Dalam beberapa kali pemilu terakhir mulai terjadi pengeseran teritori pertarungan. Pemilu tidak lagi sehingar bingar pada masa-masa sebelumnya.  Dimana para calon lebih banyak berada di atas panggung, mimbar dan rapat-rapat terbuka yang mengandalkan pengerahan massa. Massa dikumpulkan sebanyak mungkin dengan cara menghadirkan bintang-bintang panggung, utamanya penyanyi dangdut yang lagi nge-hit.

Dengan kebanyakan pemilih yang mulai menemukan keasyikan berada di depan laptop atau mencet-mencet smartphone sambil duduk-duduk di rumah atau ngopi-ngopi di warung, goyangan penyanyi dangdut tak lagi menjadi sihir.

Untuk menentukan pilihan mereka tak perlu lagi datang mengenal seseorang lewat kampanye di lapangan, pidato berapi-api diatas panggung. Jejak seseorang dengan mudah ditelusuri lewat dunia maya. Seseorang bisa dikenal lewat jejak digitalnya.

Para politisi menyadari hal ini. Sudah lama mereka juga tahu bahwa banyaknya jumlah orang yang datang ke kampanye terbuka tidak mencerminkan jumlah yang akan memilihnya. Apalagi ketika yang datang kebanyakan dijemput, diongkosi dan diiming-imingi pemberian lainnya.

Setiap orang pada dasarnya sudah mempunyai preferensi pilihan. Membuat orang menjadi rasional dalam memilih, memilih berdasarkan ide atau gagasan yang ditawarkan oleh calon menjadi sulit untuk dicapai lewat kampanye terbuka dan massal.

Lagi pula jumlah orang yang memilih berdasarkan ide atau gagasan tidaklah banyak. Yang punya kemungkinan untuk dirubah pilihannya dan secara bisa menentukan kemenangan adalah orang yang mau memilih karena ‘pemberian’.

Sebagai catatan yang disebut pemberian itu bersifat personal, bukan pemberian yang bersifat umum atau general. Ada banyak calon yang sudah lama dikenal sebagai seorang yang ringan tangan membantu ini dan itu kepada masyarakat umum ternyata pada akhirnya tidak mampu meraup suara.

Sejatinya sekarang ini ada dua dunia, yaitu dunia nyata dan dunia maya. Dan di dunia nyata semakin banyak orang berada di dunia maya. Sehingga apa yang terjadi di dunia maya mempengaruhi dunia nyata.

Pun demikian dalam hal politik dimana dinamikanya kini kerap dipicu oleh apa yang berkembang di dunia maya. Wacana politik apa yang sedang ramai diperbincangkan di media sosial kemudian akan mewarnai perbincangan di ruang-ruang perjumpaan dunia nyata.

Perubahan cara komunikasi politik yang dulu diyakini harus face to face menjadi komunikasi lewat dunia maya dilakukan oleh Barrack Obama pada pemilu presiden Amerika Serikat tahun 2008. Bukan hanya untuk berkampanye, sebab lewat www.barrackobama.com, dia berhasil mengumpulkan donasi untuk dana kampanye sebesar 1 milliar USD.

Menjelang pemilihan, teman Obama di facebook sebanyak 1,7 juta, 510,000 teman di myspace dan 45.000 pengikut di twitter. 1.800 video kampanye Obama di Youtube berhasil meraup jam tonton sebanyak 14 juta jam. Totalnya ditonton sebanyak 50 juta kali. Khusus untuk video “Yes We Can” ditonton sebanyak 20 juta kali.

Hingga kemudian Obama mengungkapkan sebuah kredo “Salah satu keyakinan fundamental saya dari keseharian saya sebagai seorang community organizer adalah bahwa perubahan nyata datang dari bawah ke atas. Dan tidak ada alat yang lebih kuat untuk pengorganisasian akar rumput daripada internet,”

Kredo ini yang kemungkinan besar kemudian mempengaruhi politisi-politisi lainnya yang berkontestasi dalam pemilihan umum. Dan kemenangan Jokowi dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2012 salah satunya berkat lewat komunikasi di media sosial.

-000-

Sukses penggunaan internet dan media sosial dalam kampanye politik membuat para politisi berbondong-bondong memakainya. Umumnya mereka berpikir memakai media sosial akan menjadi lebih mudah dan murah dalam menjangkau khalayak.

Dan entah belajar dari mana dalam tim kampanye ada banyak orang yang kemudian mengaku ahli manajemen sosial media. Membuat tim ini dan itu, memproduksi konten dan kemudian memborbardir akun media sosial dengan aneka postingan.

Namun kebanyakan mereka lupa bahwa yang tengah dilakukan itu berada dalam kancah dunia maya, bukan dunia nyata dimana kehadiran politisi itu dikenal. Baik politisi maupun tim kampanyenya kerap lupa bahwa terkenal di dunia nyata tidak otomatis terkenal juga di dunia maya.

Masuk ke dunia maya, seseorang yang terkenal dan terhormat mesti siap disapa dengan hey, bro, om, pak lik, pak de, acil, tante, sis dan lain-lain. Sapaan yang mungkin tidak lazim diterimanya di dunia nyata.

Biasa mendapat tepuk tangan, tempat terdepan, disambut di depan pintu dan lainnya, sesuatu seperti itu tidak otomatis bisa diperoleh di media sosial. Postingan yang dipersiapkan dengan baik bisa jadi tidak ditanggapi oleh khalayak, dianggap sepi. Kalaupun ada yang memuji dan memberi jempol ternyata orangnya sendiri.

Maka untuk mereka yang ingin menjadikan media sosial sebagai medium kampanye, menjangkau masyarakat untuk meningkatkan popularitas dan elektabilitas, mulailah dengan merasa tidak populer di media sosial. Datanglah sebagai orang biasa sebagaimana yang lainnya dan mulailah memberi inspirasi, mencerahkan, mendengar dan menanggapi orang lain dengan wajar.

Media sosial bekerja berdasarkan algoritma, sesuatu yang bagaimana persisnya hanya diketahui oleh pengembangnya. Memahami atau berusaha mengerti bagaimana algoritmanya bekerja menjadi penting agar postingan atau konten yang diproduksi tidak menjadi sia-sia.

Rajin memposting atau kuantitas postingan bukanlah ukuran utama. Meski konsisten itu penting namun jika tak mampu memberi impresi akan tertimpa oleh postingan dari orang lainnya. Algoritma tidak akan menjadikan postingan itu sebagai rekomandasi bagi pemakai lainnya.

Agar postingan disukai atau dibagi yang perlu disadari adalah siapa yang menjadi sasaran. Ada banyak postingan receh menjadi viral karena memang ditujukan untuk pasar receh yang jumlah pengemarnya banyak. Maka kenali pasar atau tujuan kampanye dan buatlah konten sesuai dengan selera mereka atau pesan yang mereka butuhkan.

Ada workshop, seminar atau acara lain yang ditawarkan oleh banyak pemasar yang menawarkan cara cepat untuk menguasai media sosial. Percayalah bahwa tidak ada cara cepat untuk menjadi terkenal di media sosial. Meski ada beberapa anomaly, namun biasanya yang viral juga tak akan bertahan lama.

Membayar atau memasang iklan juga tidak akan selalu menolong andai konten yang kita produksi tidak mampu menarik perhatian.

Akan menjadi lebih bermasalah lagi apabila media sosial hanya dijadikan ajang pencitraan gratis. Sebab semua orang melakukannya. Pencitraan atau menampilkan diri secara tidak otentik yang keseringan akan membuat orang jadi bosan. Tampilah apa adanya sebab hal yang menarik tidak selalu hal-hal yang luar biasa. Pahami apa yang menjadi keresahan, kegelisahan dan kerinduan banyak orang, itu yang lebih akan menyentuh.

-000-

Pada pemilu 2024, kelompok yang potensial untuk diperebutkan suaranya adalah mereka yang disebut dengan generasi Z. Mereka adalah orang-orang yang lahir antara tahun 1995 sampai dengan tahun 2010.

Generasi Z adalah generasi digital atau digital native karena sejak mereka lahir internet sudah melingkupi mereka. Berbeda dengan generasi sebelumnya yang adalah generasi peralihan atau digital migrant.

Generasi yang sejak kecil sudah mengenal teknologi dan akrab dengan gadget ini seringkali dianggap apolitis. Padahal bisa jadi kegiatan politik mereka tidak kelihatan karena disangka sedang mendengarkan musik dengan headset, namun ternyata tangannya sedang berada di layar smartphone berselancar memantau perkembangan politik dan sesekali mengetik untuk memposting pikiran, pendapat atau tanggapan di akun media sosial kesukaannya.

Dalam dua atau tiga pemilu belakangan ini, pemilih pemula, orang muda atau lazim disebut sebagai generasi millennial menjadi sasaran kampanye para politisi di internet. Namun bisa dipastikan tidak banyak kampanye yang mampu menyentuh kelompok ini. Sehingga dalam setiap pemilu keterlibatan atau partisipasi mereka sebagai pemilih selalu rendah.

Menjangkau kelompok generasi digital atau generasi Z perlu ketajaman dalam melihat kecenderungan mereka dalam pemakaian media sosial. Tidak semua media sosial mereka gemari, meski mungkin mereka mempunyai akunnya.

Menjangkau generasi Z dan kemudian berfokus pada facebook pada masa ini jelas salah sasaran. Sebab kebanyakan dari mereka sekarang lebih memakai instagram dan menonton youtube. Tapi kecenderungan ini bisa saja berubah atau bersifat fluktuatif. Maka mengenali kebiasaan mereka bermedia sosial menjadi penting agar pesan tidak salah sasaran.

Berkaitan dengan konten, kelompok generasi Z meski kerap digambarkan sebagai generasi rebahan, mereka sejatinya kelompok yang peduli pada masalah sosial. Kenapa?. Karena mereka adalah generasi yang tidak merasakan semua puja-puji kekayaan alam negeri ini. Mereka tidak merasakan lingkungan yang asri, sungai yang jernih, udara yang segar, masyarakat yang guyub rukun. Mereka hanya mendengar cerita dan kemudian mengalami banjir, kekeringan, mati air, banyak konflik di masyarakat dan lainnya. Sehingga mereka kemudian lebih sensitif pada isu sosial dan lingkungan karena merasakan ketidakenakan sebagai korban.

Generasi ini juga generasi yang haus pengetahuan dan ketrampilan serta keinginan untuk meluaskan wawasan. Maka konten yang informatif sangat mereka sukai, tutorial misalnya menjadi kegemaran mereka. Mereka juga sangat suka berbagai apa yang mereka rasa diperlukan oleh rekan sebayanya.

Meski lingkaran sosialnya tidak selebar generasi sebelumnya, generasi Z tumbuh sebagai orang-orang yang loyal pada komunitas atau lingkaran pertemanannya. Mereka intens saling sapa dan memberitahukan apa yang mereka lakukan, mereka temukan, mereka sukai dan lain-lain kepada teman-temannya.

Memahami generasi dengan karakter seperti itu menjadi amat penting untuk dilakukan. Dan sekali bisa menyentuh mereka maka akan disukai untuk seterusnya.

Jadi untuk siapa saja yang ingin berkontestasi dalam pemilu 2024 dan menjadi generasi Z sebagai sasaran untuk mendulang suara, jangan sibukkan diri untuk berperang dengan mencari-cari kelemahan lawan lalu mengobralnya di media sosial.

Mulailah bertekun diri untuk mengenali kecenderungan bermedia sosial generasi Z dan kemudian temukan strategi dan substansi konten yang akan menyentuh hati mereka. Mulailah sejak sekarang sebab ini bukan era Vedi, Vini dan Vici lagi.

note : sumber gambar – https://kumparan.com/millennial/generasi-z-dinilai-lebih-tertarik-politik-daripada-milenial-1v2zULb4Ami

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here