KESAH.IDMotor listrik punya potensi besar di masa mendatang, terlebih jika program transisi energi bisa dicapai oleh masyarakat global. Harga yang masih mahal dan infratruktur pendukung yang masih terbatas membuat penjualan motor listrik pertumbuhannya tidak seperti yang dibayangkan. Apalagi insentif yang dijanjikan oleh pemerintah tak terwujud, penjualan motor listrik makin meredup.

Dalam urusan kendaraan bermotor roda dua, saya bukan termasuk kategori first adopter motor matik. Belajar naik motor memakai motor berkopling, pengalaman saya menaiki sepeda motor matik terjadi ketika Honda dan Yamaha sudah lama mengeluarkan berjenis-jenis motor matik. Hingga kemudian persaingan mereka memasuki adu keren motor matik gambot semacam PCX dan Nmax.

Ketika hampir semua teman setongkrongan memakai motor matik hingga cat-nya sudah memudar, saya masih memakai Supra X, yang rem belakangnya terkadang suka lengket.

Baru ketika anak saya mau masuk SMA, motor matik menjadi penghuni garasi rumah.

Karena saat masuk SMA bertepatan dengan pandemi Covid 19, motor matik kecil produksi Honda itu lebih banyak saya pakai untuk wira-wiri. Motor yang tadinya akan dipakai oleh anak saya untuk pulang pergi sekolah sendiri, pada akhirnya justru menjadi motor untuk mengantar. Saya setiap hari mengantar dan menjemput ketika mulai sekolah tatap muka.

Naik motor matik ternyata lebih enak dari motor kopling. Akselerasinya lebih baik, tinggal di gas dan tak perlu sibuk menaikkan atau menurunkan kopling. Remnya lebih pakem karena tuas rem depan dan belakang sama-sama berada di stang, bisa ditarik serempak hingga motor tidak ngesot.

Kaki juga terasa lebih santai saat mengendarai motor matik. Dudukan untuk menaruh kaki lebih lebar ketimbang motor kopling karena satu kaki berada di atas pedal rem dan satu kaki berada diatas tuas kopling.

Masalah telat menurunkan kopling di tanjakan tidak terjadi lagi. Motor matik biasanya gagal naik tanjakan karena vanbelt-nya mulai aus.

Di rumah masih ada motor kopling dan mulai sering nganggur hingga berdebu. Ternyata mengendarai motor matik memang lebih nyaman, karena lebih praktis dan mudah dikendarai. Motor matik tak perlu pindah-pindah gigi, berkendara nggak ribet.

Bentuknya yang lebih ringkas juga cocok dan gesit bermanuver di tengah kemacetan kota, tak perlu memainkan tuas kopling, gas dan rem untuk menjaga agar mesin tak mati. Mengendarai motor matik di tengah kemacetan tak selelah mengendarai motor kopling.

Desain motor matik juga memungkinkan pengendara duduk lebih santai, kaki punya sandaran, posisi duduk menjadi lebih nyaman.

Dengan semua keunggulan itu pantas jika kemudian motor matik lebih menjadi favorit, menjadi pilihan bagi banyak orang. Desain motor matik juga unisex, sehingga satu jenis motor cocok dipakai untuk semua usia dan gender.

Dengan semua kelebihan itu pantas jika penjualan motor matik meningkat dari tahun ke tahun. Konon di tahun 2025 ini penjualan motor matik sudah mencapai 90 persen dari jenis motor yang terjual.

Dan jenis motor matik yang paling disukai adalah berjenis scooter, atau skutik, sekuter matik.

Mungkin popularitas skuter matik ini punya hubungan dengan memori masyarakat Indonesia yang menempatkan Vespa produksi Piaggio sebagai motor ikonik. Vespa dicitrakan sebagai motor retro modern, simbol saya hidup dengan citra elegan dan eklusif.

Desain Vespa tidak membosankan dan bertahan lama. Konon harga jualnya juga tetap tinggi.

Tetapi karena harganya relatif mahal, maka skuter matik produksi Honda, Yamaha dan lainnya menjadi pilihan yang lebih masuk akal untuk berkendara dengan gaya.

BACA JUGA : Dikeroyok Marquez

Seiring dengan kampanye pemanasan global dan penurunan emisi yang kemudian mengerucut menjadi proyek global transisi energi, masa depan motor matik combustion atau yang digerakkan oleh mesin berbahan bakar minyak sepertinya bakal berakhir.

Tiongkok dengan cepat menangkap peluang ini. Dari China membanjir sepeda listrik, sebagian bentuk dan ukurannya sudah sama dengan motor.

Sampai ke kota-kota kecil, muncul distributor sepeda listrik yang bentuk dan modelnya menggoda hati.

Lalu disusul oleh munculnya motor listrik. Lagi-lagi Tiongkok memimpin, tentu saja karena harganya yang kompetitif dibanding produk motor listrik dari negara lain.

Produsen motor listrik lokal atau nasional juga muncul bak cendawan di musim hujan. Entah benar-benar diproduksi di Indonesia atau hanya asembling saja. Kita pernah punya pengalaman dengan mobil atau motor nasional, yang sejatinya merupakan produksi dari Korea Selatan atau Jepang.

Mobil Timor singkatan dari Tenaga/Teknologi Industri Mobil Rakyat yang diklaim sebagai Mobil Nasional atau Mobnas, merupakan produksi KIA dari seri atau jenis KIA Sephia.

Sedangkan Bimantara Cakra, yang juga diklaim sebagai Mobnas merupakan re-badge dari Hyundai Accent, juga produksi Korea Selatan.

Motor Binter pernah terkenal diawal tahun 80-an. Binter diproduksi oleh PT Bintang Terang. Diklaim sebagai motor nasional, Binter sesungguhnya merupakan motor produksi Kawasaki, Jepang yang dipasarkan di Indonesia dengan merek lokal. Salah satu motor yang legendaris dari Binter adalah Binter Mercy.

Sama seperti Timor dan Bimantara Cakra, Binter juga gulung tikar. Bukan karena tidak laku melainkan Edy Tansil sang pemilik tersangkut kasus korupsi penggelapan uang. Edy Tansil divonis 20 tahun penjara namun berhasil meloloskan diri dari balik jeruji besi dan kabur ke luar negeri. Mulai saat itu Edi Tansil tak diketahui rimbanya.

Timor, Bimantara Cakra dan Binter muncul di jaman pemerintahan Suharto. Kalau tidak salah waktu itu juga muncul istilah Mobil Rakyat. Istilah ini merujuk pada mobil yang berharga murah. Salah satu yang memproduksi adalah Mazda dengan seri Mazda MR.

Obsesi mobil dan motor listrik terus dipelihara. Presiden RI Joko Widodo bahkan memulainya saat menjadi Walikota Solo lewat Mobil Esemka. Mobil ini Esemka dipakai sebagai mobil dinas dan mengantar Joko Widodo ke Jakarta untuk memimpin Ibukota.

Memasuki era kendaraan listrik, lebih banyak lagi upaya dan klaim motor listrik produksi lokal. Salah satu yang menjadi pioner adalah Gesits.

Selain itu ada juga merek United E Motor, Selis, Rakata, MAKA Calvary, Polytron, Electrum, Quest Motor, NEU Green dan lain-lain.

Pasar motor listrik juga diramaikan oleh produk Tiongkok seperti Yadea, Davigo, Viar, Luyuan, Niu dan lain-lain.

Selain produsen baru, motor listrik yang dipasarkan di Indonesia juga diproduksi oleh perusahaan motor lama dari Jepang. Honda mengeluarkan motor listrik Honda EM1 e, Honda ICON e dan Honda CUV e. Benelli, produsen motor mesin dengan bahan bakar minyak yang berasal dari Tiongkok, mengeluarkan Benelli Dong yang digerakkan oleh listrik.

Produsen Jepang lainnya yakni Kawasaki juga memboyong motor listrik Ninja e-1 dan Z e-1.

BACA JUGA : Perang Marc

Dengan harga yang relatif lebih mahal dari motor berbahan bakar minyak, penjualan motor listrik tidak semeriah yang diharapkan. Bahkan animo untuk membeli motor listrik kalah dengan animo untuk membeli mobil listrik.

Di jalanan, mobil listrik lebih kelihatan.

Tampilan motor listrik di jalanan lebih dikarenakan adopsi motor listrik oleh aplikasi transportasi online. Pemakai motor listrik pribadi tidak banyak.

Beberapa bulan lalu saat nongkrong di sebuah minimarket dekat perempatan di bilangan Tebet Jakarta, yang mondar-mandir mengganti baterei di gerai baterai swap semuanya adalah pengemudi ojek online.

Untuk meningkatkan adopsi dari motor bbm ke motor listrik, pemerintah kemudian memberikan subsidi pembelian. Dengan diberi subsidi, pembeli bisa membawa pulang motor listrik dengan harga yang sama atau bahkan mungkin lebih murah dari motor berbahan bakar minyak.

Tapi nampaknya rencana pemberian subsidi ini tak berjalan lancar.

Kini penjualan motor listrik terasa tersendat-sendat bahkan sekarat.

Bisa diduga kurangnya minat masyarakat untuk mengikuti tren global karena harga motor listrik relatif masih mahal. Dan insentif yang ditawarkan pemerintah kepada calon pembeli tidak ada kepastiannya.

Calon pembeli juga khawatir dengan pengisian daya, mengingat stasiun pengisian atau penukaran baterei belum cukup tersedia. Motor listrik sulit untuk dibawa bepergian cukup jauh.

Jarak tempuh, kecepatan dan akselerasi masih menjadi tantangan lain yang membuat pemakai motor enggan beralih dari motor BBM ke motor listrik.

Dan yang paling utama, adalah nilai jual kembali. Secara tradisional, kendaraan yang paling laku di Indonesia adalah kendaraan yang punya nilai jual tinggi ketika dijual kembali. Dan motor listrik nampaknya tidak ada harga jika dijual kembali.

Di luar faktor itu, tentu saja kepercayaan. Nampaknya masyarakat belum terlalu percaya pada skema transisi energi, peralihan dari energi buruk ke energi bersih.

Masyarakat belum percaya karena kebijakan transisi energi pemerintah masih setengah hati, maju mundur sesuka hati.

Buktinya PLTU, pembangkit listrik dengan bahan bakar batubara tetap saja dibangun. Ijin pembangunannya tetap diberikan, sementara rencana penutupan beberapa PLTU juga tidak segera dieksekusi.

Jadi lupakan dulu soal membeli motor listrik walau pemerintah giat melakukan hilirisasi nikel, bahan baku untuk pembuatan baterei untuk kendaraan listrik.

note : sumber gambar – TEMPO