Setiap pengajar mempunyai caranya sendiri dalam memberikan materi pembelajaran. Ada yang menyenangkan, ada yang membosankan namun ada pula yang menakutkan. Di ruang kuliah selalu ada dosen favorit tapi juga dosen ‘killer’.
Hanya saja yang disebut menyenangkan dan menakutkan variasinya luas. Tidak semata-mata hanya dari pembawaan.
Saya pernah punya dosen yang menyenangkan, bukan karena cara mengajarnya yang enak diterima melainkan karena ‘kebaikannya’ yang kerap membagikan permen dan rokok jika wajah mahasiswanya sudah kelihatan bosan.
Jadi biarpun materi pembelajaran dan cara membawakan bikin mumet, saya tetap senang ikut pelajarannya karena bisa mengepulkan asap di bangku belakang sambil mendengarkan pelajaran.
Tapi ada juga dosen yang pelajarannya menyenangkan, cara membawakan materi pelajarannya juga enak tapi tetap menakutkan untuk saya. Bukan apa-apa, sebab terlambat sedikit saja masuk kelas maka otomatis akan dipersilahkan untuk mengikuti pelajaran di luar kelas, berdiri di depan jendela untuk menyimak pelajaran. Atau ketika dalam kelas dan tertangkap basah melamun atau mengantuk, dosen saya itu juga akan mempersilahkan yang tertangkap basah untuk keluar dan berdiri bersama mereka yang terlambat.
Tapi ada jenis dosen lain yang sulit untuk dikategorikan sebagai menyenangkan atau menakutkan. Sulit untuk digambarkan sebagai apa, karena setiap kali menuju kelas untuk mengikuti pelajarannya selalu muncul kekhawatiran dalam diri saya, tapi sekaligus juga keinginan untuk segera sampai ke kelas dan mengikuti pelajarannya.
Dosen jenis ini selalu membuka pelajaran dengan pertanyaan, pertanyaan yang harus dijawab terlebih dahulu oleh mahasiswanya. Dan setelah itu dia kemudian menerangkan berbagai hal yang terkait dengan pertanyaan itu namun tak pernah memberi penilaian apakah jawaban-jawaban mahasiswa tadi benar atau salah.
Nanti kami sebagai mahasiswa akan tahu apakah jawaban-jawaban itu benar atau salah, memuaskan atau tidak memuaskan tatkala beberapa pertanyaan itu dijadikan soal saat ujian.
“Jangan terobsesi pada jawaban, tapi nilailah pertanyaan. Apakah pertanyaannya benar atau salah. Sebab pertanyaan yang salah akan menghasilkan jawaban yang salah, dan pertanyaan yang benar selalu menghasilkan jawaban yang benar,” begitu ujarnya suatu ketika.
Saya jadi ingat dengan buku yang belum selesai saya baca di perpustakaan waktu itu. Sebab judulnya aneh, Belajar Bertanya, buku itu berisi percakapan antara Antonio Faundez dan Paulo Freire.
Kelak ketika sudah cukup lama meninggalkan bangku kuliah, saya baru merasa bahwa dosen yang sulit saya kategorikan sebagai menyenangkan atau menakutkan itu adalah salah satu dosen terbaik saya.
Contoh paling sederhana, ketika mengajarkan tentang penelitian yang tentu saja berbasis pertanyaan, dosen saya ini mengajarkan bahwa sebuah pertanyaan harus disarikan dari deret pertanyaan sejenis. Satu pertanyaan adalah hasil seleksi dari seratus pertanyaan. Maka untuk menghasilkan panduan pertanyaan untuk penelitian yang berisi 5 pertanyaan, peneliti harus membuat 500 pertanyaan.
Waktu itu membayangkan saja sudah ruwet. Tapi pada akhirnya saya setuju karena ternyata banyak penelitian kemudian menimbulkan kehebohan karena pertanyaannya tidak tepat.
Sewaktu duduk di bangku SMA saya juga ingat pelajaran yang paling menakutkan adalah mengarang. Seharusnya pelajaran ini menyenangkan namun ternyata tidak karena setiap karangan harus dibacakan didepan kelas dan kemudian diuji dengan berbagai pertanyaan oleh guru dan teman-teman kelas lainnya.
Bayangkan baru selesai membaca paragraph pertama saja serbuan pertanyaan sudah berhamburan. Bukan hanya keringat sebesar biji kedelai yang keluar di dahi, kakipun terasa gemetar karena rasanya pingin kencing di celana.
Dan diakhir semester guru saya itu berkata “Orang Belanda sering bilang celaka 13. Artinya kalau kita ingin ketemu seseorang dan sudah berusaha menemuinya sebanyak 13 kali dan tidak berhasil, itu baru celaka,”
Artinya kalau sebuah tulisan pertama dan kemudian mendapat penilaian jelek, itu biasa saja. Maka perlu diperbaiki lagi dan terus diperbaiki lagi hingga kemudian jadi tulisan baik.
“Tidak usah sampai 13 kali, 7 kali saja sudah bagus,” begitu katanya.
Karena nasehat itu maka saya selalu tak merasa kuatir jika tulisan pertama saya jelek, saya tak takut untuk menulis, karena menulis selalu dimulai dari keberanian untuk menghasilkan tulisan yang jelek.
Dengan berani dan terbuka untuk dinilai lama kelamaan kita akan tahu bagaimana menghasilkan tulisan yang bagus.
Jika ditarik benang merahnya, kisah dosen saya yang mengajarkan belajar bertanya dan berani menulis jelek ternyata mengajarkan hal yang sama yakni kerendahan hati. Dan itulah inti pendidikan.
BACA JUGA : Kedai Kopi Menyegarkan Desain dan Arsitektur Kota Samarinda
Beberapa hari yang lalu hati saya terpukul karena kabar yang disampaikan lewat sebuah WAG. Kabar itu kemudian saya telusuri di media sosial dan media online, ternyata benar adanya.
Selama tinggal di Kota Samarinda harus saya akui banyak hal yang menjengkelkan tapi tak sampai membuat hati saya sungguh bersedih. Kenapa saya tidak bersedih padahal banyak hal yang menyedihkan di kota ini?.
Saya tak bersedih karena berusaha memilah untuk secara emosional tidak terpengaruh dengan hal-hal yang berada di luar kendali saya.
Tapi kabar yang saya terima lewat WAG dan kemudian saya konfirmasi lewat media sosial serta media online meski diluar kendali saya ternyata sulit untuk tidak membuat saya terpengaruh secara emosional. Sebab menurut saya kejadian ini amat keterlaluan.
Ya sungguh terlalu jika seorang anak mesti diusir dengan cara yang kasar dari dalam kelas karena tidak mempunyai HP android karena pembelajaran sekarang ini sifatnya hybrid.
Kenapa keterlaluan?. Saya ingat persis bertahun lalu, Kalimantan Timur dan tentu saja Samarinda sebagai ibukotanya sudah menyatakan diri bahwa wajib belajar itu 12 tahun, artinya setiap anak di Kalimantan Timur mestinya tak boleh putus sekolah sampai dengan tamat SMP.
Janji-janji dalam bidang pendidikan sebagai dasar untuk pembangunan sumberdaya manusia selalu menjadi janji pemimpinnya. Dan rasanya anggaran untuk hal itu cukup besar, termasuk untuk beasiswa yang disebut dengan Kaltim Cemerlang.
Siapa yang kemudian menikmati anggaran itu?.
Maka sungguh terlalu jika anggaran yang besar itu tak mampu menolong seorang anak agar tetap bisa sekolah, disekolah yang menuntut semua muridnya mesti mempunyai HP Android.
Komunikasi kita saat ini semakin baik tapi justru moda komunikasi yang berbasis messenger atau chatting, justru membuat guru atau sekolah menjadi tak tahu keadaan yang sebenarnya dari para muridnya.
Pasti diantara para murid ada anak-anak yang paling tidak beruntung. Seperti bocah yang diusir dari kelas itu. Dia tak lagi punya ibu, bapaknya juga tidak lagi dirumah dan mengurusinya. Lalu dia diasuh oleh saudaranya yang juga tak cukup mampu untuk memenuhi kebutuhan pendidikannya.
Bagaimana ‘kisah’ ini bisa luput dari sekolah yang seharusnya paham dengan keadaan murid-muridnya.
Di sekolah juga ada komite sekolah, wadah orang tua murid berkumpul dan bekerjasama untuk memikirkan pendidikan di sekolah. Apa yang dibicarakan dalam komite semacam ini jika kemudian kondisi murid lepas dari pengetahuan mereka?.
Kalau seorang anak tidak sekolah karena tidak mau sekolah ya kita bisa apa?. Tapi kalau seorang anak dengan segala kekurangannya dan tetap ingin pergi sekolah maka menjadi tugas sekolah dan institusi terkait dengan pendidikan untuk memastikan keinginan itu bisa terlaksana, bagaimanapun caranya.
Model penyelenggaraan persekolahan {negeri} yang berbasis zonasi, salah satu tujuannya adalah hal itu, agar anak-anak di wilayah itu tetap bisa bersekolah karena sistem zonasi diharapkan bisa mereduksi banyak hambatan.
Saya tak akan menyalahkan gurunya karena dia bertindak demikian akibat korban dari sistem pendidikan yang tidak peduli pada murid yang ‘berkebutuhan khusus’, murid-murid yang memerlukan tindakan affirmatif.
Inilah yang menyedihkan buat saya, membuat hati saya teriris dan terluka karena meski bukan orang yang rajin sekolah dan kuliah sayapun juga mandek, tapi saya meyakini bahwa pendidikan adalah pondasi untuk membangun kualitas sumberdaya manusia.
Dan salah masalah terbesar kita adalah kemiskinan, jalan untuk merubah atau mengatasi kemiskinan salah satu yang utama adalah pendidikan. Maka pendidikan bukanlah pendidikan jika tidak mempunyai keberpihakan kepada mereka-mereka yang paling menderita.
Opsi dari sistem dan institusi pendidikan kita yang paling utama adalah pembelaan atau kecenderungan untuk mengutamakan mereka yang lemah, menderita dan terpinggirkan baik secara sosial maupun ekonomi.
Tanpa sikap dan sikap kerendahan hati semacam itu niscaya pendidikan hanya akan menghasilkan tukang pamer, penipu dan koruptor. Manusia yang punya ambisi besar, sukses dan menjadi orang besar tanpa peduli pada nasib orang lain.
BACA JUGA : Anak Anak Yang Tak Lagi Belajar Dari Orangtuanya
Syukurlah, masalah bocah yang diusir dari kelas dengan cepat bisa diselesaikan oleh berbagai pihak. Ya meski banyak hal yang menjengkelkan tapi salah satu yang membahagiakan adalah kerelawanan dan kedermawanan yang begitu tinggi di Kota Samarinda.
Tinggal yang mesti dipikirkan kemudian adalah bagaimana agar kasus ini tak terulang lagi dan itu tidak tak boleh hanya dengan mengandalkan kedermawanan dan kerelawanan sosial. Harus ada perbaikan yang substasial dalam kebijakan pendidikan sehingga aksi-aksi affirmatif mendapatkan wadah.
Sayangnya kesedihan yang berlalu itu kemudian malah menjadi pilu, lewat WAG yang sama saya membaca kabar tentang rencana pembangunan kolam renang di rumah jabatan Walikota Kota Samarinda, nilainya fantastis, 10 milyard lebih.
Membaca kabar itu hati menjadi pilu, untung saja saya tak punya bakat depresi, sehingga kabar itu tak menganggu nafsu makan saya.
Agar pilu saya tak menjadi lebay, maka saya berusaha menangkalnya. Seingat saya, walau tak kenal benar dengan Walikota, tapi saya tahu hobbynya bukan berenang. Maka mestinya kolam renang bukan prioritas untuknya.
Saya juga sadar bahwa kerjaan para punggawa adalah menyenangkan tuannya. Maka rencana pembangunan kolam renang atau bahkan juga ada spa, sauna atau tempat gym bisa jadi adalah cara dari lingkaran terdekat untuk menyenangkan Walikota.
Ya tapi itu hanya duga-duga saja karena saya tak tahu persis apa yang ada dalam dokumen kerangka acuan kerjanya. Dokumen itu mestinya bisa diminta dengan landas UU Keterbukaan Informasi Publik.
Saya tak berniat mengakses dokumen itu yang mestinya tersedia di laman pemerintah kota yang mencita-citakan diri menjadi Kota Peradaban. Salah satu ciri dari peradaban terdepan adalah keterbukaan, maka tanpa diminta mestinya semua rencana dari kota ini tersedia dengan sendirinya.
Maka agar tak jatuh dalam kecurigaan dan duga-duga yang berlebihan, saya menunggu apa reaksi pemerintah kota atas pemberitaan itu. Dan kemudian muncul penjelasan dari sang empunya proyek.
Kabarnya dana sebesar itu akan digunakan untuk menata kawasan rumah dinas walikota. Agar rumah dinas itu kemudian menjadi layak untuk menerima tamu-tamu penting sebab Kota Samarinda mesti bersiap diri menjadi tetangga IKN.
Masuk akal dan itu sudah cukup membuat saya tak galau lagi.
Sayang tak lama kemudian saya mendapat link berita yang berisi tanggapan dari Walikota sendiri atas berita tentang kolam renang, spa, sauna atau gym itu.
Saya malah jadi gundah dengan apa yang Walikota sampaikan.
Buat saya, pemimpin adalah pendidik, karena seorang pemimpin adalah seseorang yang mesti bicara pada publik dan dalam ruang publik. Itu sebabnya pemimpin selalu menjadi sumber berita.
Sebagai seorang pendidik maka apa yang disampaikan oleh seorang pemimpin mestinya berisi informasi obyektif, bukan kata-kata subyektif yang bernada pembelaan diri dengan cara menyalahkan atau menduga-duga motif orang lain yang entah itu wartawan, pengamat maupun aktivis.
Walikota Samarinda sekarang ini memang seorang politisi kawakan yang sudah teruji kepandaiannya dalam bersilat lidah. Namun tidak pada tempatnya menunjukkan kepandaian itu dalam kedudukannya sebagai seorang Walikota.
Adalah biasa sebuah rencana pembangunan mendapat tanggapan, tanggapannya bisa positif bisa negatif, tergantung perspektif dari yang menanggapinya.
Maka seorang pemimpin mesti terbuka dan rendah hati untuk mendengar semua tanggapan itu untuk kemudian memberikan tanggapan berdasar pada apa yang ada dalam kerangka acuan dari rencana pembangunan itu. Setiap rencana pembangunan pasti mempunyai alasan kenapa mesti dilakukan.
Argumen itu yang mesti diperdebatkan, bukan hal lainnya. Menduga motif, latar belakang dan lainnya yang mendasari kritik dari pihak lain atas rencana pembangunan itu hanya akan membuat perdebatan meluas, berbunga-bunga dan merembet kemana-mana hingga lupa pada substansi yang sesungguhnya, perdebatan menjadi sensasional dan kontroversial.
Adalah tidak salah Walikota dan pemimpin lainnya diberikan sarana untuk menyegarkan dan menyehatkan diri. Sebab ada pepatah mensana in corpore sano, dalam tubuh yang sehat ada jiwa yang kuat.
Sebagai warga masyarakat tentu saja saya ingin mempunyai walikota yang tubuhnya sehat, harapannya dengan tubuh yang sehat jiwanya juga kuat sehingga bisa melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya sebagai Walikota dengan baik.
Sayangnya tubuh yang sehat tidak selalu diikuti oleh jiwa yang kuat pula. Tak sedikit mereka yang gagah perkasa ternyata baperan, telinganya tak cukup kuat untuk menerima dan mendengar perkataan yang kurang menyenangkan dari orang lainnya.
Oh, iya setahu saya kolam renang, alat dan ruang gym, peralatan sauna serta lainnya yang dibangun dan dibeli secara privat biasanya tak lama dipakai. Semua itu terasa menyenangkan disaat masih baru namun lama kelamaan yang memakainya akan bosan dan tak cukup konsisten untuk memanfaatkan secara terus menerus.
Dan sepeda statis, treatmill dan lain-lain biasanya rusak bukan karena aus akibat sering dipakai. Yang terjadi justru sebaliknya, alat-alat itu rusak karena lama tidak digunakan, terbiar merana tanpa ada yang memakainya.
Ehm…. Itu pendapat dari pengalaman melihat onggokan alat-alat fitness di rumah teman-teman saya yang berkecukupan. Tapi mohon dicatat, itu hanyalah pendapat yang bisa jadi benar tapi bisa jadi juga salah.








