KESAH.ID – Mengganti nama anak karena dianggap keberatan memikul namanya lazim dilakukan oleh masyarakat kebudayaan Jawa. Ada banyak tokoh yang namanya tercatat dalam sejarah mengalami hal itu. Tanda-tanda yang dipercaya seorang anak ‘kabotan jeneng’ adalah sakit-sakitan di waktu kecil. Benarkah nama Mulyono lebih berat dari Joko Widodo?
Ditengah perbincangan perihal ‘kedaruratan’ di republik ini tiba-tiba saja saya merasa tertinggal perihal Mulyono. Topik perbincangan tentang nama ini begitu ramai tapi saya nggak ngeh.
Nama Mulyono untuk saya biasa-biasa saja, saya terbilang akrab dengan nama itu karena saya punya banyak teman bernama Mulyono dengan semua variannya. Bahkan guru sayapun ada yang bernama Mulyono.
Bisa jadi semua gegara WA saya beberapa hari lalu sejak pagi sudah berisi perbincangan tentang Azizah dan Arhan. Dua nama yang asing untuk saya, sehingga menghabiskan banyak waktu untuk kepo tentang kedua orang ini.
Dulu ada pepatah terkenal yakni malu bertanya sesat dijalan. Untuk sekarang ini tak perlu nanya-nanya agar tak ketinggalan informasi. Cukup tanya saja pada google dan berderet informasi akan segera disajikan olehnya sampai kita kebingungan sendiri mana yang benar dan bisa dipercaya.
Kemudian berkomunikasi dan berbagi informasi lewat platform berbagi pesan memang jadi masalah tersendiri. Terlalu banyak informasi bombastis yang mesti divalidasi.
Sol gunting mengunting atau tebang menebang partai, setelah ‘kudeta’ di Golkar terkonfirmasi beredar informasi perihal Cak Imin, Ketum PKB yang diberitakan diganti.
Beritanya seksi karena PKB memang digoyang. Dan kemudian berkembang persepsi bahwa ‘penguasa’ meminjam tangan untuk memukul PKB Cak Imin. PKB memang sedang disoal oleh rahim yang melahirkannya.
Walau seru untuk bahan obrolan di warung kopi, tapi saya tak mau menelan mentah-mentah. Soal berita yang belum jelas juntrungannya dalam standar informasi publik terkini mesti di-debugging.
Usut punya usut, sebuah link berita yang memuat tentang hal itu memakai cuitan di X sebagai bahan beritanya. Cuitan itu memulai postingan dengan “Menurut sumber A 1 ……. “
Apapun itu sebuah informasi yang memulai dengan kalimat klise semacam itu patut dicurigai. Mirip dengan kalimat klise “Dari sumber yang tidak mau disebutkan namanya …. “. Sumber informasi ghoib semacam ini sulit untuk dipercaya.
Awalnya saya abaikan saja soal Mulyono ini. Tapi lama kelamaan kok semakin sering terdengar dalam perbincangan dan saya merasa hanya plonga-plongo saja.
Rupanya Mulyono adalah sosok yang oleh Majalan Tempo ditahun 2008 dinobatkan sebagai tokoh pilihan tahun ini, atau dalam versi majalah-majalah luar negeri kerap disebut sebagai Man of The Year.
Karier politiknya melonjak setelah itu.
Namun publik mengenalnya dengan nama Joko Widodo. Walikota Solo yang kemudian menasional menjadi pemenang dalam pilkada terpanas di Republik Indonesia dan terus melambung karena berhasil menang dalam dua pemilu presiden yang tidak kurang panasnya.
Oleh orang tuanya diberi nama Mulyono yang artinya mulia. Tapi Mulyono kecil sakit-sakitan jadi orang tuanya menganggap nama yang disandangnya terlalu berat. Maka kemudian diganti menjadi Joko Widodo yang artinya laki-laki yang selamat sejahtera.
Dulu di masyarakat Jawa memang ada keyakinan bahwa anak tak boleh diberi nama sembarang. Walau nama dipercaya sebagai doa, tapi mesti cocok dengan anaknya. Nama yang maknanya terlalu tinggi sering berat untuk disangga, sehingga anak menjadi sakit-sakitan.
Yang punya sejarah ganti nama bukan hanya Joko Widodo presiden ketujuh RI. Presiden pertama Indonesia ketika lahir diberi nama Kusno. Namun karena sakit-sakitan kemudian diganti menjadi Sukarno.
Ganjar Pranowo, calon presiden pada pemilu 2024 lalu juga berganti nama. Mulanya bernama Ganjar Sungkowo, tapi karena sakit-sakit kemudian diganti menjadi Ganjar Pranowo.
BACA JUGA : Cerita Diri
Kabotan jeneng memang lazim sebagai kesimpulan diagnosis atas anak-anak yang sakit-sakitan sedari kecil dalam tradisi Jawa. Karena kesimpulan itu maka biasanya ganti nama dilakukan untuk mengurangi tekanan beban nama.
Yang tak lazim dalam pergantian nama dari Mulyono yang artinya mulia, nama penggantinya justru makin berat yakni Joko Widodo yang artinya selamat sejahtera. Artinya Joko Widodo justru lebih berat dari Mulyono.
Saya pernah punya teman bernama Suci Handayani. Tentu orang tuanya berharap anaknya menjadi orang baik hati, soleha, hidup sesuai dengan jalan Kebajikan sekaligus bergaya guna. Doa orang tuanya lewat nama sungguh berat adanya.
Teman saya itu suka pingsan. Akhirnya jadi anak pemurung dan sering di-poyoki oleh teman-temannya. Si Suci Handayani jadi kurang semangat pergi ke sekolah.
Lalu dibuatlah upacara atau ritual untuk mengganti namanya. Namanya dirubah menjadi Uwuh Suci Lestari. Nama yang rendah hati, karena Uwuh adalah sebutan untuk daun atau ranting-ranting yang jatuh, serasah.
Saya tak tahu persis apakah ada perubahan dirinya setelah ganti nama karena kemudian kami berpisah sekolah. Tapi saya yakin Uwuh Suci Lestari akan bertumbuh menjadi wanita yang rendah hati.
Bagaimana masa kecilnya Mulyono saya tidak tahu sama sekali. Apakah benar sakit-sakitan atau bagaimana. Hanya saja kalau melihat proses ganti namanya maka jelas bukan kabotan jeneng.
Proses ganti nama dari Mulyono ke Joko Widodo adalah koreksi. Nama Mulyono mesti berarti mulia tidak membawa unsur kekuatan atau daya. Mulyono tidak ada linuwihnya.
Dan terbukti ketika namanya berganti menjadi Joko Widodo, Mulyono menjadi orang kuat. Tidak langsung melenting ke atas tapi bertahap sehingga kekuatannya punya pondasi yang kuat.
Hanya saja Joko Widodo terlalu panjang untuk diucapkan, maka sering disingkat menjadi Jokowi. Memakai nama ini kekuatannya menjadi berlipat-lipat, apapun yang menghalangi kemuliaan dan kejayaannya bakal disikat.
Walau sering digambarkan sebagai orang klemar-klemer, namun dengan slogan kerja-kerja-kerja Jokowi mampu sat set dan tas tes menyelesaikan berbagai urusan yang bakal melemahkan posisinya.
Sebutan sebagai pekerja partai tak ditolaknya. Dia tak keberatan untuk memuji-muji Ibu Banteng. Tapi dibalik itu dia menyusun kekuatannya yang kemudian membuat Ibu Banteng dan kawanannya merana.
Di channel youtube banyak konten kreator naik daun karena jago nge-prank. Kontennya disukai walau beberapa berakhir di laporan polisi.
Di dunia politik, Jokowi piawai melakukan prank. Berkali-kali dirinya ditentang, digoyang namun kemudian berhasil membalik keadaan. Dia pintar memainkan bidak catur, membiarkan dirinya diserang lalu membuat kuncian balik.
BACA JUGA : Suara Rakyat
Entah siapa yang pertama kali melontarkan nama Mulyono untuk menyebut Joko Widodo. Yang pasti bukan teman-teman masa kecilnya yang mungkin sudah ikut mulyo.
Mulyono pasti di-viral-kan dengan maksud untuk mengolok-olok Joko Widodo. Tapi nama Mulyono tak cukup kuat untuk olok-olok, seperti nama Tukiran, Legimin, Legino atau Paino.
Menyebut Joko Widodo dengan nama Mulyono justru meninggikan namanya.
Saya justru jadi curiga jangan-jangan soal nama kecil ini justru merupakan bagian dari langkah bidak catur Joko Widodo untuk membersihkan namanya yang mulai tercoreng.
Jokowi menjadi tidak Widodo lagi karena kelewat bersemangat untuk melestarikan kejayaan dan kemuliaannya.
Jadi berhentilah menyebut-nyebut Mulyono, tetaplah menyebut Joko Widodo dengan Jokowi.
Jangan terbiasa terjerumus ikut memviralkan yang sedang viral di internet. Karena yang viral bisa saja merupakan hasil rekayasa dari yang punya mau.
Bisa jadi kebanyakan yang menyebut-nyebut Mulyono merasa akan men – downgrade Jokowi. Padahal tidak sama sekali, Jokowi mungkin sedang tak ingin disebut-sebut dan ingin dikenali dengan nama lain, nama yang lebih suci dan mulia yakni Mulyono.
Sebab nama Jokowi beberapa waktu terakhir ini memburuk. Memburuk karena operasi politiknya yang tak senyap lagi.
Operasi tebang tebasnya begitu kentara walau terus-terusan coba ditepis olehnya.
Jika kita kemudian ikut-ikutan memanggilnya Mulyono, itu sama artinya kita sedang turut membersihkan nama Jokowi tanpa dodo.
note : sumber gambar – DETIK








