Waktu mulai belajar bahasa Inggris, kalimat I love you segera menjadi favorit, mudah dipahami hingga kemudian melekat di hati. Saat mulai bertambah perbendaharaan vocabulary maka kalimat time is money menjadi slogan yang sering diucapkan dan dituliskan di berbagai tempat.
Waktu adalah uang sepertinya memang cocok dengan nilai yang kerap diajarkan pada waktu itu. “Jangan melewatkan kesempatan, sebab kesempatan tak akan datang dua kali,” itulah nilai yang saat itu banyak diajarkan terutama kepada generasi muda.
Tujuannya sebenarnya mulai agar generasi penerus bangsa tetap bersemangat mengejar cita-cita, tidak malas-malasan atau membiarkan waktu berlalu begitu saja.
Hanya saja dalam perkembangannya nilai tersebut menjadi negatif. Kesempatan yang ada tidak dinilai sebagai baik atau buruk, layak diambil atau tidak. Pendek kata begitu ada kesempatan langsung sikat, bahkan ketika sebenarnya tidak ada kesempatan maka akan dicari-cari atau dicuri-curi. Hingga terkenal istilah ‘cari kesempatan dalam kesempitan’.
Dalam kehidupan sehari-hari kerap muncul yang disebut fenomena. Sebuah kejadian atau peristiwa yang kita lihat dan alami namun belum terang benar menyangkut penyebab, asal muasal dan hal-hal lainnya.
Berbagai fenomena itu kemudian akan menimbulkan tafsir, penjelasan tentang apa yang terjadi namun tanpa didasari oleh pengetahuan dan pemahamanan yang valid tentangnya. Keterbatasan pengetahuan bisa dikarenakan apa yang terjadi adalah sesuatu yang sama sekali baru sehingga belum ada penelitian yang dalam tentangnya, atau bisa jadi pengetahuan tentang hal itu hanya beredar pada kalangan yang sangat terbatas.
Dan adalah kebiasaan kita untuk segera mencari jawab atas apa yang terjadi, kita manusia kerap kali tidak mampu atau tak tahan berada dalam situasi tanpa kepastian. Ketiadaan jawaban yang bisa menjadi pegangan entah benar atau salah akan membawa pada kondisi yang tidak aman. Tanpa jawaban manusia selalu merasa terancam.
Salah satu fenomena adalah wabah, terlebih yang disebabkan oleh virus, bakteri atau penyebab lainnya yang sebelumnya tidak ada. Munculnya sebuah penyakit yang cepat menular dari orang ke orang akan menimbulkan kekhawatiran. Apalagi jika penyakit itu ganas dan menimbulkan banyak kematian.
Orang akan bertanya darimana sumbernya, bagaimana cara penularannya, bagaimana cara mencegahnya, bagaimana cara mengobati jika terinfeksi, apa obatnya, kapan obat dan vaksinnya bisa ditemukan, apakah obat atau vaksin efektif untuk menyembuhkan dan mencegah penularan, bagaimana perlakuan terhadap mereka yang meninggal karena infeksi tersebut dan lain sebagainya.
Deretan pertanyaan panjang itu tak selalu mudah untuk dijawab. Karena butuh waktu untuk melakukan penelusuran, tentang kapan dan bagaimana untuk pertama kali penyakit itu berkembang.
Hingga kemudian muncul duga-duga atau anggapan dasar yang dipakai sebagai jawaban sementara. Titik berangkat yang mesti dibuktikan kebenarannya.
Soal Covid 19 yang muncul pertama kali di Wuhan, Tiongkok, memunculkan dua dugaan. Dugaan pertama adalah muncul secara alami karena penularan dari binatang ke manusia. Di pasar Wuhan banyak dijual binatang liar, salah satunya adalah kelelawar. Dari kelelawar inilah, Covid 19 ditularkan kepada manusia.
Dugaan kedua adalah kebocoran laboratorium. Di Wuhan ada laboratorium yang melakukan penelitian atas virus corona. Ilmuwan di laboratorium ini dilaporkan pernah melakukan penelitian pengembangan virus corona hibrida baru. Laporan tentang percobaan ini diterbitkan pada tahun 2017 lalu.
Terkait dengan adanya laboratorium yang melakukan penelitian terhadap virus corona itu, selain dugaan kebocoran akibat kesalahan manusia, muncul dugaan lain yaitu sengaja ditularkan entah demi kepentingan penelitian maupun kepentingan lain yang disebut sebagai perang biologi.
Tentu semua itu adalah dugaan-dugaan yang mesti dibuktikan kebenarannya. Namun salah satu fakta yang telah tebukti dan terjadi berkali-kali adalah zoonosis. Atau penyakit yang menular dari hewan ke manusia. Dan kemudian dari manusia ke manusia lainnya.
baca juga : Olok Olok Yang Berakhir Tidak Lucu
Berpikir konspiratif adalah salah satu kecenderungan terbesar manusia. Cara pikir ini akan menghasilkan sebuah kebenaran yang didasari atas keyakinan. Padahal kebenaran tidak boleh dibangun atas dasar keyakinan atau kepercayaan, kebenaran harus didasarkan atas bukti atau cara berpikir konfirmatif. Sebuah praduga mesti diuji berulang-ulang dan jika hasilnya relative menetap maka bisa diambil kesimpulan sebagai pembenaran.
Namun berpikir konfirmatif selalu mempunyai resiko, bukan hanya menyangkut waktu melainkan juga ketersediaan perangkat penelitian. Kesimpulan bisa sulit diambil karena alat untuk mencari bukti belum tersedia. Dan dalam kondisi seperti ini maka kesimpulan tidak mutlak, hanya sebuah kesimpulan sementara.
Oleh karenanya model konfirmatif tidak selalu bisa memberikan kepastian sebab cara berpikir ini hanya akan menyajikan tentang apa yang terjadi, sementara manusia kerap kali lebih butuh penjelasan tentang bukan tentang apa melainkan bagaimana seharusnya.
Maka wajar dalam menghadapi fenomena, seperti pandemi Covid 19 ini sebagian besar masyarakat berpikir konspiratif.
Terlebih dalam perkembangannya disaat masyarakat terjepit karena prosedur kesehatan, status pandemi yang membuat diberlakukan kebijakan pembatasan sosial, masyarakat menemukan banyak pihak yang melakukan aksi ambil untung.
Di tengah masyarakat yang khawatir, was-was, frustasi, putus asa, tidak jelas masa depannya namun menemukan adanya permainan harga, penimbunan ini itu yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, bantuan yang tidak tepat sasaran, penyaluran bantuan yang ditunggangi pencitraan, maka dugaan tentang konspirasi menjadi semakin menguat.
Dan pada dasarnya konspirasi di masa pandemi ini memang tak sulit untuk dibuktikan adanya. Pejabat pemerintah pun berkali-kali menyebut adanya mafia atau kartel yang melakukan persekongkolan buruk. Pun polisi berkali-kali telah menangkap oknum-oknum yang mengambil untung dari pandemi ini.
Pertanyaannya adalah apakah konspirasi itu memang didesain sebelum pandemi atau terjadi setelah pandemi?
Kecurigaan terhadap adanya konspirasi sejak awal ditujukan kepada elit global yang terkait dengan industri farmasi. Covid 19 diciptakan agar perusahaan farmasi, pembuat obat dan vaksin bisa mengeruk untung.
Faktanya sampai sekarang obat untuk Covid 19 belum ditemukan, kalau beberapa kali mengemuka soal obat ini dan itu yang efektif terbukti juga hal itu tak berlaku umum. Dan vaksinnya juga berhasil dikembangkan satu tahun kemudian. Dari beberapa temuan vaksin ada penemunya yang tidak mengambil fee atau royalti. Temuannya disumbangkan untuk kesehatan masyarakat.
baca juga : Pandemi dan Perangai Ilmiah Kita
Sampai sekarang masih ada saja orang yang tidak percaya bahwa bumi mengitari matahari. Tidak sedikit pula yang menyakini bahwa bumi adalah datar bukan bulat. Dan keyakinan itu diungkapkan secara ekplisit tanpa malu-malu. Bahkan ada kelompok yang disebut dengan bumi datar.
Keyakinan terhadap kebenaran semacam itu bisa jadi tidak berbahaya dan tak akan punya pengaruh apapun. Hanya saja beberapa diantaranya akan menyebabkan timbulnya masalah dan korban di masyarakat.
Saat pemberlakuan PPKM Darurat awal Juli 2021, media dikejutkan dengan kemunculan dokter Lois. Seorang dokter yang terang-terangan menyatakan tak percaya bahwa Covid 19 adalah virus. Dia juga meyakini yang meninggal karena Covid 19 itu di rumah sakit dan hal itu dikarenakan interaksi antar obat. Dia menyarankan yang merasa sakit untuk mengkonsumsi vitamin C banyak-banyak.
Banyak orang yang kemudian percaya, terutama mereka yang meyakini bahwa korban Covid 19 sesungguhnya ‘di-covid-kan’.
Akibatnya ada orang yang meninggal karena ketika dirawat di rumah sakit tidak mau memakan obat yang diberikan, ada yang tidak mau pergi untuk dirawat di rumah sakit dan ada yang overdosis mengkonsumsi vitamin c.
Orang kemudian menjadi ‘dokter’ bagi dirinya sendiri karena percaya pada dokter Lois.
Kalau Covid 19 bukan penyakit untuk apa ribuan dokter dan tenaga kesehatan lainnya mempertaruhnya nyawa mereka sendiri untuk menolong orang lain?.
Tidak sedikit dokter dan tenaga kesehatan yang menjadi korban, tertular karena merawat penderita Covid 19. Lingkungan rumah sakit menjadi salah satu yang paling berisiko.
Entah dasar apa yang dipakai oleh dokter Lois untuk menyimpulkan tentang Covid 19 dan kematian yang disebabkan olehnya. Tidak ada hasil riset atau penelitian yang diterbitkan olehnya atas hal itu. Dengan demikian apa yang disampaikan olehnya adalah dugaan yang kemudian diyakini olehnya sebagai kebenaran.
Dan tidak sedikit orang yang berpikir dan bertindak seperti dokter Lois, hanya saja karena dia seorang dokter kemudian menjadi ‘idola’. Pernyataan dokter Lois dianggap valid karena kompetensinya dalam bidang kesehatan.
Padahal pernyataan dokter Lois bertentangan dengan kebanyakan ahli kesehatan lainnya. Dan tidaklah mungkin kedua pernyataan yang bertentangan itu sama-sama benar. Salah satunya pasti salah atau bahkan dua-duanya bisa salah.
Penyakit adalah realitas biokimia. Tidak hanya bisa didekati dengan penglihatan atau pandangan mata saja. Ada banyak kerja laboratorium untuk mengenalinya. Sebab dibutuhkan banyak alat untuk ‘melihat’ apa yang tidak terlihat oleh mata.
Maka menyimpulkan hanya dari apa yang dilihat oleh mata, dirasa oleh indera akan menghasilkan sebuah kesimpulan yang bias keyakinan. Dan kebenaran biokimia bukanlah kebenaran karena keyakinan. Diyakini atau tidak, tetaplah benar.
Hanya saja kebenaran konfirmatif kerap kali kurang mengasyikkan dan tidak seru untuk diperbincangkan. Maka kebenaran konspiratiflah yang selalu akan menyeruak. Dan kebenaran konspiratif juga lebih bersikap persuasif, berusaha mempengaruhi banyak orang sebab dengan dipercaya oleh banyak orang seolah kebenaran akan terbukti.
Para akademisi, peneliti, ilmuwan atau siapapun yang berpengetahuan harus tetap mengatakan apa itu Covid 19, bagaimana cara penularan, bagaimana pencegahannya, bagaimana prosedur perawatan dan lain sebagainya.
Namun tetap saja akan ada yang tidak percaya, bukan sekedar skeptis melainkan sinis.
Akan ada orang-orang yang tetap tidak mau menerima kebenaran Covid 19 secara ilmiah dan akademis. Pengetahuan tidak akan merubah kelakuan atau keyakinan mereka.
Orang-orang yang sejak awal tidak percaya dan tidak mau percaya ini akan bersorak jika ada orang-orang seperti dokter Lois. Dokter Lois akan menjadi juru bicara mereka.
Pun andai kemudian dokter Lois berubah pikiran, itu juga tak akan membuat mereka yang tadinya ‘memuja’ nya akan mengikuti pikiran barunya. Tidak, yang tak percaya akan tetap tak percaya dan mereka akan mencari patron baru lagi.
Ini mirip seorang yang percaya dukun, lalu pergi ke dukun itu dan tidak sembuh, bukannya membuat tak percaya pada dukun melainkan mencari dukun baru yang dianggap lebih manjur.
Semenjak uang ditemukan sudah ada dukun yang mengklaim bisa menggandakan uang. Dan faktanya yang terjadi adalah orang-orang yang tertipu, bukan bertambah uangnya melainkan justru kehilangan uang. Hanya saja itu tak membuat orang tobat berkeinginan untuk menggadakan uang, buktinya sampai hari ini masih banyak saja orang-orang yang terus tertipu oleh dukun pengganda uang.
Pandemi Covid 19 memang menyebabkan kegamangan, ketidakpastian dan ketakutan. Kita ingin situasi ini segera berlalu. Namun mengatakan bahwa Covid 19 itu bukan virus, Covid 19 itu rekayasa para elit global atau apapun, keyakinan yang mungkin menenangkan karena kita menemukan ‘dalang’ nya, hal itu tidak akan menolong kita semua untuk mengusir jauh-jauh Covid 19 dari muka dunia.
Konspirasi bukanlah teori, sebab sesuatu bisa dikatakan teori jika terbukti, terbukti setelah diuji berkali-kali. Dan yang namanya konspirasi selalu sulit dibuktikan, tapi kalau mengambil untung dari kesulitan banyak orang, atau mengambil kesempatan dalam kesempitan memang benar adanya.
Dan merebaknya aksi ambil untung di masa pandemi inilah yang kemudian membuat banyak orang percaya adanya konspirasi.
note : sumber gambar – bbc








