Pertengahan tahun 2021, pandemi Covid 19 kembali mengamuk, terjadi peningkatan jumlah kasus di berbagai daerah. Konon dipicu oleh kedatangan virus Covid 19 varian delta dari India.

Pemerintah kemudian menetapkan PPKM Darurat pada prrovinsi-provinsi di Jawa dan Bali, namun kemudian diikuti juga oleh provinsi lainnya di Indonesia.

Penerapan PPKM saat ini terlihat menjadi lebih ketat, selain penyekatan di berbagai tempat, rasia untuk menegakkan pembatasan mobilitas masyarakat bahkan memakan korban di beberapa daerah.

Adakah ketaatan terhadap prosedur kesehatan menjadi meningkat? Nampaknya tidak juga.

Alih-alih masyarakat menjadi lebih taat karena PPKM Darurat, yang terjadi malah meningkatnya kecemasan di dalam masyarakat.

Pandemi yang sudah berlangsung satu setengah tahun lebih kembali menjadi teror.

Muasalnya adalah lonjakan lalu lalang ambulans.

Sirene yang kerap berbunyi dan melewati bukan hanya jalan utama dianggap sebagai teror untuk menimbulkan rasa takut.

Masyarakat menyangka itu adalah trik dan siasat dari pemerintah agar warga lebih patuh pada prokes dan berdiam di rumah.

Prasangka ini kemudian beredar di berbagai WAG dan media sosial. Dan ada yang termakan sehingga berencana untuk melakukan aksi  mencegat ambulans yang lewat untuk memeriksa isinya.

Adakah kita pernah berpikir bahwa para sopir ambulans adalah merupakan salah satu yang paling lelah menghadapi Covid 19. Mereka kini bukan hanya mengantar jenazah penderita yang meninggal ke pemakaman, melainkan juga menjemput yang sakit untuk dibawa ke tempat perawatan?

Kalau kemudian jalan-jalan yang dulu jarang dilewati ambulans dan kini menjadi lebih sering, bukankah itu pertanda bahwa Covid 19 sudah menular secara mikro, keluarga kini menjadi pusat penularan.

Hingga kemudian tak ada lagi wilayah yang bebas dari Covid 19. Semua wilayah merah atau bahkan hitam.

Semakin lama pandemi seharusnya menjadikan kita paham dan tahu apa itu Covid 19. Namun sayangnya yang berkembang justru prasangka yang malah makin menguat.

Masih saja banyak yang berpikir soal di – ‘Covid’ – kan, petugas dan institusi kesehatan dianggap sengaja menyatakan seseorang sebagai penderita Covid 19 agar mendapat kucuran dana atau hal lainnya.

Sebuah prasangka yang aneh mengingat dampak dari pandemi Covid 19 begitu besar untuk berbagai aspek kehidupan.

Dari sisi ekonomi, pandemi yang berlangsung lama dan menuntut berbagai pembatasan gerak untuk melokalisir penularan akan berdampak pada macetnya proses produksi sehingga banyak usaha akan memberlakukan pemutusan hubungan kerja.

Jika ini terjadi niscaya beban ekonomi dan sosial pemerintah akan semakin besar. Pemutusan hubungan kerja secara massal akan mengancam keamanan sosial. Yang jika tidak terkendali akan menimbulkan kerusuhan sosial dimana-mana.

Lepas dari berbagai aksi colongan, orang-orang atau kelompok yang mengambil untung dari adanya pandemi, namun sengaja memperpanjang atau melebih-lebih pandemi jelas bukan merupakan pilihan untuk menyelesaikan persoalan ini. Terlalu besar dan mahal pertaruhannya.

baca juga : Post Truth Opini Yang Dipercaya Sebagai Kebenaran

Pandemi adalah keadaan yang tidak normal. Dalam keadaan normal saja manusia cenderung berpikir emosional, apalagi dalam keadaan tidak normal. Nalar atau berpikir rasional menjadi hal yang langka.

Serangan Covid 19 yang berlangsung lama ini semakin mengancam keamanan dan kenyamanan diri masyarakat. Masyarakat kemudian butuh kepastian, meski senyatanya kepastian itu sulit untuk didapat karena belum ada temuan atau cara yang adekuat untuk menangkal serangan virus ini.

Obat belum ditemukan dan vaksin ternyata juga tidak sepenuhnya ampuh untuk menangkal penularan. Disaat semua atau sebagian besar orang belum divaksin, bahkan sudah muncul kebutuhan untuk memvaksin para petugas kesehatan yang diistilahkan sebagai vaksin booster atau vaksin yang ketiga.

Kita menganggap perangai ilmiah adalah khas kelompok kaum ilmuwan. Namun nyatanya sebagaimana disampaikan oleh Jawarhalal Nehru, perangai ini sebetulnya dibutuhkan oleh siapapun, oleh profesi apapun.

Perangai ilmiah atau scientific temper adalah watak yang mengedepankan semangat untuk menggali kebenaran dan pengetahuan baru dengan sikap terbuka, berani mengubah pendapat lama berdasar bukti baru, menolak gagasan tanpa pembuktian, berpijak pada fakta yang dapat diamati dan memiliki kedisiplinan dalam menggunakan nalar {logika}.

India adalah satu-satunya negara yang memasukkan perangai ilmiah dalam konstitusinya. Dan itu dilakukan oleh Nehru pada tahun 1946.

Watak atau perangai ilmiah yang dibangun oleh Jawarhalal Nehru itu runtuh menghadapi pandemi Covid 19. Percaya bahwa air Sungai Gangga akan menyelamatkan dari pandemi, warga India memaksa untuk menggelar Festival Ritual Mandi Bersama di Sungai Gangga atau Kumbh Mela.

Jutaan orang mengikuti ritual itu yang tentu saja sulit untuk memberlakukan prosedur kesehatan secara ketat. Dan hasilnya penderita Covid 19 melonjak setelahnya. India kemudian menjadi epicentrum penularan Covid 19.

Jatuhnya korban dan jumlah kematian yang melonjak membuat warga yang berkemampuan menjadi khawatir. Mereka berbondong-bondong keluar dari India untuk menyelamatkan diri. Dengan menyewa pesawat, rombongan pengungsi yang kaya ini ada yang mendarat untuk mengungsi di Jakarta.

Data menunjukkan mulai bulan Juli 2021, 90% kasus prositif Covid 19 di DKI Jakarta adalah varian delta. Dan data selanjutnya menemukan bahwa varian ini telah menyebar di kurang lebih 13 Provinsi di Indonesia.

Adakah kita akan menuduh India sengaja menebarkan varian delta, melakukan serangan atau perang biologi dengan memakai warganya sebagai senjata?

Prasangka serupa pernah disematkan kepada Tiongkok. Covid 19 yang bermula dari Wuhan, dianggap sebagai kerja laboratorium yang sengaja dibocorkan.

Kemampuan Tiongkok membangun rumah sakit darurat dalam waktu cepat dijadikan salah satu penanda bahwa mereka sebenarnya sudah merencanakan dan mempersiapkan diri.

Merebaknya Covid 19 juga kerap disangkutkan ke beberapa elit ekonomi global yang terkenal dalam bidang filantropi. Sumbangan mereka pada penelitian obat-obatan atau virus dianggap punya kaitan pada pandemic Covid 19.

Obat dan vaksin memang merupakan salah satu bisnis gemuk. Penyakit sengaja diciptakan agar pra produsen bisa terus mengeruk untuk besar lewatnya.

Tahukan kita kenapa vaksin Astra Zeneca menjadi vaksin paling murah?

Sarah Gilbert, professor di Universitas Oxford yang adalah penemunya, menolak uang dari hak paten atas temuannya. Dia menghibahkan paten temuannya untuk kemanusiaan, melepas sebagai milik publik karena dia tak mengutip royalti untuk pemakaiannya.

baca juga : Ekosistem Hoax

Meski tidak secara tegas menempatkan perangai ilmiah dalam konstitusi, Indonesia menempatkan perangai ilmiah sebagai strategi untuk membangun bangsa dan mensejahterakan masyarakat dengan menempatkan pendidikan sebagai prioritas pembangunan.

Namaun semangat ini belum terlalu kuat diimplementasikan dalam wacana dan kebijakan publik.

Di tataran publik wacana yang berlawanan dengan perangai ilmiah lebih mendapat tempat untuk disebarluaskan. Diperbincangkan dengan dasar emosi dan dukung mendukung. Padahal kebenaran ilmiah bukan soal suka atau tidak suka, banyak atau sedikit yang setuju. Kebenaran ilmiah bukan didasarkan atas voting.

Terkait dengan pandemi, kita sudah mempunyai UU No 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. UU ini sudah memenuhi syarat untuk diterapkan.

Namun pemerintah memilih menggunakan istilah PSBB dan PPKM, istilah yang tidak ada dalam UU Kekarantinaan Kesehatan tersebut.

Namun siapa yang melanggar PSBB dan PPKM akan dikenai ancaman yang berasal atau berdasar pada UU tersebut.

Praktek ini jelas menimbulkan persoalan karena banyak orang kemudian merasa diperlakukan tidak adil. Perasaan ini pada akhirnya akan menimbulkan rasa tidak percaya terhadap para pengambil kebijakan. Apa yang diputuskan atau diambil oleh para pengambil kebijakan akan dicurigai mempunyai motif non kesehatan.

Tindakan atau aksi yang berlawanan dengan perangai ilmiah yang juga masih dipraktekkan saat ini adalah penyemprotan disinfektan di jalanan. Padahal kita semua tahu kalau Covid 19 tidak menular dari jalanan. Belum atau bahkan tidak ada kluster jalanan.

Namun kenapa penyemprotan jalan masih dilakukan?

Mungkin saja itu cara termudah dan paling adil untuk menghabiskan anggaran pencegahan Covid 19.

Mengembangkan perangai ilmiah ala rakyat tidaklah mudah. Dalam bidang teknologi kita mengenal upaya untuk mengembangkan teknologi tepat guna. Namun upaya ini tidak berkembang karena masyarakat menganggap teknologinya kurang canggih alias ketinggalan jaman.

Beruntung kita masih mempunyai sosok yang berjuang untuk memasyarakatkan perangai ilmiah secara sederhana. Sayangnya sosok ini tidak juga menjadi viral meski telah dituliskan oleh seorang Dahlan Iskan dalam artikel berjudul Protokol Rakyat.

Indro Cahyono, peneliti dan ahli virus yang tampil sebagaimana orang desa pada umumnya. Menerangkan bagaimana cara kerja virus dan prosedur untuk pencegahan infeksinya dengan peralatan yang sesuai dan dipunyai masyarakat kebanyakan.

Namun apa yang disampaikan oleh Indro, dokter hewan itu ternyata tidak menjadi viral seperti penyampaian dokter Lois.

Indro yang sampai sekarang masih menjadi partner riset dari professor virology di Universitas Adelaide ini memang tidak tampil sebagaimana umumnya para ilmuwan atau ahli kesehatan lainnya.

Padahal apa yang dilakukannya sudah benar karena melakukan paraphrase kajian atau riset imiahnya dalam bahasa yang lebih dimengerti oleh masyarakat sehingga menjadi aplikatif.

Dan ini merupakan langkah yang langka bagi dunia ilmu pengetahuan di Indonesia. Kebanyakan para peneliti ketika menerangkan kepada masyarakat masih memakai istilah-istilah teknis laboratorium atau bahasa ilmiah.

Maka ketika kita ingin mencari penjelasan tentang fenomena tertentu melalui google, akan ada banyak rujukan artikel ilmiah yang muncul. Dan ketika kita buka, bukan jawaban yang kita peroleh melainkan pusing kepala karena terlalu banyak istilah yang tidak kita ketahui. Padahal apa yang disebutkan itu merupakan sesuatu yang biasa kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Tapi kita tidak paham karena garam dapur disebutkan dengan istilah NaCl. Atau pohon kratum/kademba/sapat ditulis dengan nama Mitragyna speciosa.

Perangai tidak ilmiah juga kembali ditunjukkan oleh Gubernur Kalimantan Timur. Saat mengumumkan perpanjangan PPKM, disebutkan ada empat daerah yang akan memberlakukan PPKM darurat.

Dan hal ini kemudian dijadikan dasar untuk memberi nama PPKM Level 4.

Menurut artinya level adalah tingkat{an}, tataran atau lapisan. Memang level biasa diikuti jumlah, namun level bukanlah jumlah.

Dalam kondisi kedaruratan level merujuk pada tingkat resiko. Mulai dari resiko rendah ke tinggi, yang ditunjukkan dengan indikator angka.

Kita memang kerap kali semena-mena menggunakan istilah. Entah untuk gagah-gagahan atau sekedar tampil lain dari pada yang lain, mengedepankan sensasi ketimbang substansi.

Hingga akhirnya yang tersaji hanyalah kenyataan minim prestasi.

note : sumber gambar – Scientific Temper and Humanism : …….

video Protokol Rakyat versi Indro Cahyono bisa disaksikan disini :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here