KESAH.ID – Model ekonomi TSK {tebang, sedot, keruk} membuat Kalimantan Timur mentereng sekaligus menderita. Pariwisata dan ekonomi kreatif bisa menjadi titik balik untuk membuat ekonomi, lingkungan dan masyarakat Kalimantan Timur berkelanjutan.
Sudah cukup lama, saya tak berbicara dan bertukar wacana dengan mereka yang kompeten bicara pariwisata dan ekonomi kreatif. Syukurlah kesempatan itu datang lewat sebuah undangan bincang-bincang dengan tajuk “Pulih Bersama serta Tumbuh lebih Kuat dan Berkelanjutan,”
Dialog dipandu oleh I Made Kertayasa, trainer public speaking ternama. Tiga pembicara yang dihadirkan adalah Restiawan Baehaqi, Kabid Pengembangan Pemasaran Pariwisata Dispar Kaltim; Erwiantono, Wakil Ketua Komite Ekraf Kaltim dan Fanty Wahyu Nurvita, owner Hasendra Indonesia.
Ketiga pembicara sepakat bahwa penunjukkan Kaltim menjadi IKN merupakan momentum yang bisa dimanfaatkan untuk membangkitkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Kalimantan Timur.
Transisi dari pandemi ke endemi juga dipandang merupakan kesempatan yang tepat untuk memulihkan gairah berwisata dan berkreasi agar dunia wisata dan ekonomi kreatif tumbuh secara berkelanjutan.
“Ada gairah besar untuk kembali berwisata,” ujar Restiawan Baehaqi sembari menunjukkan data jumlah kenaikan wisatawan yang besar di beberapa destinasi wisata paska Hari Raya Lebaran lalu. Titik Nol IKN, yang tidak dirancang menjadi lokasi wisata bahkan menjadi destinasi baru yang ramai dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah.
Tak diragukan lagi, Kalimantan Timur mempunyai potensi yang besar dalam bidang pariwisata dan ekonomi kreatif, baik yang bertumpu pada diversifitas geologi, flora dan fauna maupun ragam budaya masyarakatnya.
Erwiantono menyebutkan banyak keunggulan komparatif yang dipunyai oleh Kaltim, keunggulan yang tidak dipunyai atau jarang dipunyai oleh daerah lainnya. Namun menyitir hasil penelitian Politeknik Negeri Samarinda yang menyebutkan mereka yang datang ke Kalimantan Timur dan ingin datang kembali serta merekomandasikan kepada sanak kerabat dan kenalan untuk datang hanya 30%.
“Prosentasenya kecil,” ujar Erwiantono.
Menjadi jelas bahwa potensi atau keunggulan komparatif belum menjadi keunggulan kompetitif, keunikan atau keindahannya belum menjadi daya tarik yang kuat.
Dengan demikian ada pekerjaan rumah besar untuk menghubungkan antara potensi dengan pasar.
Tampil low profile, Fanty yang sukses membawa karya-karyanya hingga level nasional dan internasional menekankan soal komitmen dan konsistensi untuk menggali potensi lokal sebagai bahan kreasi dan inovasi.
“Berani jungkir balik,” ujar Fanty singkat.
Fanty benar, di Kalimantan Timur banyak orang kreatif, komunitas kreatif, tetapi bagaimana kreasi itu menjadi sebuah invovasi yang menghasilkan nilai ekonomi, itu yang menjadi tantangan.
“Tanpa inovasi, potensi kita justru akan diambil dan dikembangkan oleh orang lain,” tegas Fanty sambil memberikan contoh Sambal Gami, kuliner khas yang berkembang di Bontang namun kini lebih terkenal di DI Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah.
Adakah mereka yang bersantap dengan sambal dan lauk yang dimasak dalam cobek itu tahu bahwa makanan itu bermula dari Gami Bawis yang lahir dari Kampung Bontang Kuala?.
Bahkan jangan-jangan kelak yang disebut Sambal Gami akan berubah nama menjadi Sambal Bakar, Sambal Cobek, Sambal Geledek karena pedas mampus atau nama lain yang mengaburkan asal-usulnya.
BACA JUGA : Emas Hijau Menghilang, Emas Hitam Terbilang
Hubungan antara pariwisata dan ekonomi kreatif bersifat interdependen, saling dukung dan saling menguatkan. Menjadikan keduanya berjalan beriringan menjadi semakin dimungkinkan dengan kehadiran Teknologi Informasi dan Komunikasi.
Ada banyak produk kreatif dan destinasi wisata menjadi terkenal dan viral karena diwartakan melalui kanal digital oleh para pewarta komunitas.
Kelompok atau sosok yang disebut sebagai traveller, blogger, vlogger dan reviewer berhasil mengangkat destinasi wisata dan produk ekonomi kreatif sehingga memancing kehadiran wisatawan dan konsumen untuk datang serta berbelanja.
Pewarta komunitas bertindak sebagai pemasar organik, menghubungkan antara potensi dan pasar bahkan secara sukarela, atau beberapa diantaranya memonetisasi lewat tulisan atau karya digital lainnya yang bisa meraup adsense.
Mendayagunakan potensi para kreator baik secara individual maupun komunitas menjadi sebuah pilihan strategis agar potensi wisata dan ekonomi kreatif terdigitasi sehingga bisa diakses oleh calon-calon pelanggan potensial di berbagai penjuru secara terus menerus dan abadi.
Ruang digital atau ruang virtual sebagai ruang terbuka, terdesentralisasi dan demokratis terkadang memang menjengkelkan. Banyak berisi nyinyiran dan juga bully-an atau komentar-komentar yang tidak nyambung.
Namun tak bisa dipungkiri bahwa disana selalu ada hidden gems, mutiara tersembunyi berupa penilaian atau review yang dalam dan jujur yang mewakili pengalaman pelanggan, suara pasar.
Pemasaran terbaik dari pariwisata dan ekonomi kreatif adalah testimoni pelanggan, wisatawan atau konsumen yang puas akan datang atau membeli kembali. Merekapun dengan sukarela kemudian akan menjadi pemasar, mempengaruhi lingkungan terdekatnya untuk mendapat pengalaman yang sama.
Salah satu watak dasar manusia adalah ingin tahu orang lain, makanya gemar bergunjing. Dan di masa kini dengan capaian teknologi kebiasaan ini diwadahi dalam genggaman, yakni smartphone.
Kebiasaan ini bisa didorong secara positif untuk menjadi Word of Mouth, pemasaran peer to peer lewat percakapan, live streaming, postingan di media sosial dan berbagi tautan atau link dari sebuah destinasi wisata atau produk ekonomi kreatif ke orang lainnya.
Model pemasaran WOM ini biasanya muncul secara organik, namun pelaku wisata atau ekonomi kreatif juga bisa mendorong secara terencana.
Contoh paling sederhana adalah pelaku usaha mendorong konsumen untuk menulis review singkat dan membagikan kepada pengikutnya di media sosial dan men-tag akun sosial media penyedia jasa. Kepada yang melakukan akan diberi rewards berupa potongan harga, merchandise atau apapun yang membuat konsumen merasa dihargai.
Survey dari Bright Local pada tahun 2020 menunjukkan bahwa rekomandasi online cukup ampuh untuk menggaet pelanggan baru.
Dari survey bertajuk Local Consumer Review Survey dinyatakan 87% konsumen melakukan pembelian setelah mereka membaca ulasan online tentang bisnis tertentu.
Wisata kuliner, ajang menjajal kuliner khas setempat menjadi salah satu yang paling berkembang karena pemasaran dari mulut ke mulut ini.
BACA JUGA : Jangan Sepelekan China
Salah satu hal yang menarik perhatian saya dalam acara Bincang Parekraf adalah sajian makan siang yang disiapkan oleh pemilik PW Café and Resto yang beralamat di Jalan Pandan Wangi Residence, Sempaja Selatan.
Di meja makan disajikan kuliner khas Kutai, ada nasi bekepor, gence haruan, gangan {sayur} termasuk sayur buah asam yang biasanya memakai tungkul pisang atau keladi namun diganti dengan buah pisang mengkal.
Tak lupa juga disajikan sambal khas Kutai yang rasa asamnya berasal dari jenis mangga-manggaan. Liur harus diteguk berkali-kali untuk menahan rasa ingin segera mencolok ikan lais goreng dan iwak kering dalam sambal yang merah merona.
Jujur ini kali pertama saya menikmati sajian khas Kutai dengan khusyuk dan disajikan dalam tatanan yang memuaskan.
Ya makanan disajikan dalam wadah yang khas, nasi dan sayur ditempatkan dalam kuali. Di ujung meja nampak sebuah bakaran yang diatasnya berjejer beberapa kuali untuk menunjukkan bagaimana nasi bekepor dan sayur dimasak.
Sembari diam-diam menikmati makan siang dalam pikiran saya berkelebat tentang wisata kuliner. Tapi kemudian saya membantah sendiri “Ah, terlalu mainstreams,”
Lagipula ‘wisata kuliner’ di Samarinda dan Kaltim pada umumnya didominasi oleh ragam kuliner dari luar daerah bahkan luar negeri. Pun juga wisata kuliner sangat bias perkotaan.
Dalam perbincangan tersebutlah tentang salah satu fokus pariwisata di Kaltim yakni wisata alam atau eko wisata. Wayan Lanang dari Politeknik Negeri Samarinda kemudian juga mengungkap tentang potensi wisata sungai dan danau yang belum digarap dengan baik.
Dari sana saya mendapat insight yang menghubungkan antara wisata, kuliner dan produk kreatif lainnya. Konsepsi yang disebut dengan Gastro Tourism.
Wisata gastronomi bukan sekedar wisata kuliner, seseorang datang menikmati sajian makanan lokal di warung, resto atau kawasan kuliner. Wisata ini adalah sebuah perjalanan yang berhubungan dengan makanan ke daerah tujuan wisata.
Salah satu tujuan wisata alam yang unik di Kalimantan Timur adalah kawasan perairan darat, kawasan dataran rendah yang mempunyai anak sungai, danau dan rawa {SADAR} yang mempunyai hutan dataran rendah dengan pepohonan yang terendam air dan dihuni oleh berbagai macam satwa khas yang relative mudah dilihat.
Kawasan SADAR yang terhubung dengan ekosistem Sungai Mahakam ini berada di segmen DAS Mahakam bagian tengah, meliputi beberapa kecamatan yang masuk di wilayah Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kabupaten Kutai Barat. Di wilayah ini, mamalia air khas Mahakam yakni Pesut Mahakam bisa ditemui.
Menjadikan Pesut dan Orang Utan sebagai ikon wisata tentu saja tidak salah. Namun dalah tak bijaksana jika menjadikannya sebagai daya tarik utama untuk para wisatawan penyuka alam. Pesut dan Orang Utan adalah bonus, kalau beruntung wisatawan akan lihat, kalau tidak ya tak mengapa.
Terlalu banyak aspek lain, pengalaman dan pengetahuan yang bisa didapat di ekosistem Mahakam Tengah misalnya. Lanskap kawasan dataran rendah yang mempunyai sungai, danau dan rawa dengan hutannya serta adaptasi masyarakat lokal pada lingkungannya adalah daya tarik utama.
Wisata gastronomi bisa menjadi model pengembangan wisata alam dan budaya di kawasan ini. Wisatawan tidak hanya diajak untuk menikmati landskap alam, susur sungai, danau, rawa dan hutannya melainkan juga lebur dalam kehidupan masyarakatnya.
Susur sungai, danau dan rawa berhutan tidak mesti dengan perahu wisata melainkan bersama penduduk yang berprofesi sebagai nelayan air tawar. Bersama nelayan, wisatawan bisa belajar cara tangkap ikan tradisional, mengenal ikan, satwa dan tumbuhan lokal.
Setelah itu hasil tangkapan bisa dimasak bersama, wisatawan belajar resep lokal, cara masak dan kemudian menikmatinya di tempat bahan makanan itu dihasilkan dan dimasak oleh sang empunya resep tradisional.
Sayur-sayuran dan sambal-sambalan lokal selalu diolah dari bahan lokal, berbasis tanaman lokal bahkan sebagian merupakan tumbuhan liar {wild food}. Menjadikannya sebagai daya tarik wisata dan kemudian memancing wisatawan datang akan membantu konservasi jenis tumbuhan-tumbuhan itu ke depan. Kuliner menjadi salah satu cara untuk melakukan pengawetan, arboresi.
Saat menyajikan kuliner lokal, masyarakat bisa memperkenalkan produk-produk kreatif lokal, wadah yang dibuat dari bahan setempat, kain penutup yang dibuat dari bahan setempat dan lain sebagainya. Produk yang kemudian bisa menjadi oleh-oleh ketika wisatawan pulang.
Pun demikian dengan nelayan, mendapat penghasilan tambahan dari mengantar atau menemani wisatawan yang kemudian juga akan membeli hasil tangkapannya akan membuat nelayan tidak terpacu untuk melakukan penangkapan dengan cara yang merusak {destruktif fishing}.
Alam yang terjaga akan menghasilkan nutrisi yang menjadi sumber pakan hewan di air termasuk ikan dan udang serta mahkluk lainnya. Ikan yang berlimpah akan membuat Pesut senang dan bisa berkembang dengan baik. Keberadaan Pesut akan tetap terjaga.
Andai wisata gastronomi bisa berkembang maka tak perlu gembar-gembor soal peduli lingkungan, konservasi dan keberlanjutan, sebab masyarakat yang memperoleh untung dari kehadiran wisatawan dengan sendirinya akan melakukan, memelihara lingkungan dan kebudayaan tanpa melabeli diri dengan atribut sebagai aktivis lingkungan.
Ekowisata sesungguhnya bukan hanya menikmati keindahan alam yang bisa jadi justru destruktif. Berwisata alam adalah kemauan untuk mengerti alam secara esenssial, belajar bagaimana masyarakat setempat beradaptasi dengan lingkungan dan kemudian tumbuh kepedulian untuk tetap menjaga alam lestari lewat cara masing-masing.
Tulisan ini akan menjadi sangat panjang jika saya harus mengurai semua potensi pengetahuan dan kearifan masyarakat lokal yang bisa menjadi daya tarik dan pengalaman bagi wisatawan.
Meski saya masih menjaga skeptisme terhadap tagline ekowisata, namun saya menyakini jika dikembangkan dengan benar, wisata alam dan kultural Kalimantan Timur akan menjadi jalan bagi pemerintah dan masyarakat Kalimantan Timur untuk keluar dari jebakan ekonomi estraktif.
Adalah tidak elok bertetangga dengan Ibu Kota Negara, Nusantara tapi lubang tambang menganga dimana-mana.
note : sumber gambar – Photo by Joanna Kosinska on Unsplash








