Dalam komunikasi dan interaksi manusia, ukuran menjadi salah satu faktor yang penting untuk menentukan sesuatu, seseorang atau sebuah kondisi disebut sebagai normal atau tidak normal.

Ukuran sendiri bisa bersifat kuantitatif maupun kualitatif, obyektif dan juga subyektif.

Sebenarnya realitas dunia, alam dan lingkungan serta segala isinya bukanlah realitas yang teratur. Segala sesuatu bersifat unik, terkadang tiada duanya sehingga realitas dunia menjadi realitas yang sesungguhnya rumit.

Untuk menyederhanakan hal itu kemudian manusia membuat pola, pengelompokan dan permodelan lain yang kerap kali merupakan bentuk penyederhanaan dan generalisasi atas sebuah realitas.

Munculah patokan yang disebut rerata, hal yang pada umumnya.  Apa yang disebut normal adalah yang pada umumnya. Ukuran normal adalah rata-rata. Maka apa atau siapa yang berada di luar ukuran itu akan disebut up normal. Yang artinya kelebihan atau kekurangan.

Dalam hubungan harian sorotan soal ukuran yang kerap jadi tema perbincangan adalah ukuran tubuh. Adalah biasa seseorang dipanggil berdasarkan ukuran tubuhnya. Maka ada yang dipanggil si bulat atau gembul karena tubuhnya gemuk, sebaiknya ada yang dipanggil kerempeng atau cungkring karena tubuhnya kurus.

Memanggil “ndut’ atau ‘ceking” dalam banyak kasus adalah tanda kedekatan, persahabatan, pertemanan yang erat. Malah banyak yang bilang itu adalah panggilan sayang-sayang.

Namun urusan julukan ini bukan melulu soal ukuran tubuh melainkan juga bagian tubuh termasuk bentuk atau tampilannya.

Karena itu ada yang dipanggil ‘cipit’ karena matanya sempit, ‘pesek’ karena hidungnya agak melebar dan masuk ke dalam, ‘kaki gajah’ karena kakinya besar, ‘buncit’ karena perutnya besar dan seterusnya.

Selain karena penampakan fisik, julukan juga bisa muncul dari perbandingan. Tampilan seseorang kemudian dibandingkan dengan yang lain. Seseorang yang tumbuh dalam lingkungan yang umumnya berkulit sawo matang, namun kemudian mempunyai kulit lebih gelap dari yang lainnya akan dipanggil dengan julukan “negro’ misalnya karena dianggap seperti kebanyakan orang Afrika.

Pun sebaliknya jika kemudian kulitnya albino maka akan dipanggil ‘bule’ karena putih seperti kebanyakan orang Eropa.

Panggilan atau julukan seperti ini tentu saja tidak masalah selama hal itu tidak punya muatan lain. Namun kerap kali panggilan seperti itu dimaksudkan untuk mengolok-olok atau bahkan merendahkan seseorang. Sehingga siapapun yang dipanggil dengan julukan-julukan seperti itu kemudian merasa terhina, tersakiti atau bahkan tersingkirkan.

Dengan dijuluki sebagai lan “Gendut” misalnya, panggilan itu  tidak sekedar mengatakan seseorang itu kelebihan berat badan, melainkan juga menyiratkan pesan bahwa “Kamu itu doyan makan, serakah, nggak bisa nahan nafsu, malas olahraga,”

Atau ketika mengatakan “Ceking” maka tersirat ucapan “Kamu itu penyakitan, makan pilih-pilih, nggak diperhatikan sama orang tua, miskin, kekurangan,

Dan lebih parahnya, ditengah masyarakat yang menempatkan daya tarik sebagai unsur penting dalam pergaulan, maka sebutan gendut, ceking, item, kriting berkembang menjadi kata lain dari “Kamu nggak menarik,nggak cantik, nggak ganteng, nggak keren”.

Ketika internet belum ada, jangkauan dari olok-olok soal tubuh, bentuk tubuh, bagian tubuh, warna kulit hanya tersebar dalam lingkup yang sempit. Namun lain cerita ketika internet ada dan kemudian disusul oleh berbagai kemunculan aplikasi media sosial.

Meski kerap dimaksudkan sebagai candaan, tindakan mengejek, mengolok atau menghina penampilan fisik seseorang di media sosial kemudian menjadi salah satu masalah besar. Reaksi atas candaan seperti itu menjadi tidak bisa dikontrol.

Fenomena candaan, ejekan atau hinaan atas penampilan fisik seseorang kemudian dikenal dengan sebutan body shaming.

baca juga : Pandemi dan Perangai Ilmiah Kita 

Media sosial adalah tempat kita berteman, namun tidak semua teman kita di media sosial adalah teman dalam arti yang sesungguhnya. Sebagian dari teman kita di media sosial adalah temannya teman kita.

Pun juga orang yang bisa mengakses, membaca, melihat dan kemudian memberi tanggapan di media sosial juga bukan hanya mereka-mereka yang adalah teman kita. Siapapun, selama mempunyai platform yang sama dengan media sosial kita, mereka juga bisa melihat, membaca dan berkomentar.

Terkadang banyak orang yang lupa bahwa perbincangan di media sosial meski itu dirasa sebagai bincang-bincang privat antar teman, tetap saja merupakan perbincangan publik karena bisa dilihat dan dibaca oleh orang lain.

Rerasanan atau omong-omong antar dua orang yang akrab terkadang memunculkan berbagai kata yang kemudian ditanggapi secara lain oleh mereka yang melihat. Dan mulai disoal.

Persoalan kemudian akan melebar jika kemudian ditanggapi. Saling sahut yang tidak terkendali kemudian kembali memunculkan banyak kata-kata lain yang tidak kurang buruknya.

Maka menjadi mudah dalam sahut-sahutan di kolom komentar akan ditemukan sebutan anjing, dajjal, iblis, kafir, auto neraka, bangsat, babi dan lain sebagainya.

Sebutan yang untuk orang-orang tertentu akan bikin emosi dan membuat jari-jarinya tidak terkendali.

Dari celaan, hinaan, ejekan atau olokan kemudian menjadi saling ancam atau muncul tuduhan penistaan.

Masih beruntung jika perseteruan itu berakhir di laporan ke polisi. Dalam banyak kasus tuduhan penistaan apalagi disangkutkan dengan etnis, suku, kelompok atau agama tertentu bisa berakhir dengan persekusi. Sang tertuduh akan digeruduk oleh serombongan orang yang tersinggung.

Dan dibawah intimidasi segerombolan manusia nan garang, sang tertuduh akan dipaksa meminta maaf, menandatangani surat bermaterei, divideokan dan kemudian diupload ke media sosial. Yang kemudian memancing pro dan kontra, serta berbagai macam olok-olok, ejekan, hinaan hingga kemudian melahirkan tuduhan penistaan baru.

Di media sosial olok-olok yang dimaksudkan sebagai candaan mudah sekali disalahpahami hingga kemudian melahirkan lingkaran kekerasan, utamanya kekerasan verbal.

Berbeda dengan komunikasi tatap muka, saat kita mengatakan sesuatu dengan mudah kita melihat wajah orang lain yang sedang berbincang dengan kita. Dari wajahnya kita bisa tahu dia senang, tenang, kurang suka, menahan marah atau marah betulan.

Tapi di media sosial kita tak akan bisa mengenali bahasa tubuh seperti itu, meski ada emoticon di kolom komentar tapi tak setiap orang yang senang akan memberi jempol dan tak setiap orang yang marah akan memencet emoticon yang menunjukkan hidung tengah mendengus.

Masalah lain di media sosial, kebanyakan yang tersingung atau marah justru bukan subyek yang tengah dihina atau diejek. Yang marah adalah orang lain, atau bahkan sekelompok orang lain. Apabila kelompoknya besar, mereka pun segera akan mengumbar ancaman.

Dalam hal seperti ini media sosial menjadi jalan paling cepat untuk mengajak orang main hakim sendiri. Siapa yang dianggap salah, sengaja nggak sengaja langsung ditersangkakan.

Banyak kelompok memang suka main hakim sendiri karena mereka tahu kalau dibawa ke polisi kasusnya tidak akan dilanjutkan. Sebab polisi akan kesulitan untuk menjadikan seseorang itu sebagai tersangka kejahatan.

Bahwa semua laporan akan diterima oleh polisi memang demikian. Karena polisi tidak boleh menolak laporan. Namun apakah akan ditindaklanjuti, semua akan tergantung dari cukup tidaknya bukti atau memenuhi syarat untuk dianggap pelanggaran atau tidak.

Hinaan atau penistaan yang bisa melaporkan dan kemudian menjadi kejahatan apabila yang melaporkan adalah individu yang dihina atau dinista, bukan orang lain.

baca juga : Post Truth Opini Yang Dinarasikan Sebagai Kebenaran 

Menanggapi olok-olok, celaan, hinaan atau ejeken tidak sama untuk semua orang. Ada orang-orang yang dengan mudah akan tersulut kemarahannya, namun tak sedikit yang bersikap tenang-tenang saja.

Mereka yang pelajaran biologinya bagus biasanya tak mudah marah jika disebut anjing atau babi, sebab mereka tahu bahwa manusia memang masuk dalam  golongan kerajaan binatang, kingdom animale.

Jadi meski merasa bahwa manusia itu unik, namun mereka tak akan menganggap diri lebih istimewa daripada penghuni hutan atau alam liar.

Orang-orang yang punya kesadaran dan penghargaan serta pengenalan diri yang baik, biasanya juga tak pernah tersinggung. Sebab mereka tahu meski disebut sebagai monyet, kingkong atau buaya, mereka sama sekali tidak pernah akan menjadi seperti yang disebutkan itu.

Permasalahannya orang-orang yang punya kedalaman pengetahuan dan pengendalian diri seperti itu tidaklah banyak. Mayoritas dari kita akan menanggapi ejekan, hinaan, olok-olok dengan emosi.

Dan karena banyak orang yang emosian maka tugas polisi menjadi semakin berat. Karena setiap hari ada saja orang datang untuk melaporkan orang lain karena kata-katanya tidak bisa diterima. Dan yang melaporkan merasa orang tersebut layak dihukum.

Masalah polisi semakin bertambah karena ada juga orang-orang yang secara sengaja berulah agar dilaporkan. Dibuatlah drama atau gimmick yang bertujuan untuk membuat dirinya menjadi terangkat, naik dalam perbincangan di media sosial.

Kelakuan pansos alias panjat sosial seperti ini banyak dilakukan oleh mereka yang namanya mulai redup di dunia yang bersangkutan dengan publik, bisa saja mereka adalah pelaku dunia entertainment maupun dunia politik.

Pada akhirnya candaan di media sosial banyak yang berakhir tidak lucu.

Kembali ke urusan tubuh, pada dasarnya kelebihan atau kekurangan berat badan adalah tidak baik untuk kesehatan terlebih di masa pandemi ini. Maka menjadi penting untuk mengingatkan kepada teman-teman yang kelebihan atau kekurangan berat badan untuk mengurangi atau menambah berat agar ideal atau proporsional.

Hanya saja mesti diingat, saat mengingatkan jangan sampai membuat diri mereka tersinggung atas kepedulian kita. Bagaimana caranya?

Kalau kalian punya banyak uang silahkan ikuti cara Deddy Corbuzier, yang memberi uang 500 juta kepada Ivan Gunawan andai berhasil menurunkan berat badan sebanyak 20 kilogram dalam jangka waktu 3 bulan.

Rasanya memang tak akan ada orang yang marah atau terhina ketika kita mengatakan “Hai Gembrot, ini 500 juta bawa pulang dan jadi milikmu jika dalam 3 bulan kamu bisa menurunkan berat badan sebanyak 20 kilogram,”

Ah, rasanya pingin teriak “Anj xxxxxxx,”

note : sumber gambar – tirto.id 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here