“Mau pergi ke pasar ya mas, kok bawa keranjang,”

“Iya, bu”

Padahal si mas yang disapa dengan tanya mau pergi ke pasar itu mengiyakan, padahal mau pergi ke kebun.

Dan ibu yang menyapa tak juga merasa dibohongi, atau menyebut si mas sebagai pembohong. Dia malah mengatakan “Hati-hati di jalan mas,”.

Besoknya si mas melihat si ibu berdiri di pinggir jalan, sepertinya sedang menunggu dirinya lewat. Si ibu memang mau titip sesuatu untuk dibelikan di pasar karena tahu si mas mau ke pasar.

“Ke pasar kan mas?”

Kali ini tebakan si ibu tepat.

Merasa si ibu mau titip sesuatu, si mas kemudian berkelit.

“Tidak bu, saya mau ke kebun untuk ambil daun singkong,”

Si mas tidak mau mengatakan tujuan yang sebenarnya karena tidak ingin direpotkan dengan titipan si ibu.

Kisah tentang si ibu dan si mas di atas mengandung dua tindakan yaitu bohong dan tipu. Bahwa bohong dan tipu sama-sama tidak jujur, namun bohong lebih sering dilakukan demi basa-basi dan sopan santun. Bohong memang mengatakan yang tidak sesungguhnya namun tidak merugikan untuk yang dibohongi atau bahkan tidak merasa sedang dibohongi.

Dalam kehidupan sehari-hari kita biasa melakukan hal itu agar hubungan kita dengan orang lain baik-baik saja. Misalnya ketika dijamu dan ditanya “Bagaimana makanannya?” maka biasa akan kita jawab “Enak sekali, mantap,”.

Atau dalam hubungan kerja, ketika ditanya bagaimana atasan kita, maka akan kita jawab “Baik dan bijaksana,”

Memang sejak kemampuan komunikasi manusia berkembang pesat karena bahasa, sejak itu pula manusia berlajar mengatakan yang tidak sebenarnya. Tujuannya bermacam-macam namun yang paling umum adalah agar membuat orang lain senang dan tenang.

Bohong selain dimaksudkan untuk sopan santun, terkadang juga dipakai untuk meramaikan suanana.

Namun kemudian kemampuan bohong berkembang. Bohong ternyata bisa menguntungkan sehingga dimodifikasi menjadi tipu.

Sama seperti bohong, tipu juga merupakan manipulasi ucapan atau tindakan namun tujuannya lebih untuk menguntungkan diri sendiri dengan cara yang merugikan orang lain. Orang menipu karena tidak mau kepentingan diganggu atau demi mendapatkan sesuatu tanpa gangguan dari orang lain.

Maka bohong sering kali terjadi secara spontan dan tanpa motif. Sementara tipu biasanya direncanakan, dipikirkan dan mempunyai motif tertentu utamanya mencari keuntungan untuk diri sendiri terkecuali kalau tindakan menipunya direncanakan bersama dengan orang lain.

baca juga : Soal PPKM Darurat Kenapa Kita Mudah Termakan Hox

April Fools Day atau lebih dikenal dengan April Mop adalah rutinitas setiap tanggal 1 April dimana orang diperbolehkan berbohong atau membuat lelucon untuk bersenang-senang. Untuk mereka yang tahu kebiasaan itu selama satu hari akan meragukan berbagai informasi atau situasi yang mereka dapati.

Dalam sejarahnya April Mop telah memakan korban, sirene tanda bahaya di Hawai pada tahun 1946 yang dibunyikan pada tanggal 1 April dianggap sebagai April Mop sehingga banyak yang tak percaya dan banyak korban karenanya. Kasus ini dikenal sebagai “Tsunami April Mop”.

Bohong dan tipu-tipu memang ada yang ditujukan untuk bersenang-senang, menghibur, menghangatkan dan meramaikan suasana.

April Mop adalah bentuk lelucon teknikal atau lelucon terapan. Tujuannya adalah untuk membuat sasaran menjadi terkejut, heran, tidak nyaman hingga menimbulkan kelucuan pada yang melihatnya.

Selain April Mop, lelucon terapan juga dikenal dalam bentuk prank, gag, jape dan shenanigan.

Para konten kreator kerap kali mengunggah video prank ke media sosial untuk meningkatkan popularitas, jumlah pengikut dan jam tayang/tonton.

Tentu saja lelucon terapan ini berbeda dengan trik konfidensi dan hoax. Walau terkadang lelucon terapan terkadang bisa saja keterlaluan dan menyebabkan yang menjadi sasaran marah, tersinggung atau dirugikan sehingga akan melaporkan ke pihak yang berwajib.

Lelucon terapan berbeda dengan trik konfidensi dan hoax karena trik ini menjadi lucu ketika kebohongannya diketahui. Kalau kebohongannya benar-benar dipercayai lelucon tidak terjadi.

Sementara trik konfidensi dan hoax adalah tindakan kebohongan dan tipu-tipu yang dimaksudkan untuk tidak disadari oleh kelompok sasaran.

Trik konfidensi yang banyak beredar di internet antara lain surat berantai, pengumuman undian, pemberitahuan mendapat hadiah dan lain-lain yang ditujukan untuk menipu.

Sedangkan hoax adalah informasi yang tidak benar namun dibuat seolah-olah benar. Tujuannya adalah agar masyarakat merasa tidak aman, tidak nyaman dan kebingungan.

Wujud hoax umumnya ditemukan dalam konten yang menyesatkan dengan menggunakan informasi asli seperti gambar, pernyataan resmi, statistik dan lain-lain namun kemudian dimanipulasi atau dibingkai sedemikian rupa sehingga kehilangan hubungan dengan konteks aslinya.

Bentuk lainnya adalah konten tiruan, mendompleng ketenaran pihak lain atau lembaga lain. Cara kerja imposter content adalah sumber asli ditiru atau dirubah dengan memodifikasi fakta sebenarnya.

Selain itu di media sosial juga berkembang model hoax yang populer yaitu false connection dan false context. Antara judul dan isi tidak ada hubungan, gambar yang dipakai juga tidak ada hubungan. Atau kejadian asli dikaitkan dengan konteks yang tak ada hubungannya.

Di media sosial atau internet hampir hoax ini merajalela hampir dalam semua jenis konten. Terutama yang terkait dengan agama, etnis, politik, kesehatan, bisnis, bencana alam, lalulintas dan peristiwa gaib.

Merajalelanya hoax memang tidak lepas dari keberadaan internet yang memungkinkan masyarakat luas tidak hanya bertindak sebagai konsumen informasi melainkan juga produsen informasi.

Lalu lintas informasi tidak lagi berada dalam kendali lembaga publikasi resmi baik negara maupun korporasi. Kini semua orang bisa memproduksi informasi tanpa harus menguasai standar dan etika produksi informasi.

Dan ekosistem media sosial juga ditenggarai merupakan ladang subur hoax karena media sosial bekerja berdasarkan algoritma. Dalam lautan postingan, kecerdasan buatan pada media sosial akan memantau lalu lintas informasi dan kebiasaan para pengaksesnya. Apa yang disukai kemudian akan direkomandasikan oleh sistem.

Maka di halaman media sosial seseorang yang akan selalu muncul adalah apa yang disukainya, informasi yang biasa dicari atau ditanggapi olehnya.

baca juga : Buzzer Juga Butuh Kemapanan

Dalam dunia jurnalistik, sikap utama yang harus dikedepankan oleh seorang pewarta adalah skeptis. Segala sesuatu harus diragukan kebenarannya sebelum dibuktikan sebagai benar. Maka dalam jurnalisme dikenal istilah check and recheck. Sebuah informasi harus diuji dari dua sisi agar berimbang.

Sejak lama jurnalisme menyadari cara kerja manusia dalam menerima informasi yaitu percaya begitu saja atau menolak begitu saja tanpa alasan {sinis}.

Oleh karenanya jurnalisme dengan sangat ketat membedakan antara informasi yang bersifat fakta dan opini.

Meski demikian selalu ada ketegangan antara menjaga fakta atau obyektifitas dengan opini atau subyektifitas.

Menjadi terpercaya karena menyajikan berita atau informasi yang obyektif adalah obsesi para pewarta walau dalam kenyataannya tidak mudah.

Menilik pada sejarah pengetahuan manusia tidak bisa dipungkiri bahwa yang disebut kepercayaan atau keyakinan atas sesuatu dimulai dengan pengetahuan yang berbasis pada kekuasaan, authority based knowledge.

Puncak dari evolusi kesadaran manusia adalah keingintahuan. Manusia selalu ingin mendapat jawaban atas berbagai fenomena yang ditemui dalam kehidupannya sehari-hari.

Ketika ilmu pengatahuan alam atau sains belum berkembang maka pertanyaan-pertanyaan atas berbagai fenomena kemudian diajukan kepada para tokoh atau pemuka dalam masyarakat. Tokoh atau pemuka pada masa itu dianggap sebagai sumber pengetahuan.

Tak mengherankan jika sampai sekarang para dukun misalnya kerap disebut sebagai ‘orang pintar’. Orang pintar artinya orang punya banyak pengetahuan, rujukan atau sumber pengetahuan.

Dan pemuka atau tokoh lain yang disebut pintar atau berilmu adalah pemimpin masyarakat seperti raja dan kepala suku, pemimpin agama, orang tua dan lain sebagainya.

Hingga kemudian ekplorasi atas pengetahuan berkembang meski masih berdasar pada pengalaman dari waktu ke waktu sehingga memunculkan ahli-ahli seperti ahli berburu, ahli membuat senjata, ahli membuat pondok, ahli membuat perahu dan seterusnya.

Dan sistematisasi pengetahuan kemudian mulai bertumbuh ketika muncul para filsuf. Mereka yang secara khusus mengabdikan pemikiran untuk mengungkap pertanyaan-pertanyaan fundamental.  Para sastrawan sering kali juga dimasukkan dalam kategori ini.

Filsuf kemudian memberikan jawaban bahkan atas pertanyaan-pertanyaan yang sebetulnya tidak ada jawabannya. Filsuf disuatu masa dianggap sebagai ilmuwan dan filsafat kemudian dianggap sebagai ibu dari segala ilmu.

Pemikiran para filsuf masih punya pengaruh besar sampai sekarang. Padahal dalam bidang ilmu alam atau sains, sehebat apapun pemikiran para filsuf semua tidak didasari oleh obyektifitas. Pemikiran para filsuf adalah hasil abstraksi, kesimpulan tidak dilakukan dengan riset faktual atas sebuah obyek yang menjadi bahasan.

Ketika bicara soal manusia, filsuf hanya mendasari kajian atas apa yang dia amati dari luar, bentuk, perilaku atau pola-pola tertentu yang terlihat bukan dengan cara membedah dan mengurai unsur-unsur essensial yang terkandung dalam tubuh.

Hal yang sama juga berlaku pada tokoh, pemuka atau sumber pengetahuan lainnya.

Ketika mulai muncul para saintis, perangkat atau tools laboratorium berkembang dengan pesat muncul sumber pengetahuan yang semakin obyektif karena didasarkan pada riset yang mendalam dengan berbagai metodologi yang bisa diuji.

Berbeda dengan pengetahuan yang berasal dari authority based knowledge, informasi dan pengetahuan yang berbasis sains bebas dari bias nilai dan tidak berpretensi untuk memberi patokan soal baik buruk.

Patokan dari sains adalah benar dan salah, namun tidak mutlak karena kesimpulan benar atau salah bisa dikoreksi dengan temuan-temuan baru. Sains menerangkan tentang apa bukan soal seharusnya.

Meski sumbangan sains sangat besar pada peradaban manusia namun dalam kehidupan sehari-hari yang disebut dengan watak ilmiah belum menjadi perilaku normal harian.

Kebanyakan orang masih bersandar dan mendasarkan perilaku berpikirnya pada otak emosional. Jejak authority based knowledge masih terlalu kuat sehingga ada bias antara keyakinan dengan pengetahuan.

Orang lebih menyukai berpikir konspiratif ketimbang konfirmatif.

Tak mengherankan jika kemudian apa yang dipercaya oleh banyak orang kemudian diyakini sebagai benar.

Dan watak ini kemudian semakin subur dalam dunia maya. Algoritma media sosial bekerja berdasarkan impresi dan engangement. Apa yang disukai, banyak dibagi, dikomentari, itulah yang akan direkomandasikan atau selalu muncul di halaman paling atas.

Dalam sistem seperti itu maka apa yang benar namun tidak sensasional, tidak menarik perhatian, tidak menimbulkan kontroversi atau tampil biasa alias sangat obyektif akan tenggelam di bagian paling bawah dan tak akan dilirik oleh orang.

note : sumber gambar – shutterstock – https://tirto.id/genderang-perang-jerman-melawan-hoax-di-media-sosial-caX9

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here