Hampir saja saya menuduh teman saya sebagai lintah darah, penghisap keringat dan darah rakyat jelata. Dia tengah bercerita tentang rintisan usaha sebagai penyedia sembako untuk masyarakat. berbagai macam kebutuhan bisa dibeli dengan cara berhutang atau bon. Ambil dulu bayar kemudian.
Sasaran pasarnya adalah pekerja kebun sawit yang menerima gaji setiap akhir minggu atau akhir bulan. Harga jual barang di warung sembakonya jauh lebih tinggi dari toko, kedai atau warung pada umumnya. Disitulah saya mengumpat dalam hati “Kamu keterlaluan’.
Tapi ketika dia menyelesaikan ceritanya saya kemudian mengoreksi penilaian yang untungnya baru saya katakan dalam hati. Dia harus menaikkan harga jual di luar harga umum sebagai model bisnis karena bisnis sembakonya amat beresiko.
Keuntungan besar yang dipatok olehnya bukan bertujuan untuk membuatnya cepat menjadi kaya melainkan sebagai mekanisme perlindungan resiko untuk menutupi kerugian agar tidak cepat bangkrut. Sebab tidak sedikit dari mereka yang telah menumpuk bon tebal, lenyap ditelan bumi. Keluar atau pindah ke perkebunan lain tanpa pamit padanya untuk membayar hutang barang yang diambil sebelumnya.
Kerugian seperti itu yang mesti diantisipasi olehnya, sebab mengejar mereka yang kabur dan tidak membayar hutang justru akan membuat dia kehilangan lebih banyak uang.
Disitulah saya paham, bahwa model bisnis dengan harga agak mencekik mesti diambil sebagai langkah untuk memitigasi kerugian jika ada yang kabur. Dan bisa dipastikan dari sekian pembeli yang gemar berhutang pasti ada saja yang punya niat untuk tidak membayar.
Jumlah orang yang mesti memenuhi kebutuhan namun uangnya belum ada sekarang amatlah banyak. Dan ini adalah pasar untuk industri keuangan lewat produk kartu kredit.
Sebelum kemunculan kartu kredit kebanyakan orang berpikir untuk menghindari utang sebisa mungkin.
Konsep kartu kredit sebenarnya tak beda jauh dengan warung bon-bonan ala teman saya itu. Bedanya kartu kredit bisa dipakai untuk membeli dimanapun selama penjualnya adalah merchant yang bekerjasama dengan provider kartu kredit itu.
Penyedia jasa kartu kredit akan menalangi lebih dahulu untuk barang atau jasa yang dikonsumsi oleh pemakainya dalam batas jumlah tertentu. Bulan berikutnya pemakai kemudian mulai mencicilnya beserta bunganya. Jika limitnya masih ada maka pemakainya masih bisa memakai untuk membeli apa yang diperlukannya.
Proses pengajuan kartu kredit relative tidak sesusah pengajuan krdit lainnya di bank. Syaratnya tidak terlalu berat, yang penting ada jaminan pendapatan. Jumlah pagu atau limit pinjamanan bisa semakin besar seiring dengan waktu dan catatan baik pemakainya.
Ngutangpun jadi keren karena memakai kartu kredit. Bahkan kelak kemudian ada orang-orang kreatif yang bisa berbisnis dengan modal kartu kreditnya.
BACA JUGA : Saring Sebelum Sharing
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membuat dunia keuangan juga berubah banyak. Keuangan yang terdigitasi dengan basis teknologi informasi kemudian disebut dengan financial technology atau fintech.
Muncul perusahaan-perusahaan non bank yang memberikan layanan keuangan berbasis teknologi. Utangpun lebih gampang. Salah satu yang kemudian menjadi masalah adalah maraknya pinjaman online.
Hanya bermodal KTP dan nomor HP {WA} seseorang bisa mendapatkan pinjaman yang pencairannya secepat es di luar kulkas. Akibatnya banyak orang terjerat pinjol, gali lubang tutup lubang hingga lubangnya lebar menganga.
Yang susah bukan hanya yang menikmati utang dan tidak membayar, melainkan juga orang-orang lain yang nomor kontaknya disedot dari buku alamat di HP peminjamnya.
Untung saja kebanyakan pinjaman online yang mudah sekali proses peminjamannya itu adalah illegal, sehingga yang bermuka badak dan gemar ngemplang aman-aman saja dari jeratan hukum. Asal berani menghadapi teror penagihnya, lama kelamaan mereka akan bosan juga. Apalagi kalau berani melaporkan pada polisi, yang memberi pinjaman dan menagih malah bisa berurusan dengan hukum.
Mode memberikan pinjaman dengan cepat dan tidak berbelit-belit kemudian diterapkan oleh berbagai situs e-commerce. Mereka kemudian mengeluarkan layanan financial mirip seperti kartu kredit. Layanan itu biasa dikenal sebagai pay later.
Dengan modal akun e-commerce seseorang bisa memperoleh pinjaman tanpa menggunakan kartu dalam bentuk fisik. Semua jauh lebih praktis, tinggal klak-klik dan barang yang diperlukan segera diterima dalam tangan.
Ptosesnya juga lebih cepat dan praktis ketimbang mengajukan aplikasi kartu kredit. Singkat dan kilat serta bisa digunakan kapanpun dan dimanapun. Pendek kata 24 jam bisa belanja andai pemakainya termasuk manusia kalap dalam berbelanja.
Kredit atau pinjaman yang diberikan bervariasi, mulai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Waktunya pengembaliannya juga bermacam-macam mulai dari hitungan bulan hingga 1 tahun.
Beli sekarang bayar nanti kemudian lebih menarik dari kartu kredit, karena banyak start up memberikan promosi. Jika tepat waktu membayarnya bunganya kecil bahkan ada yang tidak memberikan bunga pinjaman.
Karena berbasis teknologi maka algoritma akan mencatat perilaku peminjamnya. Jika rajin membayar maka secara otomatis jumlah pinjamannya bisa terus naik.
Pada platform perbelanjaan online, fitur beli sekarang bayar nanti ini kemudian menarik banyak pengguna karena serng disertai berbagai promosi atau rewards. Mulai dari kupon potongan harga sampai dengan bebas ongkir.
Saking mudahnya untuk mengakses fitur pay later, pemakainya dengan cepat melampaui pemakai kartu kredit, popularitas kartu kreditpun menurun.
Sebenarnya secara umum layanan keuangan mainstreams juga mulai terancam oleh kehadiran perusahaan atau start up fintech. Sama seperti media massa seperti media cetak, televisi dan radio yang kemudian tergeser oleh kehadiran media online, streaming, situs berbagi video, podcast dan lainnya.
Muncul bank-bank baru yang tidak mempunyai gedung, bank digital atau neo bank. Ada yang sama sekali baru, ada yang mengkonversi bank lama namun ada juga bank lama yang menjalankan bisnisnya dalam model konvensional dan digital.
BACA JUGA : Selamat Menempuh Hidup Baru Maudy Ayunda, Istirahat Dalam Damai Buya Maarif
Dalam satu dekade terakhir ini masyarakat Indonesia semakin bankable seiring dengan semangat pemerintah dan sektor swasta untuk mewujudkan good and clean {corporate} governance. Dunia perbankan tumbuh dengan baik.
Namun seiring dengan itu dunia perbankan konvensional juga mempunyai musuh dalam selimut dengan kelahiran neo bank, bank-bank baru yang bermodalkan teknologi keuangan, intitusi keuangan yang full digital.
Industri bank konvensional merupakan lapangan yang sangat teregulasi, semua serba hati-hati. Persaingan antar bank sebenarnya kecil karena masing-masing punya pasar dan produk sendiri. Namun seiring dengan membesarnya institusi perbankan dan pasang surut pasarnya, masing-masing bank kemudian melakukan perluasan pasar yang artinya berupaya merebut pasar dari bank lain. Persaingan ini ditandai dengan perang bunga, hadiah undian dan memberi nilai lebih lain untuk merayu pelanggan bank lain agar memindahkan aset dan layanan keuangan ke banknya.
Margin keuntungan bank menjadi semakin kecil maka bank-bank yang tidak efisien akan segera bangkrut karena tak kuat menanggung beban operasional yang tinggi.
Teknologi kemudian memberi jawaban, bukan hanya efisien melainkan juga meningkatkan keamanan dan kecepatan dalam layanannya. Semua bank mengadopsi teknologi yang sama, sebab bank merupakan salah satu institusi yang paling adaptif pada teknologi.
Titik persaingan kemudian bergeser ke kepuasan pelanggan, bank-bank mengembangkan layanan pelanggan. Kepuasan konsumen menjadi diutamakan, budaya kepuasan konsumen ini. Kantor dipercantik sehingga terasa seperti kafe, iklan atau promosi selalu menampilkan wajah yang sumingrah dan tulus melayani. Dan bukan hanya itu satpam bank juga dididik untuk ramah dan membantu pelanggan sehingga menjadi idola baru ketimbang polisi yang jungkir balik mereformasi diri.
Layanan yang memuaskan itu goyah ketika muncul aplikasi fintech yang diselenggarakan oleh start up keuangan non perbankan. Aplikasi ini melayanan pembayaran dan pembiayaan.
Ukuran fintech memang kecil tapi karena jumlahnya banyak maka posisi mereka mulai mengoyahkan perbankan.
Akhirnya mau tidak mau bank konvensional yang sebenarnya juga sudah dipenuhi dengan teknologi kembali melakukan lompatan dengan mengadopsi teknologi mobile. Ada yang mengandeng perusahaan start up ada pula yang mengembangkan fintech-nya sendiri.
Namun yang tertarik untuk masuk dalam pasar keuangan ternyata bukan hanya start up keuangan, perusahaan teknologi yang telah mapan seperti Amazon, Google, Facebook, Apple dan lain-lain juga ingin bermain di pasar keuangan.
Perusahaan besar ini dikenal mempunyai pelanggan yang loyal, namun mereka juga doyan menelan siapapun yang menjadi lawan dalam bisnis yang dimasukinya.
Tenang Belanda masih jauh.
Tidak juga. Dan nampaknya beberapa bank mulai mengatisipasinya. Bank BTPN kemudian meluncurkan jenius. Jenius melebihi layanan start up fintench, juga bukan sekedar mobile banking. Jenius beroperasi layaknya sebuah bank, bank digital.
Dan langkah ini kemudian diikuti oleh Bukopin yang meluncurkan Wokee, lalu Digibank dari DBS Bank, Bank UOB kemudian juga meluncurkan TMRW. Disusul kemudian oleh Bank Hana bekerjasama dengan Line melahirkan Line Bank, Bank Permata mengeluarkan PermataMe, Bank Central Asia membesut Blu, MNC Bank melahirkan Motion.
Diluar itu lahir pula bank-bank digital yang beroperasi mandiri seperti Bank Jago, SeaBank dan Alo Bank. Inilah bank-bank yang seratus persen online, bank yang tak punya kantor fisik. Bank yang berjenis neobank.
Sedangkan jenius dan teman-temannya dikategorikan sebagai digital bank karena merupakan ekspansi atau perpanjangan digital dari bank konvensional.
Berbeda dengan bank digital yang muncul dari bank konvensional, neobank mirip fintech tapi besar dan berlaku seperti layaknya bank.
Kehadiran bank ini merupakan pukulan telak dijantung perbankan konvensional dan perbankan digital yang lahir dari bank tradisional. Berlaku layaknya fintech, mereka sangat consumer centric dan dengan efisiensi yang jauh lebih tinggi dari bank konvensional mereka bisa menawarkan bunga simpanan yang lebih tinggi, bunga pinjaman yang lebih rendah serta menghapus banyak biaya-biaya administrasi lainnya.
Karena murni berbasis teknologi maka semua data pelanggan telah terdigitasi. Data akan dianalisis lewat mekanisme big data dengan kecerdasan buatan, maka pelanggan akan menikmati layanan yang terpersonalisasi.
Bank-bank inilah yang menjadi incaran para investor, Saham Bank Jago dan Bank Neo Commerce melesat ratusan persen. Market Cap Bank Jago mendekati Bank Mandiri. Pun demikian dengan Alo Bank yang baru saja diluncurkan. Langsung fly to the moon.
Perang dalam dunia keuangan ini masih akan terus berlanjut entah siapa yang akan jadi pemenang. Perangnya akan semakin menarik karena beriringan dengan kemunculan uang yang disebut keuangan kripto, uang yang tidak diterbitkan atau dijamin oleh otoritas keuangan negara.
Sebagai pelanggan kita nikmati saja perang besar ini sembari memunggut atau menangkap apa yang menguntungkan untuk kita.
Dan yang gemar belanja lalu membayar nanti, Alo Bank punya tawaran menarik. Fitur pay laternya bukan hanya bisa untuk belanja atau membayar ini itu melainkan juga bisa diuangkan. Jadi yang tak punya uang cash namun ingin bikin konten bagi-bagi uang bisa memanfaatkan fitur pay laternya Alo Bank agar video atau reelnya viral di media sosial.
note : sumber foto – Clay Banks on Unsplash








