Beberapa hari lalu tepatnya tanggal 15 Juli 2021, di banyak WAG tersebar link berita yang berisi tentang penolakan Walikota Samarinda atas PPKM Darurat. Dalam berita itu dipaparkan alasan dari Walikota Samarinda yang disampaikan kepada Pangdam Kodam Mulawarman dalam sebuah rapat.

Sontak saja link berita ini mendapat tanggapan luar biasa di berbagai platform media sosial kesayangan para warga Samarinda. Sebagian besar bersorak gembira karena akan kembali beraktifitas secara normal.

Berita penolakan atas PPKM Darurat ini sungguh meyakinkan karena penulis beritanya diawali dengan kutipan langsung perbincangan antara Walikota Samarinda dengan Pandam Kodam Mulawarman.

“Mohon izin laporan Komandan, perkenankan saya paparkan alasan kami menolak PPKM,”

Namun pada bagian lain kemudian ada kutipan lain yang diberi atribusi pede namun yang ditolak adalah PPKM Darurat.

Sontak ketika membaca berita itu ada niat untuk ikut meramaikan diskusi di WAG.

Namun saya mengurungkan niat itu. Saya menghentikan keinginan jempol untuk bergerak cepat melebihi kecepatan otak dalam berpikir.

Sebab saya ingat dalam WAG sebelumnya juga beredar Surat Intruksi Walikota Samarinda No 01 tahun 2021 tentang pemberlakukan PPKM Mikro Diperketat yang berlaku dari tanggal 6 sampai dengan 20 Juli 2021.

Dalam instruksi itu antara lain disampaikan soal aktivitas ekonomi yang berpotensi untuk menimbulkan kerumunan akan dilarang. Salah satu yang kemudian dilarang adalah pasar malam.

Mall, Tempat Hiburan Malam, Resto, Kedai dan yang sejenis hanya diijinkan buka sampai jam sembilan malam.

ASN di lingkungan pemerintah Kota Samarinda kembali melakukan Work From Home, dilarang melakukan perjalanan dinas dan menerima tamu dinas, terkecuali ada hal dinas yang mendesak.

Surat Instruksi Walikota Samarinda ini sama sekali tidak bicara soal PPKM Darurat.

PPKM atau Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat adalah kebijakan pemerintah nasional yang dikeluarkan sejak awal tahun 2021. PPKM menganti istilah PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar yang diperlakukan pada tahun 2020.

Istilah PPKM pertama kali dikenal lewat pemberlakuannya pada tanggal 11 sampai dengan 25 Januari 2021 berdasarkan instruksi Mendagri untuk diperlakukan di Jawa dan Bali.

Dalam perjalanannya PPKM diberlakukan dua kali, kemudian disusul dengan PPKM Mikro yang diberlakukan antara bulan Februari hingga Juni.

Kemudian mulai Juli 2021 muncul kebijakan tentang PPKM Darurat.

Dengan demikian dalam kebijakan pemerintah untuk menangani pandemi covid 19 dikenal istilah PPKM, PPKM Mikro dan PPKM Darurat.

Dan faktanya Pemerintah Kota Samarinda melalui Walikota memang tidak pernah mengeluarkan surat untuk memberlakukan PPKM Darurat. Istilah yang dipakai dalam Surat Instruksi Walikota adalah PPKM Mikro Diperketat.

Istilah PPKM Mikro Diperketat juga muncul dari Gubernur Provinsi Kalimantan Timur. Kategori PPKM MIkro Diperketat mengacu pada pembatasan mobilitas masyarakat di Zona Merah antara 75 hingga 100 persen.

Istilah PPKM Mikro Diperketat muncul dari instruksi presiden untuk melakukan pengetatan pemberlakuan PPKM.

Muasal instruksi pengetatan adalah kenyataan bahwa kasus baru didominasi oleh kluster keluarga sehingga skala penyebaran menjadi lebih besar.

Instruksi pengetatan ini dibarengi dengan 3 T yaitu testing, tracing dan treatment.

Maka memang benar Kota Samarinda tidak menerapkan PPKM Darurat. Pilihan PPKM Darurat di Kalimantan Timur dilakukan oleh Kota Balikpapan, Kota Bontang dan Kabupaten Berau.

baca juga : Buzzer Juga Butuh Kemapanan 

Berita dengan judul “Andi Harun : Mohon Izin Komandan, PPKM Kami Tolak dan Siap Bertanggungjawab” adalah clikbait.

Clikbaik sendiri merupakan sebuah teknik membuat judul agar menarik. Fenomena yang lazim di media sosial. Pembuat konten banyak menggunakan teknik ini agar menarik netizen untuk mengklik link dan kemudian membaginya.

Judul dengan teknik clikbait umumnya sukses membuat orang merasa mengerti, setuju atau kontra dan lain-lain tanpa membuka dan membaca atau melihat isinya. Dan karena merasa penting bahkan tanpa tahu isinya kemudian link tersebut dibagikan secara liar melalui berbagai platform media sosial.

Adanya kolom komentar di media sosial membuat judul ini yang diperbincangkan. Hingga pada akhirnya judul yang memakai teknik clikbait kemudian berkembang menjadi informasi yang salah, menimbulkan salah paham dan seterusnya.

Namun ada juga yang kemudian sengaja mengembangkannya menjadi informasi palsu alias bohong.

Dan tentu saja informasi semacam itu kemudian tidak hanya diperbincangkan di media sosial melainkan juga di perjumpaan-perjumpaan yang bersifat offline.

Untuk masyarakat kebanyakan ditengah tekanan terutama ekonomi di masa pandemi, penolakan atas PPKM yang dilakukan oleh Walikota menjadi angin segar, pemberi harapan.

Namun realitanya itu adalah harapan palsu.

Sebab sehari sesudah berita beredar, Walikota Samarinda kemudian melakukan bantahan atas isi pemberitaan sebelumnya.

Dalam sebuah konperensi pers, Walikota Samarinda meluruskan isi pemberitaan dengan mengatakan yang benar adalah jangan sampai Samarinda masuk dalam kategori PPKM Darurat.

Dengan demikian menjadi jelas bahwa sampai dengan tanggal 20 Juli 2021 Kota Samarinda masih tetap dalam status PPKM Mikro Diperketat.

Status ini sama dengan yang diinstruksikan oleh Gubernur Provinsi Kalimantan Timur melalui Intruksi Gubernur Kaltim No 14 Tahun 2021 tentang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat {PPKM M Berbasis Mikro Diperketat} Untuk Pengendalian Penyebaran Corona Virus Disease 2019.

Menurut Gubernur Kaltim pengetatan diberlakukan terutama di daerah Kabupaten Kutai Timur, Kutai Kartanegara, Berau dan Kota Samarinda, Bontang serta Balikpapan.

Dalam ‘Dialog Indonesia Bicara” dengan tema “Kesiapan Kaltim Menerapkan PPKM dan Ibu Kota Baru” yang disiarkan secara langsung di TVRI siaran nasional, saat ditanya tentang PPKM Berbasis Mikro DIperketat, Gubernur Kalimantan Timur mengatakan “PPKM Diperketat ini kurang lebihnya sama dengan PPKM Darurat, Hanya beda nama,”

Sebuah jawaban yang memang khas ala Gubernur Kaltim sebagaimana biasanya.

baca juga : Menebak Nafsu Politik Generasi Z 

Kemampuan berkomunikasi menempatkan manusia dalam level yang superior dari anggota kerajaan hewan lainnya. Monyet, Gajah, Harimau, Anjing, Kucing dan lainnya juga bisa berkomunikasi namun tidak sejago dan secanggih manusia.

Komunikasi kemudian menjadi amat penting bagi manusia karena didalam komunikasi ada informasi. Informasi menjadi kebutuhan manusia selain makan.

Temuan internet, munculnya world wide web yang disusul oleh blog dan kemudian aplikasi media sosial membuat informasi menjadi tumpah ruah. Jika sebelum media massa mainstream adalah penyedia utama informasi, kini harus berperang dengan para netizen yang sebelumnya adalah konsumen namun kini juga menjadi produsen informasi karena akun media sosialnya.

Siapapun kini, para penyampai informasi berusaha memenangkan persaingan untuk merebut perhatian. Cita-cita para penyampai informasi adalah viral. Informasi yang dipublikasikan diakses dan dibagi oleh netizen.

Untuk memenangkan persaingan maka digunakan berbagai teknik, salah satunya adalah klik bait, mengedepankan opini agar informasi lebih cadas dan mendahulukan konspirasi agar informasi menimbulkan keinginan tahuan pembaca atau pemirsanya.

Akhirnya dunia maya sebagai ruang komunikasi menjadi lahan miskomunikasi lewat informasi yang keliru, salah atau bahkan bohong.

Hoax menjadi merajalela.

Fenomena hoax sejatinya memang khas manusia, bukan baru-baru ini saja setelah maraknya media sosial. Hanya saja dulu sebelum internet lahir, koneksi atau lingkaran informasi masih terbatas sehingga hoax terlokalisir.

Maka pertanyaannya adalah kenapa manusia menyukai hoax atau kenapa manusia gampang percaya pada hoax?.

Menjadi manusia rasional adalah cita-cita manusia modern, pendidikan adalah jalannya.

Namun sebenarnya DNA manusia menyimpan memori panjang kecenderungan untuk lebih menggunakan otak emosional ketimbang otak rasional.

Sejarah panjang peradaban manusia lebih menyimpan ingatan bahwa keyakinan lebih menyelematkan ketimbang pengetahuan faktual. Separuh lebih rentang sejarah pengetahuan manusia mempercayai bahwa matahari mengitari bumi dan manusia tetap saja hidup meski sebenarnya bumilah yang mengitari matahari {geosentris}.

Sampai sekarang masih banyak orang yang percaya bumi itu datar. Kepercayaan yang berlawanan dengan kenyataan. Namun yang mempercayai itu hidupnya tetap baik-baik saja sebagaimana yang percaya bumi adalah bulat.

Sejarah peradaban manusia mencatat keyakinan atau kepercayaan terhadap hal-hal yang tidak benar atau tidak faktual ternyata membuat manusia lebih bisa bekerja sama, merasa senasib, menghindari konflik dan lain sebagainya.

Kebiasaan ini kemudian membuat manusia cara berpikirnya lebih memakai otak emosional, ingatan intrinsik. Dengan cara seperti ini manusia merasa lebih nyaman dan aman karena dengan cepat bisa memperoleh jawaban atau kepastian, meski kepastian itu dikonstruksi oleh dirinya sendiri.

Manusia kemudian lebih menyukai informasi yang disukai, informasi yang diinginkan ketimbang informasi faktual atau informasi yang dibutuhkan.

Maka berita dengan judul “Andi Harun : Mohon Izin Komandan, PPKM Kami Tolak dan Siap Bertanggungjawab” sungguh menyenangkan karena ketiadaan PPKM merupakan keadaan yang diingini oleh masyarakat.

Berita ini menyenangkan dan memberi kepastian sehingga masyarakat bisa berpikir bisa beraktifitas normal kembali, mencari penghidupan tanpa pembatasan.

Heroisme Walikota baru yang berani menolak PPKM, adalah angin segar karena masyarakat Kota Samarinda sudah lama merindukan Walikota yang berani.

Tapi ternyata semua itu adalah salah sangka, miskomunikasi sebab penulis beritanya ternyata tidak melakukan konfirmasi ulang atas apa yang didengar entah langsung atau tidak langsung dialog antara Walikota Samarinda dengan Pangdam Kodam Mulawarman.

Jadi bagaimana agar kita tidak mudah tertipu oleh berita hoax, kabar bohong atau informasi yang keliru?

Jangan biarkan jempol mengambil keputusan lebih cepat dari otak yang sedang loading. Ibarat kata jempolnya sudah digital tapi otaknya analog.

Maka jika membaca berita, kabar atau informasi, berilah jeda dulu sebelum menanggapi atau bereaksi. Kalau masih ada teh atau kopi di gelas nikmati dahulu. Kalau masih ada rokok, isap dulu asapnya dalam-dalam dan kepulkan asapnya tinggi-tinggi.

Beri waktu otak rasional kita untuk mencerna, memanggil ulang atau recall informasi yang terkait dengannya. Sebab menyusun pengetahuan episodik memang butuh waktu. Dengan demikian ketika kita akan posting atau menanggapi postingan di media sosial semua sudah kita pikirkan masak-masak bukan hanya sekedar mengikuti emosi yang dalam banyak kasus bisa berakhir di ruang interogasi polisi.

Note : sumber gambar ilustrasi – https://tugumalang.id/gelombang-menolak-ppkm-darurat-di-malang-mulai-muncul/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here