Cerita dari orang-orang yang lebih tua selalu menarik untuk didengar. Tapi itu cerita dulu, sewaktu saya masih kanak-kanak.
Saya suka sekali mendengar cerita dari bapak tentang Pulau Samosir yang berada di tengah Danau Toba. Kebetulan bapak setelah menyelesaikan pendidikan Sarjana Muda di IKIP Sanata Dharma kemudian mengajar beberapa tahun disana.
Sembari bercerita bapak juga menunjukkan foto-foto ketika berada disana, tak lupa juga ditunjukkan selembar Ulos yang diberikan oleh salah satu keluarga yang ditinggalinya selama disana.
Tentu saja saya bukan hanya suka mendengar cerita dari bapak melainkan juga cerita dari orang-orang tua lainnya. Dari Mbah Kaji, tetangga sebelah rumah, saya sering mendapat cerita tentang Presiden Sukarno, juga Guntur Sukarno yang gemar mengikuti Rally Mobil. Beberapa foto Guntur Sukarno dengan mobil balapnya ada di album foto Mbah Kaji.
Semua cerita itu melengkapi pelajaran di sekolah yang diberikan oleh Bapak dan Ibu Guru. Waktu itu sumber informasi memang masih terbatas. Makanya cerita menjadi menarik karena berisi pengalaman dari yang menceritakannya.
Dan sayapun bisa belajar dari pengalaman itu, pengalaman orang lain menjadi pengetahuan untuk saya.
Kelak kemudian hari saya tahu bahwa belajar dari pengalaman orang lain merupakan salah satu kekhasan manusia dibandingkan dengan binatang pada umumnya. Binatang umumnya belajar dari meniru dan pengalamannya sendiri. Sedangkan manusia selain meniru, juga bisa belajar dari pengalaman orang lain. Pengalaman-pengalaman yang kemudian dikelola sebagai pengetahuan.
Pengalaman dan pengetahuan yang diajarkan secara turun temurun, formal maupun informal kemudian membuat manusia melakukan lompatan peradaban yang jauh meninggalkan peradaban binatang.
Semakin hari hidup dan kehidupan manusia semakin meninggalkan pola dan hukum alamiahnya. Manusia telah melampaui kondisi alamiah bahkan dalam hal-hal tertentu bisa membuat atau merekayasa apa yang sebelumnya hanya diberikan oleh alam.
Binatang hanya berkembang mengikuti evolusi alamiahnya sementara manusia telah berkali-kali melakukan revolusi, mulai dari revolusi api {energi}, revolusi pertanian dan revolusi industri. Revolusi industri sendiri juga terjadi berkali-kali, mulai dari mesin, robot, otomatisasi hinggal digitalisasi yang berbasis pada kecerdasan buatan sebagai hasil dari revolusi teknologi informasi dan komunikasi.
Dunia bergerak dengan amat cepat, apa yang dulu disukai ketika saya kanak-kanak tak lagi digemari oleh anak saya. Apa yang dulu bapak dan ibu ajarkan pada saya, kini tak bisa saya ajarkan atau lakukan lagi pada anak saya.
Kisah di jaman saya kanak-kanak dulu bahkan tak lagi bisa disebut sebagai sejarah melainkan sudah menjadi legenda. Kisah yang tak lagi berhubungan dengan atmosfer berpikir dan laku dari anak saya.
Saya masih berpikir bahwa sejarah adalah cerita masa lalu tapi generasi anak saya bukan lagi berpikir tentang sejarah masa lalu melainkan berpikir untuk membuat sejarah, bagi mereka sejarah adalah cerita hari esok.
BACA JUGA : Beli Sekarang Bayar Nanti
Kini saya sebagai orang tua tak lagi bisa menarik perhatian anak saya dengan cerita-cerita seperti halnya diceritakan oleh bapak dan ibu, kakek dan nenek atau paman dan bibi.
Apa yang saya pikir menarik dan penting dalam benak saya ternyata tak selalu dianggap menarik serta penting oleh anak saya.
Cerita saya tentang pergi ke sekolah jalan kaki atau naik sepeda berkilo meter buatnya terasa aneh. Jalan kaki dan bersepeda untuk anak saya bukanlah moda transportasi melainkan cara berolahraga. Sampai ke sekolah dengan baju basah karena keringat adalah siksaan yang sama sekali tak pernah terpikirkan olehnya.
Dulu sewaktu sekolah di SMA, saya seperti diburu oleh waktu setiap paginya. Harus bangun pagi-pagi sekali karena harus menunggu kendaraan umum untuk pergi ke sekolah. Bukan hanya sekali tapi dua kali. Berdiri sejak jalanan masih sepi tidak ada jaminan bahwa saya tak akan terlambat sampai sekolah. Sebab jika kendaraan umum yang saya naiki sebagian besar penumpangnya bukan teman-teman satu sekolah maka kendaraan itu akan sering berhenti menaikkan atau menurunkan penumpang lainnya, waktu tempuhnya jadi lebih panjang.
Jangankan pengalaman, membayangkan hal itu anak saya tak pernah. Bangun dan berangkat ke sekolah selalu mepet-mepet waktu bel masuk kelas dibunyikan. Dan nyatanya tidak terlambat.
Kisah atau cerita tentang naik kendaraan umum ke sekolah tidak relate dengannya karena dia dan teman sekolahnya sejak SD hingga SMA ini hampir tak ada yang mempraktekkannya. Kalaupun ada yang dinaiki oleh temannya sekarang bukanlah mikrolet atau microbus umum, melainkan ojek atau taksi online.
Generation gap antara anak dan orang tua sekarang ini semakin cepat. Seingat saya, dulu apa yang dianggap enak, menarik atau keren oleh orang tua dengan mudah saya terima. Apa yang bapak dan ibu belikan selalu saya terima dengan senang hati, oleh-oleh atau makanan juga selalu saya makan dengan penuh kegembiraan.
Tapi sepertinya pengalaman dan suasana seperti itu tak lagi terjadi untuk anak-anak sekarang. Anak saya hanya riang kalau yang dibelikan adalah sesuatu yang dipesan olehnya. Keriangannya juga tak akan bertahan lama. Membelikan makanan bahkan makanan yang disukai tak juga bisa banyak-banyak. Sebab tak seperti anak-anak jaman dulu, anak-anak sekarang tak mau berhari-hari makan makanan yang sama terus menerus.
Jaman memang telah berubah, anak-anak sekarang tak mudah untuk menganggap sesuatu itu istimewa atau anggapan istimewa tak berlangsung lama. Sementara jaman saya kecil dulu yang istimewa itu bertahan lama. Makanan yang istimewa akan dimakan sedikit demi sedikit, biar bisa terus dinikmati selama mungkin.
Begitu mudahnya anak saya dan pasti kebanyakan anak-anak lainnya mengakses semua yang dulu saya dan generasi sejaman anggap sebagai hal istimewa. Bayangkan saja dulu naik pesawat terbang saja bisa jadi cerita orang satu kampung. Tapi anak saya bahkan sudah bolak-balik naik pesawat terbang sebelum dirinya sadar kalau sedang naik pesawat.
Ketika segala sesuatu menjadi lebih mudah bahkan lebih murah maka yang dulu saya anggap istimewa sekarang sudah menjadi hal yang lumrah.
Semakin banyak hal yang menjadi lumrah semakin sulit pula buat saya untuk bisa memberikan yang istimewa untuk anak saya. Modal cerita apalagi cerita semacam ande-ande lumut, kancil maling timun, joko tingkir dan lainnya tak cukup lagi untuk menarik hati.
Anak-anak rasanya bakal lebih bersyukur diberi paket data atau sambungan internet kecepatan tinggi tanpa batas kuota sehingga mereka bisa memilih cerita atau kisah yang bisa membuatnya tersenyum atau tertawa sendiri.
BACA JUGA : Saring Sebelum Sharing
Saya bertumbuh sebagai seseorang yang mewakili generasi yang kenyang dengan nasehat. Masa kecil, masa-masa pendidikan adalah saat dimana sebagian besar komunikasi dari orang tua, pendidik dan lingkungan kepada saya isinya kebanyakan adalah nasehat.
Orang tua, sosok yang lebih tua selalu digambarkan sebagai yang lebih bijaksana, lebih mengerti hidup karena sudah lebih dulu makan asam garam kehidupan. Nasehat mereka selalu dianggap valid.
Padahal kalau dipikir-pikir tak sedikit dari nasehat itu adalah hipotesis yang masih perlu diuji atau divalidasi kebenarannya. Dan nyatanya hampir tak ada seseorang yang benar-benar berubah karena nasehat. Lagi pula terlalu mudah menemukan mereka yang gemar memberi nasehat ternyata melanggar atau berlaku berbeda dari yang dinasehatkan pada orang lain.
Kalaupun sekilas terlihat banyak orang mematuhi nasehat, sebenarnya mereka tak benar-benar taat. Sebagian lebih karena takut sehingga menjadi penurut. Hasilnya banyak orang tidak menjadi dirinya sendiri atau lebih tepatnya munafik. Banyak yang menerapkan standar ganda dalam perilakunya.
Mereka yang masa kecilnya ditempa dengan nasehat itu sekarang banyak yang menjadi pemuka. Pemuka dalam segala bidang termasuk negara. Hanya sedikit dari mereka yang bisa dijadikan teladan atau layak dianggap sebagai orang bijaksana meski sudah mulai menua.
Saya tidak terobsesi untuk menjadi penasehat bagi anak saya juga anak-anak lain sejamannya apalagi mengharuskan diri untuk menjadi suri tauladan. Semakin tua justru saya semakin berjuang untuk menasehati diri saya sendiri agar tak terlalu mudah memberi nasehat.
Bagaimana saya bisa memberi nasehat jika apa yang mesti anak saya jalani dan lakukan sekarang adalah hal-hal yang juga sama barunya dengan saya. Seperti sekolah misalnya, apa yang dialami di sekolah sudah teramat berbeda dengan jaman saya dulu. Saya bahkan tak pernah membayangkan ada sekolah online seperti hari-hari yang dijalani oleh anak saya. Bahkan ujian nasional juga dilakukan secara online, pengumuman dan perpisahannya juga online.
Jadi sayapun harus terus belajar, belajar memahami dan mengerti masa kini agar tidak terkungkung oleh romantika dan idealisme masa lalu.
Sayangnya sebagai generasi digital migrant meski berusaha untuk up to date kemampuan dan kecepatan untuk mempelajari hal-hal yang serba baru selalu kalah dengan generasi anak saya. Maklum mereka adalah digital native yang sejak kecil akrab dengan berbagai gadget dan hal-hal lain yang serba digital.
Maka salah satu nasehat terberat untuk diri saya sendiri adalah “Jangan malu belajar dari anakmu,”
note : sumber gambar – Thomas Park on Unsplash








