KESAH.IDAnies Baswedan pantas disebut sebagai salah satu bintang dalam politik elektoral di Indonesia. Sampai dengan pemilu 2029 nanti bisa dipastikan Anies masih akan menjadi sosok dengan magnet politik tinggi untuk menjadi calon presiden. Sayang mesti sudah menjadi politisi profesional sampai hari ini Anies masih terus menjadi sosok non partai. Situasi yang sering membuatnya kesulitan untuk menggapai cita-cita politiknya.

Tahun 2029 masih lama, pembalap Moto GP pun umumnya hanya dikontrak dua tahun kedepan sampai tahun 2026. Tapi kalau ada yang bertanya pada saya siapa calon presiden terkuat pada pemilu 2029 saya tak ragu untuk menjawab Anies Baswedan.

Memangnya saya pendukung garis keras Anies Baswedan?. Tidak juga. Tapi melihat sosok, kepribadian dan performance-nya di publik bahkan sejak puluhan tahun lalu saya sudah yakin kalau Anies kelak akan menjadi pemimpin nasional.

Sayangnya perjalanan Anies Baswedan di politik tidak lempang. Anies berhasil membangun konstituensi di kelompok kelas menengah perkotaan walau tanpa partai. Populer dalam berbagai survey, elektabilitas Anies dalam pemilu belum terlalu menyakinkan.

Dalam kasus pemilihan Gubernur DKI Jakarta berhadapan dengan Ahok, partai pendukung dan konsultan politiknya sampai bermain api agar memenangkan kontestasi.

Pertarungan antara Anies Baswedan dan Basuki Cahaya Purnama kemudian menjadi salah satu pilkada terpanas dalam sejarah pemilu kepala daerah di Indonesia. Ahok dikalahkan bukan karena masyarakat tak mau memilihnya, melainkan takut memilihnya karena kalau Ahok menang dikhawatirkan akan timbul kekacauan di DKI Jakarta.

Dan Anies Baswedan memang berhasil memenangkan kontestasi, menjadi Gubernur DKI Jakarta sebuah jabatan yang dianggap bakal melempangkan jalan untuk menjadi calon presiden dalam pemilu berikutnya.

Semenjak keberhasilan Jokowi menjadi presiden setelah meloncat dari Walikota Solo menjadi Gubernur DKI Jakarta, posisi Gubernur DKI Jakarta seperti menjadi kartu truf untuk memenangkan kursi Presiden RI.

Memenangkan kursi Gubernur DKI Jakarta engagement Anies menjadi makin luas. Hanya proses pilkada DKI Jakarta waktu itu kemudian menorehkan cacat dalam perjalanan politik Anies. Anies Baswedan yang sebenarnya berada di politik jalan tengah, di mata publik dipersepsikan sebagai golongan politik kanan.

Pendukung dan pengusung Anies Baswedan saat itu memang memakai isu agama sebagai peluru politiknya. Isu SARA memang terbukti efektif sebagai kendaraan politik pada pemilihan kepala daerah, juga terbukti murah karena mampu mengerakkan militansi masyarakat dengan biaya swadaya. Mereka berjuang memenangkan calon dengan perasaan bahwa itu perjuangan untuk agamanya, sukunya, aliran atau golongannya.

Walau ketika memimpin Jakarta Anies Baswedan mampu menunjukkan dirinya di jalan tengah, namun residu pilkada DKI Jakarta tetap saja menimbulkan kekhawatiran akan terulang kembali jika Anies Baswedan kembali masuk kontestasi.

Survey kemudian menunjukkan Anies Baswedan selalu berada dalam posisi tinggi sebagai calon presiden pada pemilu 2024. Dan Anies kemudian memang dicalonkan oleh koalisi partai yang menamakan diri Koalisi Perubahan.

Sebuah pilihan nama yang benar karena harus melawan koalisi yang dimotori oleh incumbent yang dalam berbagai survey meraih tingkat kepuasaan tinggi dari masyarakat.

Dalam politik elektoral calon yang memperoleh tingkat kepuasan diatas 80 persen biasanya sulit dikalahkan. Pun juga calon yang dipersepsikan meneruskan incumbent juga akan mendapat efek elektoral yang tinggi.

Walau berhasil menduduki peringkat kedua dari tiga calon, namun suara yang diperoleh oleh Anies Baswedan belum cukup untuk memenangkan kursi sebagai pemimpin nasional tertinggi.

BACA JUGA : Suara Rakyat

Karena memang potensial, orbitasi Anies Baswedan tidak jatuh setelah kekalahan dalam pemilu presiden 2024. Anies masih menjadi salah satu sosok bintang politik, karena sosok bintang politik baru lainnya berbau nepotisme dan oligarki.

Untuk menjaga agar orbitasi tetap tinggi, Anies Baswedan kembali ingin maju menjadi calon gubernur DKI Jakarta kembali.

Lagi-lagi jalan Anies Baswedan terbuka, sebagian partai pendukung dan pengusungnya dalam pemilu presiden 2024 siap untuk mewujudkannya.

Hanya saja operasi politik yang dilakukan oleh koalisi yang memenangkan pemilu presiden 2024 yang kemudian bertambah hingga menjadi KIM Plus sepertinya berhasil menutup jalan bagi Anies Baswedan. Pilkada DKI hampir pasti akan diikuti oleh pasangan calon KIM Plus dan satu pasangan yang berasal dari jalur independen.

Kursi dukungan yang tersedia untuk Anies Baaswedan hanya dari PDIP, jalur independen tak mungkin lagi karena kesempatannya sudah lewat.

Hanya saja kursi dukungan PDIP tak cukup untuk mencalonkan Anies Baswedan, harus ada kursi partai lain untuk mengenapi. Namun semua partai yang punya kursi sudah diborong oleh KIM, menjadi KIM Plus.

Keputusan Mahkamah Konstitusi tentang ambang batas suara membuat kesempatan Anies Baswedan untuk maju menjadi calon gubernur DKI Jakarta kembali terbuka. PDIP bisa mengajak partai-partai non parlemen untuk turut serta.

Sama-sama sebagai korban ‘didzolimi’ oleh regim, PDIP dan Anies Baswedan bisa menjadi entitas yang solid untuk melawan.

Sebagai partai pemenang pemilu sejak pemilu 2024 sampai kini PDIP terus digembosi dari luar. Ruang gerak PDIP bahkan di kantong-kantong suara dan dukungan menjadi sasaran pengembosan. PDIP mesti mempunyai teman untuk melawan agar basis dukungannya menjadi makin kuat dan besar.

Mengandeng sosok yang mempunyai kekuatan elektoral menjadi penting bagi PDIP agar bisa memenangkan kontestasi yang sedari awal sudah tidak seimbang.

Dari beberapa kali pengumuman pencalonan kepala daerah yang dilakukan oleh PDIP terlihat dengan jelas kalau partai ini mulai menurunkan egonya. PDIP tanpa banyak embel-embel mau mendukung calon agar pilkada di sebuah daerah tidak melawan kotak kosong.

Ada atau tidak ada kadernya sendiri PDIP menetapkan tujuan untuk melawan kotak kosong. Salah satu yang mendapat angin segar dari PDIP ini adalah pasangan Isran-Hadi, calon gubernur dan wakil gubernur Kaltim yang hampir hilang jalan karena partai diborong oleh calon dari KIM Plus.

Anies Baswedan kemudian mulai berkomunikasi dengan PDIP bahkan sebelum keputusan MK. PDIP sepertinya juga membuka pintu, bahkan secara tersirat Ketua Umum PDIP Megawati mengirim sinyal soal syarat.

Walau begitu dari kacamata sejarah, ada hambatan yang besar. Luka sejarah dari pilkada DKI saat Anies melawan Ahok sungguh dalam. Bukan hanya melukai Ahok semata melainkan juga PDIP.

Tapi tak ada yang tak mungkin dalam politik Indonesia. Hubungan antara Jokowi dan Prabowo misalnya bisa menjadi contoh. Musuh bebuyutan yang kemudian berubah menjadi penerus.

Megawati bisa saja mencalonkan Anies Baswedan sebagai bentuk pengorbanan PDIP demi demokrasi di Indonesia.

BACA JUGA : Keberatan Nama 

Nama Anies Baswedan yang dihembuskan akan berpasangan dengan Rano Karno tidak muncul dalam pengumuman yang dilakukan oleh Megawati. Tapi bukan berarti jalan Anies Baswedan tertutup. Sebab bisa saja muncul kejutan sebelum masa pendaftaran calon ditutup pada akhir bulan ini.

Namun bicara soal masa depan politik Anies Baswedan nampaknya ada satu kelemahan yang harus segera diatasi oleh dirinya sendiri.

Anies bisa dikatakan telah tumbuh menjadi sosok politisi profesional. Namun sampai hari ini Anies Baswedan belum tercatat secara ekplisit sebagai kader atau anggota partai.

Ini mungkin merupakan kelemahan Anies yang terbesar sehingga membuatnya selalu cukup sulit untuk mencari dukungan.

Dengan karier politik yang masih panjang sebaiknya Anies Baswedan mulai menentukan untuk bergabung dengan partai ini atau itu yang nanti akan membantu melempangkan jalan mengapai cita-cita politiknya.

Bergabung dengan PDIP juga tak ada salahnya. Toh di PDIP juga ada beberapa tokoh yang mampu bertahan dan berkomitmen lewat jalan politik tengah.

Atau Anies bahkan lebih cocok bergabung dengan Golkar yang secara DNA memang merupakan partai tengah.

Dalam jangka panjang Golkar memang lebih cocok untuk Anies Baswedan. Terlebih kursi ketua hasil kerajinan kriya karya tukang kayu Solo mungkin tak akan bertahan lama. Kursi buatannya bukan bermerek Ligna yang nyaman diduduki sehingga bikin malas berdiri.

Kursi Golkar sekarang ini adalah kursi goyang yang mudah kehilangan keseimbangan sehingga yang diduduk diatasnya bakal gampang terjengkang.

Jadi Mas Anies, monggo masuk dan bergabung dengan partai agar sampeyan tak terus dikuyo-kuyo.

note : sumber gambar – DETIK