KESAH.IDDungu, adalah salah satu kata favorit dari Rocky Gerung untuk mengambarkan cara  berpikir para pemimpin dibalik kebijakan yang diambil atau ditetapkannya. Disebut dungu karena antara langkah yang diambil dan masalah yang mau diatasi ternyata tidak selaras, tidak nyambung. Dan persoalannya bukan pada kecerdasan melainkan ada kepentingan lain yang disembunyikan di balik sebuah keputusan. Menghadapi kenyataan seperti ini, Sima Guang seorang penulis Tiongkok Kuno mengatakan lebih baik memilih orang dungu daripada orang yang bertalenta namun ahklaknya buruk.

Ada pepatah kuno negeri komunis Cina yang mengatakan “Jika kau punya uang, dewapun bisa kau ajak berbincang-bincang,”.

Lho, kok negeri komunis bisa percaya dewa?.

Sejarahnya panjang, sebelum jadi negeri komunis, Cina yang sekarang lebih suka disebut Tiongkok punya perjalanan sejarah kebudayaan yang lebih tua daripada masa yang dilaluinya sebagai negeri komunis.

Dalam kebudayaan negeri Tirai Bambu itu jumlah dewanya banyak sekali. Kalau tak percaya tanya saja pada pengurus kelenteng-kelenteng.

Konon dari antara dewa-dewa yang terkemuka, dewa yang paling disembah oleh masyarakat Tiongkok adalah Dewa Harta.

Bisa dipahami karena kalau permintaan dikabulkan oleh Dewa Harta maka akan kaya raya, punya banyak uang.

Dan kalau banyak uang lebih gampang berbincang-bincang dengan dewa.

Setelah berbagai revolusi, Tiongkok akhirnya memang punya banyak uang. Dan dengan uang yang dipunyainya Tiongkok leluasa berhubungan dengan negara-negara lainnya, bahkan negara yang benci dengan komunisme sekalipun.

Mungkin negeri yang sangat percaya Tuhan dan agama akan mengatakan “Uang tak punya Tuhan dan agama. Jadi apa salahnya menerima uang dari Tiongkok,”

Dengan uangnya, Tiongkok setelah era perang dingin berakhir mampu bersaing dengan Amerika Serikat sebagai negara yang suka memberi bantuan sekaligus pinjaman uang.

Bahkan mungkin lebih, karena persyaratan yang diberikan tidak serumit Amerika Serikat yang merasa dirinya pemimpin dunia.

Dalam laporan BBC {30 September 2021}, Tiongkok disebutkan telah memberi hutang pinjaman pembangunan dua kali lebih besar daripada yang diberikan oleh Amerika Serikat dan negara-negara besar lainnya.

Mulai dari tahun 2000, Tiongkok memang rajin memberi bantuan terutama ke negara-negara Afrika. Dalam jangka waktu 18 tahun, proyek pembangunan yang didanai dengan hibah dan pinjaman nilainya sebesar Rp. 12 kuadriliun.

Pinjaman-pinjaman ini diberikan lewat inisiatif yang dinamakan Belt and Road Initiative. Uang Tiongkok yang beredar di kurang lebih 165 negara itu cukup untuk mengoyahkan kedigdayaan Dollar Amerika yang selama ini merupakan mata uang dunia.

Cara Tiongkok memberi bantuan entah itu hibah maupun hutang memang berbeda dengan Amerika Serikat dan negara-negara lainnya. Bantuan Amerika Serikat dan negara-negara lain umumnya diberikan dalam bentuk Dollar Amerika, sementara Tiongkok memberikan dalam bentuk mata uangnya sendiri yang di dalam negeri dinamakan Reminbi, namun di luar negeri dikenal dengan nama Yuan.

Dan Tiongkok juga mulai mengembangkan inisiatif untuk menerima pengembalian dalam mata uang negara masing-masing.

Tiongkok tidak khawatir menerima pengembalian dalam mata uang negara masing-masing karena bantuan terutama hutang memang ditujukan untuk membangun kerjasama atau hubungan ekonomi antara Tiongkok dan negara yang dibantu.

Agresifitas Tiongkok dalam memberi hibah dan pinjaman kemudian memunculkan kecurigaan terhadap modus ‘Jebakan Utang’, Tiongkok dipandang tidak sebagai negara donor atau pemberi pinjaman yang baik melainkan lintah darat.

BACA JUGA : Sapi Kok Nggak Makan Hijauan?

Membicarakan operasi Tiongkok sebagai ‘lintah darat’ bisa jadi menarik, namun yang paling relevan justru membincang bagaimana Tiongkok yang sebelumnya merupakan negara sasaran untuk diberi bantuan kemudian berubah menjadi pemberi bantuan?.

Belajar dari kampanye para calon pemimpin baik daerah maupun nasional di Indonesia, isu perubahan selalu digaungkan. Namun hingga hari ini, kepemimpinan yang merubah belum kita temukan. Dari waktu ke waktu, Indonesia masih sama, gubernur, walikota, bupati dan presiden silih berganti, namun hilirisasi janji perubahan belum terwujud.

Apa yang membedakan Indonesia dengan Tiongkok?.

Nampaknya perbedaan antara Indonesia dan Tiongkok ada dalam panduan memilih seorang pemimpin. Di Indonesia panduannya adalah tentang syarat seorang calon pemimpin dan bagaimana cara melakukan atau melaksanakan pemilihan. Panduan memilih seorang pemimpin lebih dihasilkan oleh berbagai lembaga yang melakukan pendidikan politik.

Sementara di Tiongkok, mereka sudah lama mempunyai kitab yang disebut Zizhi Tongjian, sebuah kitab kuno yang berisi panduan untuk memilih pemimpin. Zizhi Tongjian kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia artinya kurang lebih Cermin Komprehensif untuk Menyelamatkan Pemerintahan.

Kitab ini ditulis oleh Sima Guang, seorang sejarawan sekaligus kanselir agung di masa Dinasti Song Utara. Selama kurang lebih 19 tahun, Sima Guang mengerjakan karya master piecenya yang terdiri dari 294 jilid itu.

Singkatnya dalam kitab tebal melebihi ketebalan semen untuk menaikkan jalan yang sebelumnya sering tergenang banjir, Sima Guang memberikan petuah yang quotable “Dalam hal memilih pemimpin, kalau tidak menemukan orang yang bertalenta  dan berakhlak mulia, ketimbang memilih orang yang kurang bermoral macam Zhi Yao, mending pilih orang yang dungu saja.”

Alasan yang diberikan oleh Sima Guang, hanya orang yang bertalenta dan berahklak mulia yang akan menggunakan kemampuannya untuk Kebajikan. Sedangkan orang bertalenta namun kurang bermoral cenderung akan menggunakan kemampuannya untuk kejahatan. Jadi kalau tidak ada calon pemimpin bertalenta sekaligus berakhlak mulia, pilih saja orang dungu karena orang dungu tidak akan melakukan apa-apa, soalnya berpikir saja tidak mampu.

Dipimpin oleh orang dungu, mungkin negara tidak bertambah maju namun juga tak bertambah hancur.

Kesimpulan pendek Sima Guang ini diambil setelah menceritakan kisah yang panjang. Kisah negeri yang gemah ripah loh jinawi lalu hancur lebur karena salah memilih pemimpin.

Kisah bermula dari sebuah negara besar, namun digerogoti oleh para bangsawan yang saling berebut kekuasaan dari dalam. Mereka mulai berunding soal siapa yang akan mengantikan pemimpin sekarang ini jika wafat.

Muncul satu nama yang paling kuat, yang punya banyak kelebihan dari calon penerus lainnya. Digambarkan sosok itu sebagai rupawan, pintar berorasi, jago memainkan senjata, pintar menulis, gagah berani dan pandai berkuda.

Pendek kata untuk jaman itu, ini adalah sosok yang idaman banget.

Semua setuju namun ada seseorang yang berpikir lain. Dia mengatakan dengan sederet kelebihannya sang calon ini punya satu kelemahan yang amat berbahaya, yakni tidak punya belas kasihan. Dia akan menjadi penguasa yang zalim, begitu peringatannya.

Namun karena sebagian bersepakat, peringatan yang nadanya serasa sebagai pembusukan dan fitnah itu diabaikan.

Dan benar, sang sosok berkelebihan akhirnya duduk dalam kekuasaannya. Diapun segera melakukan ekpansi kemana-mana, memperluas daerah kekuasaan. Tapi bukan cuma negeri lain yang ditahklukan, di negeri sendiri mereka yang tidak sepakat dengannya juga disikat. Dia melakukan politic of fear untuk mencapai tujuan dan keinginannya sendiri.

Karena kebrutalannya lama-lama warganya menjadi jengkel dan kemudian bersatu mendongkel penguasa yang zalim itu. Dia diturunkan dari jabatan, dibunuh, keluarganya juga dihabisi. Negeri itupun tercerai berai.

Lagi-lagi Sima Guang memberi kesimpulan pendek, ketiadaan keteguhan moral dengan mudah membuat seorang pemimpin meyalakgunakan kekuasaan yang besar, menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya dan mempertahankan atau memperluas kepentingannya.

BACA JUGA : Membela Gibran

Apakah Tiongkok sudah berhasil memilih pemimpin yang bertalenta dan berahklak mulia?.

Mungkin indikator itu agak absurb, tapi Sima Guang memerinci patokan yang disebut bertalenta dan berahklak mulia yakni : cerdas, jeli, tegas, teguh, adil, berintegritas, dan tidak ekstrem.

Xi Jinping, Presiden Tiongkok sekarang ini mungkin mendekati kriteria itu.

Pertanyaannya bagaimana Tiongkok yang punya banyak penduduk bisa melahirkan pemimpin yang bertalenta sekaligus berahklak mulia?.

Dilahirkan hanya lewat satu partai, semua yang merasa berbakat untuk menjadi pemimpin akan diuji mulai dari bawah. Di Tiongkok tidak ada pemimpin yang ujug-ujug muncul, bisa langsung jadi Walikota lalu menjadi Calon Wakil Presiden.

Atau tak mungkin seseorang akan dipilih menjadi calon presiden ketika belum pernah menduduki jabatan sebagai kepala desa.

Dengan demikian perjalanan untuk menjadi pemimpin tertinggi adalah perjalanan panjang, perjalanan pendakian yang tinggi dan tidak ada jalan pintas.

Perjalanan panjang ini penting karena hal yang paling merubah di dunia adalah kekuasaan. Seseorang bisa berubah seratus delapan puluh derajad karena memegang kekuasaan.

Maka ujian berjenjang adalah salah satu cara agar tidak kebobolan. Dengan cara pengujian yang berjenjang semakin ke tingkat atas kelakuan-kelakuan buruk mulai tersaring. Yang buruk gugur.

Karena partainya hanya satu, maka ketika tersingkir artinya perjalanan politik kepemimpinannya akan terhenti.

Lain ceritanya dengan di Indonesia yang punya banyak partai. Kelakuan buruk atau kesalahan yang menyebabkan seseorang terbuang dari satu partai kemudian bisa berpindah ke partai lain, atau bahkan bisa bikin partai sendiri.

Korupsi, sebuah kejahatan yang paling dibenci bahkan tak cukup untuk menghentikan karir politik dan kepemimpinan seseorang. Dalam daftar calon tetap peserta pemilu 2024 nanti, tidak sedikit calon yang punya sejarah kasus korupsi.

Rasanya sulit untuk menemukan calon pemimpin atau calon wakil rakyat yang bertalenta sekaligus berahklak mulia sebagaimana yang dituliskan oleh Sima Guang dalam Kitab Tiongkok Kuno itu.

Dari pemilu ke pemilu rasanya norma moral yang berlaku untuk pemilih adalah “Memilih yang terbaik dari antara yang terburuk,”

Alhasil pemimpin kita untuk berbicara dengan Elon Musk atau Mark Zuckerberg aja mesti merayu-rayu.

note : sumber gambar – GRID