Masa kecil saya akrab dengan suasana stigmatis terhadap masyarakat keturunan China. Tidak benar-benar benci, sebab saya selalu bertegur sapa dengan Cik Hwa dan Kok Teo setiap kali melewati depan rumahnya. Kadang-kadang saya juga singgah, ngobrol sejenak.

Namun tumbuh di sebuah kampung yang homogen, tidak ada penduduknya yang berketurunan China, atmosfer kecurigaan dan penilaian sepihak terhadap kelompok masyarakat keturunan China kemudian tertanam di alam bawah sadar.

Saya ingat persis, setiap kali ada teman sepermainan yang secara fisik kami tuduh mirip-mirip China maka kami akan memanggilnya dengan  “Hey sipit atau hoy China,”.

Dipanggil dengan sebutan China pada masa itu sama halnya diteriaki dengan ucapan ‘Dasar PKI’. Seseorang bakal langsung merasa insecure dengan sebutan itu. Tapi kami tak peduli dan belum sadar kalau itu adalah bullyan. Kami hanya menyebutnya sebagai ‘poyokan’, hal yang biasa padahal sesungguhnya gurauan itu menyakitkan hati, bisa bikin luka batin.

Pendek kata pada waktu itu saya dan teman-teman sepermainan begitu fasih mengolok-olok orang China atau memakai generalisasi atas orang China sebagai senjata untuk menghina orang lain.

Bukan hanya fisik melainkan juga sikap atau perilaku. Mereka yang ketahuan pelit akan kami sebut dengan China. Dalam anggapan kami orang China bisa kaya karena pelit.

Teman yang ketahuan tak mau rugi sedikitpun juga akan kami sebut sebagai China. Buat kami orang China selalu tak mau rugi. Bahkan ketika mereka mengatakan “Ambil saja, nda apa-apa saya jual rugi,”, kami menganggapnya sebagai modus.

Dalam kamus pemahaman kami, rugi itu artinya untungnya sedikit.

Kebebasan untuk menilai dan mengata-ngatai keturunan China secara sembarangan kemudian menjadi terganggu ketika saya masuk SMP. Teman sekolah atau teman sekelas saya banyak anak-anak keturunan China.

Ini masa giliran saya menjadi insecure, karena umumnya mereka lebih pintar dari saya dan teman lainnya. Pintar matematika, Bahasa Inggris dan lainnya, mereka terbiasa ikut les pelajaran di luar jam sekolah.

Waktu itu kebanyakan dari anak-anak keturunan China sudah memakai nama Indonesia atau nama umum yang bercorak barat. Tapi pada umumnya panggilannya masih berbau China, seperti Yayang, Liling, Meimey, Huhun dan lain-lain. Hanya beberapa diantara mereka yang dalam daftar absensi namanya masih asli China. Salah satu yang masih saya ingat adalah Nyo Liang Hoek.

Sehari-hari dia kami panggil Nyonyo atau Sinyo. Orang tuanya punya toko sepeda, jadi Nyonyo kerap kami panggil Lem Ban Pit {lem ban sepeda}.

Mulai bergaul dengan anak-anak keturunan China perlahan-lahan mulai terhapus anggapan salah terhadap mereka. Meski kadang masih keluar celetukan-celetukan bawah sadar namun saya mulai berhasil mengerem untuk tak menghambur sembarangan kata terhadap mereka.

Demikian juga di kampung, saat saya duduk di bangku SMP mulai ada keturunan China yang bermukim di kampung saya. Kami memanggilnya Om Chan, nama yang masih berbau China walau sebenarnya singkatan dari Chandra.

Om Chan membuka studio foto, saya dan teman-teman sering bermain di taman depan rumahnya. Pada jaman itu foto taman sedang populer disamping foto studio.

Buat saya dan teman-teman lainnya, Om Chan adalah salah satu tetangga yang baik hati dan ramah.

Tapi menghilangkan anggapan salah sungguh tidak mudah. Bahkan setelah tamat SMA, di buku kenangan siswa kami masih menuliskan julukan untuk seorang teman yang kebetulan terlahir dengan kulit yang lebih cerah meski tak memakai MS Glow dengan gelar ‘China Purworejo’.

BACA JUGA : Ojo Kesusu, Glembuk Solo Ala Joko Widodo

Awal tahun 2000-an, saya mulai bermukim di Kota Samarinda. Saya masih mengolok-olok China, bukan orangnya melainkan produknya. Menyebut barang China pada waktu itu sama halnya dengan mengatakan produk itu tidak bermutu.

Motor made in china tidak akan disebut dengan mereknya melainkan diberi gelar Mocin, motor China.

Waktu itu ada seorang teman yang memakai motor buatan China. Kalau tidak salah mereknya JRD, kami mengolok-olok motor yang tampilannya plek ketiplek dengan Honda Supra itu sebagai Jika Rusak Dorong.

Selain motor ada juga HP China. Maka ada Samsung China, Iphone China dan lain-lain. Selain diolok sebagai HP China, mulai muncul juga istilah KW atau tiruan, asli tapi palsu. Dan China dianggap sebagai rajanya pemalsu.

Tak lama kemudian muncul mobil-mobil dari China. Banyak di jalanan tapi kemudian menghilang.

Namun mulai sekitar tahun 2010, produk-produk China bukan hanya murah dan cepat rusak. Produk teknologinya mulai unggul. Tidak lagi disebut dengan HP China, melainkan mulai dikenal mereknya seperti Huawei, Oppo, Xiomi dan lain-lain, popularitasnya mulai mengeser Samsung dan produsesn smartphone terkenal lainnya.

Ketika drone populer, merk drone dari China yakni Dji juga merajai pasar.

Kini mobil-mobil dari China juga mulai berseliweran di jalanan. Ada Wuling, DFSK dan BYD. Mobil listrik dari China bahkan punya kemungkinan akan mejadi raja jalanan di Indonesia.

China yang selama puluhan tahun distigma sebagai peniru, pemalsu, tukang rekondisi barang lama, penjiplak mentah-mentah dalam bidang teknologi baik mesin maupun gadget kini mulai menemukan teknologinya sendiri.

Merek-merek dari China yang dulu dianggap kelas dua, kini mulai bersanding dengan merek-merek terkemuka dunia lainnya.

Sang peniru telah mulai menunjukkan dirinya menjadi penem. Dari China mulai muncul pioner teknologi, temuan-temuan dalam bidang yang canggih.

Hanya sedikit bidang yang terkait dengan teknologi yang belum terlalu berhasil dikuasai oleh China. Salah satunya adalah kamera. Belum ada kamera buatan China yang populer dan mampu bersaing dengan Sonny misalnya.

Walau begitu, kini mulai banyak lensa kamera buatan dari China.

Tentu saja sesekali saya masih mengolok-olok China, tapi tak bisa saya pungkiri bahwa ada kekaguman di hati atas capaian-capaian dari China terutama dalam bidang teknologi. Road map pengembangan industri China jauh lebih berhasil dari Indonesia.

Digadang-gadang sebagai macan asia, Indonesia jauh tertinggal dari China yang kini mulai bisa mendekati Jepang, Korea Selatan dan Taiwan.

BACA JUGA : Perang Antar Perusahaan Teknologi

Sebenarnya yang suka menyepelekan dan mengolok-olok orang China bukan hanya orang Indonesia. Orang Amerika juga demikian. Meski banyak ahli IT Amerika berasal dari China, tapi para industriawan teknologi di Amerika kerap menyepelekan China.

Ketika China memproteksi diri dengan melarang pemakaian berbagai macam layanan dan aplikasi internet dari luar, Amerika Serikat tak terlalu pusing google, facebook dan lain-lain tidak boleh dipakai di China. Pemerintah China mengembangkan sendiri platform internetnya.

Pemerintah Amerika dan pengusaha teknologinya mulai khawatir ketiga teknologi 5G lahir di China, ditemukan oleh Huawei. Tak bisa dikendalikan Huawei kemudian dikucilkan, dilarang memakai GMS, Geogle Mobile Service. Huawei kemudian mesti mengembangkan OS-nya sendiri karena tidak boleh memakai android.

Huawei berhasil mengembangkan OS Harmoni, tapi android masih tetap kuat.

Pengusaha teknologi Amerika Serikat kemudian terguncang ketika media sosial asal China yakni Tik Tok mulai menguncang dunia lewat format video yang sesuai bawaan smartphone, video vertikal.

Setelah facebooker, instagramer, twitterian dan youtuber, muncul generasi baru netizen yang disebut Tiktokers. Arus yang melenceng karena tidak lahir dari Amerika.

Awalnya dianggap tak masuk akal karena hanya berisi video orang goyang-goyang, ternyata Tik Tok tumbuh menjadi candu. Pertumbuhan pemakai facebook mulai stagnan, twitter mulai menyusut dan video di Youtube mulai diisi oleh video-video kompilasi dari Tik Tok.

Facebook yang merasa mapan mulai terguncang dan perlu melakukan lompatan menjadi meta. Instagram menambahkan fitur baru yakni reel yang terkoneksi juga ke facebook. Youtube kemudian juga mulai melakukan penyesuaian, mewadahi video vertikal lewat Youtube Short.

Bahkan untuk menyaingi popularitas Tik Tok, Youtube mengelontorkan uang trilyunan untuk para influencer dari berbagai negara agar menjadi kreator di Youtubeshort.

Twitter nampaknya masih tenang-tenang saja, apa yang ada di twitter memang berbeda dengan yang ada di sosial media lainnya. Video di twitter umumnya hasil rekaman dari layanan aplikasi video live atau VCS lewat instagram.

Untung saja Meta berhasil mempopulerkan Reel lewat Instagram dan Facebook, namun Youtube Short tidak terlalu berhasil.

Meta untuk sementara bisa bernafas lega, Reel mampu menjaga atau bahkan menaikkan pengguna aktif Facebook dan Instagram.

Tapi para pemuka dan perusahaan teknologi di Amerika tidak lagi bisa menyepelekan China. Dalam urusan teknologi informasi dan komunikasi meski cenderung berkembang dalam ekosistem tertutup, ternyata kemampuan perusahaan teknologi dari China tak lagi bisa dipandang sebelah mata.

note : sumber gambar independensia