.
Ya teramat lihai, karena tetap mampu membius. Bahkan ketika mampu membuat anak sulungnya berhasil menjadi wakil presiden. Pun presiden yang terpilih sebagai penggantinya, ternyata berhasil memenangkan kontestasi karena divalidasi olehnya.
Dan karena terus disoal, Jokowi menjadi tetap terkenal, terus diberitakan.
Dan lagi-lagi Jokowi memunculkan dua blok, blok yang yakin palsu dan blok yang yakin asli. Dua-dua sama yakinnya. Tapi sayang keyakinan bukanlah bukti.
BACA JUGA : Ironi Masjid Transisi Energi
Mungkin ada yang menggangap saya seperti tak peduli pada ijazah palsu atau asli Jokowi ini. Memang iya, urusan ini bisa menghabiskan energi tapi ujungnya tak memberi sumbangsih apapun untuk negeri ini.
Tapi bukan berarti saya mentolerir yang palsu-palsu. Karena kepalsuan di negeri ini sudah sampai tingkat yang kronis.
Artinya kalau mau membongkar ijazah palsu, harusnya tidak hanya ijazah Jokowi, sebab secara terang benderang ijazah asli tapi palsu bahkan ada yang menawar-nawarkan. Mungkin malah ada pabriknya, universitas atau sekolah tinggi yang didirikan dengan tujuan untuk jual ijazah saja.
Maka jauh lebih baik merenungkan kata Rocky Gerung, kalau ijazah hanya tanda pernah sekolah, bukan tanda pernah berpikir.
Makanya antara ijazah dan cara berpikirnya sering bertolak belakang.
Ijazahnya insinyur kehutanan, cara berpikirnya merusak hutan.
Atau ijazahnya ekonomi keuangan, cara berpikirnya kriminal, bikin sistem investasi bodong.
Ijazahnya hukum, tapi usahanya judi online.
Dan seterusnya.
Tapi ya nggak apa-apa menyoal terus keaslian ijazah Jokowi, apalagi kalau yang dilakukan bisa memberi validasi, misalnya kepakaran dalam digital forensik.
Yang justru perlu disiapkan adalah mental kita yang terpapar oleh berita tentang hal itu. Karena ini akan terus berkepanjangan. Sebab bagi mereka yang menuduh itu palsu, apapun jawaban bahkan dari pengadilan tetap akan dianggap palsu.
Joko Widodo akan terus dianggap pembohong.
Tapi Joko Widodo nampaknya anteng-anteng saja, mungkin dia tahu manusia memang pada dasarnya pembohong.
Tapi kalau pembohong itu sekelas Joko Widodo tetap akan ada lebih banyak orang yang jika bertemu akan sungkem, salim dan mencium tangannya.
Lingkaran paling sakti didunia memang lingkaran kebohongan dan tidak bisa disembuhkan di UGD.
note : sumber gambar – RADARPATI








