“Mas.. mas … pantas gak sih Puan Maharani jadi calon presiden pada pemilu 2024 nanti?”

Haduh pertanyaan macam ini hanya bikin pusing, dijawab juga gak bakalan memuaskan dan nggak dijawab nanti disangka nggak peduli pada politik kenegaraan.

Kalau bicara pantas gak pantas, ya pantas saja. Bukankah jejak politik Puan sudah panjang dan mumpuni.

“Prestasinya mas?”

Ya, ampun memangnya untuk jadi calon presiden perlu prestasi?

Untuk jadi calon presiden itu yang penting kan diusung dan didukung oleh partai yang jumlah kursi atau suaranya memenuhi apa yang diisyaratkan oleh undang-undang. Titik, itu saja.

“Kalau Prabowo mas?”

Nah, ini yang paling memenuhi syarat. Soalnya sudah pernah mencalonkan diri dan mengikuti kontestasi namun belum pernah terpilih apalagi menduduki jabatan presiden sampai dua kali. Artinya beliau yang paling punya pengalaman. Kalau pemilihan pencalonan presiden seperti lowongan kerja, nah bagian paling penting yang sering ditulis adalah sudah berpengalaman.

“Jadi Puan dan Prabowo yang paling punya kemungkinan ya mas?”

Ya, sebenarnya tidak. Masih banyak yang lain yang punya kesempatan. Toh waktu masih panjang untuk melakukan ini dan itu yang kemudian bisa mempengaruhi pilihan atau keputusan dari partai-partai politik.

-000-

Belum terlalu lama saya menyadari bahwa dalam berpolitik waktu itu pendek. Seorang politikus sejati tidak akan memandang waktu 10 sampai 15 tahun itu sebagai menghabiskan umur. Waktu adalah investasi.

Maka tak heran jika ada seseorang setiap kali pemilu selalu ikut kontestasi, meski tidak terpilih pada kesempatan berikutnya ikut lagi. Bisa jadi partai atau perahunya sama tapi bisa juga berbeda. Apapun partainya toh tujuannya sama yaitu kedudukan politik.

Jadi kalau pemilu presiden baru saja selesai, presidennya baru dilantik namun survey soal presiden berikutnya sudah dilakukan ya tidak perlu heran. Apalagi presiden yang sekarang masa tidak lagi bisa mencalonkan diri dalam pemilu berikutnya.

Dengan begitu penting sejak jauh-jauh hari, calon presiden yang akan bersaing pada pemilu 2024 nanti mulai diperbincangkan, kalau perlu mulai disiapkan.

Survey sendiri menjadi penting, yang pertama adalah untuk memunculkan banyak calon. Sebab begitu ada banyak calon maka terbuka peluang bagi banyak pihak untuk ikut terlibat dalam pemilu sejak awal.

Toh tidak semua yang disebut dan kemudian dipaparkan dalam hasil survey benar-benar ingin jadi presiden di pemilu 2024 nanti. Beberapa di antaranya cukup senang kalau namanya disebut-sebut untuk mengukur peluang. Kalau tak terlalu kuat di 2024 nanti toh masih bisa menunggu pemilu berikutnya.

Lagian banyak pula yang merasa sudah cukup senang digadang-gadang, meski nanti tak ada yang mencalonkan. Pernah disebut-sebut sebagai calon presiden buat politikus sudah menjadi prestasi tersendiri.

Dari berbagai survey terbukti nama Prabowo masih teratas. Perolehan angkanya meski tidak tinggi-tinggi amat namun masih selalu lebih tinggi dari sosok lainnya. Sedangkan Puan masih ajeg menduduki peringkat bawah.

Tapi jangan khawatir, toh masih ada waktu. Yang angkanya tinggi bisa jadi tak punya peluang untuk naik, sementara yang angkanya rendah masih punya waktu untuk mendongkrak.

Yang menjadi menarik untuk dilihat dalam perjalanan menuju pemilu 2024 justru persaingan antara sosok yang ‘punya’ partai dan yang tidak punya partai.

Beberapa sosok yang kini sedang menjadi pemimpin atau gubernur di beberapa provinsi. Mereka adalah Anies Baswedan, Ganjar Pranowo dan Ridwan Kamil.

Inilah tiga nama kepala daerah yang selalu menduduki level atas dalam berbagai survey mengalahkan yang ‘punya’ partai atau elit pimpinan partai semacam Puan Maharani, Agus Harimurti Yudhoyono, Erlangga Hartanto, Muhaimin Iskandar, Sandiaga Uno dan lain-lain.

Meski demikian mereka yang ‘punya’ partai atau para elitnya cenderung lebih popular.

-000-

Dalam pemilu dikenal istilah popularitas dan elektabilitas. Popularitas terkait dengan tingkat keterkenalan dalam masyarakat. Sementara elektabilitas adalah kesediaan masyarakat untuk memilihnya dalam jabatan tertentu.

Kebanyakan orang meyangka bahwa popularitas otomatis akan membuat elektabilitas seseorang menjadi tinggi. Idealnya memang demikian namun dalam kenyataannya popularitas tidak selalu seiring dengan elektabilitas.

Popularitas lebih terkait dengan sering tidaknya muncul atau jadi perbincangan di masyarakat. Namun yang disebut elektabilitas adalah efek dari kemunculan dalam masyarakat. Jika hanya berita saja atau bahkan berita buruk, maka popularitasnya justru akan menurunkan elektabilitas.

Dalam konteks elektabilitas ini maka Ganjar, Anies dan Ridwan mempunyai potensi tinggi untuk meningkatkannya dibanding Prabowo, Puan dan para elit partai lainnya.

Ketiga Gubernur itu punya lapangan dan peluang untuk membuktikan kompetensinya dalam memimpin karena mereka mempunyai peran strategis dalam mengendalikan pandemi di wilayahnya dan kebijakan lain yang terkait dengan pemulihan ekonomi masyarakatnya.

Sementara Prabowo dalam kedudukannya sebagai Menteri Pertahanan akan sulit melakukan sesuatu yang mengesankan bagi masyarakat luas. Pun demikian dengan Puan yang merupakan Ketua DPR RI, dalam kedudukannya sekarang sulit juga untuk membuat kebijakan yang bakal dipuji oleh kebanyakan masyarakat Indonesia.

Hanya saja pemilu memang tidak hitam putih. Masih ada waktu bagi partai-partai untuk melakukan simulasi dan ekperimentasi. Belum juga ada calon yang pasti sehingga kebanyakan masih wait and see.

Namun jika pemilu dilakukan hari ini peluang terbesar untuk memenangkannya ada pada Ganjar, Anies atau Ridwan Kamil.

note : sumber gambar – https://www.merdeka.com/politik/deretan-kepala-daerah-yang-masuk-bursa-capres-2024-siapa-paling-unggul.html