Kebohongan erat kaitannya dengan kemampuan manusia berbahasa verbal. Karena salah satu fungsi dari bahasa verbal adalah menyampaikan yang tidak sesungguhnya. Salah satu yang paling kentara ditemukan dalam sopan santun atau tata krama.

Manusia dalam rentang keberadaannya mulai dari 350 ribu tahun lalu menemukan bahwa pengetahuan atau kebenaran tidak terlalu penting untuk bertahan hidup. Seseorang yang tidak paham atau tak pernah belajar matematika ternyata sukses dalam berdagang, padahal dagang erat kaitannya dengan hitung-hitungan.

Nenek moyang kita di jaman pemburu pengumpul, belum mengenal pelajaran biologi, tak paham apa itu organisme, metabolisme dan lain-lain ternyata juga mampu hidup, meneruskan keturunan yang berlanjut hingga sekarang.

Ribuan tahun manusia hidup dan membangun peradaban dalam regim pengetahuan soal salah benar dengan bersandar pada legitimasi dari seseorang tertentu yang sama sekali bukan ahli dalam bidang itu. Mereka disebut sebagai ‘orang pintar’ seperti pemimpin suku, raja, pengelana, pemimpin spiritual, ahli nujum, dukun atau paranormal.

Benar atau salah bukan berasal dari realitas melainkan berdasarkan otoritas.

Perkembangan ilmu pengetahuan dan temuan-temuan ilmiah baru tidak secara otomatis merubah regim pengetahuan yang berdasarkan pada otoritas.

Sekolah atau pendidikan yang menjadi tempat untuk menyemai kebiasaan berpikir rasional dalam waktu yang panjang ternyata juga belum berhasil mengikis habis kebiasaan manusia mengedepankan otak emosional.

Secara singkat bisa dikatakan bahwa pengetahuan ilmiah atau obyektif tidak otomatis merubah perilaku.

Bohong atau kebohongan mungkin bukan kata yang keren untuk jaman ini. Istilah post truth kemudian menjadi lebih populer untuk mengantikannya.

Post truth secara sederhana memang bisa diartikan sebagai kebohongan. Sebuah opini yang dinarasikan sebagai kebenaran. Atau dengan kata lain kebohongan yang terus menerus diulang kemudian akan dianggap sebagai kebenaran.

Sebagai sebuah istilah, post truth sebenarnya sudah cukup lama. istilah ini pernah muncul dalam tulisan Steve Tesich pada majalah The Nation dengan judul The Government of Lies.

Pada tahun 2004 di The Post Truth Era, Ralp Keyes bersama comedian Stephen Colber juga membincangkan soal truthiness, sesuatu yang seolah-olah benar padahal tidak benar sama sekali.

Di tataran global, perbincangan tentang post truth memuncak pada tahun 2016.

Kamus Oxford bahkan menominasikan dan kemudian memilihnya menjadi word of the year, kata paling favorit untuk tahun 2016.

Oleh  Oxford post truth didefinisikan sebagai kondisi di mana fakta tidak terlalu berpengaruh terhadap pembentukan opini masyarakat dibandingkan dengan emosi dan keyakinan personal.

Istilah post truth mencuat terutama dalam menanggapi kampanye Donald Trump dan referendum Brexit. Donald Trump berhasil menjadi presiden Amerika Serikat dan Inggris keluar dari Uni Eropa. Keberhasilan itu dikarenakan ‘takta obyektif’ ternyata memiliki pengaruh yang lebih lemah pada masyarakat dibanding dengan argumen emosional dan kepercayaan personal.

baca juga  : Ekosistem Hoax

Pandemi Covid 19 yang sudah berlangsung kurang lebih satu setengah tahun membuat masyarakat frustasi. Kebijakan pemerintah yang tidak mulus menghasilkan kekurangan di sana-sini.

Masyarakat mungkin saja menerima jika ekonomi melemah namun masyarakat tetap sehat. Namun yang terjadi masyarakat ternyata kesehatannya juga tidak menguat dan ekonominya juga semakin rontok.

Kepercayaan masyarakat pada pemerintah semakin menurun. Pemerintah tidak lagi memegang kendali informasi dan pengetahuan atas Covid 19 yang memang juga masih terbatas.

Muncullah dokter Lois Owen yang dengan lantang mengatakan Covid 19 tidak ada, banyak orang yang meninggal di rumah sakit itu dikarenakan interaksi antar obat.

Ucapan dokter Lois lebih dipercaya karena dia adalah seorang dokter sehingga pernyataannya dianggap otoritatif.

Untuk lebih meyakinkan lagi, dokter Lois kemudian mengatakan bahwa pasien meninggal di rumah sakit bukan di rumah atau di jalan.

Penyampaian dokter Lois sebenarnya bukan hal yang baru. Semenjak kemunculan Covid 19, informasi yang berbau konspiratif sudah bermunculan. Berbagai macam informasi itu berhasil membuat banyak orang menolak vaksin dengan berbagai alasan.

Internet membuat masyarakat dikepung oleh gelembung informasi. Pusaran informasi bergerak cepat dan beranak pinak. Semua berebut untuk menjadi dipercaya bukan bersaing untuk menjadi yang paling mengungkapkan kebenaran.

Informasi yang paling trending di internet adalah yang paling dipercaya sebagai kebenaran, bukan kebenaran itu sendiri.

Bahwa ada banyak hal yang tidak beres dalam penanganan Covid 19 itu tidak bisa disangkal. Namun itu tak membuat Covid 19 dianggap bukan sebagai hal yang tidak benar.

Adalah biasa muncul banyak penumpang gelap atas sebuah fenomena. Ada banyak pihak yang mencari untung, peruntungan dan diuntungkan dengan adanya pandemi Covid 19. Namun sekali lagi hal itu bukan berarti mereka yang mencari untung atau dapat untung itulah yang menciptakan pandemi Covid 19.

Fakta tentang apa itu Covid 19, bagaimana cara penularannya, bagaimana cara mencegahnya mungkin tidak butuh waktu yang terlalu lama untuk menemukannya. Namun bagaimana cara mengobati, tentu butuh waktu, ada proses trial and error yang bisa saja memancing kontroversi.

Dan yang paling sulit adalah menemukan bagaimana awal mulanya. Namun justru di bagian ini yang paling ingin diketahui oleh banyak orang. Sementara dalam kenyataannya yang disebut awal mula kerap menjadi misteri.

Awal mula yang berkabut inilah yang kemudian kerap memunculkan berbagai teori konspirasi.

Karena ini penyakit atau masalah kesehatan, andai yang bersuara adalah orang professional dalam bidang kesehatan atau penyakit maka apa yang diungkapkan atau disampaikan olehnya akan jauh dipercaya. Pernyataannya dianggap otoritatif.

Padahal pernyataan seorang professional tidak otomatis otoritatif. Sebab pernyataan otoritatif selalu mempunyai prasyarat yaitu didasari atas fakta obyektif. Dan dalam dunia kesehatan fakta obyektif ditemukan lewat riset atas data-data pasien maupun penelitian laboratoris atas penyebabnya.

Tidak semua yang dikatakan oleh dokter Lois salah. Namun ada pernyataan yang membahayakan. Interaksi antar obat yang disebut olehnya sebagai penyebab orang meninggal dapat diintepretasi sebagai orang meninggal karena keracunan obat. Dan jika ini terjadi karena perlakuan dalam institusi kesehatan maka bisa dianggap sebagai malpraktek.

Malpraktek selain merupakan sesuatu yang bisa dipersoalkan secara hukum. Namun lebih dari itu malpraktek akan membuat orang enggan atau tak mau melakukan perawatan dan pengobatan. Karena khawatir akan interaksi antar obat, penderita atau pengidap menjadi tidak mau dirawat di rumah sakit.

baca juga  : Soal Menolak PPKM Darurat Kenapa Kita Mudah Termakan Hoax?

Kebenaran adalah obsesi manusia. Namun dalam kenyataannya manusia kerap kali tidak siap menerima kebenaran yang membuat hidupnya menjadi tidak nyaman dan tidak aman. Ada banyak kebenaran yang menguncang sistem kepercayaannya. Kebenaran yang paling membuat manusia merasa nyaman adalah kebenaran yang berada dalam versi keyakinan atau kepercayaannya.

Negara sebagai institusi duniawi tertinggi yang mengatur dan mewadahi hidup manusia di suatu wilayah sulit untuk menjadi penjaga kebenaran karena dalam negara ada politik. Meski politik ditujukan untuk kemuliaan hidup bersama, namun di dalamnya ada aktor-aktor atau lembaga politik yang berjuang untuk kemapanan. Mempertahankan kemapanan, memenangkan persaingan untuk meraih kekuasaan atau kedudukan acap kali melahirkan aksi atau perilaku yang abai pada kebenaran. Dan dalam banyak kasus, aksi politik justru dipenuhi oleh kebohongan dan janji-janji palsu.

Maka media kemudian menjadi pilar kebenaran. Dianggap mampu bersikap obyektif dan independent, media diharapkan menjadi penjaga kebenaran. Hanya saja dalam prakteknya untuk bertahan dan terus hidup, media harus bersiasat. Dan karena siasat kemudian kebenaran menjadi kurang atau bahkan tidak terjaga.

Sosok lain yang kemudian menjadi sandaran kebenaran adalah kaum professional, mereka yang menekuni bidang tertentu sehingga dianggap sebagai kaum ahli atau pakar. Salah satu yang disebut sebagai pakar adalah ilmuwan, orang-orang yang mengabdikan diri pada ilmu pengetahuan.

Namun sekali lagi dalam perjalanan peradaban manusia terutama politik kenegaran para pakar, akademisi dan ilmuwan sering kali menjadikan diri mereka sebagai cap atau stempel untuk memberi legitimasi pada kebijakan entah negara entah korporasi. Kebijakan yang kerap kali merugikan masyarakat kebanyakan.

Post truth sebagai sebuah kecenderungan manusia dalam cara berpikir dan bertindak kemudian menjadi semakin berkembang di jaman internet. Dulu sebelum teknologi komunikasi mampu menghubungan manusia dari berbagai penjuru secara real time, keresahan masyarakat di wilayah tertentu akan terlokalisir. Namun sekarang tidak, apa yang dirasakan oleh masyarakat di suatu tempat dengan segera bisa dibagi dan diakses oleh masyarakat di tempat lainnya.

Internet dan media sosial mewadahi hal itu dengan filer bubble. Gelembung informasi di internet atau media sosial akan disaring oleh sistem, sebuah algoritma yang ada di balik aplikasi media sosial. Algoritma ini akan menyajikan atau menyuguhkan kepada pemakai media sosial informasi apa yang disukainya.

Gerak-gerik atau kesukaan pemakai media sosial akan dipantau dan hasil pantauan itu akan menjadi dasar dari algoritma untuk memunculkan, merekomandasikan informasi yang dianggap pas atau disukai oleh pemilik akun media sosial tersebut.

Disadari atau tidak, algoritma inilah yang kemudian membuat masyarakat terbelah. Antara pro dan kontra pada isu tertentu.

Keterbelahan di ruang maya ini pada akhirnya akan dibawa ke ruang nyata.  Keyakinan akan kebenaran tetap akan dipertahankan dalam perjumpaan di ruang nyata, obrolan di warung, dalam rumah, di kantor, di sekolah dan lain-lain.

Berhadapan dengan hal ini orang-orang yang tidak ikut dalam pro dan kontra bisa-bisa gamang. Andai tak punya sumber pengetahuan yang valid dengan mudah kemudian akan ikut memilih untuk berdiri di sisi kiri atau di sisi kanan.

Pilihan termudah memang menceburkan diri ke sisi A atau ke sisi B untuk punya sikap. Jarang ada orang kemudian berani memilih untuk berdiri di sisi C, mengkritisi apa yang disampaikan oleh A dan B.

Berpkir kritis, meragukan semuanya sembari mencari sumber pengetahuan yang valid bukan saja butuh usaha melainkan juga melelahkan. Sebab kita sering kali ingin sebuah kepastian yang cepat, jawaban yang segera atas sebuah pertanyaan.

Karena mencari sumber valid juga tidak mudah, kalaupun ada kerap kali keterangan atau penjelasan juga tidak mudah untuk dimengerti makan jalan paling mudah adalah mempercayai sumber atau sosok yang punya jawaban atas semua pertanyaan.

Sosok ini adalah manusia-manusia yang pintar membuat narasi konspirasi.

Informasi dari sosok ini biasanya mudah dimengerti, sederhana, menimbulkan efek wow atau mind blowing.

Penjelasannya menjadi menyakinkan. Dan karena meyakinkan maka lebih mudah bagi kita untuk menerimanya sebagai kebenaran.

“Saya ingin membagi informasi rahasia, informasi ini hanya diketahui oleh kaum elit dunia dan hanya beredar di dunia shadow ……”

Andai menemukan konten yang diawali dengan pernyataan seperti itu maka saya tidak akan meneruskan untuk membaca, mendengar atau melihatnya. Sebab saya yakin yang membuatnya sedang berupaya menjadikan opininya sebagai sebuah kebenaran.

Jadi hentikan untuk mengkonsumsi apapun yang berniat mengkonstruksi kebenaran dengan cara mengaduk-aduk emosi atau perasaan yang membuat kita kehilangan nalar serta obyektifitas.

Itulah cara melawan post truth agar tidak membuat polisi terlalu sibuk karena banyak laporan masuk dengan memakai pondasi UU ITE.

Sedikit-sedikit melapor ke polisi juga bukan merupakan cara yang benar untuk menghadapi wacana post truth. Penjara tidak akan membuat orang jera terbukti tidak sedikit orang kembali masuk penjara atas kejahatan yang sama.

Post truth berdasar atas cara berpikir dan bertindak berdasarkan pikirannya sendiri, maka untuk menghadapinya yang perlu dilatih adalah cara berpikir kita dalam mengkonsumsi informasi.

Berhadapan dengan informasi maka kita perlu menilai soal data dan fakta, bukan asumsi. Lalu lakukan analisis kausalitas bukan klaim. Kemudian lakukan penilaian atau interprestasi bukan pembenaran. Dan terakhir ambil kesimpulan bukan evaluasi.

Capek, ya iyalah.

Dan kalau tidak mau capek-capek ya jangan mengeluh kalau dunia ini dipenuhi dengan wacana post truth atau kebenaran yang dikonstruksi entah karena otoritas atau karena diyakini oleh gerombolan besar.

note : sumber gambar – https://nasional.kompas.com/read/2019/03/13/09014261/lunturnya-kearifan-berpolitik-di-era-post-truth?page=all

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here