KESAH.ID – Berita boombastis tentang Start Up yang bertumbangan cenderung membuat kita menyimpulkan model pengembangan bisnis ala Start Up tak cocok untuk ekonomi kita. Padahal bisnis model apapun jika tak punya pondasi yang kuat pada akhirnya pasti akan tumbang.
Coba ketik ‘bisnis start up tumbang’ di kolom pencarian Google, tak sampai satu detik deret entry dengan judul yang bombastis akan segera didapatkan. Judul itu antara lain : Ini 4 Start Up RI yang Mati Di Tengah Jalan, Ada yang Terkenal; Deretan Start Up Indonesia yang Bangkrut, Start Up Lakukan PHK Massal, Setengah dari Start Up Indonesia Diprediksi Tumbang dan seterusnya.
Link dari berita-berita buruk yang menimpa beberapa Start Up itu banyak dibagikan di berbagai platform media sosial. Di kolom komentar banyak yang berpendapat bahwa bisnis Start Up telah berakhir, model bisnis pengembangan ala Start Up dinilai tidak cocok dan seterusnya. Gelembung Start Up telah bocor, kempes.
Kesimpulan bahwa bisnis model ala Start Up telah berakhir jelas merupakan kesimpulan yang melompat {jumping conclusion}. Start Up memang dalam kondisi sulit, tapi bukan hanya Start Up saja yang terlilit melainkan juga perusahaan pada umumnya, bahkan juga ekonomi negara.
Adalah biasa sebuah perusahaan menghentikan operasinya, entah itu Start Up atau bukan jika tidak menemukan pasar maka pasti akan bangkrut, jika tak cukup punya cadangan uang untuk terus beroperasi maka pasti akan terhenti.
Pun demikian dengan pemutusan hubungan kerja. Jika perusahaan kinerjanya tidak cukup bagus maka beban pengeluaran akan dikurangi, salah satunya adalah mengurangi tenaga kerja, menutup beberapa kantor cabang dan seterusnya.
Atau ketika perusahaan melakukan perubahan bisnis, beralih dari satu model bisnis ke model bisnis lainnya {pivot}, maka akan ada banyak sumberdaya yang tidak relevan. Otomatis jika tak ada ruang untuk mengalihkan sumberdaya itu maka akan diberhentikan.
Lagi pula pemutusan hubungan kerja pada beberapa waktu terakhir ini bukan hanya menimpa Start Up saja melainkan juga perusahaan lain, jumlahnya bahkan lebih banyak.
Apa yang menjadi latar belakang dari semua kesulitan ini?
Yang pertama perlu disebut tentu saja Pandemi Covid 19. Perusahaan konvensional menderita karena pandemi, mereka kehilangan pasar karena pembatasan sosial. Sementara perusahaan digital terakselari, tumbuh gila-gilaan.
Namun setelah pandemi perlahan menjadi endemi, perusahaan digital terpukul balik. Masyarakat kemudian kembali memasuki dunia offline, rindu dengan pengalaman tatap muka. Pola belanjanya menjadi hybrid. Urgensi pada yang serba online menjadi menurun, selain Netflix, salah satu yang paling terpukul adalah Zoom.
Pandemi juga menyebabkan gangguan rantai pasok. Ada banyak bahan baku tidak bisa terdistribusi dengan baik, produk dikurangi. Dan ketika pandemi mulai mereda, permintaan naik namun ketersediaan barang atau jasa di pasaran berkurang. Harga naik gila-gilaan, termasuk tiket pesawat karena banyak orang ingin bepergian namun jumlah pesawat yang beroperasi kurang banyak.
Negara sulit untuk melakukan intervensi guna menekan inflasi, sebagian besar negara telah menambah hutangnya di masa pandemi, cadangan devisanya telah berkurang. Pandemi telah membuat banyak negara menjadi ‘miskin’ karena harus banyak mengeluarkan uang untuk membuat warganya tetap di rumah untuk mengurangi tingkat penularan Covid 19.
Kondisi kemudian diperparah dengan perang antara Rusia dan Ukraina. Dua negeri bersaudara ini dikenal sebagai penghasil energi dan bahan pangan. Pasokan dari mereka terganggu, namun ada juga yang sengaja dihentikan karena embargo atau boikot. Eropa yang sangat percaya diri menghukum Rusia kini mulai dilanda ancaman kesulitan energi dan pangan.
Maka perlu dilakukan penyeimbangan, agar barang atau jasa yang beredar seimbang dengan ketersediaan uang. Nafsu belanja masyarakat mesti direm, agar harga barang dan jasa kemudian turun. Pemerintah Amerika Serikatpun kemudian menaikkan suku bunga yang mengakibatkan pertumbuhan ekonomi menjadi melambat, pun demikian dengan investasi.
Investorpun mulai berhati-hati, menahan diri untuk tidak mengucurkan dana secara besar-besaran karena bakal menanggung biaya yang tinggi. Dampaknya Start Up mulai kesulitan untuk mencari pendanaan, terutama Start Up E-commerce.
BACA JUGA : Menimbang Gastro Tourism
Pada akhir 2021, Direktorat Jenderal Dukcapil merilis jumlah penduduk Indonesia sebanyak 273,679,750 jiwa. Sementara Worldometer pada 25 April 2022 menyebut penduduk Indonesia telah mencapai angka 278,752,361 jiwa. Membandingkan dua data itu, artinya penduduk Indonesia telah melampau angka 270 juta jiwa.
Laporan dari We Are Social menyebutkan angka pemakai internet di Indonesia 204,7 juta. Sedangkan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia menyebut angka pemakai internet di Indonesia telah menyentuh 220 juta. Pandemi telah mendorong peningkatan jumlah pemakai internet karena kebutuhan untuk mengikuti segala sesuatu yang serba di-online-kan.
Membandingkan antara jumlah penduduk dengan jumlah pemakai internet terlihat bahwa sebagian besar penduduk Indonesia adalah pengguna internet. Yang tidak menggunakan internet kurang lebih sepertiga. Dan tidak menggunakan bukan berarti tak terpapar, mereka tetap bisa menggunakan dengan bantuan dari pengguna lainnya, entah keluarga atau lingkungan terdekatnya.
Dengan demikian ekosistem digital di Indonesia sudah sangat besar. Oleh karenanya ekonomi digital kemudian menjadi keniscayaan.
Dan dalam ekosistem semacam ini model yang paling cocok untuk membangun inovasi bisnis adalah start up. Sebab DNA Start Up adalah inovasi layanan atau jasa yang berbasis pada teknologi {digital dan virtual}.
Dalam ekosistem digital semua menjadi serba cepat, sebuah usaha rintisan dituntut untuk berkembang dengan pesat {eksponensial} untuk merebut pasar. Yang menerapkan prinsip alon-alon waton kelakon bakal terlindas.
Inovasi yang masa depannya belum jelas atau masih berupa potensi tidak mungkin akan didukung oleh layanan keuangan perbankan. Bank hanya akan mau mengelontorkan dana untuk usaha yang untungnya sudah jelas di depan mata.
Di ruang inilah investor akan bekerja, mendukung sebuah inovasi dengan pendanaan, bukan secepatnya untuk mendapat untung usaha melainkan mencatatkan valuasi yang baik. Jika valuasi usahanya tinggi maka investor bisa mendapat return dalam bentuk saham atau obligasi yang kemudian bisa mengembalikan investasi berserta untungnya dengan cara dijual.
Para investor ini bisa berupa pribadi/personal {Angel Investor} maupun perusahaan pengelola dana investasi {Venture Capital}. Kini bahkan mulai tumbuh Corporate Venture Capital, perusahaan-perusahaan yang menyisihkan aset, keuntungan dan lainnya untuk berinvestasi di luar perusahaannya sendiri.
Uang yang siap diinvestasikan ini jumlahnya besar tak mungkin hanya akan diserap oleh perusahaan-perusahaan mapan yang telah bermain di pasar saham. Maka model Start Up akan tetap menjadi pilihan. Baik untuk menyuntik dana pada Start Up maupun mengakuisinya. Meski beresiko, investasi kepada Start Up jika berhasil akan memberi keuntungan berkali-kali lipat.
Untuk mengejar pertumbuhan maka para investor tak akan keberatan jika uangnya dibakar. Bentuknya bermacam-macam namun pada intinya adalah untuk dengan cepat menumbuhkan pemakai dan ekosistemnya. Selain untuk dibakar, uang investor biasa juga dipakai untuk membayar jasa konsultan, perusahaan accelerator agar valuasi tinggi dari Start Up bisa cepat dicapai atau dipoles.
Pertumbuhan Start Up dalam bidang E-commerce seperti marketplace misalnya mungkin sudah mulai melambat, perusahaan kini memasuki tahap persaingan untuk menguasai pasar, siapa yang menang akan mengambil semuanya. Dalam tahapan ini investor bisa jadi tidak lagi mau jor-joran mengelontorkan dana, namun dalam bidang lainnya perilaku gelontoran dana masih sangat terbuka.
Peradaban tidak akan mundur dan infrastruktur ekonomi saat ini adalah internet, IOT, AI, Cloud, Blochain, NFT, VR dan Metaverse. Dan infrastruktur atau ekosistem ini adalah DNA bagi Start Up.
Memang benar tidak semua Start Up tumbuh dengan pola suntikan dana dari investor. Ada model lain yang disebut bootstrap. Start Up dibangun dengan dana dari urunan para pendiri, keluarga, temah atau sahabat dan Angel Investor.
Dengan cara ini Start Up akan bertumbuh secara organic, tidak dikejar pertumbuhan dan lebih cepat bisa memikirkan keuntungan. Para founder juga bisa tetap mempunyai kendali atas usahanya. Hanya saja Start Up seperti ini umumnya underate tidak terlalu dikenal oleh masyarakat. Foundernya tidak dikenal oleh publik dan tidak dengan cepat masuk dalam daftar orang terkaya di negara tertentu.
BACA JUGA : Emas Hijau Menghilang, Emas Hitam Terbilang
Pada akhirnya hanya akan ada perusahaan tertentu yang akan menguasai sebagian besar pasar dan menyisakan sebagian kecilnya untuk pemain lainnya.
Pemakai internet lama pasti akan tahu dulu banyak mesin pencari, tetapi pada akhirnya Google yang berjaya, pun demikian juga dengan pemberi layanan email, kini sebagian besar hanya memakai email google, padahal sebelumnya yang disebut email identik dengan yahoo.
Media sosial juga banyak tapi yang bertahan dan besar hanyalah Facebook, Intagram, Twitter dan kemudian yang berhasil menyodok adalah Tik Tok. Situs berbagi video juga banyak, namun yang berhasil menarik kreator dan terus membesar adalah Youtube.
Untuk menguasai pasar maka Start Up akan menggunakan segala cara, semua ongkos ditujukan kesana, membujuk dan membeli pelanggan. Kalau perlu mengakuisi Start Up yang menjadi saingannya. Dengan cara itu Start Up akan menjadi pemenang. Hukumnya adalah pemenang akan mengambil semuanya.
Situasi ini persis sama dengan yang diucapkan oleh investor kawakan Warren Buffet. Dia mengatakan “Baru ketika air pasang surut, anda akan menemukan siapa yang berenang dengan telanjang,”
Transisi dari pandemi ke endemi membuat masyarakat kembali hidup normal, masyarakat mulai rasional dan hype pada Start Up tertentu mulai menurun. Situasi ini kemudian membuat layanan Start Up menjadi terseleksi, mana yang punya fundamental kuat, relevan dengan pasar dan mana yang hanya memainkan strategi polesan untuk mengejar valuasi.
Respon pasar ini kemudian memberi alarm kepada para investor untuk hati-hati, tidak gegabah mengucurkan dananya. Banyak Start Up kemudian kesulitan untuk memperoleh pendanaan dengan cepat. Disamping itu situasi normal juga membuat banyak Start Up kesulitan untuk memperoleh pelanggan baru, bahkan untuk menahan pelanggan lama saja juga tidak mudah.
Ada banyak hal yang dikoreksi oleh Start Up sehingga berdampak pada penutupan sebagian layanan, pengurangan pegawai atau bahkan perubahan pada model bisnisnya. Namun ini bukan kiamat, Start Up hanya dituntut menjadi lebih efisien, tidak mengobral dana atau apapun yang tidak mendukung fondasi bisnisnya.
Ujung dari bisnis adalah untung dan pada akhirnya inilah yang harus dikejar oleh Start Up agar bisa tetap bertahan, membesar dan menguasai pasar.
Masyarakat bisa saja ditipu dan dibujuk dengan segala macam diskon, rewards, bebas ongkir serta lainnya. Tapi pada titik tertentu yang tidak bisa dipastikan kapan akan terjadi, pasar selalu akan melakukan koreksi dengan sendirinya. Yang tak masuk akal akan segera terbongkar. Persis sama seperti investasi bodong, trading padahal judi dan seterusnya yang kemudian membuat sosok-sosok influencer yang dipuja-puji publik, panutan untuk sukses harus berakhir di jeruji besi.
Koreksi pasar atau kerap disebut sebagai the great revaluation akan membawa para pebisnis ke jalan yang benar, investorpun akan berlaku bijak.
Bahwa benar akan banyak Start Up yang tumbang, bahkan sebagian besar tentu tak bisa dihindari. Namun akan lahir Start Up yang kuat yang bakal punya kontribusi besar untuk perkembangan ekonomi masyarakat dan negara. Menjadi bagian dari solusi atas permasalahan dan masa depan bangsa serta negara.
Jadi ngomong-ngomong soal berita, jangan terlalu terpengaruh oleh judul-judul yang bombastis dan membuat kita terjerumus dalam jumping clonclution. Anak-anak muda tetap harus didukung untuk bermimpi membangun Start Up yang akan menjadi solusi bagi persoalan negeri.
Tetap akan ada pemenang, bukan mereka yang gila-gilaan, bukan mereka yang paling punya uang atau paling cerdas, melainkan mereka yang paling siap, beradaptasi dengan keadaan dan melayani kebutuhan pasar.
Urungkan niatmu jika terbersit keinginan untuk membangun Start Up dengan tujuan sekedar mengeruk uang investor dan bubar ketika kehabisan nafas.
note : sumber gambar – idxchannel








