Pada akhir 2019, ketika pandemi Covid 19 dimulai, kota-kota besar di seluruh penjuru dunia menerapkan pembatasan sosial dengan istilahnya masing-masing. Kantor tutup, pusat hiburan tutup, masyarakat tidak bebas bergerak, rumah kembali menjadi pusat kehidupan.

Semua menderita karena sebagian besar masyarakat terkurung di dalam rumahnya sendiri. Tapi ada yang diuntungkan, salah satunya adalah Netflix, perusahaan jasa layanan streaming hiburan. Netflix yang layanannya bisa dinikmati di lebih 50 negara itu jumlah pelanggannya meningkat secara drastis.

Di masa pandemi Netflix menjadi sahabat masyarakat, berbagai serial yang diproduksinya sendiri menjadi film-film hit di masyarakat layaknya film box office di bioskop. Pundi-pundi uang Netflix mengelembung. Nilai kapitalisasi pasar Netflix mencapai Rp. 4.454 trilyun.

Menjelang perayaan Hari Raya Idulfitri ada kabar tak sedap menimpa Netflix, perusahaan layanan streaming film terbesar di dunia itu harga sahamnya anjlok. Saham Netflix yang dipedagangkan turun dari 701 USD menjadi 214 USD dan terus mengalami kecenderungan melemah.

Kejayaan Netflix ternyata tidak bertahan lama. Ketika pandemi Covid 19 mereda, Netflix juga mulai kehilangan pelanggannya. Dalam kuartal pertama tahun 2022, Netflix kehilangan subscriber kurang lebih 200.000 ribu dan diperkirakan akan terus bertambah.

Tanda-tanda menurunnya keuntungan Netflix ini kemudian direspon oleh investor dengan menjual saham secara massal. Penjualan panik ini membuat nilai saham Netflix meluncur tajam. Dalam waktu dua hari saja sahamnya jatuh 40%, masa depan Netflix menjadi gelap.

Netflix tidak bangkrut, hanya saja keuntungannya menurun. Dan sebenarnya wajar saja karena begitu pandemi mereda maka masyarakat kembali beraktivitas sehingga tak punya lagi cukup waktu untuk menonton film sepanjang hari di layar gadgetnya.

Dalam kondisi yang mulai normal, masyarakat kemudian mulai mempertimbangkan nilai uangnya. Biaya langganan Netflix kemudian mulai dirasa menjadi mahal.

Yang terus bertahan dengan Netflix kebanyakan adalah ‘pelanggan palsu’ mereka yang bisa mengakses Netflix lewat sistem berbagai password, membeli password dari pengecer. Di masa pandemi Netflix membiarkan perilaku ini dengan tujuan untuk memperoleh ekposure yang besar.

Namun ketika pendapatan mulai menurun, pelanggan palsu ini kemudian menganggu. Nonton tadi tidak membayar ke Netflix.

Manajemen Netflix menuduh para pendompleng ini sebagai salah satu pangkal masalah. Oleh karenanya salah satu langkah yang dilakukan oleh Netflix untuk bangkit dari keterpurukannya adalah membersihkan pelanggan-pelanggan palsu ini.

Tapi benarkah kaum pencari untung ini yang membuat Netflix buntung hingga berada di tepi jurang?.

Nampaknya tidak, Netflix sebenarnya tengah masuk dalam medan pertempuran. Ada banyak perusahaan sejenis yang bertumbuh seiring dengan popularitas Netflix. Dan inovasi atau keunggulan yang dulu menopang perkembangan Netflix kini mulai jadi kelemahan. Netflix tengah dipukul balik oleh apa yang selama ini dianggap sebagai keunggulannya.

Akankah Netflix tumbang, setelah sebelumnya mereka bisa menumbangkan Blockbuster?

BACA JUGA : HP Android dan Kolam Renang – Mendidik Dengan Hati

Netflix bukanlah perusahaan teknologi hiburan yang ujug-ujug besar. Perjalanan mereka hingga menjadi yang ternama penuh dengan lika-liku dan penuh guncangan.

Munculnya ecommerce Amazon menjadi inspirasi bagi pendiri Netflix yakni Reed Hasting dan Marc Randolph untuk menyediakan penyewaan CD berbasis web. Format video dari kaset yang kemudian menjadi keping CD memungkinkan video dikirimkan melalui pos.

Netflix.com kemudian meluncur pada tahun 1998, lewat website itu pelanggan bisa memilih video CD yang hendak dipinjamnya dan kemudian akan dikirim oleh Netflix melalui pos langsung ke rumah pelanggan, sama seperti orang yang belanja di situs amazon.com.

Dalam waktu sekejap Netflix mesti meningkatkan bandwich dari situs webnya karena traffic yang luar biasa dari konsumen. Seperti Youtube, situs web Netflix juga dilengkapi dengan fitur unggulan yakni rekomandasi film yang disukai oleh pelanggan setelah beberapa kali meminjam video CD dari Netflix.

Netflix makin populer dan mulai dilirik investor. Netflix mendapat suntikan modal setahun setelah online dari Groupe Arnault sebesar 30 juta USD. Dengan modal ini Netflix mulai ‘membakar uang’ dengan meluncurkan Marquee Programm yang memungkinkan pelanggan menyewa sebanyak mungkin video yang mereka inginkan selama satu bulan hanya dengan membayar 16 USD tanpa denda biaya keterlambatan dan juga jatuh tempo.

Netflix makin populer, pelanggan banyak namun ternyata tetap rugi. Pendirinya pernah menawarkan Netflix pada Blockbuster untuk dibeli.

Blockbuster saat itu merupakan perusahaan penyewaan video terbesar dan tertua di Amerika Serikat, punya 60,000 karyawan dan 8.000 cabang yang tersebar di seluruh Amerika.

Blockbuster menolak dan malah mengembangkan sendiri dengan rekanan lain untuk meluncurkan layanan streaming video. Inovasi Blockbuster untuk menjadi penyedia streaming film, gagal total.

Netflix bertahan dan kemudian melakukan penawaran saham kepada publik. Setahun kemudian Netflix ternyata bisa mencetak untung dan bisa meraih sebanyak 1 juta subscriber. Sukses Netflix berbisnis penyewaan video lewat internet, memancing Blockbuster dan Wallmart untuk mengikutinya. Namun keduanya gagal menyaingi Netflix yang bisa merayakan pengiriman CD yang ke 1 milyard di tahun 2007.

Bekerja sama dengan partner lain Netflix mulai mengembangkan layanan video streaming, namun tidak terlalu berhasil. Hingga kemudian ketika teknologi internet makin berkembang dan muncul layanan broadband, Netflix kemudian kembali meluncurkan layanan Wacth Now yang ternyata juga mengecewakan karena hanya mempunyai 5000 koleksi film.

Netflix kemudian mulai menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan film dan distributor besar. Netflix mulai disukai hingga pada akhirnya jumlah judul video yang distreamingkan sudah lebih besar dari yang disewakan.

Netflix kemudian melakukan perubahan besar, menutup layanan penyewaan video dan kemudian fokus pada layanan video streaming. Netflix goyah, karena kehilangan ratusan ribu pelanggan. Sahamnya juga turun sampai 75%.

Dan perjuangan Netflix semakin berat karena bukan merupakan satu-satunya penyedia layanan video streaming. Saat itu sudah ada Amazon dan Hulu yang lebih dahulu melakukan penetrasi dan mencengkeram pasar.

Untuk mengalahkan Amazon dan Hulu, Netflix kemudian memproduksi serialnya sendiri {original production}. Serial itu dirilis secara bersamaan tidak episode demi episode sebagaimana biasa dilakukan oleh televisi. In house production terbukti mendatangkan jumlah pelanggan baru untuk Netflix dan mengurangi ketergantungan serta biaya lisensi untuk film-film yang dibuat oleh pihak luar.

Dan Netflix berjaya, sejak tahun 2015 layanannya bisa dinikmati di lebih dari 50 negara.

Kejayaan Netflix kali ini bukan hanya memancing perusahaan sejenis untuk masuk dalam bisnis video streaming. Kini perusahaan-perusahaan kelas kakap, para penguasa konten di dunia juga memasuki lapangan yang sama dengan Netflix.

Para raksasa media yang memiliki hak paten tidak lagi menjual atau menyewakan licensinya ke Netflix, melainkan mendistribusikannya lewat jalur layanan video streaming miliknya sendiri. Saingan Netflix kali ini adalah HBOMaxx, Disney Holstar, Paramount Plus, Peacock, Amazon Prime dan juga Apple TV.

Mereka seperti halnya Netflix juga memproduksi konten-konten original, serial filmnya sendiri. Apa yang dulu merupakan kelebihan Netflix, dengan mudah ditiru oleh perusahaan konten yang telah mapan.

Dan yang lebih memukul Netflix, para pesaingnya ternyata menawarkan harga langganan yang lebih murah dari Netflix. Sementara biaya langganan Netflix yang sudah lebih mahal cenderung terus naik dibanding para pesaingnya.

Netflix mengandalkan pemasukan dari biaya langganan, sementara pesaingnya memperoleh pendapatan dari sumber lainnya seperti menyertakan iklan.

Netflix kemudian mulai melakukan pengurangan tenaga kerja. Namun hal ini tidak akan menolong Netflix untuk kembali bangkit. Akankah Netflix sedang menunggu ajalnya akan tiba?.

Entahlah, tapi jika melihat DNA-nya, pasti Netflix tidak akan diam untuk menunggu kematiannya. Sejarah Netflix telah membuktikan dirinya sebagai salah satu perusahaan yang invoatif, mampu menari diantara gejolak hingga kemudian menyajikan tarian yang indah.

BACA JUGA : Kedai Kopi Menyegarkan Desain dan Arsitektur Kota Samarinda

Ada gula ada semut, peribahasa ini diartikan dimana ada kesenangan disitu akan banyak orang datang. Jakarta misalnya selalu kebanjiran pendatang karena banyak hal yang menyenangkan disana, ada lapangan kerja, banyak uang beredar dan lain sebagainya.

Hal-hal yang berkilau selalu menarik perhatian, membuat banyak orang datang untuk turut menikmati, mencoba peruntungan dan mendapat bagian.

Dari situlah muncul persaingan entah dengan cara yang baik maupun yang buruk. Dan persaingan itu selalu menimbulkan guncangan.

Demikian pula dalam dunia usaha atau industri. Usaha yang menguntungkan selalu akan memunculkan pengekor, peniru, bisa meniru mentah-mentah tapi bisa juga meniru dengan lebih baik karena telah belajar dari sang pioner. Dalam dunia ekonomi kreatif dikenal istilah ATM, Amati, Tiru dan Modifikasi.

Dalam dunia start up yang terguncang bukan hanya Netflix, melainkan juga banyak perusahaan teknologi lainnya. Facebook yang kemudian berubah menjadi meta, sahamnya juga menurun. Bahkan tak sedikit start up besar yang kemudian tumbang karena tak mampu menghadapi saingan dari start up sejenisnya.

Teknologi terus berkembang, namun di balik perkembangan itu juga ada perang, sehingga mereka yang sedikit saja lengah kemudian akan tumbang.

Demikian halnya dengan Netflix, sebagai distruptor dalam layanan streaming film, Netflix kemudian menghadapi saingan baru yang secara fundamental lebih kuat. Muncul penantang-penantang raksasa bagi Netflix dalam ‘perang streaming’.

Disney, HBO, Paramount, Apple dan lain-lain kemudian memasuki bisnis layanan streaming yang tadinya dikuasai oleh Netflix.

Mereka menyerang pada titik kekuatan Netflix yakni produksi film atau konten sendiri yang diedarkan secara eklusif.

Pemain-pemain baru ini bukan hanya bisa memproduksi konten namun juga mempunyai pengalaman lain dalam mencari pendapatan selain dari iuran pelanggan. Juga keunggulan lain seperti penguasaan dan infrastruktur teknologinya.

Bisnis memang selalu akan digoyang. Dan cara terbaik untuk menghadapinya adalah dengan ikut menari. Menari berarti menjadi lincah, mengikuti irama perkembangan. Jangan diam dan hanya menunggu. Bergeraklah, meski bisa jadi gerakan itu salah. Tapi salah langkah jauh lebih baik daripada diam dan menunggu mukjizat datang.

Dari kesalahan kita bisa belajar mana yang benar. Namun diam dan menunggu tak lebih dari sekedar menunda kematian.

note : sumber gambar freestocks on Unsplash