Siapakah sosok paling sukses meniti karir politik lewat jalur eksekutif dalam regim pemilu langsung?.

Sosok itu bernama Joko Widodo. Dua periode terpilih sebagai Walikota Solo, Joko Widodo yang baru separuh jalan memimpin sebagai Walikota Solo periode keduanya kemudian ‘dibajak’ untuk dicalonkan sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Berpasangan dengan Basuki Tjahaya Purnama, Joko Widodo berhasil terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta.

Dan belum genap memimpin DKI Jakarta pada periode pertama jabatannya, Joko Widodo kembali diberi karpet merah untuk menjadi calon presiden yang berkontestasi pada pemilu 2014. Joko Widodo yang berpasangan dengan Jusuf Kalla berhasil menjadi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia.

Setelah mengenapkan kepemimpinan dalam periode pertama, Jokowi kembali mendapat karpet merah dari gabungan partai untuk berkontestasi menjadi presiden periode kedua. Berpasangan dengan Mar’uf Amin, Joko Widodo berhasil menjadi presiden untuk kedua kalinya.

Menjadi orang pertama dalam sejarah kepemimpinan di Indonesia yang pernah menduduki jabatan eksekutif secara berjenjang mulai dari Walikota, Gubernur hingga Presiden, membuat Joko Widodo menjadi istimewa.

Tak mengherankan jika setelah dilantik sebagai presiden untuk periode kedua kemudian mulai muncul suara-suara untuk ‘melestarikan’ kedudukan Joko Widodo sebagai presiden.

Keinginan ini disuarakan bahkan oleh mereka yang selama ini dikenal oleh publik sebagai sosok pro demokrasi sehingga mengejutkan. Karena usulan untuk membolehkan Joko Widodo berkontestasi dalam pemilu 2024 nanti atau memperpanjang jabatan dengan menunda/membatalkan pemilu 2024 jelas-jelas melawan konstitusi.

Sempat ramai menjadi perbincangan sampai dengan saat pandemi sedang Covid 19 ganas-ganasnya dan hubungan Rusia- Ukraina memanas, isu Joko Widodo 3 periode atau diperpanjang masa jabatannya kemudian mulai sirna seiring dengan tahapan pemilu 2024 yang mulai dijalankan oleh Komisi Pemilihan Umum.

Tapi nampaknya isu ini belum mereda karena masih terus dipelihara dah hidup di kalangan kelompok politik yang disebut relawan politik. Salah satunya pendukung atau relawan Joko Widodo yang eksis adalah Projo.

Semenjak era pemilu langsung, kehadiran kelompok relawan pendukung non partai menjadi jamak. Namun diantara kelompok-kelompok relawan pendukung yang paling solid dan terkonsolidasi dengan baik nampaknya adalah kelompok relawan pendukung Joko Widodo.  Kelompok relawan pendukung Ahok atau Basuki Tjahaya Purnama sebenarnya juga kuat namun pada akhirnya sulit untuk dilanjutkan karena karier politik Ahok terganjal oleh status hukumnya.

Meski tidak konstitusional, kelompok relawan politik kemudian menjadi salah satu kekuatan politik masyarakat sipil yang bertindak sebagai ‘inkubator’ calon pemimpin yang diklaim sebagai versi rakyat lewat mekanisme tertentu.

Dilihat dari namanya, Pro Jokowi atau Projo mestinya mengakhiri eksistensi seriring dengan akhir masa jabatan Joko Widodo nanti. Namun nampaknya tidak, Projo akan terus berusaha eksis sebagai kekuatan masyarakat sipil untuk ikut campur secara langsung dalam pemilihan presiden.

Langkah untuk menentukan rencana strategis kedepan terus dilakukan oleh Projo, dengan menggelar musyarawah nasional. Salah satu kata penting dalam tema musyawarahnya adalah ‘Haluan Baru’.

Melihat cuplikan video yang beredar saat Joko Widodo hadir dan menyampaikan pidato dalam Munas Projo di Magelang, Jawa Tengah, kata kunci Haluan Baru menjadi multitafsir.

Haluan baru bisa bermakna Joko Widodo 3 periode, Joko Widodo diperpanjang masa jabatannya, presiden berikutnya adalah penerus {orangnya} Joko Widodo atau bahkan Joko Widodo maju kembali dalam kontestasi namun bukan sebagai capres, melainkan cawapresnya Prabowo.

Karena namanya adalah Pro Jokowi, maka ormas Projo ini kemudian tersandera sendiri dengan namanya untuk terus menjaga dan membawa Joko Widodo dalam kekuasaan.

BACA JUGA : Perang Antar Perusahaan Teknologi 

Tak tampil sebagai sosok kuat seperti Erdogan, Macron, Xi Ji Ping atau Putin, Joko Widodo tetap bisa tampil sebagai pemimpin yang kuat dengan gayanya sendiri.

Joko Widodo menjadi kuat bukan karena menampilkan kemampuan orasinya yang memikat, meledak-ledak penuh semangat dan penuh ambisi untuk menahklukkan ini serta itu. Joko Widodo cenderung tampil low profile, gampang menyesuaikan diri dengan khalayak. Saat bertemu masyarakat adat atau trdisional, Joko Widodo tak canggung memakai baju adat, saat bertemu anak muda Joko Widodo juga tak ragu memakai outfit yang kasual ala-ala generasi kekinian.

Sederhana, lentur dan akomodatif adalah gaya yang dipakai oleh Joko Widodo namun efektif untuk menumbuhkan fanbase yang kuat di kalangan masyarakat.

Gaya atau trik ini sering disebut sebagai ‘glembuk’. Dan karena Joko Widodo dari Solo maka kemudian dikenal sebagai Glembuk Solo.

Glembuk artinya ‘tipuan’ tapi tidak selalu bermakna negatif. Tujuannya adalah membujuk, sehingga seseorang atau orang lain akan mengikuti kemauan yang membujuk tanpa merasa terpaksa. Tunduk tanpa ditekan, mengaku kalah tanpa dipukul sampai rebah.

Dalam analisis bahasa, wacana yang disampaikan secara verbal dalam aksi glembuk adalah wacana yang tidak sebenarnya, basa-basi yang halus. Antara yang tersurat dan yang tersirat bisa seratus delapan puluh derajad bedanya.

Dalam konteks kontestasi, model glembuk digemari dan diterima di kalangan masyarakat yang tidak menyukai umuk. Masyarakat yang menganggap kepercayaan diri yang tinggi sebagai sebuah kesombongan. Maka dalam masyarakat semacam ini berlaku rumus ‘merendahkan diri untuk meninggikan diri’.

Praktek glembuk ini dengan mudah disaksikan menjelang pemilu. Para elit berlomba-lomba mendatangi masyarakat yang paling susah, menunjukkan diri menikmati kebersamaan dengan rakyat di warung-warung sederhana, lahap menyantap makanan yang sebenarnya terpaksa dimakan oleh mereka yang tidak berkecukupan.

Model semacam ini memang kemudian jitu untuk membujuk masyarakat hingga kemudian jatuh hati.

Kemping Joko Widodo di titik nol IKN yang belum ada apa-apa itu terbukti manjur dan berhasil membuat masyarakat mendukung pemindahan IKN dengan sukacita. Paska presiden kemah disana, lokasi bekas perkemahannya kemudian menjadi ‘destinasi wisata’ yang ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai penjuru. Seolah IKN memang sudah pindah kesana.

Dan strategi tradional Jawa itu kembali dimainkan oleh Joko Widodo saat menyampaikan pidato dalam Munas Projo. Entah berapa lama pidatonya dan apa isi lengkapnya, namun yang pasti dua frasa pendek yang kemudian menjadi perbincangan dan ditafsir secara liar oleh berbagai kelompok.

Frasa itu adalah “ojo kesusu’ dan “mungkin yang kita dukung ada disini”.

BACA JUGA : HP Android dan Kolam Renang, Mendidik Dengan Kerendahan Hati 

Berbagai survey elekbilitas untuk capres pada pemilu 2024 nanti dengan jelas menunjukkan adalanya ‘Jokowi Effect’.

Sebagian nama yang terjaring dan menduduki peringkat atas dan menengah dikuasai oleh mereka yang berlatar gubernur dan walikota. Anies Baswedan, Gubernur DKI Jakarta dan Ganjar Pranowo Gubernur Jawa Tengah  selalu menduduki peringkat 3 teratas bersama dengan Prabowo Subianto.

Sementara Ridwan Kamil, Gubernur Jawa Barat dan Tri Rismaharini, mantan Walikota Surabaya muncul di posisi tengah, lebih populer ketimbang Erlangga Hartanto, Agus Harimukti Yudhoyono dan Puan Maharani yang merupakan petinggi partai.

Nama lain yang kerap bersaing dengan Ridwan dan Risma adalah Sandiaga Uno dan Ercik Thohir.

Hanya saja jika penyelenggara survey membiarkan nama Joko Widodo disebut sebagai capres potensial pada pemilu 2024 nanti, hasilnya Jokowi selalu menjadi yang paling unggul dari antara yang lainnya.

Di luar nama-nama itu, Muhaimin Iskandar, Ketua PKB di berbagai kesempatan jelas-jelas menyampaikan kesiapannya untuk maju sebagai capres pada pemilu 2024 nanti. Bahkan sudah ada beberapa kelompok yang mendeklarasikan Gus Imin sebagai capres. Tim relawan yang disebut sebagai Muhaimin Squad juga sudah berdiri di berbagai tempat.

Di Kota Samarinda deklarasi dukungan juga pernah dilakukan, yang dideklarasikan adalah La Nyala Mattalitti.

Pendukung atau relawan Ganjar dan Anies Baswedan juga sudah terbentuk di berbagai tempat, deklarasi juga sudah dilakukan berkali-kali.

Di internal PDIP, popularitas Ganjar Pranowo sudah menimbulkan masalah. Ada banyak drama dan silang pendapat terkait dengan disebut-sebutnya Ganjar Pranowo sebagai capres lewat berbagai survey.

Kalangan internal PDIP bahkan beberapa elitnya menyebut Ganjar terlalu cepat dan ambisius, kemlinthi , Ganjar disebut bukan sebagai banteng melainkan celeng.

Partai Golkar, PPP dan PAN yang merupakan anggota koalisi kabinet Joko Widodo mendeklarasikan Koalisi Indonesia Baru. Deklarasi yang oleh sebagian orang disebut sebagai tidak etis, karena membuat koalisi dalam koalisi.

Apakah geliat ini yang kemudian memancing Joko Widodo mengucapkan ojo kesusu atau jangan tergesa-gesa soal capres di depan Munas Projo?.

Nampaknya tidak. Presiden Joko Widodo tidak terganggu atas semua itu. Sebagai presiden terlihat Joko Widodo tak memperdulikan hal itu termasuk deklarasi KIB oleh partai yang dua ketuanya adalah menteri dalam kabinetnya.

Ojo kesusu menyiratkan bahwa Joko Widodo tidak ingin ditarik-tarik untuk terlibat aktif dalam urusan pencapresan menjelang pemilu 2024.

Untung saja Munas Projo diselenggarakan di Magelang, Jawa Tengah sehingga tafisr atasnya masih berada di wilayah politik. Andai ucapan ‘ojo kesusu’ ini disampaikan di Manado, Sulawesi Utara bisa jadi akan lain perbincangannya.

Setelah mengucapkan ojo kesusu kemudian Joko Widodo mengatakan, mungkin yang kita dukung ada disini. Apakah ini tidak kontradiktif?.

Entahlah, apa maksud Joko Widodo, ada yang menyebut itu sinyal dukungan pada Ganjar Pranowo yang kebetulan hadir disana. Namun disana ada juga Moeldoko yang namanya juga selalu muncul di survey elektabilitas meski perolehannya rendah.

Tapi bisa jadi Joko Widodo juga menunjuk dirinya sendiri. Sebab ada suara-suara yang mulai menyebutkan agar tidak melanggar kontitusi, Joko Widodo bisa maju dalam kontestasi pemilu 2024, bukan sebagai presiden melainkan wakil presiden berpasangan dengan Prabowo Subianto.

Jadi apa makna ucapan ojo kesusu dan mungkin yang kita dukung ada disini?.

Ada bermacam makna tergantung siapa yang menafsirkan dan apa keperluannya. Apapun itu, Joko Widodo memang pintar memainkan wacana di panggung politiknya.

note : sumber gambar KR Jogja